My Papa My Boss

My Papa My Boss
Firasat Nandira



Rafiz tiba di kantornya dan melihat beberapa karyawan sedang mengerumuni ruangannya .


Rafiz menghentikan langkahnya mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


Miran yang melihat Rafiz datang langsung menghampirinya,


"Ada apa ini ?" tanya Rafiz,


"Sepertinya semalam ada yang masuk ke ruangan anda," jawab Miran.


"Apa maksudmu, masuk ke ruangan ku ?!" Rafiz berjalan cepat kearah ruangannya. Saat masuk ia melihat semua barang-barang di sana sudah sangat berantakan,


"Periksa rekaman CCTV, siapa yang berani masuk ke ruangan ku," geram Rafiz.


"Sudah Pak, kami sudah memeriksanya tapi sepertinya mereka sudah merencanakan untuk masuk ke sini, tak ada satu bukti yang menunjukkan identitas mereka ," jawab Miram.


"Kemana semua petugas keamanan ,"


"Sepertinya mereka telah dilumpuhkan sebelum mereka masuk ruangan bapak, security yang berjaga semalam sudah dibawa ke rumah sakit Pak, mereka mengalami sedikit luka ringan," ucap Miran menjelaskan.


Rafiz berjalan masuk melihat ruangannya yang sangat berantakan. Iya menyimpan tas kerjanya di atas meja.


"Apa yang mereka cari," gumam Rafiz mencoba menyalakan laptopnya.


Beberapa petugas kebersihan masuk dan mulai membersihkan ruangan tersebut, Rafiz duduk di kursi kebesarannya. Sekian lama ia bekerja di kantor ini baru kali ini ruangannya diacak-acak oleh orang yang tak dikenal.


"Apa ini ada hubungannya dengan peluncuran Secret partner," batin Rafiz.


Pihak perusahaan sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib, mereka pun datang dan memeriksa ruangan Rafiz. Mencari bukti apa saja yang bisa jadikan pegangan untuk mencari tahu siapa pelakunya.


"Apa bapak punya musuh atau orang yang dicurigai ?" tanya petugas kepolisian tersebut pada Rafiz.


"Tidak pak, saya tidak mencurigai siapapun ," jawab Rafiz yang merasa ia tidak mempunyai musuh dan dia tidak tahu siapa yang harus dicurigai nya.


"Tapi sepertinya mereka mencari file game online yang sebentar lagi akan kami luncurkan," ucapkan Rafiz.


"Apa Anda Kehilangan itu?" tanya pihak kepolisian.


"Tidak, File nya masih ada bersamaku. Aku membawanya pulang, aku tak akan menyimpan file berharga seperti itu di kantor ini.


"File ini sangatlah berharga jika mereka berhasil meluncurkan nya perusahaan mereka dijamin akan menghasilkan pundi-pundi rupiah yang sangat banyak bahkan mungkin lebih banyak dari peluncuran Secret Partner level 1 dan 2."jelas Rafiz.


Di rumah Nandira.


Nandira melihat jam, ini sudah jam 2 tapi Rafiz belum datang juga, sedangkan ia berencana ke luar kota pukul 3 sore dan sedari tadi karyawan lain yang akan pergi keluar kota bersamanya sudah nelponnya.


"kemana ya Papa Kalian, mengapa jam segini belum datang," ucap Nandira menunggu Rafiz dengan gelisah.


"Coba Mama telepon saja," usul Syahidah.


Nandira pun mengambil ponsel di tasnya, mencari nomor Rafiz dan menghubunginya. Sudah beberapa kali ia mencoba namun Rafiz tak mengangkat ponselnya .


Rafiz meninggalkan ponselnya di meja dan ia sedang berbicara dengan petugas kepolisian di luar ruangannya. Ponselnya terus bergetar ia sengaja tak memberi nada pada ponselnya.


"Bagaimana mah?" tanya Zidan.


"tidak dijawab juga, apa Mama antar kalian ke rumah Papa saja ya,"


"Enggak usah mah, kami tunggu saja di sini mama pergi saja," ucap Zidan.


"Kalian yakin nggak apa-apa,?"


"Ini kan rumah kita mah, kami juga sudah biasa ditinggal mama. Mungkin Papa sedang ada rapat atau pekerjaan yang penting makanya Papa datang terlambat," ucap Syahidah.


"Ya sudah, Mama pergi dulu ya. Kalian baik-baik disini , jaga diri saat di rumah Papa, jangan dekat-dekat sama Jazlyn, mama takut dia akan menyakiti kalian. Sebaiknya kalian menghindar nya, jangan ngerjain dia lagi ya," ucap Nandira panjang lebar. Entah mengapa ia sangat berat meninggalkan anak-anak nya hari ini. Biasanya ia juga meninggalkan mereka hingga larut malam di rumah.


