
flashback on
Aksan, terlahir dari keluarga yang sangat harmonis. Ibunya orang Indonesia sedangkan ayahnya berkewarganegaraan Amerika. mereka tinggal di Amerika.
Kehidupan mereka sangat bahagia, hingga suatu ketika sesuatu hal terjadi pada Daddy nya.
Tuduhan melakukan sebuah pembunuhan, membuatnya masuk kedalam penjara, karena kesalahan yang tak ia lakukan. Ia dituduh membunuh orang yang sangat berpengaruh di lingkungannya, orang yang sangat dihormati. Membuat ia dan ibunya menjadi bulan-bulanan orang-orang di sekitarnya.
Tak tahan dengan semua hinaan yang ia dapatkan kan, Ibu Aksan sakit dan meninggal dunia. Daddy Aksan yang mendengar kematian istrinya sangat terpuruk. Ia divonis hukuman seumur hidup, membuat ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Usia Aksan saat itu baru berusia 15 tahun, ia sangat terpukul, sangat terpuruk dan terkucilkan, hidup seorang diri.
Aksan remaja memutuskan untuk pergi dari lingkungannya, walau kedua orang tua yang telah meninggal tetap saja kesalahan yang tak disengaja oleh ayahnya tetap dilimpahkan kepadanya.
Aksan berjalan tanpa arah tujuan, hanya mengikuti kemana arah kakinya membawanya. Naik dari satu bus ke bus yang lainnya, hingga ia tiba di sebuah kota.
Tanpa di sengaja Aksan bertemu dengan seorang gadis yang menangis di pinggir jalan karena kehilangan kedua orang tuanya.
"Kau kenapa?" tanya Aksan menghampiri gadis tersebut.
"Aku tidak tahu dimana kedua orang tuaku, mereka bilang hanya pergi sebentar, tapi sudah dua hari ini mereka tak datang menjemput ku," ucap gadis itu menangis sesegukan. Ia sudah sangat lapar dan kehausan.
"Apakah kau sudah makan?" tanya Aksan.
Gadis kecil itu menggeleng dengan lelehan air mata yang terus membasahi pipinya.
Sebelum Aksan pergi, ia memastikan jika ia tak akan kekurangan uang. Aksan menjual apa saja yang bisa dijual, termasuk menjual rumah peninggalan orangtuanya.
Aksan yang meresa kasihan kemudian membelikan makanan dan beberapa pakaian untuk anak itu.
Gadis kecil itu makan dengan lahap, ia sungguh sangat kelaparan.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Aksan.
"Aku tidak punya tempat tinggal."
"Kau bisa bahasa Indonesia? Apakah orang Indonesia?" tanya Aksan lagi.
Gadis itu menggeleng.
"Apa kau mengerti bahasa yang aku gunakan?"
"Iya, teman-temanku banyak yang menggunakan bahasa ini, jadi aku juga mempelajarinya," jawabnya.
Aksan merasa memiliki teman yang senasib dengannya, mereka sama-sama tak mempunyai keluarga lagi di dunia ini.
"Kau mau tinggal dengan ku?" tanya Aksan.
Gadis kecil itu mengangguk dengan senyum Yang terukir di bibirnya, ia merasa sangat lega ada seseorang yang akan menjaganya.
Gadis kecil itu adalah Jazlyn, yang sengaja ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
Sejak saat itu, Aksan memutuskan untuk menjaga Jazlyn, Aksan membeli apartemen kecil untuk mereka berdua. Tinggal bersama dan saling melengkapi.
Aksan menjaga dan menyayangi Jazlyn.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Mereka terus bersama hingga mereka Dewasa.
Mereka masuk ke universitas yang sama, semakin hari uang Aksan semakin menipis, walau selama ini ia bekerja untuk menghidupi mereka berdua. Namun, tetap saja semuanya tak cukup dan mengharuskan ia mengambil tabungannya.
Aksan selalu memanjakan Jazlyn, membelikan barang-barang yang bagus.
"Kak. Aku ingin beli tas baru," ucap Jazlyn menghampiri Aksan.
"Bukannya Kakak sudah membelikannya beberapa hari yang lalu, keuangan Kakak sudah sangat menipis sebaiknya kita berhemat," ucap Aksan.
Begitulah Jazlyn, ia selalu hidup mewah, mengikuti gaya teman-temannya.
Perasaan sayang Aksan dari adik berubah menjadi perasaan sayang kepada seorang wanita. Ia baru menyadari perasaannya Jika perasaannya pada Jazlyn bukanlah rasa sayang tapi rasa cinta.
