
1 jam kemudian, Zalin dan Briliant pamit untuk ke kamar karena sudah merasa mengantuk.
Semoga aku bisa tidur dengan cepat. Batin Zalin.
🍁🍁🍁
Setibanya di kamar, Briliant menarik tangan istrinya dan menyuruhnya ke dekat jendela. Zalin hanya bisa menurut, dia belum pernah tahu kemarahan Briliant dan tidak tidak ingin dia mengetahui dan merasakan hal itu. Jadi, setiap Briliant meminta atau menyuruh melakukan apapun selama itu hal baik dia akan menurut.
Zalin mengikuti langkah suaminya yang semakin lama semakin cepat. "Sebenarnya apa sih maunya dia", gumam Zalin.
Kini Briliant dan Zalin telah berada tepat depan jendela. Briliant melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan istrinya. Kemudian ia membuka gorden penutup jendela.
"Yang, lihat banyak bintang, bulan juga ada", Briliant tersenyum melihat ke arah langit. Zalinpun mengikuti pandangan mata Briliant.
Sepasang suami istri itu asik melihat ke arah langit dibawah atap yang sama. Mereka sangat menikmati pemandangan alam yang indah itu. Briliant dan Zalin berdiri sejajar dekat jendela tanpa membuka jendela tersebut.
"Ka, Za akan buka jendelanya ya supaya kita lebih leluasa memandang langitnya?", Tangan Zalin mulai bergerak ke arah pintu jendela tetapi tangan Briliant menghentikannya. Seketika wajah Zalin memandang wajah suaminya, Briliant juga memandang wajah istrinya dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan dibuka sayang, angin malam tidak baik untuk kesehatan" Briliant menarik tangan Zalin yang satunya lagi yang kini kedua tangan Briliant menggenggam kedua tangan Zalin, mereka berdiru berhadapan.
"Yang, ma'afkan kaka. Kaka tidak membawa apa-apa. Kaka belum punya apa-apa" Briliant berbicara dengan suara pelan dan menundukan kepalanya.
Zalin yang mendengar penuturan suaminya mengusap tangan suaminya "Tidak apa-apa, kita mulai dari nol ya?" Zalin tersenyum "Sudahlah jangan seperti itu, Za percaya kaka akan jadi kepala keluarga yang hebat dan bertanggung jawab untuk keluarga kita" Zalin memegang dagu suaminya dan mencium pipi suaminya.
"Kamu mencium kaka?", Briliant melototkan matanya. Zalin memundurkan kakinya dan melihat ke arah suaminya "Memangnya mengapa? Tidak boleh?" Zalin membuang mukanya.
Briliant tersenyum melihat istrinya ngambek, Briliant melangkahkan kakinya agar lebih dekat dengan Zalin. Briliant memeluk istrinya "Boleh banget ko, terimakasih ya yang sudah menerima kaka. Iya, kaka akan mengusahakan yang terbaik untuk kita dan anak kita", Briliant mengelus perut Zalin.
Zalin yang mendengar kalimat suaminya merasa geli sendiri, "Za belum hamil Ka", Briliant melepaskan pelukanya.
"Apakah kamu lelah?", Briliant bertanya pada Zalin. Zalin mengangguk dan tersenyum kepada suaminya.
"Ya sudah sekarang kita lebih baik tidur saja, lain kali kita buat keponakan untul adikmu", Briliant membelakangi Zalin dan mulai menutup kembali gorden untuk menutup jendelanya.
Sementara Zalin mulai melangkahkan kakinya menuju ranjang dengan langkah pelan, "Ternyata ka Iyan mendengar pembicaraanku dengan Diandra", Gumam Zalin.
"Jangan melamun begitu, kamu kan cape lelah. Lebih baik tidur lebih cepat, jangan melamun seperti itu. Nanti kita lakukan jika kamu sedang tidak kelelahan", Briliant terkekeh dan Zalin memanyunkan bibirnya.
"Ayolah sahang, kita tidur!", Briliant menarik tangan Istrinya. Merekapun merebahkan badannya diatas kasur dan Briliant menyelimuti badannya dab istrinya dengan selimut berwarna coklat.
