My Papa My Boss

My Papa My Boss
"Apa yang terjadi????



Mereka terus berjalan mendekat pada tempat persembunyian Zidan dan Syahidah dan terus melanjutkan hitungannya.


Mereka sengaja mengetuk sebuah kardus besar di mana di balik kardus tersebut ada Zidan dan Syahidah.


"KETEMU," ucap salah satu dari mereka yang membuat Zidan dan Syahidah terkejut.


Syahidah langsung menjerit ketakutan, sedangkan Zidan berusaha melawan mereka, ia mengambil sebuah balok yang ada di dekatnya dan memukul mereka.


Zidan berhasil melukai 2 orang , namun mereka terlalu banyak untuk ukuran Zidan yang hanya anak-anak, seberapa keras pun dia berusaha menyelamatkan adiknya mereka tetap saja mengangkat Syahidah dan berjalan keluar meninggalkannya.


Syahidah terus teriak memanggil kakak nya, Zidan hanya bisa melihat adiknya itu di bawah oleh mereka. Zidan tak putus asa Ia terus berusaha melawan semampunya.


Syahidah di masukkan ke dalam mobil dan mereka semua pergi dari sana meninggalkan Zidan yang terus berlari mengejar mobil yang membawa Syahidah.


Zidan yang hanya berlari ketinggalan jauh dari mobil tersebut, ia menghentikan sebuah mobil lain yang kebetulan lewat,


"Pak tolong kejar mobil itu, mereka menculik adik saya," ucap Zidan yang langsung naik ke mobil saat mobil itu berhenti.


Sesuai dengan arahan Zidan sopir tersebut terus mengikuti mobil yang di tunjuk oleh Zidan.


"Kok bisa nak, adik kamu di culik sama mereka?" tanya sang sopir.


"Saya juga ga tau pak, tolong ya pak jangan sampai kehilangan jejak mereka."


"Tenang aja, bapak usahakan. Obati dulu lukamu, ada kotak obat di sana," ucap supir itu menunjuk tempat ia menyimpan kotak obatnya, ia kasihan melihat Zidan yang terluka.


"Makasih pak, tolong lebih cepat lagi," ucap Zidan yang melihat mobil mereka semakin menjauh.


Zidan yang sudah tak melihat kemana mobil yang membawa adiknya itu langsung mengambil gadgetnya, dari sana ia bisa melihat ke mana mereka membawanya, karena Syahidah masih memakai tasnya. Didalam tas nya Syahidah sudah menyiapkan peralatan yang akan di bawah nya ke rumah papanya termasuk gadgetnya. Membuat Zidan bisa melacak keberadaannya melalui gadgetnya itu.


Syahidah terus memberontak di dalam mobil, ia sangat ketakutan, ia menangis menjerit memanggil nama Papa, mama dan kakaknya. Ia terus menjerit sehingga suaranya parau.


Syahida melihat kebelakang, ia sudah tak melihat kakaknya, kemudian ia melihat orang-orang yang bersama dengannya di dalam mobil.


Ia terus menagis memanggil mamanya.


Nandira terus saja merasa gelisah di tengah-tengah rapatnya, Ia terus melihat ponselnya tak ada pesan ataupun telepon dari Syahidah.


"Kenapa Syahidah belum menelponku ya, seharusnya ia sudah sampai di rumah Papanya," batin Nandira gelisah.


Nandira pun meminta break sebentar dan sedikit menjauh dari tempat diadakannya rapat,


Nandira dengan cepat mengaktifkan layar ponselnya dan mencari kontak Syahidah, ia memanggilnya nomor tersambung namun Syahidah tidak menjawab panggilannya, Nandira kembali mencobanya namun lagi-lagi tak ada jawaban. Nandira kemudian menghubungi nomor Zidan, hasilnya juga sama, nomor Zidan tersambung namun tak diangkat.


"Ada apa ini, kenapa mereka tak mengangkat panggilanku," ucap Nandira memegang dadanya, "Ya Allah lindungilah anak-anak ku," batin Nandira mulai merasa gelisah.


Nandira langsung beralih mencari nomor Rafiz .Tertulis di kontaknya Pria mesum, ia pun langsung menekan tombol hijau yang berarti memanggil si pria mesum.


Nada sambung terhubung. Pada nada sambung ketiga Rafiz baru mengangkatnya,


"Halo Nandira Ada apa?!" tanya Rafiz.


