My Papa My Boss

My Papa My Boss
Hadiah dari Kesabaran.



Bersabar dan bersabar dalam menghadapi semua masalah yang ada dalam hidup kita, jangan pernah menyerah. Jangan pernah berputus asa yakinlah semua itu sudah ada yang mengatur .


Tangis, tawa semua harus kita jalani dengan penuh kesabaran.


Semua tergantung dari diri kita sendiri, kita ingin menyerah dan kalah dengan keadaan yang menimpa kita, atau ingin berjuang dan memenangkan segala rintangan yang ada.


Berjuang untuk meraih kebahagiaan hadiah dari segala perjuangan kita, kebahagiaan menanti kita untuk dicapai.


Kehidupan seperti roda yang terus berputar terkadang roda tersebut berada di atas dan adakalanya berada di bawah.


Terus berputar mengitari kehidupan kita.


Kebahagiaan dan kesedihan silih berganti, jadikanlah rasa syukur atas apa yang kita alami sebagai dasar perjuangan.


Apabila kita sedang di atas atau di bawah tetaplah selalu bersyukur.


Dikala bahagia atau sedih tetaplah kita selalu bersyukur.


Bersyukur dengan apa yang kita miliki tak usah memperdulikan apa yang mereka miliki.


Semua sudah ada takarannya tersendiri, yakinlah Semua akan indah pada akhirnya.


Nandira sudah berhasil melewati masa sulit nya, dimana ia berada dalam keadaan yang sungguh sangat terpuruk waktu itu,


Rasa bersyukur atas kehadiran janin yang ada di rahimnya, walaupun tanpa keinginannya, tanpa tahu janin siapa yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya. Ia tetap menyayangi dan merawatnya dengan sepenuh hati hingga bayi tersebut lahir dan menjadi awal dari kebahagiaannya.


Nandira tak pernah menyangka jika anak-anak yang dilahirkan memiliki kecerdasan dibanding dengan anak lain. Anak kembarnya memiliki kejeniusan yang mampu membawanya pada kebahagiaan yang selama ini hilang darinya.


Kelahiran Zidan dan Syahidah mampu mengembalikan kebahagiaan Nandira yang dulu hilang darinya, membantu mamanya keluar dari cobaan yang sedang dihadapinya.


Membantu memutar roda kehidupan mamanya hingga berada di atas seperti yang sedang ia rasakan saat ini.


Nandira menikmati kunjungan pertamanya setelah jujur pada Mereka semua Jika Zidan dan Syahidah adalah bagian dari keluarga Rafiz, anak dan cucu keluarga ini.


Nandira tak menyangka jika kedua anaknya sangat diterima di keluarga Papanya, kakek dan neneknya sangat menyayanginya.


Walau mereka baru tahu jika Zidan dan Syahidah adalah cucu kandungan nya, namun kedua orangtua Rafiz terlihat sangat menyayangi mereka seperti mereka sudah bersama sejak lama.


Nandira berdiri di teras rumah menatap anak-anaknya yang kembali bermain dengan para hewan dan kali ini mereka ditemani oleh kakek dan neneknya, terlihat sangat bahagia membuat Nandira terus tersenyum melihat kedekatan mereka.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu ?" tanya Rafiz. yang menghampiri Nandira dan berdiri di sampingnya.


"Tanyakanlah, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Nandira menoleh menatap Rafiz yang berdiri di samping nya itu.


Rafiz menatap lurus kedepan, melihat pemandangan yang sangat menyejukkan hatinya. Dimana kedua orang tuanya yang selama ini sering bertengkar kini terlihat bahagia bermain bersama cucu cucu mereka.


Rafiz terdiam, Nandira terus menatapnya menunggu pertanyaan apa yang ingin ditanyakan.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Nandira kini ia berbalik menghadap Rafiz.


"Apa saja yang kau alami selama kau mengandung mereka, aku dengar saat itu bertepatan saat kau kehilangan kedua orang tuamu?!" tanya Rafiz menatap Nandira.


"Hmmm, kau benar waktu itu setelah pulang dari Bali aku menghadapi kenyataan yang sangat berat, kedua orang tuaku meninggal. Setelah itu aku kehilangan semua harta benda keluarga ku, kehilangan tunanganku. waktu itu hanya dia satu-satunya yang aku harapkan tapi di juga menyakitiku.


Setelah berhasil keluar dari itu semua aku kembali mendapat cobaan karena kehadiran mereka, Semua itu kembali membuatku merasa terpuruk. Apakah tahu, saat awal aku mengetahui jika mereka di dalam rahimku aku pernah sekali memutuskan untuk menggugurkannya, aku tak ingin merawat mereka. Waktu itu aku benar-benar sendiri aku tak tahu apakah aku bisa merawat mereka atau tidak. Saat itu menghidupi diriku sendiri saja aku sudah kesusahan aku takut tak bisa memberi kehidupan yang layak kepada mereka ," ucap Nandira mengingat masa-masa sulitnya.