"Ya udah, mama pergi ya," ucap Nandira mencium kedua pipi anaknya.


"Hati-hati ya mah," ucap keduanya.


Nandira melambaikan tangan saat masuk ke dalam mobilnya. Anak-anak balas melambaikan tangan pada mamanya, mereka terus melambaikan tangan hingga mobil mamanya hilang dibalik pintu gerbang besar milik kediaman mereka.


Nandira menghentikan mobilnya, mencoba berpikir apakah ia harus melanjutkan perjalanan atau harus kembali, hatinya benar-benar tak merasa enak. Ia seperti memiliki firasat buruk.


"Baiklah aku kembali saja," ucapnya kemudian menyalakan mobilnya.


Namun saat akan memutar mobilnya, panggilan masuk di ponselnya dan itu dari karyawan kantor yang mengatakan jika mereka akan segera berangkat . Ia menanyakan apakah Nandira harus ditunggu atau Mereka pergi duluan.


"Tunggu aku ya, sebentar lagi aku sampai, aku sudah di jalan ," ucap Nandira tak jadi memutar mobilnya, ia kembali melanjutkan mobilnya menuju kantor.


"Semua pasti baik-baik saja, mungkin sebentar lagi Rafiz akan datang menjemput Mereka." batin Nandira mencoba menenangkan hati dan pikirannya.


Sementara di kantor Rafiz masih disibukkan dengan pencarian pelaku siapa yang sudah mengacak-ngacak kantornya, dia melupakan jika ia memiliki janji akan menjemput Zidan dan Syahidah.


"Kakak papa kenapa sih lama sekali," ucap Syahidah yang sudah lelah menunggu.


Sekarang sudah pukul empat sore namun Rafiz belum juga datang.


"Mungkin sebentar lagi, sabar saja," ucap Zidan sibuk dengan gadgetnya, masih terus mempelajari pengembangan Secret partner yang sebentar lagi akan mereka diluncurkan.


"Oh ya Kak, semalam Papa ngajak kita ke peluncuran game Kakak, kita ke sana ya," ajak Syahidah.


"Itu kan besok, Mama kan lagi di luar kota." ucap Zidan.


"Iya, aku sudah izin sama Mama. Kata Mama boleh, kita boleh ikut sama papa,"


"Ok, boleh juga," ucap Zidan yang juga penasaran seperti apa proses peluncuran game miliknya.


Rafiz yang sibuk mencari siapa pelaku yang telah memasuki ruangannya dan di sibukkan mengatur persiapan peluncuran Secret partner besok malam benar-benar merupakan Zidan dan Syahidah. Bahkan ia tak pernah melihat jika puluhan panggilan Nandira dan Syahidah ada di ponselnya.


Nandira yang khawatir menelepon Syahidah saat sudah sampai kota tujuannya, perjalanan mereka memakan waktu 4 jam.


"Halo Syahidah, Apa kalian sudah di rumah Papa?" tanya Nandira saat Syahidah mengangkat telfonnya.


"Belum mah, kami masih di rumah," jawab Syahidah.


"Apa,,,kok Papa belum datang menjemput kalian?!" tanya Nandira.


"Iya nih Mama, aku sudah menelponnya berkali-kali tapi Papa tidak mengangkatnya," keluh Syahidah. "Sepertinya Papa lagi sibuk deh."


"Apa bibi ada di sana, kalian ga apa-apa?!"


"Iya mah, kamu baik-baik saja. Bibi ada kok di sini, bibi lagi menyiapkan makan malam ," ucap Syahidah.


Syahidah mendengar ada suara mobil masuk ke pekarangan rumah mereka.


"Mah papa sudah datang, ada suara mobil di luar," ucap Syahidah mencoba menajamkan pendengarannya.


"Ya sudah ya, nanti kalau sudah sampai di rumah Papa telepon Mama ya. Mama mau lanjut rapatnya," ucap Nandira.


"Iya mah," Syahidah mematikan panggilannya.


"Kak, sepertinya Papa sudah datang," teriak Syahidah pada Zidan dan berlari ke arah pintu ingin menyambut papanya.


Namun tiba-tiba pintu didobrak oleh seseorang, Syajidah berjalan mundur saat melihat beberapa orang bertubuh besar melihat ke arahnya.


Zidan yang berada di lantai dua juga tertegun melihat siapa yang datang, itu bukanlah Papanya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜³πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜¬πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜³πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Siap ya mereka,???.


Kak jangan bosan ya memberikan LIKE ,VOTE ,dan KOMENNYA pada karya ini.


Oke!!!!!! oke lahβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™


Salam dariku Author m anha ❀️


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–