
Nandira, aku mohon tetaplah disini bersama mommy dan Daddy. Sangat berbahaya jika kau ikut dengan ku," ucap Rafiz minta Nandira untuk tak ikut dengannya, Rafiz berencana akan pergi ke luar negeri saat ini juga.
Rafiz tak ingin membuang-buang waktu lagi, ia tak ingin jika ia sampai terlambat dan terjadi sesuatu pada anak-anaknya.
"Nggak, aku nggak mau. Aku harus ikut, mereka anak-anakku," ucap Nandira memegang lengan Rafiz memohon untuk bisa ikut…
"Nandira, dengarkan aku, aku akan menyelamatkan anak-anak kita. Aku takkan membiarkan sesuatu hal buruk terjadi pada mereka, jadi tolong percayalah padaku dan tetaplah disini," ujar Rafiz menatap mata Nandira.
"Nggak, aku mohon, Mas. Bawa aku ikut! Aku juga ingin mencari anak-anak kita, aku tak bisa tenang di sini hanya menunggu kabar darimu," Nandira sudah kembali menangis, ia ingin tetap ikut bersama Rafiz ke luar negeri mencari anak-anak mereka.
Rafiz tak bisa berbuat apa-apa, Nandira tetap kekeh untuk ikut bersamanya.
Mereka pun pergi ke alamat yang ada di tumpukan kertas yang mereka temukan di kamar Syahidah. Di sana tertera jelas alamat Jazlyn, tujuan utama mereka adalah menemui Jazlyn. Rafiz yakin awal dari semua masalah ini adalah berawal dari Jazlyn.
Berbekal dengan alamat yang dicatat lengkap oleh Syahidah, Nandira dan Rafiz mencari alamat Jazlyn dan benar saja sesuai dengan petunjuk Syahidah, Jazlyn benar tinggal di Apartemen itu. Sebuah Apartemen sederhana di pinggiran kota.
"Apa Jazlyn benar tinggal di sini?" tanya Nandira melihat kondisi sekitaran Apartemen itu sangat jauh berbeda dari apa yang dibayangkannya. Jazlyn yang dulunya terlihat sangat elegan, berpakaian modis sekarang tinggal di Apartemen sempit dan sedikit kotor menurut Nandira.
"Sepertinya Jazlyn tinggal di sana," tunjuk Rafiz pada salah satu pintu yang tak jauh dari mereka.
Dengan segera Nandira mengetuk pintunya beberapa kali, hingga seseorang membuka pintu. Jazlyn sangat terkejut melihat kedatangan Rafiz dan Nandira.
Dengan cepat ia Ingin menutup pintu, Namun, Rafiz dengan cepat menahan pintu tersebut dan memaksa untuk masuk.
Rafiz menatap tajam pada Jazlyn, membuatnya semakin takut. " Ada apa ini, mengapa mereka mendatangiku. Apa ini ada hubungannya dengan Aksan," batin Jazlyn.
Jazlyn kembali teringat dengan perkataan Aksan yang akan membalas dendam pada Rafiz karena merebutnya darinya.
"Apa kau mengenal Aksan?" tanya Rafiz tak membuang waktu lagi.
"Ia, aku mengenalnya," ucap Jazlyn jujur, dugaannya benar, Rafiz mendatanginya karena masalah Aksan.
"Di mana dia membawa anak-anak ku?" tanya Nandira.
"Aku tak tahu dimana Aksan sekarang," jawab Jazlyn.
"Bohong," bentak Nandira "Katakan dimana dia membawa anak-anak ku?"
Nandira yang mengira Jazlyn bekerjasama dengan pria yang bernama Aksan untuk menyakiti anak-anaknya.
"Tenanglah!" ucap Rafiz mencoba menahan Nandira yang ingin menghampiri Jazlyn.
"Jazlyn, katakan yang sejujurnya di mana Aksan membawa anak-anak kami? Sekarang mereka dalam bahaya, jadi jangan bermain-main," geram Rafiz menatap Jazlyn berapi-api.
"Aku benar-benar tidak tahu di mana Aksan sekarang. Aku sudah lama tak berhubungan dengannya, terakhir aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu dan aku tak pernah lagi bertemu dengannya," jawab Jazlyn gugup.
Rafiz menatap mata Jazlyn, dia bisa melihat tak ada kebohongan disana, dia sudah mengenal Jazlyn mereka pernah hidup bersama. Rafiz tahu saat ini Jazlyn tak berbohong dan berkata jujur.
"Kamu bohong Jazlyn, kau pasti bekerja sama dengannya dan ingin menyakiti anak-anakku," ucap Nandira berderai air mata.
