My Papa My Boss

My Papa My Boss
Permintaan Zidan



Setelah melihat rekaman CCTV itu Zidan langsung mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Papanya.


"Zidan ingin Ketiga orang ini tak mendekati Mama lagi," tulis Zidan dan mengirim 3 buah foto.


Rafiz yang baru saja akan tertidur mendengar bunyi pesan masuk di ponselnya, Ia pun mengambil dan melihat pesan tersebut, itu pesan dari Zidan.


Rafiz membuka pesan tersebut dan melihat 3 foto yang di kirim Zidan, foto itu adalah foto Riko, Jazlyn dan Shireen.


Rafiz membaca pesan Zidan dan tersenyum, "Kau memang anakku." batin Rafiz.


Setelah membaca pesan Zidan dan mengerti apa yang Zidan ingin, Rafiz mengirim pesan kepada Miran.


Rafiz kembali berjalan mendekati Nandira, menatap wajah Nandira, terlihat begitu tenang.


Membuat hatinya terasa hangat,


Rafiz kembali ke sofa dan mencoba untuk tidur.


***


Nandira terbangun lebih dulu, ia melihat Rafiz yang tertidur di sofa, dengan pelan ia mencoba berjalan, badannya terasa sangat sakit. Nandira berjalan pelan menghampiri Rafiz.


Nandira berjongkok dan melihat wajah Rafiz juga memiliki luka di tulang pipinya, Nandira perlahan mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Rafiz.


Rafiz yang merasakan perih di wajahnya terkejut dan refleks memegang tangan Nandira, ia membuka matanya menatap Nandira yang juga menatapnya.


"Kau sudah bangun," ucap Rafiz mencoba untuk duduk dan menarik Nandira duduk di sampingnya.


"Maaf sudah merepotkanmu," lirik Nandira.


Rafiz menggenggam tangan Nandira, mengusap lembut cincin yang melingkar di jari manisnya kemudian menguncup kedua punggung tangan Nandira.


"Jangan pernah berkata seperti itu, kau tak pernah merepotkan ku. Akulah yang seharusnya minta maaf karena tidak menjagamu."


Nandira tak berkata apa-apa, ia hanya terus menatap Rafiz.


Rafiz mengusap pipi Nandira yang masih membiru,


"Masih sakit?" tanyanya,


Nandira menggeleng pelan, Rafiz kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Nandira dan mencium semua luka yang lebam yang ada di sana.


Nandira menutup matanya saat Rafiz melakukan itu padanya.


Rafiz menjauhkan wajahnya dan menatap mata indah Nandira, meminta persetujuan.


Tak mendapat respon apapun dari Nandira, Rafiz kembali menarik tengkuknya dan mulai bermain di bibir indah Nandira.


Nandira kembali menutup matanya dan perlahan membalas ciuman Rafiz, ia ingin menghapus jejak Rico di ingatannya dengan ingatan tentang Rafiz.


Di saat Rafiz menghapus kenangan buruk Riko di ingatan Nandira, Miran justru membuat kenangan yang tak Terlupakan kepada ketiga orang yang berani mengusik Bosnya.


Miran menyiksa Riko dan merekam aksinya.


Ia menyiksa Riko tanpa ampun hingga Riko pun memilih untuk dilenyapkan saja dari pada harus merasakan siksaan dari Miran.


Memilih mati agar terhindar dari rasa sakit atas penyiksaan Miran padanya.


Riko terus menjerit kesakitan dan meminta ampun kepada Miran, namun usahanya sia-sia, Miran seakan tak mendengar apa yang Rico ucapkan dan terus melakukan penyiksaan terhadap nya hingga ia kembali tak sadarkan diri.


Di tempat lain,


Wajah Jazlyn dan Shireen menegang saat melihat video yang dikirim oleh Miran pada mereka.


Di mana video tersebut berisi penyiksaan yang dilakukannya terhadap Riko.


Tak lama kemudian masuk sebuah pesan di ponsel mereka dari nomor yang sama yang mengirim pesan video tadi.


"Jika kalian tak ingin bernasib sama dengan apa yang di alami oleh Riko, tinggalkan negeri ini sejauh mungkin. Jika aku sampai melihat kalian dan tahu kalian masih ada di negeri ini.


