My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
99



Setelah beberapa saat di ruang transit dan asisten dokter melihat kondisi Zalin sudah stabil setelah menjalani operasi. Blangkar Zalin keluar dari ruangan itu menuju ruang perawatan.


Saat Zalin keluar dari ruangan sudah ada Briliant di depan ruangan. Jarak waktu antar keluarnya bayi Zalin dari ruang operasi dan Zalin keluar dari ruang transit operasi cukup lama. Jadi Briliant sudah ada di depan untuk menyambut istrinya yang sudah berjuang mempertaruhkam nyawa untuk melahirkan anaknya.


Briliant tersenyum dan matanya berkaca-kaca saat melihat wajah Zalin yang terlihat begitu lemah. Ibu dan Ayah juga paman Andrean tersenyum pada Zalin, walaupun mereka tidak pernah menjalani operasi, mereka bertiga tahu bagaimana operasi.


Zalin membalas senyuman mereka. Zalin bersyukur ada mereka yang menguatkannya.


Zalin dibawa ke ruang perawatan yang cukup.jauh dari ruang operasi.


Di kamar perawatan.


"Bu, dingin.." ucap Zalin pelan.


"Sabar ya sayang," Ibu Zalin mengusap puncak kepala anaknya.


"Kaka Utun, ehh.. Kaka bayinya gimana?" tanya Zalin penasaran melihat ke arah semuanya.


"Baik," Briliant tersenyum.


Briliant tidak ingin mengatakan bahwa bayinya bermasalah. Dia akan menunggu kabar bayinya stabil dan baik-baik saja.


"Ma'af, yang menunggu hanya satu orang saja ya!" ucap seorang satpam perempuan yang melihat Zalin di kelilingi oleh Briliant, Ibu, Ayah dan pamannya.


"Iyan, kamu saja yang menunggu Zalin, Ibu dan ayah mau pulang dulu untuk membawa keperluan di sini," ucap Ibu Zalin.


Briliant menggangguk.


Setelah itu ayah, ibu dan paman Andrean keluar dari ruang perawatan Zalin.


Briliant duduk di samping Zalin dan menggenggam tangan istrinya.


"Sakit dan dingin, badan Za masih kaku."


"Itu efek obat bius Yang, tadi bius lokal atau total?" tanya Briliant.


"Yang pasti bukan total, karena Za masih sadar."


"Oh iya."


Salag seorang bapa yang menunggu pasien bertanya pada Zalin.


"Mbak suaminya mana?"


"Ini," Zalin menunjuk Briliant.


"Ah masa?" bapa itu mengerutkam dahinya tidak percaya.


"Bapa tidak percaya?" tanya Zalin kesal.


"Say kira itu adik mbak," bapa itu tersenyum.


"Huh, bapa ini!"


Briliant tersenyum karena bukan kali ini saja Zalin dibuat kesal karena orang lain mengira Briliant adalah adiknya.


Tidak lama kemudian perawat datang untuk membersihkan dan memberi obat pada Zalin.


"Ibu jangan mengangkat kepala sampai pagi ya, jangan tidur memakai bantal."


"Kalau haus?"


"Ibu jangan dulu minum ya, nanti mungkin besok bisa mulai minum sedikit-sedikit."


"Ya ampun, berat sekali operasi ini,"batin Zalin.


"Besok juga makannya yang lembut-lembut dulu ya, seperti bubur."


Setelah memberi pesan, membersihkan dan memberikan obat, Zalin ditinggalkan kembali bersama Briliant.


Saat Briliant akan mendudukan tubuhnya, datanglah Helen dan teman prianya.


"Za..." sapa Helen.


Zalin hanya tersenyum.


"Ko bisa sih SC?"


Brilian memberikan kursi pada Helen, setelah Helen duduk. Briliant menceritakan bagaimana akhirnya Zalin dioperasi.


Setelah berbincang, Helen pamit pulang setelah sebelumnya memberikan parsel buah-buahan untuk Zalin.


Setelah Helen pulang, datanglah istri dan anak-anak paman Andrean.


"Bayinya dimana?" tanya Nizam anak paman Andrean.


"Di ruang bayi Zam, di sini hanya ada ibu-ibu," ucap Briliant.


"Jauh?" tanya Nizam penasaran.


"Lumayan, tapi ga bisa masuk oling lihat dari jendela. Bayinya ka Zalin ada du tengah, ga keliahatan. Mending nanti lihatnya di rumah saja ya?" brilian memberi saran.


Malam ini Briliant menginap menemani Zalin di kamar perawatan. Beberapa saudara ingin menengok Zalin, tapi karena jam besuk sudah berakhir. Mereka terpaksa pulang kembali setelah menitipkan bingkisan pada satpam yang menjaga dengan sedikit rasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Zalin.


