My Papa My Boss

My Papa My Boss
Tertangkap.



Nandira yang baru sampai di rumahnya sangat terkejut saat melihat banyak polisi di depan rumahnya.


Nandira perlahan turun dari mobilnya ia melihat ada mobil polisi dan ambulans terparkir di sana, tubuhnya lemas nyawanya seakan melayang tas, ponsel dan kunci yang ada dipegangnya jatuh begitu saja.


Nandira berjalan pelan menghampiri Rafiz yang sedang berbicara dengan beberapa polisi di teras rumahnya.


"Nandira? ucap Rafiz menghampiri Nandira yang berjalan kearahnya,


"Kau tak apa-apa?" tanya Rafiz saat melihat Nandira yang terus berjalan menatap lurus kedepan,


"Nandira," panggilan Rafiz.


Nandira melihat Rafiz.


"Di mana anak-anakku, di mana mereka," ucap Nandira dengan suara bergetar.


Rafiz tak menjawab, ia hanya memandang penuh penyesalan pada Nandira.


"Katakan dimana anak-anakku," bentak Nandira air matanya mulai mengalir. Pikiran buruk saat melihat ambulans dan ada darah di lantai membuat Ia berpikir terjadi sesuatu yang buruk pada anak-anaknya.


"Ada apa ini ?, di mana mereka?, kenapa kamu hanya diam saja, jawab pertanyaanku," ucap Nandira yang kini menarik kemeja Rafiz cengkramannya dengan sangat erat. Ia terus menatap Rafiz yang hanya diam, mencari jawaban dari pertanyaan nya.


"Maaf,"


"Apa maksudmu maaf" geram Nandira.


"Saat aku tiba keadaan sudah seperti ini, aku tak tahu di mana anak-anak, aku datang mereka sudah tak ada," jawab Rafiz.


"Apa maksudmu tak tahu hah, Kau sudah berjanji padaku kau akan menjemput mereka lalu Apa ini, di mana mereka. Mengapa kau selalu mengingkari janjimu, aku selalu mencoba mempercayakan mereka kepadamu, Mengapa kau terus saja membuatku tak bisa mempercayaimu," tangis Nandira pecah, ia kini terduduk menangis, kakinya sangat lemah sehingga tak mampu menopang tubuhnya.


Rafiz ikut berjongkok mencoba memegang Nandira, namun Nandira langsung menepis tangan Rafiz,


"Jangan sentuh aku, kau memang tidak bisa dipercaya,"Nandira tak tau harus berbuat apa, ia hanya bisa menangis saat ini.


Nandira melihat bibi yang berjalan keluar dari rumahnya, ia bisa melihat jika orang yang selama ini menjaga anaknya juga terluka.


Nandira segera bangkit dan menghampiri nya,


"Dimana mereka, dimana anak-anak ku bi, apa yang telah terjadi?" tanya Nandira masih dengan tangisnya.


"Maaf Bu, bibi tidak bisa melindungi mereka. Tadi ada beberapa orang yang masuk kerumah Bu, Mereka mengejar anak-anak kelantai atas, bibi juga nggak tahu Bu apa yang terjadi selanjutnya pada Zidan dan Syahidah... Tadi mereka memukul bibi hingga pingsan dan saat bibi bangun mereka sudah tidak ada, keadaan sudah seperti ini," jelas bibi.


"Tenanglah, kami sudah memeriksa CCTV, sepertinya Zidan mengikuti mereka dengan mobil lain. Polisi sudah mencari tau posisi mereka.," ucap Rafiz.


"Apa katamu tenang hah, aku kehilangan anak-anakku. Mereka adalah anak-anakku," bentak Nandira.


"Aku tahu mereka anak-anakmu, tapi bisakah kau tenang. Percaya padaku aku akan mencari mereka,?"


"Aku tak akan percaya lagi padamu, semua ini karena mu. Aku akan mencari mereka sendiri ," ucap Nandira berjalan menuju Mobilnya.


"Kau mau ke mana,?" tanya Rafiz menahan lengan Nandira.


"Aku akan mencari mereka," ucap Nandira mencoba melepaskan pegangan Rafiz di lengannya, namun Rafiz tak melepaskannya.


Ia tak akan membiarkan Nandira membawa mobilnya dalam keadaan panik seperti saat ini.


Rafiz mengambil kunci mobil yang ada di tangan Nandira.


"Berikan kunci itu, aku akan mencari anakku," keukeh Nandira,


"Mau kemana kamu mencarinya, kamu akan mencarinya tanpa tujuan seperti ini?" bentak Rafiz.


"Iya, aku tak bisa diam saja disini sementara anak-anak ku entah bagaimana keadaan mereka."


"Aku akan berusaha menemukannya, cobalah untuk bersabar kita tunggu sebentar lagi mungkin saja Zidan akan menghubungi kita ," bujuk Rafiz.