"Tenanglah Jazlyn berkata jujur, aku yakin Jazlyn sama sekali tak mengetahui dimana anak-anak kita," ucap Rafiz membawa Nandira ke pelukannya, Rafiz paham mengapa Nandira bersikap seperti itu, dia hanya seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.
Jazlyn kemudian mengambilkan air untuk Nandira agar Nandira bisa lebih tenang.
Setelah merasa lebih tenang, mereka pun duduk dan membicarakan tentang Aksan.
"Aku minta maaf. Semua ini karena salahku, tak seharusnya ia marah padamu karena kau tak tahu apa-apa tentang aku waktu itu. Akulah yang salah karena menerima lamaranmu sedangkan aku sudah menerima lamarannya terlebih dahulu."
"Sudahlah, Itu sudah berlalu. Apa kau tahu sesuatu tentang Aksan? Di mana kira-kira dia membawa anak-anakku,?"
"Aku tak tahu, aku tak punya bayangan sedikitpun di mana dia akan membawa anak-anak kalian. Sewaktu bersamaku dulu, kami hidup sangat sederhana tinggal di Apartemen ini, tapi sekarang sepertinya dia sudah jauh berbeda. Aksan sudah memiliki banyak uang, harta yang berlimpah. Aksan bisa membawa anak-anak kalian ke mana saja yang ia mau," jelas Jazlyn.
Rafiz kembali mengambil beberapa kertas. Kertas itu adalah hasil penyelidikan Zidan dan Syahidah. Syahidah bertugas melacak apa saja yang diminta oleh Zidan. Zidan lah yang berperan penting mencari tahu apa yang harus mereka gali dan informasi, apa yang harus mereka dapatkan. Zidan juga memeriksa di mana saja lokasi Aksan sering menghabiskan waktunya melalui jaringan ponselnya yang sudah di retas Syahidah. Zidan memberi tanda pada tempat-tempat yang sering Aksan kunjungi dan itu sangat membantu Rafiz saat ini.
"Zidan, Syahidah kalian memang anak yang genius," batin Rafiz saat melihat petunjuk dari Zidan. Tertulis jelas alamat dan lokasi tempat Aksan. "Tunggulah papa, papa kan menyelamatkan kalian walau nyawa papa taruhannya."
Rafiz meminta anak buahnya untuk mencari tahu lokasi yang diberi tanda oleh anak-anaknya.
Dari semua lokasi Rafiz memilih sebuah gedung tua yang jaraknya agak jauh dari daerah perkotaan, Rafiz yakin itu adalah tempat yang sangat aman untuk menyekap anak-anaknya.
"Jazlyn Aku titip Nandira, aku akan coba mencari mereka di tempat ini." Memperlihatkan sebuah lokasi pada mereka.
"Nggak Mas, aku ingin ikut," kekeh Nandira.
"Nandira dengarkan aku, ini sangat berbahaya tunggulah di sini aku akan menyelamatkan anak-anak kita, percayalah padaku".
Kali ini Nandira juga tetap kekeh ingin ikut bersama Rafiz. Namun, Rafiz tak mengizinkan Nandira ikut dengan nya, kali ini sangat berbahaya dan dia tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya dalam bahaya.
"Jazlyn aku titipkan Nandira."
"Yah, tentu saja."
Nandira hanya bisa pasrah melihat Rafiz keluar dari Apartemen Jazlyn. Nandira terus berdoa untuk keselamatan ketiga orang yang dicintainya.
"Seperti apa sosok Aksan sebenarnya? Apakah dia sangat berbahaya?" tanya Nandira pada Jazlyn.
"Yang aku tau, Aksan adalah pria yang sangat baik, sangat lembut, tapi terakhir aku bertemu dengannya dia seperti monster yang siap menerkam ku. Aku tak tahu jika kesalahanku di masa lalu bisa mengubahnya. Aksan yang begitu lembut menjadi orang yang sangat keji," jelas Jazlyn mengingat sosok Aksan.
"Bahkan ia telah membunuh Miran."
"Apa ... membunuh Miran?" Jazlyn tak percaya jika Aksan yang dikenalnya mampu melakukan hal sekejam itu.
"Nggak mungkin, Aksan memang jahat, tapi aku yakin dia tak akan membunuh seseorang,"
"Tapi itulah kenyataannya. Aku sangat takut bagaimana jika ia juga menyakiti anak-anakku, kami tidak punya salah apa-apa dan tak tahu menahu tentang masa lalu kalian. Lalu mengapa dia harus nyakitin anak-anakku." Nandira kembali menangis, saat dia membayangkan ketakutan yang dihadapi oleh anak kembarnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca🙏
Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote, dan komennya,🙏ditunggu ya🤗
Salam dariku🥰
Author m anha❤️
Love you all💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