My Papa My Boss

My Papa My Boss
Pertanyaan Yang Sulit.



Malam ini Zidan dan Syahidah sedang menonton televisi bersama dengan Mama nya.


"Mah, kenapa sih Mama melarang kami mengatakan pada papa Kalau kami adalah anak kandungnya ?" tanya Syahidah tanpa melihat mamanya dan tetap fokus pada layar televisi, ia sedang menyaksikan film kartun kesukaannya.


Nandira terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa, ia menemani mereka menonton tv tapi ia sedang sibuk dengan laptopnya, membawa pulang beberapa pekerjaan kantor yang tak sempat di kerjakan nya.


"Mama cuma ingin Papa tahu sendiri kalau kita ini adalah anak-anaknya," jawab Zidan membantu mamanya menjawab pertanyaan Adiknya,


"Tapi bagaimana kalau Papa tidak meresa kalau kita ini adalah anak-anaknya, apakah selamanya kita juga akan diam?" tanya Syahidah mulai serius menatap mama dan kakaknya berganti.


"Kalau Papa tidak peka terhadap kita itu berarti Papa tidak menyayangi kita," Zidan menjawab santai beralih pada layar gadgetnya.


"Mah, kok Papa tidak tahu kalau kita ada, ?" tanya Syahidah dengan polosnya.


Nandira pura-pura fokus pada laptop nya, ia benar-benar tak tau jawaban apa yang harus di berikan pada pertanyaan putrinya itu.


"kenapa Papa dan Mama berpisah!" tanya Syahidah penuh rasa penasaran, kini ia melihat ke arah mamanya.


"Semua bukan kesalahan mama, itu kesalahan Papa, jika ada yang mau disalahkan salahkanlah Papa jangan salahkan mama," jawab Zidan yang tahu bagaimana kisah pertemuan mama dan Papanya.


"Maksudnya?" tanya Syahidah.


Tak ada yang menjawab pertanyaan Syahidah. semuanya fokus pada pekerjaannya.


"Apa kita akan terus diam saja, Syahidah nggak ingin kehilangan Papa setelah kita menemukan. Apalagi jika Papa sampai balikan sama si ulat bulu itu," geram Syahidah mengingat pertengkarannya dengan Jazlyn.


"Apa kamu tidak perhatikan, Papa sendiri menghindarinya," jawab Zidan.


"Iya Syahidah tahu, tapi apa Kakak juga tidak lihat ulat bulu itu terus saja menempel sama Papa."


"kalian lagi ngomongin apa sih..kok ada ulat bulu?" tanya Nandira menyimpan laptop nya di meja.


"Itu ma, Tante genit,"


Nandira jadi teringat dengan wanita yang pernah bersama dengan Rafiz di kantor.


"Apa perempuan itu tinggal di sana?"


"Iya mah, dia tinggal disana. Dia itu sangat genit, Syahidah ga suka.,"


"Apa sangat nempel ke Papa?" tanya Nandira ragu.


"Iya Mah, mah bagaimana kalau mama aja yang merayu Papa?!" ucap Syahidah menatap mamanya dengan mata genitnya.


"Apa...? merayu Papa, maksud kamu Mama genit-genit gitu sama papa sama kayak tante itu?!" tanya Nandira.


Syahidah mengangguk dengan senyum selembar mungkin.


Zidan yang fokus pada pekerjaannya juga menatap mamanya menunggu jawaban mamanya.


"Enggak ah, enggak mau. Mama maunya di genitin ga mau genit sama Papa," ucap Nandira.


"Mama kenapa sih sepertinya belakangan ini terus bersikap dingin sama Papa?" tanya Zidan .


"Enggak, mama nggak bersikap dingin kok, biasa saja ," Jawab Nandira.


"Iya, Mama itu berubah nggak kayak dulu, dulu mama juga suka ngobrol sama papa tapi belakangan ini Syahidah lihat Papa sama Mama kok diam-diam,?"


Nandira tak menjawab malah kembali mengambil laptop nya.


Tak mendapat jawaban Zidan kembali menyelesaikan pengembangan game online nya.


Syahidah juga kembali fokus pada film kartunnya.


"Zidan, Syahidah Bagaimana jika Papa tau kalian adalah anak-anaknya dan ingin mengambil kalian dari mama?"tanya Nandira menatap serius anak-anaknya.


Zidan dan Syahidah saling pandang mendengar pertanyaan mamanya.


"Ya kami ikut Papa dan Mama juga ikut kami bersama papa" jawab Syahidah.


"Maksudnya jika mama dan papa tinggal di rumah yang berbeda, Papa nikah dengan orang lain dan mama juga dengan orang lain, Kalian ingin tinggal dengan mama atau papa?" tanya Nandira dengan hati-hati.


