
"Mas, mau kemana?" tanya Nandira yang melihat Rafiz mencoba untuk berdiri sambil memegangi luka di dadanya.
"Anak-anak dalam bahaya, Miran salah satu dari mereka," ucap Rafiz.
"Apa …? Miran …? Aku sudah menelepon anak-anak, mereka sudah sampai di rumah diantar oleh Miran tadi," sahut Nandira.
"Coba kamu telpon lagi mereka!" Pinta Rafiz yang kembali duduk masih terus memegang dadanya.
Dengan sigap Nandira langsung berlari mengambil ponsel di tasnya kemudian dengan tangan bergetar ia mencari nomor Zidan, panggilannya terhubung, tapi tidak dijawab. Kemudian memanggil nomor Syahidah, hasilnya tetap sama nomor Syahidah juga tidak dijawab.
"Mommy, aku akan menelepon mommy," Nandira kemudian memanggil nomor ponsel mertuanya. Nandira menunggu jawaban mommy sambil terus mengusap air matanya.
"Mas, bagaimana ini? Tak ada yang menjawab panggilanku." Panik Nandira kembali mencoba menghubungi Daddy, bibi, dan pak Karyo. Hasil tetap sama, yang membuat Nandira semakin khawatir.
"Mas, aku sudah menghubungi semua orang di rumah, tak ada jawaban,"
"Dimana ponselku?" tanya Rafiz pada anak buahnya. Dengan sigap salah satu anak buahnya langsung mengeluarkan ponsel Rafiz yang ada di sakunya.
Rafiz nelpon Miran berkali-kali, Miran juga tak mengangkat panggilan nya.
"Cepat, kita kembali. Keluargaku dalam bahaya," panik Rafiz, mereka semua bergegas meninggalkan rumah sakit dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke kediaman Rafiz, beberapa anak buah Rafiz yang berjaga di luar rumah sakit juga ikut bersama mereka.
Begitu sampai disana, mereka melihat beberapa anak buah yang berjaga di sana sudah terkapar tak sadarkan diri. Nandira yang menyaksikan itu semua langsung berlari setelah mobil berhenti.
Nandira semakin panik saat melihat pintu rumah mereka terbuka dan saat masuk,
"Mommy …." teriak Nandira saat melihat mommy dan daddy juga sudah tak sadarkan diri di lantai ruang tengah.
Rafiz yang mendengar teriakan Nandira mempercepat langkahnya dan ia juga sangat terkejut saat melihat kedua orangtuanya sudah tak sadarkan diri dengan beberapa luka.
Dengan cepat Rafiz meminta anak buahnya membawa mereka kerumah sakit.
"Anak-anak dimana? Zidan, Syahidah," panik Nandira berlari ke kamar anak-anaknya sambil mengusap air mata yang terus menetes.
Rafiz mengejar Nandira sambil meringis menahan sakit didadanya yang kembali terasa.
Walau dengan meringis kesakitan Rafiz tetap mencoba mengikuti Nandira ke kamar anak-anaknya,
"Anak-anak kita kemana," Nandira sudah menangis meraung-raung, "Mas dimana anakku,"
"Dimana anak kita, Mas? Mereka tak ada dimana-mana"
Nandira memeriksa kamar mereka. Namun keduanya sudah tak ada di kamarnya, Nandira sudah semakin panik.
"Apa ini?" Rafiz melihat beberapa berkas yang berserakan di atas tempat tidur Syahidah dan memeriksa.
'Musuh Papa' itulah yang tertulis di sana dan beberapa informasi lainnya
"Cepat cari seluruh rumah" perintah Rafiz kepada semua bawahannya.
Mereka semua langsung menyisir di semua tempat, tapi tak ada sedikitpun bukti yang mereka dapatkan untuk mencari siapa pelaku dari semua itu.
"Miran berani-beraninya kau mengkhianati ku," Batin Rafiz, mengepal tangannya, ia sungguh tak menyangka Miran yang selama ini setiap padanya, selalu membantunya untuk mengurus segala bisnisnya selama bertahun-tahun tega menghianati nya dan membahayakan nyawa kedua anaknya.
Rafiz membawa Nandira yang terus menangis ke pelukannya, "Aku kan sudah bilang, Mas. Kalau Miran mungkin saja pelakunya. Mas juga sudah mencurigai sejak lama, tapi mas tak melakukan apa-apa, hanya membiarkannya saja. Bagaimana jika Miran … aku ingin anak-anakku, Mas."
Rafiz hanya terdiam, ucapan Nandira benar, memang sudah sejak lama ia mencurigai Miran, tapi semua kebaikan yang Miran lakukan selama ini membuatnya tak percaya dengan kecurigaannya sendiri. Namun, setelah mendengar ucapan pria yang tengah di sekapnya sebelum tertembak membuat ia menjadi yakin jika Miran salah satu dibalik ini semua.
