My Papa My Boss

My Papa My Boss
Kebahagiaan memiliki Cucu.



"Papa di mana?" chat Zidan pada Papanya.


"Papa membawa mama ke hotel, kami akan kembali besok pagi," balas Rafiz.


"Apa nama baik-baik saja?"


"Tentu saja, Papa janji akan menjaga mama mu dengan baik,"


"Bagaimana dengan permintaan Zidan?"


"Papa sudah melakukannya, semoga saja mereka takkan kembali lagi ke negara ini!" jawab Rafiz.


"Zidan ingin Papa menikahi Mama secepatnya," tulis Zidan.


"Tentu saja, papa akan melakukan secepat mungkin.," jawab Rafiz tersenyum saat membaca pesan tersebut. Membaca permintaan ke kedua Zidan.


"Kamu kenapa?" tanya Nandira yang lihat Rafiz terus tersenyum menatap layar ponselnya.


"Enggak, enggak apa-apa!" jawab Rafiz tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar ponselnya.


"Itu pesan dari siapa?!" tanya yang Nandira mulai cemburu.


"Bukan siapa-siapa," jawabnya masih tetap fokus membalas pesan tersebut sambil tersenyum.


"Siapa sih yang sedang berbalas pesan dengannya," batin Nandira menatap Rafiz tak suka saat Rafiz membalas pesan sambil terus tersenyum dan mengabaikan nya.


"Kamu punya wanita lain ya?!" tanya Nandira yang sudah tak tahan melihat tingkah tunangannya itu.


Dengan cepat Rafiz melihat kearah Nandira yang memasang wajah curiga padanya.


Rafiz berdiri dan berjalan ke arah tunangannya itu, dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.


Rafiz duduk disamping Nandira dan memperlihatkan dengan siapa ia sedang berbalas pesan.


Nandira membacanya dan merasa malu sendiri, ternyata ia sedang berbalas chat dengan anaknya sendiri Zidan yang memintanya untuk segera menikahinya.


"Ponselku di mana ya?" tanya Nandira yang baru mengingat Dia Belum menghubungi anak-anaknya.


"Aku sudah menyuruh orang kantor untuk mengamankan nya"Jawab Rafiz.


"Anak-anak bagaimana, mereka pasti mencari ku,"


"Tenang saja, mereka tahu kemana kita pergi berdua, Mereka memang anak-anak yang cerdas, Sepertinya dia melihat semuanya dari CCTV kantor, ini pasti kerjaan Syahidah.


Rafiz menggenggam tangan Nandira dan mengecupnya singkat,


"Terima kasih sudah melahirkan anak-anak yang genius untukku, Aku benar-benar tak menyangka bisa memiliki anak sehebat mereka ," ucap Rafiz mengingat ke kemampuan anak-anaknya.


Nandira tersenyum.


"Sebenarnya aku juga baru tahu kemampuan mereka," ucap Nandira mengingat kenangan di mana saat ia pingsan dan mendapat guyuran air dari mereka.


"Benarkah, aku pikir kau yang mengajari dan membimbing mereka!.


Nandira menggeleng,


"Tidak, aku baru tahunya beberapa bulan yang lalu."


"Apakah tahu alasan kami pindah ke sini ?"tanya Nandira,


Rafiz menggeleng,


"Kalian bukannya dulu tinggal di pulau ya?" ucap Rafiz mengingat pertemuan kedua mereka.


"Sepertinya saat pertama kali mereka melihat mu di pulau itu, mereka sudah yakin kalau kau adalah Papa mereka. Makanya dengan segala cara mereka meminta untuk pindah ke kota ini, dengan alasan ingin sekolah di sini, tapi aku yakin alasan sebenarnya mereka ingin mencari mu." jelas Nandira.


"Kau benar, karena Secret Partner ini aku jadi berkomunikasi dengan Zidan, waktu itu Zidan tak ingin berkomunikasi dengan yang lain, sepertinya tujuan Zidan menciptakan game itu memang hanya ingin menemui ku."


"Iya ,kau benar!" ucap Nandira.


"Awalnya aku tak menyangka jika penciptanya adalah seorang anak kecil." ucap Rafiz


"Apakah tahu game yang diciptakan Zidan ini menjadi game terpopuler nomor satu di dunia, Aku senang tapi aku juga takut." tambah Rafiz.


"kenapa?" tanya Nadira menatap Rafiz.


"Iya, aku senang karena anak-anak kita memiliki kecerdasan, tapi aku juga takut jika ada orang-orang yang menginginkan mereka dan berniat jahat kepada mereka jika mengetahui kecerdasan yang mereka miliki. Keputusan anak-anak untuk merahasiakan kecerdasan mereka adalah keputusan yang tepat, tapi sepertinya ada seseorang yang mengetahui jika salah satu dari mereka lah pencipta Game itu


"jawab Rafiz


"Maksudmu apakah penculikan yang lalu itu ada hubungannya dengan game online ini?"