Nandira menatap pada Zidan dan Syahidah yang sedang tertawa gembira. Ia pun tersenyum lebar walau matanya tergenang air mata.


Rafiz menatap wajah Nandira, dia bisa melihat jika Nandira masih merasa sakit saat mengingat masa-masa itu.


"Aku bersyukur hari itu aku memutuskan untuk tetap mempertahankan mereka dalam rahimku. waktu itu sungguh sangat sulit bagiku bertahan sendiri dengan mereka di dalam rahimku." ucap Nandira menjeda dan membuang nafasnya kasar mencoba tetap tersenyum.


"Tapi sudahlah aku tak ingat ingin mengingatnya lagi, mungkin Jika waktu itu aku jadi melakukannya mungkin saat ini aku masih hidup sendiri di dunia ini. Aku sangat senang mereka ada bersamaku saat ini," Nandira menatap Rafiz dan menghapus air mata yang sempat menetes .


"Sudahlah itu kan juga bukan sepenuhnya kesalahanmu, aku yang salah memasuki kamarmu. Nandira kembali menatap anak-anaknya.


"Mengapa hari itu kau sampai salah masuk kamar?" tanya Rafiz yang baru mengingat kembali kejadian itu.


"Kamarku berada di dekat kamarmu, hari itu aku hanya merasa aneh di tubuhku aku. Aku hanya ingin cepat sampai di kamarku. Aku tak tahu kalau itu kamarmu, ternyata aku salah masuk kamar. Aku menyadarinya setelah aku terbangun di pagi hari dan melihatmu tidur di sampingku ," ucap Nandira.


"Apakah kau tidak tahu waktu itu kau sedang dalam pengaruh obat?" tanya Rafiz.


"Pengaruh obat ?!" tanya Nandira tak mengerti apa yang di maksud oleh Rafiz.


"Iya sepertinya seseorang sudah memberimu obat sehingga kau tak sadar bahkan kau ikut menikmati malam kita," Ucap Rafiz.


"obat apa?" tanya Nandira memalingkan wajahnya kembali ke anak-anak, mendengar ucapan Rafiz membuat ia ingat kejadian malam itu.


Walau samar tapi ia masih ingin kejadian malam itu sangat memalukan jika di bahas.


"Itu sejenis obat pembangkit gairah, jika kau minumnya kau akan terus bergairah hingga kau mencapai melepaskanmu." jelas Rafiz.


"Kenapa aku bisa meminum obat itu?" tanya Nandira mencoba mengingat apa yang dilakukannya malam itu.


"Sebelumnya memang kau dari mana saja?!" tanya Rafiz.


"Aku hanya bersama Riko tunanganku dan teman-temannya," jawab Nandira.


"Mungkin saja tunanganmu itu yang memberikan Minuman itu kepadamu!"


Nandira terdiam, Iya baru mengingat jika malam itu Riko terus merayunya agar bisa tidur di kamarnya.


"Apa mungkin Riko yang memberikan kepadaku," gumam Nandira.


"Apakah kau sudah lama berhubungan dengan tunanganmu itu ?" tanya Rafiz.


"Iya, Sudah beberapa tahun kami menjalin hubungan. Aku hanya menunggu menyelesaikan kuliahku sebelum kami menikah."


"Pantas saja," Rafiz tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?, apanya yang lucu?" tanya Nandira.


"Sepertinya tunanganmu itu tak sabaran untuk bermalam pertama denganmu, makanya dia memberikan obat itu padamu. Tapi aku salut pada kalian, sudah berpacaran cukup lama dan usia Kalian juga sudah dewasa tapi kalian Tak pernah melakukan hubungan lebih dari pacaran."ucap Rafiz.


"Tentu saja, aku selalu menjaga kehormatan ku.


walau kami sudah berpacaran dan sebentar lagi menikah, tetap saja itu belum boleh di lakukan."


"Sepertinya aku harus berterimakasih pada nya karena sudah mengirim mu padaku malam itu, bagaimana jika kamu ke kamar lain!"ucap Rafiz.


"Kalau aku ke kamar lain mungkin aku tak akan hamil dan masih suci sampai sekarang," kesal Nandira berlalu meninggalkan Rafiz yang terus tertawa.


Nandira ikut bergabung dengan anak-anak nya.


☺️☺️☺️☺️☺️💖☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️


Terima kasih sudah membaca 🙏


Mohon dukungannya ya Kak dengan memberi like Vote dan komennya 🙏


Bisa mampir ke karya pertamaku judulnya"Pilihan Ku".


Salam kenal, Aku Author m anha ❤️


😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