
Mereka mencari Zidan dan Syahidah hingga larut malam, Tapi tak satupun bukti yang bisa menunjukkan keberadaan mereka.
"Bagaimana ini Pak?" tanya Rafiz kepada petugas kepolisian.
"Kami akan terus mencarinya, sepertinya mereka sudah merencanakan ini dengan sangat rapi, tapi percayalah cepat atau lambat kami akan menemukan anak bapak," ucap petugas kepolisian itu kemudian kembali melanjutkan pencarian.
"Ini semua salahmu, Jika saja kau tak melupakan janjimu pada mereka pasti mereka sekarang masih ada bersama kita," ucap Nandira terus menyalahkan Rafiz atas menghilang kedua anaknya, kepalanya sudah terasa pusing sejak tadi ia terus saja menangis.
Mereka melakukan pencarian hingga lewat tengah malam, Nandira yang kelelahan sehabis berkendara dari luar kota dan tekanan kehilangan kedua anaknya pun tertidur di mobil.
"Sebaiknya kalian pulang saja, kami akan tetap mencarinya," usul pak polisi melihat Nandira yang terlihat sangat kelelahan.
"Mohon bantuannya Pak ," ucap Rafiz.
Rafiz membawa Nandira pulang ke rumahnya, saat sampai di rumah Rafiz menggendong Nandira hingga ke kamarnya, ia melepas sepatu dan memberi selimut menutupi hingga ke perutnya.
"Rafiz apa-apaan ini, kenapa kamu membawa dia pulang ke sini," geram Jazlyn
Rafiz langsung membekap mulut Jazlyn dan membawanya keluar dari kamar itu, setelah sampai di luar Jazlyn langsung menepis tangan Rafiz yang masih membuka mulutnya.
"Apa maksudmu membawanya ke kamarmu? kau ingin tidur bersamanya?!" protes Jazlyn tak terima mereka akan tidur bersama.
"Tentu saya tidak, akan tidur di kamar tamu," jawab Rafiz berlalu turun ke lantai bawah.
"Tapi mengapa kau membawanya ke sini"
"Itu bukan urusanmu?"
"itu urusan ku, aku tak suka dia tinggal bersama nya."
"Kalau kau tak suka kau boleh pergi dari sini," tegas Rafiz membuat Jazlyn langsung terdiam.
Rafiz duduk dan mengusap wajah nya kasar.
Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan Zidan dan Syahidah.
Rafiz menelfon seseorang meminta membantu mencari mereka.
Mommy yang terbangun langsung menghampiri mereka.
"Kenapa kalian berisik sekali di tengah malam seperti ini ?!" tanya mommy,
"ini mom, Rafiz membawa pulang Nandira," lapor Jazlyn.
"Apa maksudnya, lalu di mana anak-anak, mengapa kalian datang di tengah malam begini?!" tanya Mommy melihat Rafiz.
"Cuman mamanya mom, anak-anaknya ga ikut." jawab Jazlyn.
"Ga ikut bagimana maksud kamu,
tanya mommy semakin bingung,
Rafiz pun mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini, mulai dari kejadian di kantor hingga di rumah Nandira, mommy sangat terkejut mendengar bahwa Zidan dan Syahidah menghilang, namun tidak dengan Jazlyn, senyum bahagia terbit di bibirnya.
"Apakah kau sudah melaporkan ke pihak yang berwajib?" tanya Mommy,
"Sudah mom, mereka sedang melakukan pencarian.,"
"Semoga saja anak-anak baik-baik saja.,"
****
Pagi hari Nandira merasakan sakit di kepalanya, ia memijat pelan pelipisnya, Namun saat ingatannya kembali pada anak kembarnya Nandira langsung terbangun. Ia terkejut saat ia menyadari jika ia berada di sebuah kamar mewah yang tak ia kenal.
"Di mana Ini," batinnya mencoba keluar dari kamar itu.
Nandira berjalan keluar dan melihat di lantai bawah sudah ada Daddy, mommy, Jazlyn dan Rafiz.
Nandira langsung menghampiri mereka,
"Bagaimana apa ada kabar terbaru tentang anak-anak?" tanya Nandira pada Rafiz.
Rafiz hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaaan Nandira.
"Aku akan mencoba mencari mereka," ucap Nandira.
"Kita pergi bersama," ucap Rafiz berdiri dari duduknya.
"Tapi sebaiknya kalian sarapan dulu, tidak baik pergi meninggalkan rumah dalam kondisi perut kosong, apalagi dalam kondisi seperti ini," ucap Mommy.
