
Hari ini mereka akan ke pulau, pulau dimana tempat para sahabat Nandira berada, sahabat yang sudah di anggap sebagai keluarga nya.
Begitu sampai di pulau ketiga sahabat itu sudah menunggu kedatangan mereka, semalam Nandira sudah memberi kabar kepada mereka jika ia akan datang bersama anak-anak dan calon suaminya.
Sita dan yang lainnya melambaikan tangan saat melihat Nandira sudah datang.
Mereka menyambutnya, Zidan dan Syahidah yang melihat mereka langsung berlari memeluk Ketiga orang tersebut, orang yang sudah dianggap sebagai keluarga mereka sendiri.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya sita memeluk Nandira.
"Baik mbak, gimana kabar kalian semua?" tanya balik Nandira.
"Kamu semua baik,," jawab mereka dan semua melihat kearah Rafiz,
"Oh iya, perkenalkan kan ini Rafiz, kami akan segera menikah," ucap Nandira, mereka pun berkenalan.
Sita bisa melihat kemiripan diantara Zidan dan pria tersebut,
"Ternyata mereka sudah bertemu dengan Papa kandung mereka," batin mba Sita, yang merupakan paling tertua di antara mereka berempat.
"Ayo Tante kita pulang ke rumah," ucap Zidan dan Syahidah menarik Tika dan Dina menuju ke rumah di mana mereka dulu tinggal.
Sedangkan Sita mempersilahkan Nandira untuk ke hotel mereka, tak mungkin mereka menginap di tempat yang dulu.
Rafiz lebih dulu berjalan ke arah hotel, Sita dan Nandira berjalan pelan di belakangnya
"Apa dia Papa kandung dari anak-anakmu?" tanya Sita.
"Iya mbak, ia adalah Papa kandung mereka," jawab Nandira.
"Mbak senang kalau dia mau bertanggung jawab, tapi bagaimana kalian bisa bertemu dan apa dia sudah tahu kalau mereka adalah anak-anaknya," tanya mba sita lagi.
"Iya mbak, Dia juga sudah tahu, orang tuanya juga sudah tahu kalau mereka adalan cucu mereka. Mereka semua sangat menyayangi Zidan dan Syahidah," ucap Nandira tersenyum pada mba Sita,
Sita mengelus punggung tangan Nandira, melihat senyum bahagia di wajah Nandira.
Sita masih ingat dengan jelas bagaimana Nandira saat pertama kali datang ke pulau ini.
Sita sangat tau bagaimana penderitaan yang dialami oleh Nandira selama ini.
"Kalian pesan dulu makanan di restoran, aku akan menyimpan barang-barang ini dulu di hotel," ucap Rafiz yang di balas anggukan oleh Nandira.
Mereka memilih tempat favorit mereka dan duduk di sana, memandang indahnya laut yang berwarna biru, ombak yang saling menggulung hingga ke tepi pantai.
Nandira mengeluarkan tiga buah undangan dan memberikannya didepan Sita.
"Mbak ini undangannya, aku sangat berharap kalian semua bisa datang di acara pernikahanku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi Mbak, aku harap kalian mau wakili menjadi keluargaku.
"Tentu saja, kami akan usahakan untuk datang. Kami ikut bahagia melihat kau dan anak-anak bahagia.," ucap mba Sita.
Rafiz ikut bergabung dan bersama mereka,
Mereka menunggu makanan yang sudah di pesan Nandira.
"Anak-anak kemana?" tanya Rafiz yang tak melihat Zidan dan Syahidah di sana.
"Mereka ke rumah, mereka pasti kangen dengan rumah tempat tinggal mereka dulu," jawab Nandira.
Sambil menunggu anak-anak, mereka sudah menyantap makanan ya sudah datang lebih dulu, perjalanan laut cukup lama, membuat perut mereka ingin diisi.
Sementara Zidan dan Syahidah langsung ke kamar mereka,. kamar mereka masih sama seperti sewaktu mereka tinggali dahulu.
"Zidan yang tadi itu Papa kandung kamu ya ,"tanya Dina.
"Iya Tante," jawab Zidan.
"Kok kalian bisa ketemu sih," kepo Tika.
"Ceritanya panjang tante, yang jelasnya kami sudah bertemu dengan Papa dan sebentar lagi Papa akan menikah dengan Mama.
Itu sudah sangat membuat kami bahagia."Ucap Zidan.
"Apa kalian bahagia hidup di kota ?" tanya Tika.