"Apa kalian sudah sampai?" tanya Nandira langsung. Nandira mengira jika Rafiz benar-benar sudah datang menjemput mereka saat Syahidah mengatakan jika ia mendengar suara mobil di pekarangan rumahnya.


Mendengar pertanyaan Nandira Rafiz baru mengingat Jika ia berjanji akan menjemput mereka,


" Ya ampun aku lupa, maaf ya sekarang aku akan menjemput mereka,"


"Apa maksud kamu?!" geram Nandira.


Nandira yang mendengar jawaban Rafiz langsung mematikan teleponnya,


"Halo Nandira, halo," ucap Rafiz yang tak mendengar suara Nandira lagi kemudian ia melihat layar ponselnya, ternyata Nandira sudah mematikan panggilan mereka.


Rafiz segera membereskan barang-barang nya lalu dengan kecepatan penuh ia melajukan mobilnya mobilnya menuju rumah Nandira.


Saat dalam perjalanan Rafiz terus mencoba menghubungi Zidan dan Syahidah namun tak ada jawaban,


"Kemana mereka, mengapa mereka tak mengangkat panggilanku," gumam Rafiz semakin menambah kecepatan laju mobilnya.


Rafiz kemudian beralih ke nomor Nandira,


"Nandira Apa kamu sudah ada di luar kota ?" tanya Rafiz saat Nandira mengangkat panggilannya.


"Iya aku dari sore ada disini, Kamu ini bagaimana sih. Bukannya kamu bilang kau akan menjemput anak-anak, tadinya aku mengira mereka sudah ada bersamamu, aku sudah berkali-kali menelpon mereka namun mereka tak menjawab panggilan ku. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka?"kesal Nandira.


"Aku sudah menuju ke sana, Aku yakin mereka baik-baik saja."


"Aku juga akan pulang sekarang, jika terjadi sesuatu pada anak-anakku aku takkan pernah memaafkan mu ," ucap Nandira langsung matikan teleponnya.


Nandira yang merasa gelisah langsung meninggalkan rapat dan pulang malam itu juga, ia tak peduli kerugian yang akan perusahaan dapatkan karena meninggalkan rapat begitu saja.


Begitu Rafiz tiba di rumah Nandira, ia melihat gerbang rumah terbuka dan melihat satpam rumah tersebut tergeletak di sana.


Rafiz langsung membuka pintu mobil tanpa mematikannya terlebih dahulu, ia berusaha membangunkan satpam tersebut Namun sepertinya nya satpam tersebut terluka di bagian kepalanya.


Rafiz langsung menghubungi pihak rumah sakit mengabari jika ada yang membutuhkan pertolongan sambil terus berjalan masuk, Rafiz mempercepat langkahnya saat melihat pintu rumah tidak tertutup dan begitu masuk ia juga melihat asisten rumah tangga di rumah itu tergeletak di tengah rumah juga dengan kondisi terluka ,


"Ada apa ini," batin Rafiz semakin khawatir melihat keadaan rumah yang sangat berantakan, ia segera berlari ke lantai atas memeriksa setiap kamar dan saat membuka kamar Zidan Rafiz sangat terkejut, kondisi kamar itu benar-benar berantakan.


" Syahidah.... Zidan ...Dimana kalian," Teriak Rafiz terus memanggil mereka sambil terus berlari mengelilingi rumah itu namun ia tak menemukan keduanya.


Rafiz kemudian menelpon kantor polisi, melaporkan Jika di rumah itu sepertinya juga terjadi kejahatan.


"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian di kantorku," gumam Rafiz terus berusaha mencari keberadaan Zidan dan Syahidah.


Rafiz melihat kearah pintu belakang yang juga terbuka lebar, ia segara berlari kesana dan melihat keadaan disana lebih parah lagi Pintu itu rusak, kursi bertebaran di sana bahkan beberapa tanaman hias di sana hancur.


Rafiz melihat gudang belakang yang juga sepertinya telah terjadi sesuatu di sana.


Saat sampai di gudang itu, ia melihat sebuah balok yang berlumuran darah segar dan ia baru menyadari jika di sepanjang lantai ada bercak darah.


Zidan berhasil melukai 2 orang dengan memukul bagian kepalanya dengan balok, namun ia juga mendapat luka di bagian pelipis nya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Like, like, like,


Vote, vote, vote.


Dan komennya.


Author m anha 💖


😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