"Tunggu, sebelum orang itu tertembak, orang itu ingin menyebutkan satu nama lagi, apa ada penghianat lain di kantorku," geram Rafiz merasa di khianati.
"Kemana kita harus mencari anak-anak, kita tak bisa terus tinggal di sini. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada anak-anak, dia bahkan menembak mu, Mas. Semoga saja dia tak menyakiti anak-anak kita," Nandira terus saja menangis.
Mommy dan Daddy sudah dibawa ke rumah sakit, begitu juga dengan bibi dan Pak Karyo mereka juga terluka, tapi tak separah mommy dan Daddy.
"Cepat cari anak-anak mu, mereka dalam bahaya. Seseorang bernama Aksan memiliki dendam padamu dan dia ingin melampiaskan semua dandannya pada anak-anak kalian, cepat cari mereka sebelum terlambat,"ucap Miran.
"Apa maksudmu? Katakan dimana anak-anakku?" Tak ada jawaban lagi dari Miran.
"Halo ... Miran," panggil Rafiz.
Rafiz membelalakkan matanya saat mendengar 3 suara tembakan.
Rafiz langsung meminta salah satu anak buahnya untuk melacak panggilan Miran.
Setelah mereka mendapat lokasinya, mereka langsung bergegas menuju lokasi tempat terakhir ponsel Miran melakukan panggilan.
Rafiz sudah tak lagi merasakan sakit di dadanya, ia lebih khawatir dengan kondisi anak-anaknya setelah mendengar apa yang Miran katakan.
"Apa yang Miran katakan? Di mana anak-anak kita, apa yang dia inginkan mereka sebenarnya? tanya Nandira yang masih sesegukan.
"Tenanglah," Rafiz kembali menarik Nandira keperluannya. "Aku akan berusaha mencari anak-anak kita, sekarang kita sedang menuju ke tempat Miran."
Rafiz yang tau jika saat ini Nandira sedang sangat khawatir, tidak mengatakan apa yang Miran katakan padanya, karena itu akan membuat Nandira semakin panik.
Mereka sampai di lokasi.
"Cepat cari di mana anak-anakku," perintah Rafiz.
Dengan cepat mereka semua menyisir tempat itu, Nandira sangat terkejut saat melihat 2 orang yang berlumuran darah di depan sebuah gudang.
Nandira langsung menyembunyikan wajahnya di dada Rafiz. Mereka terus berjalan masuk dengan hati-hati.
Meraka juga melihat beberapa orang yang bersimbah darah di dalam gudang, sepertinya mereka terkena luka tembak.
Tak jauh dari sana, Rafiz melihat Miran yang juga terbaring di lantai, dengan cepat dan Rafiz berlari ke arah Miran.
"Miran, katakan dimana anak-anak ku?" tanya Rafiz mencoba membalikkan badan Miran.
Rafiz melihat luka tembak yang ada di perut Miran. "Ke luar negeri ... cepat," Hanya itu yang diucapkan Miran sebelum ia tak sadarkan diri.
Rafiz dan Nandira kembali ke mobil dan melihat apa yang ditemukannya di kamar anak anaknya.
" Siapa Aksan? Apa dia yang menculik anak-anak kita, tapi siapa dia? aku sama sekali tak mengenalnya!" Ucap Nandira melihat beberapa informasi tentang Aksan.
Mata Rafiz memicing saat melihat ada nama Jazlyn disana. Melihat jika Jazlyn pernah tinggal di Apartemen yang sama dengan Aksan di tahun sebelum pernikahan mereka.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan pernikahanku dan Jazlyn, Rafiz mencoba terus mencari tahu siapa sosok Aksan, terus melihat informasi yang telah Syahidah dan Zidan temukan.
Rafiz juga melihat alamat yang tertera di sana, itu adalah alamat luar negeri. Rafiz mengingat hal terakhir yang di katakan Miran sebelum kesadarannya menghilang.
Kemungkinan anak-anak mereka dibawa ke luar negeri, pikir Rafiz.
"Dirga, apa salah satu orang yang membantu mereka adalah Dirga," nafas Rafiz memburu, 2 orang kepercayaannya justru merekalah yang menghianatinya. Rafiz mengepal tangannya, meremas kertas yang di pegang saat melihat di kertas itu ada nama orang yang sering di berhubungan aksan melalui telepon, dia adalah Dirga, pemimpi IT di perusahaannya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca🙏
Mohon dukungannya ya kak, dengan terus memberikan Like, Vote dan komennya 🙏
salam dariku 🤗
author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