My Papa My Boss

My Papa My Boss
Penyelamatan.



Setelah berjam-jam berkendara akhirnya mereka mendekati tempat tujuan mereka, dimana Zidan dan Syahidah di sekap.


Saat dalam perjalanan Rafiz meminta beberapa orang nya menyusul lokasi mereka.


Saat melihat lokasi tersebut terdapat di tengah hutan.


"Kita nggak nyasar kan?" tanya Nandira yang melihat sepanjang perjalanan mereka hanyalah hutan belantara.


"Sepertinya tempatnya memang berada di tengah hutan," ucap Rafiz yang terus memperhatikan arah petunjuk di ponselnya.


Ia memelankan laju mobilnya, mencoba mencari jalan untuk bisa masuk lebih dalam lagi ke hutan itu.


Hanya terdapat jalan setapak yang sudah rimbun. Sepertinya hanya sesekali saja di lalui kendaraan beroda empat.


Saat semakin dekat dengan tujuan beberapa orang langsung mencegat mobil mereka,


"Berhenti,"ucap mereka menghentikan mobil Rafiz dan menggedor-gedor pintunya mobil.


"Turun, turun kalian," ucapnya lagi.


Nandira sangat ketakutan melihat mereka semua,


" Jangan keluar, "Nandira menahan Rafiz saat ia ingin membuka pintu,


"Tetaplah dalam mobil, jangan keluar," ucapan Rafiz kemudian keluar dari mobil.


Begitu Rafiz keluar mereka langsung mendarat pukulan di wajahnya, Nandira memekik saat melihat Rafiz terus dipukuli oleh berapa orang.


Walau sudah mencoba melawan namun jumlah mereka terlalu banyak.


Beberapa saat kemudian, beberapa mobil datang. Mereka adalah orang-orang Rafiz.


Mereka langsung turun dan ikut membantu, perkelahian pun terjadi.


Suara sirine mobil polisi terdengar nyaring dan semakin mendekat,


"Mundur" ucap salah satu dari mereka, mereka semua berlari masuk ke tengah hutan.


Posisi tempat mereka sekarang sudah sangat dekat dengan tempat di mana Syahidah disekap.


Rumah megah itu berdiri di tengah hutan, dikelilingi oleh tembok yang menjulang tinggi, tak mudah untuk masuk ke sana.


"Apa...! dari mana mereka tahu lokasi kita," ucap pria yang menjadi otak dari semua penculikan itu saat mendengar dari bawahannya jika beberapa orang memasuki kawasan itu, dan polisi juga datang.


Halangi mereka, jangan sampai mereka bisa masuk. Aku tidak peduli mereka itu polisi atau apapun," perintahnya pada para anak buah yang ada di luar gerbang.


"Baik bos."


Sesuai dengan perintah bos mereka, mereka menghalangi para polisi dan juga anak buah Rafiz.


Adu tembak pun terjadi,


Rafiz langsung menarik Nandira yang masih ada di dalam mobil. Nandira langsung turun dari mobil dan mereka bersembunyi di balik pohon, Iya menutup kepalanya dan kedua tangannya dan terus menjerit ketakutan saat mendengar suara tembakan.


Rafiz terus melindungi Nandira.


Suara tembakan terus terdengar membuat Nandirah semakin cemas, berarti orang-orang yang menculik kedua anaknya bukanlah orang sembarangan.


Para penculik itu kewalahan menghadapi para petugas kepolisian yang terus berdatangan.


Mereka pun melaporkan situasi tersebut kepada bos mereka.


"Kurang ajar, kita harus pergi dari sini.


Bawa anak-anak itu ikut bersama kita," ucap pria itu pada asisten nya.


Zidan yang mendengar kegaduhan di luar dan mendengar surat tembakan bisa memastikan kalau itu adalah bala bantuan yang sudah datang.


"Itu pasti Papa dan Mama," ucap Syahidah yang juga bisa mendengar suara tembakan itu.


"Ayo cepat kita harus keluar dari tempat ini," ucap Zidan.


Begitu pintu dibuka, para penculik itu tak melihat sosok Syahidah di dalam kamar itu, mereka pun masuk ke dalam kamar mencari Syahidah.