Aku pun akan melakukan hal yang sama pada kalian. Mungkin bahkan lebih buruk dari apa yang kalian lihat sekarang, apa yang aku lakukan pada Riko bisa saja aku lakukan pada kalian saat ini juga." isi pesan tersebut.


Tangan Jazlyn bergetar saat melihat video dan membaca pesan itu.


Sedangkan Shireen langsung melemparkan ponselnya saking terkejutnya dengan isi pesan tersebut.


Mereka tak ingin bernasib sama dengan apa yang dialami oleh Riko, Shireen langsung memesan tiket ke negara yang sangat jauh, sejauh mungkin dari negaranya saat ini. Sedangkan Jazlyn memilih untuk kembali ke negara asalnya.


Miran tak melepas mereka begitu saja, ia menyuruh seseorang untuk mengikutinya dan terus mengawasi mereka hingga batas waktu yang tak ditentukan olehnya, Miran tak ingin melakukan kesalahan lagi.


Di kediaman Rafiz, terdengar suara tawa saat kedua anak-anak Rafiz itu memberi makan hewan hewan peliharaan Papanya.


Tawa mereka seolah mengusir rasa kesepian yang selama ini dirasakan oleh setiap penghuni rumah besar itu.


Kakek terus menemani mereka, mengawasi apa saja yang mereka lakukan.


Terutama Zidan yang begitu berani terus berdekatan dengan hewan buas yang ada di sana.


"Apa tidak bisa hewan buas itu dipindahkan saja dari rumah ini, mommy benar-benar takut terjadi sesuatu pada cucu-cucu kita," ucap mommy .


"Aku akan coba bicara dengan Rafiz, mommy benar, walau mereka sudah lama dan jinak, mereka tetaplah hewan buas. Naluri memaksa mereka masih ada dalam diri hewan-hewan itu."


Syahidah menghampiri kakek dan neneknya yang sedang duduk menyaksikan mereka bermain dan memberi makan hewan hewan.


Kakek, nenek Papa sama Mama mana ya kok belum pulang,?" tanya Syahidah ikut duduk di samping kakeknya.


"Kakek mengelus rambut cucunya itu, mungkin sebentar lagi mereka akan pulang. Apa Syahidah mau pergi ke suatu tempat?!" nanti kakek yang antar?"


Syahidah menggeleng,


"nggak ko kek, Syahidah nunggu Mama di rumah aja." ucap Syahidah


"Apa mama sama papa ada di rumah mama ya?!" tebak Syahidah.


"Enggak, mama ga ada di rumah, mama lagi pergi sama papa," ucap Zidan ikut duduk bersama mereka.


"Kakak tahu dari mana?"


"Dari yang kamu perlihatkan semalam!" Jawab Zidan.


Syahidah mencoba berpikir Apa yang dimaksud dengan kakaknya itu.


"Oh jadi semalam itu kakak mencari Papa sama Mama ya?" tanya Syahidah.


"Yapsss benar sekali, gadis pintar," ucap Zidan mengelus rambut adiknya layaknya seorang ayah mengelus rambut anaknya.


"Ih kakak apaan sih," ucap Syahidah menyingkirkan tangan Zidan.


"Emangnya mereka ke mana Kak?" tanya Syahidah lagi.


"Enggak tahu, yang penting Mama sama Papa pergi berdua," ucap Zidan meminum jus yang telah disediakan oleh nenek.


"Jusnya enak nek," ucap Zidan tersenyum kearah neneknya.


"Iya dong, ini kan jus khusus buat Zidan.


Jus istimewa untuk cucu istimewa," ucap nenek.


Mereka berempat tertawa mendengar candaan nenek.


Mereka sangat bahagia bisa memiliki cucu yang bisa menghibur masa tua mereka. Cucu yang sangat cantik dan tampan.


Mereka pasti lebih bahagia lagi jika mengetahui kelebihan dari kedua cucunya.


💖💖💖💖💖🙏💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏🙏


jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberi


LIKE VOTE KOMENNYA 🙏💗


Salam dariku 🤗


Author m anha 💖


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