My Papa My Boss

My Papa My Boss
Mencari Tau.



Malam ini Syahidah merasa gelisah, ia tak bisa tidur. Walau sudah berusaha memejamkan matanya. Namun, pikirannya tetap teralihkan pada pembicaraan mama dan Papanya, yang tak sengaja dia dengarkan.


Syahidah duduk, ia merasa frustasi. Setiap ia mencoba menutup matanya, bayangan penculik yang telah menculiknya beberapa bulan lalu terus terlintas di pikirannya.


Syahidah melihat gadgetnya yang ada di atas meja belajarnya. Ia baru teringat Jika ia pernah meretas CCTV kantor orang yang telah membobol sistem IT papanya. 


Syahidah dengan cepat mengambil gadget dan mulai berselancar di sana. Hari itu ia terus menunggu siapa pemilik perusahaan itu. Namun, lama Ia menunggu orang tersebut tak juga menampakan dirinya di kantor.


Syahidah yang sibuk dengan kegiatannya jadi melupakan misinya mencari tahu siapa pelaku pembobolan IT perusahaan papanya. Syahidah berpikir semua sudah selesai, ia sudah memberi pelajaran pada orang tersebut. Sisanya urusan tim IT papanya.


Syahidah terus memfokuskan untuk mencari pemilik perusahaan tersebut, Syahidah curiga jika semua ini masih ada sangkutannya dengan masalah IT .


Syahidah yakin, jika pemilik perusahaan itulah yang menjadi musuh mereka saat ini.


Setelah mengutak-atik gadgetnya Syahidah menghentikan rekaman tersebut, ia melihat seseorang masuk ke ruangan itu.


"Apa dia pemilik perusahaan itu,"gumam  Syahidah melihat ada seseorang di dalam ruangan.


Syahidah kembali mengutak-atik gadgetnya, ia mempercepat rekamannya dan di beberapa kesempatan ia hanya melihat orang tersebut ada ruangan itu, yang berarti kemungkinan besar memang dialah pemilik ruangan tersebut dan bisa dipastikan dialah pemilik perusahaan.


Syahidah kemudian mencari tahu nama orang tersebut. Walau membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya Syahidah berhasil mendapatkan informasi mengenai data pria pemilik perusahaan.


Pria bernama Aksan. Sebelumnya, Aksan adalah warga negara Indonesia. Aksan kecil pernah menetap di Indonesia, kemudian sepertinya ia berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Amerika dan sampai sekarang dia tetap tinggal di sana.


"Bukankah pria ini yang pernah menculik ku dulu," ucap Syahidah mengingat wajah orang yang menculiknya beberapa bulan yang lalu.


Syahidah kemudian melacak perjalanan Aksan dan benar saja Aksan pernah datang ke Indonesia bertepatan pada saat penculikannya, bukan hanya itu sepertinya pria bernama Aksan itu juga pernah datang ke Indonesia 2 bulan yang lalu.


Syahidah sudah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang Aksan kemudian tanpa berpikir panjang Syahidah langsung masuk ke kamar Zidan, membangunkan kakaknya yang sedang tertidur pulas.


"Ada apa?" tanya Zidan dengan suara malasnya.


"Kakak, coba lihat ini," ucap Syahidah memberikan informasi yang baru saja ia dapatkan.


Bukannya melihat informasi tersebut Zidan justru melihat jam yang ada di sana.


"Syahidah, coba lihat ini baru jam 3 pagi, bisakah kita bicarakan ini besok pagi saja," ucap Zidan yang masih merasa sangat mengantuk.


"Kakak, bangun. Aku belum tidur dari semalam karena mencari informasi ini, bisakah Kau melihatnya sebentar."


Mendengar nada serius dari Syahidah, Zidan pun membuka mata dan mencoba mencari tahu informasi apa yang Syahidah dapatkan sampai adiknya itu harus begadang.


Zidan meneliti semua informasi tersebut dengan sangat hati-hati.


"Syahidah bisakah kau melacak ponsel orang ini?" tanya Zidan sambil terus membaca informasi tersebut.


Lama Zidan menunggu, tapi tak ada jawaban. Kemudian ia menoleh dan melihat adiknya ternyata sudah tertidur pulas.


Zidan yang tak tega membangunkan Syahidah hanya bisa menarik selimut untuk adiknya dan kembali fokus pada pria yang Syahidah cari tahu.


Pagi hari Syahidah membuka mata. Ia sudah tak melihat Zidan disana, kemudian ia melihat gadgetnya dan disana ada secarik kertas yang tertulis 'Cari tahu orang-orang terdekatnya dan nomor ponsel pria ini, cari tahu siapa saja yang dihubungi 5 bulan terakhir.


Jika bisa cari tau apa tujuannya datang 2 bulan yang lalu ke Indonesia dan berapa lama ia tinggal di sini.'


Syahidah memiringkan kepalanya membaca catatan kakaknya.


"Baiklah, aku akan cari tahu semuanya." Syahidah melenturkan jari-jarinya kemudian langsung berselancar di gadgetnya.