"Zidan tak akan membiarkan mama dan papa pisah Zidan akan menyatukan Mama dan Papa," jawab Zidan.


Syahidah mengangguk mengiyakan perkataan kakaknya.


"Ini kan seumpama saja, kalian akan memilih tinggal sama papa atau sama mama?" tanya Nandira.


"Syahidah mau tinggal sama mama dan papa," jawab Syahidah


Nandira menghela nafas, sepertinya pernyataannya itu tidak akan dijawab oleh anak-anaknya.


"Mama, kami sayang mama sama papa kami tak akan memilih diantara Kalian." ucap Zidan.


****


Sementara di kediaman Rafiz, Daddy menemui Rafiz di tempat favoritnya, di balkon kamarnya.


"Daddy sangat bahagia saat anak-anak itu ada disini,"


"Iya, Ded. Rafiz juga bahagia jika bersama dengan mereka. Mereka anak-anak yang lucu," Jawab Rafiz mengingat tingkah lucu Syahidah.


"Bagaimana apakah sudah mempertimbangkan tentang kebenaran dari mereka,"


Rafiz menghela nafas, memasukkan tangannya ke dalam saku nya memandang lurus kedepan, Aku sudah melakukan tes DNA, besok hasilnya akan keluar,"


"Benarkah, kau sudah melakukannya ?"


"Hmmm," Rafiz mengangguk,


"Mudah-mudahan saja mereka memang bagian dari kita,"


"Semoga saja," ucap Rafiz.


"Apa, jadi ada kemungkinan Zidan dan Syahidah adalah anak-anak Rafiz, ini tak boleh dibiarkan jika mereka memang benar adalah anak-anaknya aku akan semakin jauh dengannya," batin Jazlyn mendengar percakapan mereka.


***


Keesokan harinya Rafiz menuju ke rumah sakit tempat Ia melakukan pemeriksaan tes DNA antara ia dan anak-anak, Jazlyn mengikutinya dari belakang.


"Aku harus melihat hasil tes itu lebih dulu, aku harus memastikan Apa hasilnya," batin Jazlyn terus mengikuti Rafiz yang berjalan di koridor rumah sakit.


Jazlyn bisa melihat jika Rafiz menemui seseorang dan menyerahkan sebuah amplop kepada Rafiz,


"Itu pasti hasilnya," gumam Jazlyn.


Sebelum Rafiz membuka amplop tersebut Jazlyn dengan cepat menelpon Rafiz,


"Ada apa" jawab Rafiz, mengangkat telfonnya dan mengurungkan niatnya untuk membuka amplop tersebut.


"Sayang kamu di mana?" tanya Jazlyn.


"Aku ada di rumah sakit. Ada apa?"


"Benarkah, Aku juga di rumah sakit. Kamu di rumah sakit mana?" tanya Jazlyn yang terus menyibukkan Rafiz dengan pertanyaan nya sambil memikirkan cara agar bisa menukar isi amplop itu.


"Aku di rumah sakit B, apa yang kamu lakukan di rumah sakit?" tanya Rafiz,


"Aku hanya melakukan pemeriksaan, kebetulan sekali aku juga di rumah sakit B, kamu di mana Aku kan ke sana,"


"Aku di depan laboratorium, kamu nggak usah ke sini aku mau langsung ke kantor ," jawab Rafiz.


"Aku sudah melihatmu, aku akan kesana,"


Rafiz mematikan panggilannya dan kembali ingin melihat isi amplop di tangannya, Jazlyn berjalan cepat saat melihat Rafiz kembali ingin membuka amplop tersebut.


"Hay sayang kamu di sini," ucap Jazlyn sengaja menyenggol tangan Rafiz, membuat isi amplop itu berserakan. Jazlyn dengan sigap menukar isi dari amplop itu dengan berkas yang sudah ia siapkan. Ia pura-pura memungut berkas itu dan memberikan kepada Rafiz.


"Ini berkas apa?" tanya Jazlyn pura-pura tak tahu.


"Ini bukan urusanmu, aku akan ke kantor," jawab Rafiz berlalu sambil membawa amplop yang telah ditukar oleh Jazlyn.


Jazlyn melihat berkas-berkas tersebut saat Rafiz sudah menjauh,


" Jadi benar mereka adalah anak-anaknya, tapi mengapa Rafiz tak tahu jika ia sudah memiliki anak," batin Jazlyn masukkan berkas hasil tes DNA itu ke dalam tasnya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜ πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜ πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


πŸ‘‰ VOTE


πŸ‘‰LIKE


πŸ‘‰ KOMENNYA πŸ™


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–