Nandira menggeleng,


"Tidak, aku harus mencari mereka ," ucapnya menangis.


Rafiz membawa Nandira ke peluknya, "Tenanglah,"


Polisi menghampiri mereka,


"Sepertinya mereka ke arah ini," ucap polisi tersebut menunjuk daerah di mana terakhir kedua mobil tersebut melintas. Mereka mencari tahu melalui rekaman CCTV yang terpasang di beberapa titik.


"Ayo kita ke sana," ucap Nandira.


"Tidak, aku harus ikut," kekeh Nandira.


"Nandira aku mohon, tunggu lah di sini. Ini sangat berbahaya,"


"Tidak, aku ingin ikut walau dengan izin ataupun tanpa izin mu," ucap Nandira langsung ikut berjalan di belakang petugas kepolisian.


Mereka pun menuju ke tempat dimana mobil tersebut terakhir terlihat, namun saat mereka sampai di sana mereka tak menemukan petunjuk apapun.


"Dimana anak-anak ku," tanya Nandira yang tak melihat siapa di sana.


"Kami sedang berusaha mencarinya, harap anda bersabar." ucap petugas polisi yang menaiki mobil yang sama dengannya.


Tak lama kemudian sebuah chat masuk di ponsel Nandira, Nandira langsung melihat nya.


Sebuah chat dan ia membukanya,


"Zidan ," ucap Nandira saat melihat chat tersebut berasal dari Zidan, dengan tangan gemetar ia berusaha membuka chat itu, Rafiz yang melihat tangan Nandira gemetar langsung mengambil alih ponselnya dan membuka Apa isi dari chat itu.


Zidan mengirim share lokasi tempat keberadaannya.


Melihat itu Rafiz langsung memperlihatkan lokasi tersebut kepada petugas kepolisian dan mereka pun langsung melacak dan menuju tempat tersebut.


Namun saat sampai di sana lagi-lagi Mereka hanya menemukan rumah kosong, tak ada siapapun disana. Para petugas ke polisi yang ikut bersama mereka langsung menyusuri setiap sudut rumah itu dan sekitarnya.


Mereka menemukan dua tas anak kecil,


"Apa tas ini milik anak-anak kalian,?" tanya petugas polisi yang menemukan tas tersebut.


"Iya Pak, ini milik anak kami," ucap Nandira tanpa sadar menyebut kata kami.


Rafiz langsung menoleh ke arah Nandira, namun ia pikir mungkin Nandira sedang panik sehingga salah dalam mengucap kata kami.


Nandira langsung membuka tas tersebut dan memeriksa isinya Andira hafal apa-apa saja yang sering dibawa oleh anak-anaknya dan semuanya masih ada di sana.


*******


Saat Zidan mengikuti kemana arah petunjuk yang ada di gadgetnya, ia sampai di sebuah rumah, Zidan juga melihat mobil yang membawa Syahidah juga terparkir di sana .


Sopir yang merasa ketakutan melihat beberapa orang yang sepertinya bukan orang baik memaksa Zidan untuk kembali.


"Sebaiknya kita kembali dan mencari bantuan ," ucapnya pada Zidan .


"Tapi adikku ada di dalam, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya," ucap Zidan.


"Tapi kita berdua tak cukup kuat untuk melawan mereka


"Begini saja Pak, pergilah dan cari bantuan Aku akan mencoba menyelamatkan adikku,"


"Baiklah, hati-hati ya. jangan buat masalah dulu, tunggu di sini sampai bantuan datang. ucapnya sebelum meninggalkan Zidan.


Mereka pun berpisah, sang sopir langsung menuju ke kantor polisi sedangkan Zidan mencoba memeriksa kondisi di dalam rumah itu.


Zidan mengeluarkan gadgetnya dan mengirim lokasi nya ke nomor ponsel mamanya, Zidan berharap namanya melihat dan segera menemukan mereka.


"Mama cepatlah datang ," batin Zidan. mengkhawatirkan kondisi Syahidah.


Zidan yang melihat beberapa orang tersebut sepertinya mengarah kembali ke mobil, dengan sigap ia langsung masuk ke bagasi mobil tersebut.


Karena terburu-buru ia lupa mengambil tasnya.


Mereka hanya berhenti sebentar sambil menunggu perintah dari Boss mereka.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah mendapat perintah.


Syahidah mencoba melawan mereka dengan memukul orang yang ada di dekatnya dengan tasnya. Orang tersebut merasa geram dan langsung mengambil tak Syahidah, melempar nya keluar jendela mobil.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜‰πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜‰πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Selamat membaca, jika kalian suka dengan karya ini tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote dan comment.


Sebanyak-banyaknya ya kak,,,


Salam dariku m anha.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™