
Rafiz membawa mereka kembali ke butik langganannya, di sana sudah berjejeran dengan rapi beberapa baju pengantin yang sangat cantik.
Rafiz sebelumnya sudah menghubungi mereka jika ia akan datang dan ingin mencari gaun pengantin.
Begitu mereka masuk Syahidah langsung berlarian lihat baju pengantin yang memang dipesan Rafiz untuk mereka kalian pilih.
Bukan hanya untuk Nandira, mereka juga menyediakan gaun untuk Syahidah.
"Pilihlah kalian mau yang mana!" ucap Rafiz.
"Hmm baiklah," ucap Nandira, sedangkan Syahidah sudah sedari tadi memilih-milih puluhan gaun yang telah di siapkan tersebut.
Disana sudah ada puluhan gaun pengantin yang terpasang di manekin, Syahidah sangat antusias memilih gaun yang cocok dengannya. Namun, tak ada satupun yang ia sukai.
"Kamu kenapa?" tanya Rafiz saat Syahidah datang di dekatnya sambil memasang muka cemberut nya, ia terlihat murung.
"Aku nggak suka gaun yang ada di sini, Pah! Aku nggak suka modelnya," ucap Syahidah.
"Emangnya seperti apa yang Syahidah mau?"tanya Rafiz.
"Maunya yang kayak princess, yang cantik ," ucap Syahidah.
Nandira memilih satu gaun,
"Syahidah bagaimana dengan yang ini?" tanya Nandira memperlihatkan gaun yang di pilihnya.
"Iya itu cantik, Mah," jawab Syahidah.
"Syahidah mau juga yang model seperti ini?" tanya Nandira,
"Mau, Mah," ucap Syahidah cepat dan menghampiri mamanya.
"Kita pesan 1 baju lagi untukmu yang modelnya seperti ini,"
"Iya Mah, aku mau," ucap Syahidah antusias.
Mereka akan memakai gaun yang sama di hari bahagia mereka nantinya.
Mereka pun berbicara kepada pemilik butik tersebut untuk membuatkan satu lagi yang sama persis dengan baju yang akan dikenakan Nandira, mereka terus mengobrol apa saja yang harus mereka tambahkan dan kurangi pada gaun tersebut.
Saat Nandira dan Syahidah sibuk dengan gaun yang akan mereka pakai, Zidan dan Rafiz justru santai duduk di kursi ruang tunggu.
"Kamu kenapa nggak milih baju untuk di pakai nanti?" tanya Rafiz ikut duduk di samping Zidan.
"Biar mama aja Pah yang milih baju untuk Zidan, pake yang mana aja deh, Pah! Aku terserah mama," jawab Zidan masih asyik memainkan game Secret Partner level 3 yang ia ciptakan sendiri.
"Bagaimana hasil peluncuran Secret partnernya kemarin pah?" tanya Zidan menghentikan permainannya.
"Papa bangga sama kamu, itu sangat luar biasa. Bukan hanya aplikasi Secret Partner Level 3 yang sukses, tapi pengguna Secret partner level 1 dan level 2 semakin meningkat, dan makin banyak yang mengunduh aplikasi nya," jawab Rafiz.
"Iya, itu memang tujuan Zidan, Pah. Zidan tak ingin lagi meneruskan menciptakan game online," lirih Zidan.
"Kenapa?"
"Aku tak mau jika ada orang yang berbuat jahat kepada kami dan hanya karena mampu menciptakan sebuah permainan, Zidan akan menjadi pemain saja," ucap Zidan kembali fokus pada Secret Partner level 3 yang sedang ia mainkan.
Saat ini Zidan menjadi pemain nomor satu dari jutaan orang di dunia yang memainkan SP L 3. Ia memiliki poin tertinggi dalam permainan tersebut.
Nandira dan Syahidah menghampiri mereka,
"Kalian sudah memilih pakaian kalian," tanya Nandira yang melihat mereka duduk sedari tadi di kursi itu.
"Kami pakai yang mana saja, tolong kalian pilihkan juga untuk kami," ucap Rafiz ikut bermain bersama Zidan.
"Baik Papa ," ucap Syahidah semangat dan menarik kembali mamanya untuk mencari baju untuk mereka berdua.
Setelah memilih baju mereka pun mencari restoran untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
Mereka memiliki Restoran sederhana. Namun menunya sehat dan mengenyangkan.
Saat sedang makan, ponsel Nandira berbunyi itu panggilan dari Sita, salah satu teman kerja Nandira saat di pulau. Mereka sudah seperti keluarga.
Nandira mengaktifkan pengeras suara agar kedua anak-anaknya juga bisa ikut mengobrol.