"Bahagia banget, di sana banyak teman-teman Syahida, mereka enggak ada yang ledekin Syahida, semuanya main bersama Syahidah," jawabnya.
Syahidah mulai menceritakan Bagaimana kegiatannya di sekolah, seperti apa teman-teman yang ia miliki. menceritakan dengan penuh semangat membuat mereka gemes, ingin rasanya mereka mencubit gemes pipi anak itu.
Setelah puas dengan rumah lama mereka Zidan dan Syahidah menyusul mama dan papa serta Sita restoran, mereka juga sangat lapar.
Mereka semua pun makan bersama.
"Kemana tanya?" Rafiz,
"Syahidah ingin mengenalkan Papa dengan teman-teman Syahidah yang ada disini. Syahidah ingin bilang ke mereka kalau mereka salah, Syahidah juga punya Papa," jawab Syahidah.
"Tentu saja kita akan menemui mereka semua, Papa jadi penasaran seperti apa orang-orang yang suka menghina anak Papa ini "ucap Rafiz mengelus rambut anaknya itu
Setelah makan Syahidah benar-benar menemui teman-temannya.
"Lihat, itukan Syahidah, ?"
"Iya bersama seorang pria," semua menghentikan permainannya dan melihat ke arah Syahidah yang berjalan ke mereka.
"Hay semua ," ucap Syahidah menyapa mereka.
"Hay Syahidah!" ucap mereka semua.
Banyak yang menyapa namun ada beberapa orang yang hanya diam dan terus memainkan permainannya.
"Kenalkan ini Papaku," ucap Syahidah menunjuk Papa nya.
"Halo Om," ucap mereka semuanya menyapa Rafiz, Rafiz hanya tersenyum membalas sapaan mereka.
"Kamu kok bisa punya Papa?" tanya seseorang yang sejak tadi hanya diam.
"Ya bisa dong, ini Papa Syahidah." jawab Syahidah.
"Apa benar anda Papanya Syahidah?"tanya anak tersebut melihat keadaan Rafiz ingin memastikan apakah ucapan Nandira benar atau tidak.
"Iya, Syahidah benar saya adalah Papanya," ucapkan Rafiz.
"Bohong kamu pasti bohong kan Syahidah," ucap yang lainnya.
"Kenapa aku mesti bohong, Aku serius dia ini Papa aku, sebentar lagi dia akan menikah dengan mamaku," ucap Syahidah.
"Oh berarti maksudmu dia itu Papa tiri kamu ya?" ucap teman saya yang tadi.
"Bukan dia ini Papa kandungku," balas Syahidah tak mau kalah.
"Kalau dia Papa kandungan mu, Kenapa dia baru mau menikah dengan mamamu," ucap anak tersebut.
Syahidah tak bisa menjawab, ia hanya melihat Rafiz.
"Bener, Syahidah benar, Om ini adalah Papa kandungnya. Kalau Om baru menikah dengan mamanya Syahidah itu agar kami lebih bahagia lagi," ucap Rafiz.
"Ooh," ucap mereka semua.
Rafiz tak menyangka di usia mereka yang baru sekitar 8 dan 9 tahun mereka sudah saling membully dan mengerti pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Setelah memperkenalkan Papanya kepada teman-temannya Syahidah menarik papanya pergi dari sana, mereka sudah mengenal Syahidah dan papanya itu sudah cukup setidaknya jika mereka bertemu nanti mereka tak akan membully dirinya lagi karena tak punya Papa, pikir syahidah.
Nandira dan Zidan sudah menunggu di hotel, mereka lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya.
Syahidah yang tak mengenal lelah kembali mengajak Rafiz berjalan-jalan di pantai, mereka bermain di tepi pantai saling mengejar ombak dan masih banyak yang mereka lakukan.
Ponsel Rafiz berdering, itu panggilan dari Nandira.
"Kalian di mana, Kenapa belum pulang?!" tanya Nandira dari balik telepon.
"Sebentar lagi kami pulang, aku dan Syahidah masih bermain," jawab Rafiz.
"Besok aja lagi, Ini sudah mau malam. Sebaiknya kalian pulang dan mandi jangan membuat Syahidah kelelahan takutnya nanti dia sakit ," ucap Nandira.
"Iya Baiklah," ucap Rafiz matikan teleponnya.
Rafiz menatap jamnya,
Rafiz dan Syahidah duduk menyaksikan sunset yang begitu indah warna jingga memenuhi langit. Terlihat sangat cantik.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
jangan lupa ya Kak beri dukungan kalian dengan memberi
LIKE, VOTE, KOMENNYA 🙏
Salam dariku Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