Hari ini mereka tak sekolah dan akan memulai pelajaran di rumah. Ini dimanfaatkan Syahidah dan Zidan untuk mencari informasi tentang pria tersebut.


Rafiz tak ke kantor, ia menuju ke tempat penyekapan orang-orang yang selama ini terus membuntuti mereka.


Begitu Rafiz masuk, semua memberi hormat padanya. "Dimana mereka?" tanya Rafiz.


"Kami mengurung mereka di sana," ucap salah satu dari mereka kemudian menunjukkan jalan kepada Rafiz.


"Bagaimana, apa ada perkembangan?"


"Sama seperti sebelumnya. Kami bahkan sudah menghabisi beberapa dari mereka di depan mata mereka semua. Namun mereka tetap bungkam, tak ingin membocorkan informasi sedikitpun, bahkan beberapa dari mereka sengaja mengakhiri hidup mereka sendiri."


Setelah itu ia kembali keluar bersama orang yang tadi mengantarkannya.


"Bawa pria yang berbaju biru dan merah ke ruanganku," ucapnya sebelum masuk ke salah satu ruangan yang ada di sana.


Orang suruhan Rafiz langsung membawa 2 orang yang diminta dan menghadapkannya kepada Rafiz.


"Kau boleh keluar," perintahnya.


Kedua orang itu menatap Rafiz dengan tatapan ketakutan.


"Aku akan membebaskan kalian jika kalian mau bekerja sama denganku."


Orang tersebut masih tetap bungkam, kedua tangannya diikat ke belakang dan dipenuhi luka lebam.


Rafiz membuka 2 koper di hadapan mereka yang berisi penuh dengan uang.


"Aku juga akan mengirim kalian jauh dari negeri ini dan kupastikan tak akan ada yang dapat menemukan kalian, aku akan menjamin kehidupan dan keamanan kalian selama 2 tahun."


Mereka menatap Rafiz dengan dahi berkerut, mencoba mencari kebenaran dari kata-kata nya.


"Beritahu aku, siapa yang menyuruhmu mengikuti keluargaku dan apa saja yang ia perintahkan?"


Kedua orang tersebut saling tatap dan berpikir.


"Apa kau juga akan menjamin keselamatan keluarga kami?" tanya salah satu dari mereka.


"Tentu saja, aku akan pastikan itu," ucap Rafiz menahan amarahnya. "Beritahu saja siapa keluarga kalian, aku juga akan memastikan keamanannya."


Rafiz bisa melihat ekspresi wajah mereka yang mulai tertarik dengan tawarannya.


"Apakah kalian bungkam, karena takut mereka akan berbuat jahat pada keluarga kalian?" tanya Rafiz menatap tajam pada mereka berdua.


Mereka berdua kembali saling tatap kemudian mengangguk.


Bukk....


Rafiz memukul mereka berdua, mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa sakit akibat melayangkan tinjunya pada mereka.


"Jika kalian bisa mengorbankan nyawa kalian untuk melindungi keluarga kalian, kalian pikir aku tidak akan mengorbankan segalanya untuk melindungi keluarga aku?! Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu mengikuti keluargaku," ucap Rafiz menatap mereka dengan sangat tajam rahangnya mengeras, tinjunya mengepal. Ingin rasanya ia menghabis kedua orang yang ada di depannya. Namun, ia masih membutuhkan informasi mengenai siapa pelaku yang sebenarnya telah menargetkan keluarganya.


Mereka berdua kembali tetap diam.


"Ayo cepat katakan jangan menguji kesabaran ki, sekarang aku masih ingin bernegosiasi dengan kalian, aku akan menepati janjiku untuk melindungi kalian dan keluarga kalian berdua. Aku juga akan menjamin kehidupan kalian selama 2 tahun. Apa itu tidak cukup?! Apa kalian memilih mati seperti teman-teman kalian yang lainnya?! Apa kalian percaya pada orang itu, jika ia tidak akan melukai keluarga kalian," ucap Rafiz dengan berapi-api, matanya berkilat tajam menatap mereka berdua.


"Kami juga tidak tahu siapa mereka, kami tak mengenal mereka. Kami hanya bertemu dengan mereka sekali saat memberi perintah agar memberikan informasi sekecil apapun tentang kalian semua dan informasi sekecil apapun yang kami berikan akan mereka hargai dengan sangat mahal. Jika kami membocorkan identitas mereka, mereka akan menghabisi keluarga kami."


"Kami tak tahu banyak tentang mereka, tapi yang kami tahu bos mereka berasal dari luar negeri dan orang yang menemui kami, salah satu anak buahnya bekerja di perusahaan anda," jawab Salah satu dari mereka.


"Apa kau tahu siapa nama orang yang menemui kalian? orang yang berkerja di kantorku?" tanya Rafiz.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


terima kasih atas dukungannya 🙏


terus beri dukungan kalian dengan memberi like, vote dan komennya 🙏


salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


love you all 💕💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