Aksan memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya itu pada Jazlyn dan Jazlyn langsung menerimanya. Mereka menjalin hubungan lebih dari sekedar hubungan pertemanan dan adik dan kakak, mereka sekarang adalah sepasang kekasih.
Aksan semakin berusaha untuk membuat Jazlyn bahagia, ia bahkan berhenti kuliah demi bekerja paruh waktu, agar Jazlyn bisa tetap kuliah dan memiliki barang-barang yang ia sukai.
Mereka sangat bahagia layaknya sepasang kekasih yang sangat romantis.
Jazlyn bangun di pagi hari yang memasak makanan untuk Aksan, tak seperti biasanya.
"Apa aku tak salah lihat, kamu masak untuk ku?" tanya Aksan memeluk Jazlyn dari belakang.
"Iya, hari ini aku sengaja memasak untukmu. Mulai hari ini dan seterusnya aku yang akan memasak, dan kau yang akan mencari nafkah. Aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu," ucap Jazlyn membuat hati Aksan merasa sangat bahagia.
Benar saja, Jazlyn benar-benar melayani Aksan layaknya seorang istri kepada suami, membuat kehidupan mereka semakin bahagia.
Aksan mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit uang hasil kerjanya, ia ingin melamar Jazlyn dan menjadikannya istri yang sesungguhnya.
Membeli cincin dan menyiapkan pesta pernikahan telah ia lakukan.
Aksan kembali membawa pulang cincin tersebut dan menunggu Jazlyn.
Sudah dua hari Jazlyn tak pulang, membuat Aksan sangat khawatir. Aksan memutuskan untuk mendatangi Jazlyn yang di kampusnya.
Aksan berjalan mencari Jazlyn sambil menggenggam cincin yang akan digunakan untuk melamar Kekasihnya itu.
Langkah kaki Aksan terhenti, cincin yang dipegangnya terjatuh. Saat melihat seseorang menyatakan perasaannya pada Jazlyn dan Jazlyn terlihat begitu bahagia dan langsung menerima lamaran pria itu.
Gadis yang selama ini dijaga dengan sepenuh hati dengan cinta dan kasih sayangnya kini memeluk pria lain, tersenyum bahagia dah menerima lamaran pria lain.
Pria yang melamar Jazlyn adalah Rafiz.
Aksan mengepal tangannya, hatinya terasa hancur. Ingin rasanya ia memukul Wajah pria yang tengah memeluk wanitanya. Namun, melihat senyum Jazlyn yang begitu bahagia, Aksan mengurungkan niatnya dan memilih pergi dari sana.
Saat malam, Jazlyn kembali. Aksan langsung menghampiri Jazlyn.
"Jazlyn maukah kau menikah denganku?" tanya Aksan.
Jazlyn hanya terdiam, dan berjalan ke kamarnya. Aksan menghalangi Jazlyn saat akan membuka pintu kamarnya.
"Kita menikah," ucap Aksan.
"Maaf, aku sudah menerima lamaran pria lain," lirih Jazlyn yang tak berani menatap Aksan.
Aksan tersenyum kecut mendengar ucapan Jazlyn.
"Walau tanpa ikatan pernikahan, bukankah kita selama ini sudah menjadi suami istriku, kau sudah melayani ku layaknya seorang istri.
Apa kau akan meninggalkanku?" tanya Aksan
"Anggap saja aku melayanimu selama ini sebagai ucapan terima kasih karena telah mengurusku."
Aksan tertawa, dia bersandar di dinding kamar Jazlyn.
"Apa kelebihan pria itu? Hingga kau begitu bahagia berada di pelukannya!".
"Jazlyn menatap Aksan."
"Aku menyaksikan semuanya, kau menerima lamarannya dengan begitu gembira. Apa kalian sudah lama saling mengenal?"
"Tidak, kami baru saja saling mengenal dan aku sangat mencintainya."
"Apakah kau benar-benar mencintainya atau hanya mencintai hartanya?!"
Jazlyn terdiam.
"Apa kau meninggalkanku dan memilih nya hanya karena harta?!"
Jazlyn tetap menunduk diam, ia tak berani menjawab.
"Jazlyn," ucap Aksan memegang tangan Jazlyn, menariknya menghadap padanya. "Beri aku waktu, aku janji akan bekerja lebih giat lagi, kita akan hidup bersama dan bergelimang harta, aku janji, aku akan menjadi orang yang lebih sukses dari pria itu."