Rafiz mengangguk,


"Iya, semua itu karena game Secret partner ini," ucap Rafiz mengingat cerita Zidan jika mereka menginginkan kan game Secret partner ini saat mereka diculik.


"Aku takkan membiarkan semua terjadi ," ucap Rafiz duduk menghadap Nandira memegang kedua tangan tunangannya itu.


"Sebaiknya kalian tinggal di rumahku saja, di sana akan lebih aman. Kau meninggalkan mereka saat bekerja kan?, di rumahku akan ada Daddy dan Mommy yang akan menjaga mereka.


Aku akan menyewa beberapa orang untuk mengawasi mereka saat di sekolah."pinta Rafiz


"Tapi kita kan belum menikah, Kenapa kita akan tinggal bersama?!"


Rafiz mencubit hidung Nandira,


"Emangnya kenapa kalau kita tinggal bersama sebelum menikah, di rumah bukan hanya kita berdua. Di sana ada mommy dan Daddy, anak-anak juga ada di sana. Apa yang kau takutkan," tersenyum menatap Nandira.


Nandira menunduk,


"Aku tak memikirkan apa-apa,"


Rafiz tertawa saat melihat pipi Nandira yang kembali merona.


Satu pesan masuk ke ponsel Rafiz, membuat mereka berdua menetap pada ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur itu.


Nandira dengan cepat mengambil ponsel tersebut,


Keduanya menatap layar ponsel dengan penuh penasaran, disana tertulis satu pesan gambar.


Nandira membuka pesan tersebut.


Mereka berdua tertawa saat melihat pesan gambar yang di kirim Zidan kepada mereka.


Gambar tersebut adalah foto kedua orang tua Rafiz dan kedua anak kembar mereka memakai piyama couple, kepala mommy dan Syahidah dipenuhi dengan rol rambut. Sedangkan wajah Daddy dipenuhi oleh make up.


Mereka berpose sangat lucu.


"Kau melihatkan, Daddy dan Mommy sangat senang anak-anak ada bersama mereka, mereka sudah sangat lama menginginkan cucu."


"Baiklah aku akan tinggal bersamamu, aku juga merasa takut kejadian buruk terulang kembali dan menimpa kami." jawab Nandira.


Di kediaman Rafiz.


Anak-anak yang terus menanyakan papa dan Mamanya membuat mommy dan Daddy mengajak mereka bermain. Beberapa permainan telah mereka mainkan.


Sebuah ide muncul saat Syahidah melihat mommy merapikan alat make up nya.


"Nenek, apa boleh Syahidah meminjam beberapa make up nenek?" tanya Syahidah menghampiri neneknya.


"Tentu saja boleh" ucap mommy memberikan kotak make up nya pada Syahidah.


Syahidah langsung berlari menuju ke kakeknya dengan kotak make up nenek yang ada di tangannya.


Mommy mengikuti Syahidah, walau di usianya yang sudah tua mommy tetap rajin merawat penampilannya.


Malam ini mereka memakai piyama couple, yang sengaja mommy pesan melalui aplikasi online. Mereka Semua terlihat sangat menggemaskan memakai piyama berwarna pink dengan motif Frozen, film kartun kesukaan Syahidah.


"Kakek kita bermain yuk," ajak Syahidah.


"Bermain apa?" tanya kakek.


Syahidah mengeluarkan permainan yang berbentuk balok balok dari dalam tasnya.


"Kita main ini ya kek, yang kalah akan menuruti permintaan yang menang, bagaimana kakek setuju,"ucap Syahidah mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan kakek.


"Baiklah kakek setuju," menyambut uluran tangan Syahidah.


Mereka pun berjabat tangan sebagai tanda persetujuan atas aturan permainan mereka.


Nenek dan Zidan juga ikut menghampiri mereka berdua dan ikut bermain.


Zidan dan Syahidah yang sudah terbiasa memainkannya tentu saja akan mampu mengalahkan kakek dan neneknya sehingga mereka berdua meminta kakek dan neneknya tak menolak saat mereka akan memoles wajah mereka dengan make up.


Dengan pasrah Kakek menerima polesan make up dari Zidan sedangkan Syahidah berusaha mempercantik neneknya dengan bakat makeup nya yang baru ia pelajari melalui YouTube.


Setelah melihat hasil karya mereka, mereka semua tertawa. Tak ingin membuang momen berharga tersebut Zidan mengambil ponselnya dan mengambil gambar mereka, lalu mengirim kepada mama dan Papanya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


mohon beri dukungan kalian dengan memberi


LIKE, VOTE DAN KOMENNYA.


salam dariku Author m anha.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