
Malam hari Rafiz dan Nandira sudah tertidur.
Syahidah yang tak bisa tidur menghampiri kamar mamanya.
Syahidah mengetuk pintu kamar mama dan Papanya, Rafiz yang baru saja tertidur langsung bangun dan membuka pintu.
"Syahidah Ada apa Sayang?" tanya Rafiz.
Syahidah nggak bisa tidur Pah, bobo disini ya aku mau dipeluk Mama," ucap Syahidah.
"Iya boleh, ayo kita tidur sama Mama," ucap Rafiz.
Syahidah dengan gontai berjalan masuk sambil membawa boneka karakter Elsa yang selama ini menemani tidur.
Nandira yang merasa kehadiran Syahidah di samping nya membuka mata dan memberikan mengecup di kening putrinya itu.
"Ada apa Sayang?" tanya Nandira mengusap lembut rambut anak gadis itu.
"Syahidah bobo disini ya Mah?"
"Iya," ucap Nandira membawa Syahidah ke pelukannya.
Syahidah jika telah bermimpi buruk, ia akan susah untuk tidur kembali. Ia hanya akan tidur jika dipeluk oleh mamanya.
Rafiz mencium kedua kening wanita yang sedang tertidur disampingnya, kemudian dia pun ikut tertidur sambil memeluk Putri dan istrinya.
***
Pagi hari hafiz dan Zidan berencana kembali mendatangi singa-nya, mereka bangun lebih Awal.
"Sayang aku keluar dulu ya," ucap Rafiz membangunkan Nandira yang masih terlelap sambil memeluk Syahidah.
Nandira dengan susah membuka matanya yang masih terasa berat.
"Mau ke mana Mas?" tanya Nandira dengan suara seraknya.
"Mas mau jalan-jalan dulu dengan Zidan. Mas keluar dulu ya?" ucap Rafiz mengecup bibir Nandira.
"Iya Mas," ucap Nandira kembali menarik selimut nya.
Rafiz pun mulai bersiap-siap, mengganti piyama nya dengan pakaian olahraga.Namun, saat akan keluar Syahidah langsung berlari ke arahnya.
"Papa Syahidah juga ikut," ucap Syahidah langsung berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Rafiz melongo melihat Syahidah tiba-tiba berlari di sampingnya melewati dirinya.
Begitu juga dengan Zidan, saking terburu-buru nya Syahidah hampir menabrak Zidan yang baru keluar dari kamarnya.
Rafiz dan Zidan saling pandang dan tertawa melihat kelakuan Syahidah.
"Papa apa Syahidah akan ikut kita?" tanya Zidan.
"Iya, biarkan saja dia Ikut, nanti kita beritahu dia untuk tidak memberitahu Mama," ucap Rafiz.
Tak Mungkin ia melarang Putri kesayangannya itu untuk ikut bersama mereka, melihat Syahidah yang begitu semangat untuk ikut dengan mereka.
Rafiz dan Zidan menunggu Syahidah sambil menyiapkan sepeda yang akan digunakan Syahidah.
Syahidah berlari ke arah mereka.
"Ayo Pah kita jalan-jalan," ucap Syahidah dengan penuh semangat, tak lupa ia membawa sebotol air minum dan menaruhnya di keranjang depan sepedanya.
Merekapun mengayuh sepeda menuju ke rumah di mana Rafiz menyimpan singa tersebut.
"Papa kenapa kita kesini?" tanya Syahidah saat melihat rumah itu adalah rumah tempat ia sering melihat Pak Karyo.
Benar saja, saat membuka gerbang Pak Karyo sudah ada di dalam.
"Pagi Pak Karyo," sapa Syahidah.
"Pagi, Non!," jawab Pak Karyo.
Syahidah memegang tangan Papanya dan berjalan ke belakang rumah tersebut.
"Syahidah sudah curiga jika Papa dan Kakak pasti menyembunyikan sesuatu," ucap Syahidah saat melihat singa itu ada di sana.
Singa itu langsung berdiri dan menghampiri mereka.
"Tapi kamu jangan bilang-bilang Mama ya," ucap Zidan.
"Emang kenapa kalau mama tahu?"tanya Syahidah dengan polosnya.
"Mama pasti melarang kita memelihara singa ini," ucap Zidan.
"Kakak kalau Mama sudah melarang ya udah jangan dilakukan, kalau Mama sampai tahu Kakak sama Papa menyembunyikan Singa ini di Sini Mama pasti marah," ucap Syahidah.
Zidan langsung menutup mulut adiknya dengan jari telunjuknya.
"Makanya jangan bilang Mama, oke." ucap Zidan mencubit kedua pipi adiknya.
"Tapi kalau mama tau sendiri gimana?" tanya Syahidah.
"Biar Papa yang beritahu mama, Papa akan coba jelaskan pada Mama kalau singa ini tak berbahaya bagi kita," ucap Rafiz.
Syahidah langsung bersembunyi di belakang Papanya saat Singa itu mendekat kepada mereka.