Saat malam hari, Zalin merasa sangat nyeri di area jahitan dia meras gerah. Beberapa kali memanggil suaminya, tapi Briliant sungguh sulit bangun.


"Mungkin ka Iyan lelah," batin Zalin.


Zalin berusaha menahan rasa sakitnya, Zalin tidak bisa tidur karena rasa nyerinya terus ada dan rasanya sangat sakit sekali.


"Rasanya payah sekali SC, awas aja kalau ada yang menyepelekanku," batin Zalin.


Zalin berusaha menutup mata karena merasa mengantuk. Tapi baru saja menutup mata, Zalin kembali merasakan nyeri dan membuatnya terjaga sampai pagi hari.


Pagi Harinya


Zalin sudah diijinkan tidur dengan di sanggah oleh sebuah bantal oleh bidan. Zalin disuapi bubur yang hanya diberi kecap asin oleh Briliant, Zalin terlihat sangat mengantuk.


Jam sudah menunjukan pukul tujuh, seorang wanita yang bertugas mengganti sprai disetiap blangkar datang.


Saat wanita itu datang mendekati Zalin dia meminta Zalin memiriringkan badannya.


"Belajar miring-miring ya badannya, biar jahitanya cepat kering, setelah kuat nanti belajar berdiri dan jalan sendiri ke toilet," ucap wanita itu.


"Kalau mbak rajin mbak akan segera cepat diijinkan pulang," ucapnya kemudian.


Setelah kepergian Wanita itu Zalin menjadi rajin memiringkan badan, sungguh Zalin ingin segera pulang ke rumah.


Tidak lama kemudian ayah Briliant datang dan menemui Zalin, ayah Briliant sengaja mampir setelah dari kota M sebelum pulang ke kota Q.


Sore harinya


Keluarga Briliant datang untuk menengok Zalin, tapi mama dan adiknya Zalin hanya bisa melihat bayinya hanya lewat jendela saja. Karena yang hanya dapat masuk ke dalam ruangan bayi hanya ayah dan ibunya saja.


Briliant memotret bayinya dan diperlihatkan pada keluarganya.


"Za, mau lihat juga dong!"


Briliant memperlihatkan poto yang Briliant ambil.


"Dia di infus? Ka.... bayinya kenapa?" tanya Zalin penuh selidik.


Briliant menjelaskan pada Zalin dari awal, dan mengatakam bahwa bayinya sekarang sudah baik-baik saja.


Zalin bernafas lega.


Setelah adzan magrib berkumandang keluarga Briliant pamit pulang pada keluarga Zalin dan Zalin.


Malam harinya Zalin masih sulit untuk tidur dia sangat merindukan bayinya. Pasien di ruangannya sebagian besar SC dan diperlihatkan bayinya saat bayinya sudah dikeluarkan dari perutnya, tapi Zalin. sudah dua malam di rumah sakit. Dia belum bisa melihat rupa wajah anaknya.


Keesokan harinya.


"Ibu harus bisa naik tangga dulu ya, baru bisa ketemu bayi ibu. Hari ini kalau bisa ibu rajin jalan-jalan turun dari ranjang, jangan tiduran terus."


Zalin mengingat pesan bidan dan perawat.


Hari itu Zalin melihat satu persatu pasien pulang, ada yang ibunya pulang bayinya kurang sehat jadi bayinya ditahan pihak rumah sakit. Ada juga yang bayinya diijinkan pulang tapi ibunya belum pulih benar jadi ibunya ditahan pulang oleh pihak rumah sakit.


"Semoga Za bisa pulang bareng sama bayi kita besok ya ka," ucap Zalin penuh harap.


"Iya, aamiin," Briliant tersenyum.


"Namanya jadinya apa ka, anak kita?" tanya Zalin penasaran.


"Bagaimana kalau Rayyanza Arsenio Shafiulla?"


"Bagus ka," ucap Zalin tersenyum.


"Jadi panggilannya apa ka?"


"Rayyan, bisa. Jadi mirip sama panggilan ayahnya ya?" Briliant terkekeh.


"Hm... baiklah baiklah."


Zalin hari ini ditemani oleh Briliant. Ayah dan ibunya bekerja karena di sana mereka tidak bisa masuk karena hanya satu orang yang bisa menjaga Zalin.


"Yang, kaka ada perlu dulu."


"Terus Za sama siapa di sini?"


"Nanti ada nenek Retno jagain Za ya?"


Zalin mengangguk.


Nenek Retno adalah bibi dari ibu Zalin.


Hari itu Zalin ditemani neneknya, sedangkan Briliant menguruskan surat-surat untuk bayinya sepanjang hari.


***