Mereka sengaja mengambil tempat di sudut restoran agar lebih bisa menikmati makanannya.
Mereka mengobrol lama dengan teman lama Mamanya itu, teman yang sudah dianggap Zidan dan Syahidah adalah keluarga mereka.
Panggilan pun berakhir, makan mereka juga sudah habis.
Setelah makanan mereka pun pulang.
Saat di mobil,
"Iya, Mama juga kangen ketemu mereka!" ucap Nandira.
"Emang mereka itu siapa?" tanya Rafiz,
"Itu teman-teman kerjaku waktu di pulau. Hanya mereka yang aku punya waktu aku merasa sendiri, hanya merekalah tempatku bercerita, mereka juga yang membantu aku saat menjalani kehamilanku. Bahkan mereka juga yang membantu proses persalinan ku.
Kami membesarkan anak-anak bersama-sama, mereka bukan hanya bantuan mengurus saja mereka juga membantuku secara ekonomi. Membelikan popok, susu dan kebutuhan lain untuk anak-anak kita.
Mereka sudah seperti keluarga bagiku, rasanya tak enak jika tak mengundang mereka langsung di acara pernikahan kita ," jelas Nandira.
"Ya sudah besok kita akan ke pulau itu, kita liburan sekaligus untuk mengundang mereka," ucap Rafiz.
"Benarkah kita akan ke pulau?!" ucap Syahidah gembira,
"Iya, kalian pasti kangen juga kan dengan teman-teman kalian di sana?" tanya Rafiz.
Syahidah menggeleng,
"Kenapa?, kalian kan sudah lama tidak bertemu dengan mereka?" tanya Rafiz.
"Syahidah nggak punya teman, pah di sana. mereka semua jahat. Mereka selalu mengolok-olok Syahidah karena nggak punya Papa, katanya aku ini anak haram. Nggak ada yang mau main dengan Syahidah, katanya di larang sama mamanya" ucap Syahidah berkaca-kaca.
Serasa ada yang menusuk ke jantung Rafiz saat mendengar kata-kata Syahidah.
Ia tak menyangka, jika ada orang sejahat itu yang mengatakan itu kepada anak kecil seperti Syahidah.
"Tapi nggak apa-apa, aku juga nggak suka berteman sama mereka. Lihat saja nanti aku akan pamerin Papa sama mereka, biar mereka berhenti mengejek aku," ucap Syahidah geram saat mengingat perlakuan teman-temannya di pulau tempat mereka dulu.
Malam ini Nandira tidur dikamar Rafiz bersama dengan Syahidah, sedangkan Rafiz sendiri tidur di kamar bawah bersama Zidan.
Di kamar atas,
Syahidah berbaring sambil memeluk mamanya.
Nandira mengelus-elus rambut putrinya itu yang sedang bermanja-manja kepadanya.
"Apa Papa akan benar-benar menikah dengan Mama?" tanya Syahidah menatap mamanya.
Nandira mengelus lembut pipi putrinya,
"Kenapa Syahidah bertanya seperti itu sayang?"
"Syahidah hanya takut Mah, pernikahannya akan ada lagi yang menggagalkan. Ada yang berniat jahat lagi pada kita," ucap Syahidah mempererat pelukannya.
Nandira membalas pelukan anaknya, kita berdoa saja semoga semuanya lancar-lancar saja dan kita bisa berkumpul sama Papa," ucap Nandira.
"Mah, apa mama mencintai Papa?" tanya Syahidah.
"Iya, Mama sangat mencintai Papa, Papa orangnya sangat baik dan mencintai mama jadi tak ada alasan Mama untuk tak mencintai Papamu," jawab Nandira.
Syahidah tersenyum mendongak menatap mamanya, Nandira mengecup kening putrinya itu.
"Mah,"
"Iya"
"Mama, temanku bilang Papa dan Mamanya saling mencintai sehingga ia punya bayi, Apa Mama dan Papa juga akan punya bayi?" tanya Syahidah masih menatap mamanya.
"Hmmm mungkin saja, apa Syahidah ga keberatan mama punya bayi?!"
Syahidah menggeleng dan tersenyum pada mamanya.
"Syahidah sudah tidak sabar ingin punya bayi dari mama," ucap Syahidah.
Mereka pun tidur dengan posisi berpelukan.
Saat di kamar atas Nandira dan Syahidah sedang tertidur pulas, di kamar bawah Rafiz berteriak saat karakter dalam permainan gamenya tertebak dan kalah.
Mereka berdua sedang bermain SP L 3 Hingga larut malam.
πππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
LIKE, VOTE, KOMENNYA, ya kakβΊοΈβΊοΈπ€
salam dariku π€
Author m Anhaππ₯°
ππππππππππππππππ