"Mommy mu benar, sebaiknya kalian sarapan dulu," tambah Daddy.
Nandira dan Rafiz yang memang belum makan dari semalam akhirnya menuruti perkataan mommy untuk sarapan.
Saat sarapan, di meja makan Jazlyn terus saja membuat keributan.
Nandira menghentikan makannya,
"Denger ya, aku mendidik anak-anakku dengan sangat baik. Meraka tidak akan berbuat seperti itu pada orang yang yang tak mengganggu nya, dia melakukan itu hanya untuk membela dirinya," ucap Nandira yang tahu apa maksud dari ucapan Jazlyn itu.
"Jazlyn jangan memperkeruh suasana," tegur Rafiz.
"Aku tidak memperkeruh suasana, memang itulah kenyataannya. Kedua anaknya memang sangatlah nakal, apa kamu tidak lihat apa yang sudah mereka lakukan padaku," tegas Jazlyn.
Nandira menatap tajam Jazlyn.
"Kenapa kamu tidak suka," bentak Jazlyn yang tak suka melihat tatapan Nandira.
Nandira ingin membalas ucapan Jazlyn, namun Suara pesan masuk di ponselnya,
Nandira membacanya dan itu pesan dari Syahidah.
"Rafiz ini dari syahidah," ucap Nandira memperlihatkan pesan itu kepada Rafiz.
"Ayo cepat kita ke sana," ucap Rafiz.
Saat Rafiz ingin berdiri dari duduknya Jazlyn menahan tangan nya.
"Untuk apa sih kamu sibuk mencari anak orang lain, biarkan saja mamanya yang mencarinya," ucap Jazlyn.
Rafiz menepis genggaman Jazlyn.
"Kalau memang kau tidak ingin membantu mencari mereka, tak usah menghalangi kami," ucap Rafiz lalu pergi bersama Nandira ke tempat yang dikirim oleh Syahidah.
Tak lupa Rafiz juga memberitahu kepada pihak kepolisian informasi yang ia dapatkan.
"Cepatlah," ucap Nandira saat Rafiz sudah menjalankan mobilnya, Rafiz memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju titik dimana Syahidah mengirim pesan tersebut.
"Ini tempatnya sangat jauh," ucap Rafiz kembali memperhatikan tempat itu,
"Siapa sebenarnya mereka, aku tak pernah mempunyai musuh. Aku tak pernah mengganggu siapapun. Mengapa mereka menculik anak-anak ku!"
"Sepertinya ini ada hubungannya dengan game online yang di menciptakan Zidan."
"Bukankah Zidan merahasiakan identitasnya dari siapapun?"
"Iya, kami selalu merehasiakan identitasnya, tapi sepertinya orang itu tau jika game online Secret Partner itu adalah ciptaan mereka."
"Bukankah selama ini kalian bertemu secara diam-diam?"
"Itulah yang aku pikirkan, tak ada orang lain yang tahu kecuali Kita dan asisten pribadi ku,"
ucap Rafiz ragu,
"Apa mungkin asisten pribadimu yang memberi tahu identitas Zidan?" tebak Nandira.
"Aku juga tidak tahu, aku sedang menyelidikinya ," jawab Rafiz.
Ponsel Rafiz berdering tertera nama Miran.
Mereka saling tatap, baru saja mereka membahas Miran, Miran sudah menelfon nya.
Rafiz meminta Nandira untuk mengangkat panggilannya. Ia terlalu fokus menyetir.
Nandira mengangkat panggilan dari Miran dan mengaktifkan pengeras suara,
"Ada apa?" tanya Rafiz.
"Bagaimana dengan peluncuran Secret partner malam nanti, apakah akan kita lanjutkan atau menundanya?" tanya Miran yang tahu keadaan Rafiz saat ini.
"Umumkan kembali jika kita menundanya untuk waktu yang tidak ditentukan," jawab Rafiz.
"Baik pak, akan saya lakukan," jawabnya mengakhiri panggilannya.
"Bagaimana kalau asisten pribadimu itu pelakunya?" tanya Nandira.
Miran sudah bekerja dengan ku bertahun-tahun, itu tidak mungkin," jawab Rafiz.
Sebenarnya orang yang paling ia curigai adalah Miran.
Rafiz meminta seseorang terus mengawasi setiap tindakan Miran.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
LIKE , VOTE, DAN KOMENNYA ❤️🙏❤️
Salam dariku Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖🙏💖💖💖💖💖💖💖💖