Melihat keduanya masuk kedalam kamar Zidan dan Syahidah langsung berlari keluar dan mengunci pintu itu dari luar. Mereka berlari sekencang mungkin, Zidan yang sudah memperhatikan melawati tempat itu saat berada di dalam troli makanan tahu ke arah mana ia harus berlari.


Mereka berhasil keluar dari rumah itu, kedua penjahat yang terkurung di kamar juga berhasil keluar dan melihat Zidan dan Syahidah sudah berada di luar rumah.


Mereka mengejar Zidan dan Syahidah.


Para penjaga yang biasa berjaga di luar rumah itu juga ikut keluar membantu menghalangi para polisi yang semakin mendekat.


"Kemana mereka, kenapa lama sekali.


Membawa anak itu saja pekerjaan mereka tidak becus," ucap otak dari penculikan tersebut. Ia sudah berdiri disamping helikopter yang siap untuk diterbangkan.


Zidan dan Syahidah terus berlari dari kejaran dua anak pria besar yang mengejarnya.


Syahidah sudah tidak kuat lagi berlari, kakinya terasa pegal. Syahidah tak sengaja menginjak batu saat Ingin turun dari tangga yang ada di halaman rumah itu. Halaman rumah itu sungguh sangat luas.


Syahidah tergelincir dan ke kepalanya terbentur di tembok. Zidan melihat darah bercucuran di kepala adiknya, Syahidah merasa pusing, penglihatannya gelap ia pun pingsan.


Zidan terus menggoyang-goyangkan tubuh Syahidah,


"Syahidah bangun kita harus pergi dari sini," ucap Zidan mencoba mengangkat Syahidah saat melihat kedua orang itu semakin mendekat.


Zidan menggendong Syahidah di punggungnya dan terus berlari menuju ke pintu gerbang yang sudah terlihat.


"Syahidah bangun," ucap Zidan menangis sambil terus berlari. Ia sangat takut saat melihat darah Syahidah menetes di pundaknya.


Setelah mendekati pintu gerbang dan melihat Papa dan Mamanya Zidan mempercepat langkahnya,


"Papa, Mama," Rafiz dan Nandira langsung berlari menuju kearah mereka dua.


Pria yang ingin menangkap mereka menghentikan langkahnya saat melihat Zidan dan Syahidah berlari menuju Papa dan mamanya yang semakin mendekat.


Mereka kembali dan melapor pada pria yang sudah menunggu di dekat helikopternya,


"Maaf kami gagal menangkapnya gadis kecil itu. Dan sepertinya mereka juga sudah di menangkap Semua orang kita,," ucap anak buah


Pria tanpa identitas itu.


"Ayo kita pergi dari sini,"


Meraka dengan cepat naik ke helikopter yang sudah siap terbang,


"Ini belum berakhir," batin pria itu menatap kebawah dan melihat begitu banyak polisi mengepung rumah itu.


Rumah sudah dikepung, namun mereka sudah terlambat otak dari penculikan itu sudah pergi meninggalkan tempat itu dengan helikopter .


Syahidah langsung dilarikan ke rumah sakit,


"Syahidah bangun sayang," ucap Nandira memeluk erat anaknya, mencoba menghentikan darah Syahidah yang terus mengalir.


Zidan yang melihat adiknya tak sadarkan diri dan berlumuran darah sangat takut, Ia sangat jarang menangis namun kali ini ia menagis sejadi-jadinya.


Polisi mengamankan semua anak buah penculik itu dan beberapa pekerja yang ada di rumah itu.


Saat mereka di introgasi, para pelaku itu tetap diam, tak ada satupun yang mengenal siapa dalang dari penculikan itu.


Mereka mengaku, mereka hanya melakukan apa yang disuruh oleh Nya. Mereka sama sekali tak mengenal siapa orang tersebut.


Rumah itu bukanlah rumah milik penculik tersebut, ia sengaja menyewa tempat itu agar identitasnya tidak bisa dilacak.


💕💕💕💕❤️💕💕💕💕💕


Like, Vote dan komennya 🙏


Author m Anha.


💖💖💖💖💖💖❤️💖💖💖💖💖