Zidan mengelus Singa itu seperti mengelus seekor kucing.
"Ini nggak berbahaya kok dek, Singa-nya sudah jinak dan mengenali kita," ucap Zidan mencoba menarik tangan Syahidah untuk ikut mengelus Singa itu.
Syahidah tetap tak berani dan terus berada di belakang Papanya.
Rafiz membantu Syahidah untuk memberi makan singa itu agar mereka lebih dekat.
Awalnya Syahidah takut.Namun, lama-kelamaan ia menjadi lebih berani dan justru paling semangat bermain dengan singa itu.
"Kita pulang sekarang!" ucap Rafiz pada kedua anaknya yang masih asyik bermain dengan singa.
"Iya Pah," jawab keduanya berlari menghampiri Rafiz yang sudah menyiapkan sepeda untuk mereka.
Mereka pun kembali mengayuh sepedanya senyum tak pernah lepas dari wajah anak-anaknya, membuat Rafiz sangat bahagia melihatnya.
Hari-harinya sangat berubah, semenjak Rafiz mengenal sosok Nandira yang telah memberinya dua malaikat kecil yang menghiasi hidupnya.
Mereka terus tertawa saat memasuki rumah.
Rafiz langsung menghampiri Nandira yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Mengecup singkat pipinya.
"Ayo cepat kalian siap-siap, lalu kita sarapan!" ucap Nandira.
"Iya Mah," jawab keduanya berlari naik ke kamarnya.
Rafiz pun berlalu ke kamarnya, bersiap-siap untuk ke kantor.
Nandira sudah menyiapkan pakaian yang akan mereka pakai.
"Kamu juga akan ke kantor?" tanya Mommy.
"Iya Mom, hari ini aku akan ke kantor untuk mengecek kondisi kantor. Sebelum makan siang aku sudah pulang kok, Mom," ucap Nandira menata makanan.
"Nandira siap-siap dulu ya, Mom," ucapnya pada mommy yang masih sibuk di dapur.
"Iya, pergilah. Biar Mommy yang menyelesaikan nya," jawab Mommy.
Nandira juga bersiap-siap akan ke kantor.
"Hari ini aku ke kantor ya?" izin Nandira sambil memasang dasi Rafiz.
"Iya," ucap Rafiz memberikan kecupan pada Nandira.
"Mas pulangnya jam berapa?" tanya Nandira.
"Sore," jawab Rafiz kembali mengecup bibir Nandira.
"Mau aku bawakan makan siang?" tanya Nandira.
"Enggak usah," jawab Rafiz kembali mengecup bibir istrinya.
Nandira memukul dada Rafiz, setiap pertanyaannya dibalas kecupan oleh suaminya itu.
Rafiz tertawa dan menarik pinggang Nandira. Ia sangat senang mengecup bibir istrinya.
"Aku makin cinta deh sama kamu," bisik Rafiz.
"Ia Mas, kalau kita gini terus kapan kita siapnya? nanti anak-anak keburu telat loh sekolahnya," ucap mencoba melepaskan pelukan Rafiz.
Rafiz kembali mengecup bibir Nandira sebelum melepas pelukannya.
"Aku tunggu di bawah, kamu berangkat ke kantor bareng kami saja, nanti pulangnya Aku akan suruh sopir kantor untuk menjemput kalian," ucap Rafiz kemudian turun ke bawah untuk sarapan.
Zidan dan Syahidah sudah lebih dulu ada di meja makan, mereka sudah mulai sarapan ditemani oleh kakek dan neneknya.
Tak lama kemudian Nandira pun turun dengan pakaian kantor dan ikut bergabung dengan mereka.
"Mama mau ke kantor?" tanya Syahidah.
"Ia sayang, nanti biar Mama yang jemput kalian," ucap Nandira.
Syahidah hanya mengangguk menjawab pertanyaan mamanya, mulutnya penuh dengan nasi goreng kesukaannya.
Sedangkan Zidan memilih memakan roti yang sudah diolesi selai coklat dan segelas susu.
Mereka pun berangkat bersama-sama, Rafiz mengantar anak-anak terlebih dahulu ke sekolahnya.
"Kalian belajar yang rajin ya, tunggu Mama jangan kemana-mana setelah pulang sekolah," ucap Nandira saat kedua anaknya menyalami mereka sebelum turun dari mobil.
"Iya Mah," ucap keduanya kemudian berlari memasuki gerbang sekolah.
Rafiz kemudian mengantar nandira ke kantor,
"Aku masuk dulu ya," pamit Nandira .
"Biar sopir kantor yang menjemput kalian," ucap Rafiz.
"Iya," Nandira pamit pada Rafiz dan masuk ke kantor.
Rafiz melihat Nandira hingga masuk ke kantor kemudian barulah ia pergi dari sana.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote dan komennya 💗🙏
Salam dariku 🤗
Author m anha ❤️
love you all 💕💕💕
💖💖💖💖💗💗💗💗💗💗💖💖💖💖