Jazlyn melepas genggaman Aksan.
"Sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah bosan hidup susah seperti ini, aku ingin hidup mewah dan aku bisa mendapatkannya segalanya saat aku menikah dengan Rafiz. Dia sangat mencintaiku dan aku yakin dia akan memanjakan ku dengan hartanya,"
"Apa cintaku tak bisa membuatmu bahagia, aku yang selama ini merawat mu, menjagamu. Apa itu sama sekali tak ada artinya bagimu?!"
"Aku sudah melayani mu selama ini, aku juga sudah memberikan tubuhku padamu. Apa itu tak cukup untuk membalas semua kebaikanmu padaku!"
"Plak ... satu tamparan keras Aksan layangkan di pipi Jazlyn. Ini untuk pertama kalinya semenjak mereka bertemu, Aksan bersikap kasar pada Jazlyn.
"Aku menyentuh karena aku mencintaimu, bukan hanya untuk bersenang-senang dengan tubuh. Jika kau memang memilih dia dibanding aku, silakan. Pergi dari tempat ini, pergilah pada laki-laki yang kau anggap lebih menyayangimu daripada aku," bentak Aksan dengan berapi-api kemudian berlalu pergi dari rumah itu, membanting pintu saat dia keluar dari sana.
Jazlyn memegang pipinya yang terasa panas, dalam hati Ia juga sebenarnya sangat mencintai Aksan. Namun, cintanya pada harta mengalahkan segalanya. Rafiz adalah pria yang kaya dan ia yakin bisa bahagia hidup jika menjadi istri dari seorang Rafiz.
Jazlyn mengemas barang-barangnya, kemudian meninggalkan Apartemen milik Aksan.
Tempat tujuannya adalah mendatangi Apartemen Rafiz .
Kedatangan Jazlyn ke Apartemennya tentu saja disambut oleh Rafiz.
Tinggal sebulan dengan Rafiz, membuat Rafiz mempercepat pernikahan mereka. Mereka pun menikah dan memulai hidup baru.
Hari-hari mereka sangat bahagia di atas penderitaan Aksan.
Aksan terus mengawasi kemanapun mereka pergi. Hingga suatu hari Aksan mengetahui jika kehidupan rumah tangga mereka mulai goyah karena adanya perdebatan masalah anak .
Aksan mulai hadir di kehidupan rumah tangga mereka, menggoda Jazlyn dengan harta yang kini ia miliki.
Semenjak Jazlyn meninggalkannya, Aksan terobsesi untuk mengumpulkan harta dan ia pun berhasil.
Perdebatan Jazlyn semakin memanas hingga Rafiz pergi dari Apartemennya. Kesempatan itu di dimanfaatkan oleh Aksan ia tahu jika hari itu Rafiz akan kembali ke Apartemennya menemui Jazlyn setelah perdebatan mereka, membuat Aksan kembali mendatangi Jazlyn.
Jazlyn yang memang masih memiliki perasaan pada Aksan di lubuk hatinya dengan mudah menerima ajakan Aksan.
Rafiz sangat marah saat ia kembali ia melihat Jazlyn sedang bercumbu dengan pria lain. Rafiz hari itupun langsung menceraikannya.
Jazlyn ingin menjelaskan dan memperbaiki hubungannya dengan Rafiz. Namun, Aksan terus menghalanginya, mengiming-imingi nya dengan harta miliknya. Membuat Jazlyn menjadi luluh dan tergoda.
Mereka bersama selama beberapa tahun. Namun, Aksan merasa jika rasa cintanya kepada Jazlyn tak seperti dulu lagi, dia bersama Jazlyn, tetapi hatinya tetap saja merasa kosong. Rasa bencinya kepada Rafiz justru semakin menjadi-jadi.
Aksan yang merasa kecewa pada Jazlyn, ia pun meninggalkan Jazlyn dan bertekad untuk menghancurkan Rafiz.
Pengumuman pernikahannya Rafiz dengan Nandira dan mengetahui jika mereka memiliki anak yang jenius membuat Aksan semakin ingin menghancurkan Rafiz. Apapun akan ia lakukan agar melihat Rafiz hancur, lebih hancur dari kehidupannya.
Flashback off
ππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
Jangan lupa like, vote dan komennya ya kakak π
Satu like dan komen sangat berharga bagikuβΊοΈπ₯°
salam dariku π€
Author m anha β€οΈ
love you all πππ
ππππππππππππππ