
Begitu mereka sampai, Nandira sangat takjub dengan rumah yang dimaksud dengan Syahidah. Syahidah mengatakan jika Papanya sengaja membeli rumah itu untuk menyimpan singa-nya.
Saat dalam perjalanan Ia berpikir rumah itu hanyalah rumah sederhana, hanya untuk menempatkan Singa itu.Namun, ternyata dugaannya salah. Rumah itu tak kalah mewahnya dengan rumah dimana Ia tempati sekarang.
"Syahidah kamu yakin di sini tempatnya?"tanya Nandira pada syahidah yang masih duduk di dalam mobil.
"Bukan. Sepertinya Syahidah salah alamat, Ayo kita pulang." Rafiz meminta Nandira kembali masuk kedalam mobilnya,
Rafiz membukakan pintu. Namun, Nandira masih ragu untuk masuk.
"Tapi kenapa Pak Karyo yang buka pintu gerbang?" tanya Nandira lihat Rafiz penuh selidik.
"Pak Karyo double job, dia bekerja di sini dan juga di rumah kita. Aku sudah lapar, tadi belum sempat Makan," ucap Rafiz membujuk Nandira untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Nandira memiringkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang dikatakan Rafiz.
"Mungkin benar pak karyo memang bekerja disini juga," pikir Nandira melihat rumah megah itu. " Tak mungkin Rafiz membeli rumah seperti ini hanya untuk seekor singa," batin Nandira berjalan ke arah pintu mobil yang dibuka Rafiz.
"Mah Singa nya ada di belakang," ucap Syahidah. Sedari tadi Ia hanya di mobil mendengarkan percakapan mama dan Papanya.
Nandira yang tadinya ingin masuk kembali menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Syahidah.
Rafiz melemas, sepertinya ia tak mendapat dukungan sedikitpun dari anak gadisnya ini. Baru saja ia akan keluar dari bahaya, namun Putrinya jurus kembali menjerumuskannya.
Zidan yang juga masih ada di dalam mobil dengan cepat membekap mulut Syahidah. Terlambat Nandira sudah mendengar apa yang dikatakan Syahidah.
Nandira menatap tajam Rafiz.
"Sudah ketahuan gini Kamu masih bohongin aku Mas? Kenapa sih kamu enggak mau jujur!" kesal Nandira.
"Aku nggak bermaksud bohong, aku cuma ...,"Rafiz tak tahu harus mengatakan apa.
Syahidah keluar dari mobil.
"Mah, ayo kita temui singa-nya," ucap Syahidah berlari lebih dulu ke belakang rumah itu di mana Singa itu berada.
Pak Karyo langsung mengejar Syahidah untuk mengawasi Putri majikan itu, ia tak mau melakukan kesalahan yang sama, yang pernah menimpa Zidan.
Melihat Syahidah dan Pak Karyo sudah berlari ke belakang, Nandira mempercepat langkahnya menyusul mereka.
Rafiz dan Zidan saling tatap.
"Apa kau punya ide?" tanya Rafiz pada putranya yang jenius itu.
Zidan menggeleng.
"Sebaiknya Papa menerima saja apa yang dikatakan mama, jangan pernah membantah apa perintahnya. Karena Mama akan semakin marah jika tidak diturutinya.Namun, jika kita menurutinya Mama akan cepat maafkan kita," ucap Zidan yang sudah tahu betul kebiasaan mamanya.
"Ayo kita juga ke belakang," ucap Rafiz.
Zidan langsung ikut berlari menyusul mereka sedangkan Rafiz berjalan gontai memikirkan alasan apa yang harus ia katakan agar Nandira tidak marah padanya.
"Syahidah jangan dekat-dekat itu bahaya nak ," pekik Nandira saat melihat Syahidah langsung mendekati Singa itu bahkan Syahidah langsung mengelusnya tanpa rasa takut.
Nandira ingin mendekat untuk mengambil Syahidah, menjauhkannya dari Singa yang sedang beristirahat itu.Namun dia juga takut dengan hewan buas itu.
Zidan berlari menuju Syahidah.Namun Nandira langsung menangkapnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nandira.
"Mama Zidan mau ke sana," tunjuk Zidan pada Syahidah.
"Jangan itu berbahaya," tegas Nandira.
"Enggak berbahaya Mah, coba lihat Syahidah saja bisa menyentuhnya ," ucap Zidan.
Nandira tidak menghiraukan ucapan Zidan dan terus memanggil Syahidah.
"Mas, panggil Syahidah minta ia jangan mendekat pada Singa itu. Bagaimana jika Singa itu melukai nya," panik Nandira saat singa yang tadinya merebahkan kepalanya kini mendongak saat melihat kedatangan Rafiz.
"Syahidah menjauh dari Singa itu," teriak Nandira semakin panik.
"Singa itu tak akan menyakitinya," jelas Rafiz.
"Bagaimana kau bisa tahu jika dia tidak akan menyakitinya, dia itu hewan buas ," jawab Nandira yang masih memegang erat tangan Zidan.
Rafiz menarik tangan Nandira agar mendekat dengan singa itu.
"Kau bersikap seperti ini karena kau belum mengenalnya," ucap Rafiz terus menarik Nandira mendekat pada Syahidah yang sedang duduk di samping singa.
Zidan yang sudah terlepas dari cengkraman mamanya, langsung menghampiri Syahidah dan ikut mengelus singa tersebut.
Nandira terus berusaha melepas cengkraman Rafiz, ia benar-benar ketakutan.
"Mas lepaskan, aku benar-benar takut,"mohon Nandira.
Rafiz terus menariknya berjalan mendekat.Saat semakin dekat dengan singa, Singa itu seolah tahu jika Rafiz adalah orang yang selama ini merawatnya sedari kecil, Singa itu pun berdiri langsung berjalan menghampiri Rafiz. Membuat Nandira semakin menjerit dan menyembunyikan tubuhnya dibalik jas Rafiz, memeluk erat tubuh suaminya.
Singa itu mendekati Rafiz, Rafiz kembali menarik tangan Nandira agar memegang Singa itu.
Nandira menjerit saat bulu singa itu menyentuh kulitnya.Namun Rafiz tetap menahan tangan Nandira untuk mengelusnya.
"Coba lihat dia juga menyukaimu," ucap Rafiz.
Nandira mencoba melihat singa itu, ia bergidik ngeri saat Singa itu terlalu dekat dengan kakinya.Bayangan singa itu menerkam kakinya terus terbayang di pikirannya.
Pandangan Nandira menggelap dan ia jatuh pingsan.
Beruntung Nandira masih ada diperlukan Rafiz sehingga Rafiz dengan sigap menahan tubuh Nandira yang lunglai tak bertenaga.
Rafiz dengan cepat mengangkat Nandira masuk ke dalam rumah disusul dengan Zidan dan Syahidah yang ikut berlari masuk, mereka tak kalah paniknya dengan papanya saat melihat mamanya pingsan.
Pak Karyo dengan capat memasukkan singa tersebut kembali ke dalam kandang nya.
Rafiz membaringkan Nandira di sofa, "Zidan cepat ambil air!" ucap Rafiz mencoba membangunkan Nandira dengan menepuk-nepuk pelan pipinya.
"Nandira bangun Sayang," ucapnya semakin panik saat wajah Nandira terlihat sangat pucat.
Zidan dengan cepat berlari. Namun ia tak tahu harus mengambil nya di mana, ia belum pernah masuk ke rumah itu dan rumah itu sangat luas.
Zidan kembali tanpa membawa apapun.
"Dimana airnya?" tanya Rafiz.
"Aku tak menemukan air, dimana dapurnya?" tanya balik Zidan.
"Papa juga tak tahu, coba kau tanya Pak Karyo," ucap Rafiz.
Dengan cepat Zidan kembali berlari keluar mencari Pak Karyo.
Syahidah melihat di rumah itu ada CCTV, dengan cepat ia mengambil gadgetnya dan dalam beberapa detik CCTV di rumah itu telah tersambung di gadgetnya. Dengan cepat Nandira mencari posisi dapur.
Setelah menemukan dimana dapur, Syahidah langsung berlari dan mengambil air untuk mamanya.
Rafiz memercikkan air tersebut ke wajah Nandira.
"Nandira Sayang ayo bangun," ucap Rafiz kembali memercikkan air tersebut ke wajah Nandira.Namun ia tak kunjung bangun.
"Papa minggir," ucap Zidan membawa seember air dan langsung menyiram ke wajah mamanya.
Rafiz sangat syok melihat apa yang dilakukan oleh putranya itu kepada istrinya. Disaat ia membangunkan Nandira dengan penuh kelembutan, Zidan justru langsung menyiram mamanya dengan seember air yang diambilnya dari luar.
Syahidah menutup mulutnya melihat perbuatan kakaknya itu.
Rafiz mematung menyaksikan apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Ia bisa melihat jika usaha Zidan membangunkan mamanya berhasil, Nandira benar-benar sadar dari pingsannya dengan baju yang basah kuyup.
Nandira mengusap wajahnya yang basah akibat ulah Zidan dan mencoba untuk duduk.
Zidan yang melihat Mamanya sudah sadar langsung berlari keluar. Rafiz tak tahu harus berbuat apa, ia berbalik mencari Syahidah. Syahidah juga sudah tidak ada tempatnya, hanya tinggal Ia seorang.
Rafiz menelan salivanya saat melihat Nandira yang sudah sadar dan menatapnya. Tatapan Nandira lebih menyeramkan dari tatapan singa miliknya. Siap menerkamnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote, dan komennya 🙏
salam dariku 🤗
Author m anha ❤️
love you all 💕💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