"Hawa di sini panas sekali ka. Za tidak mau pakai selimut" Zalin menjauhkan selimut dari badannya. "Apa kaka tidak merasa gerah?" Briliant menggelengkan kepalanya "Ya sudah kaka pakai saja, kalau Za tidak mau pakai".
Zalin mulai menutup matanya, Briliant memandang wajah Zalin dan mengusap kepala Zalin.
Nyaman sekali rasanya. Batin Zalin.
Zalin dan briliantpun terlelap tidur.
🍁🍁🍁
2 minggu berlalu, kegiatan Zalin dan Briliant tidak ada yang menarik selain hawa pengantin baru karena Briliant belum bekerja.
Briliant membuka ponselnya dan dia tersenyum senang, Zalin yang sedang merapikan baju memperhatikan suaminya.
"Kenapa ka Iyan senyum-senyum gitu saat lihat layar hp?" Gumam Zalin.
Saat menyadari istrinya memperhatikannya, Briliant langsung mengdekati dan memeluk istrinya. "Yang! Katanya ada lowongan kerja di kota Q" Zalin memundurkan badannya "Sekolah?" Briliant mengangguk cepat.
"Kaka harus ke kota Q Hari ini yang. Ga apa apa kan?" Brilint memegang kedua bahu istrinya dan memandangnya dengan lekat.
"Za, ikut?" Tanya Zalin antusias. Briliant menggelengkan kepalanya pelan "Tidak usah, jika urusan kaka sudah beres kaka langsung akan pulang kembali" Briliant mengelus kepala Zalin.
"Ga biaa jauh dari kaka ya?" Briliant terkekeh.
"Udah pergi sana mandi! Cepat bersiap-siap, Za akan menyiapkan makanan. Kaka harus makan dulu!" Zalin memukul lengan Briliant dan turun dari ranjangnya.
"Oke istriku!" Briliant turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
🍁🍁🍁
Zalin memeluk suaminya dari belakang dan Briliant melihat pantulan wajah Zalin dengan wajah sedih. Briliant lalu mengusap pipi istrinya itu dan langsung membalikan badan.
"Jangan seperti ini" Briliant menggenggam tangan istrinya dan menatap mata istrinya dengan lembut. Sementara Zalin, dia hanya menunduk.
"Sayang, Kaka kan ke kota Q untuk melamar pekerjaan. Apa kamu tidak senang" Briliant sedikit memiringkan kepalanya.
Zalina menggeleleng "Za seneng ko, hanya saja-" Zalin memotong kalimatnya
"Tidak mau ditinggalkan?" Tanya Briliant, Zalin mengangguk pelan. Briliant yang melihat anggukan itu langsung memeluk istrinya "Sayang kalau kaka tidak ke sana, nanti sulit lagi loh dapat pekerjaan? Dan kaka tidak akan lama. Kalau cepat beres kaka akan segera pulang ke sini"
Manja sekali istriku ini, pantas saja kemarin waktu ibu mertua memberiku tawaran kerja di luar negeri, Zalin tidak terlihat senang. Ternyata dia tidak mau jauh dariku. Pikir Briliant.
"Ya sudah, cepatlah kembali" Zalin mendongkakan kepalanya dan menatap mata suaminya. Briliant tersenyum dan mencium pipi istrinya. "Apa makanan untuk suamimu ibi sudah siap, Za?, Zalin mengangguk mengiyakan pertanyaan suaminya itu.
"Semuanya sudah siap, tinggal dimakan", Zalin memundurkan tubuhnya dan berjalan ke dekat ranjang dan duduk ditepi kasur.
Briliant kembali bersiap-siap, Briliant memakai baju kemeja dan celana bahan. Di sedang menyisir rambutnya.
"Untunglah kaka kemarin sudah memangkas rambut kaka, Jadi terlihat lebih muda kan?", Briliant membalikan badannya dan tersenyum ke arah istrinya. Zalin melihat suaminya yang memang tampak lebih fresh dan segar mengaggukan kepalanya tanda setuju.
"Ka sudah selesai?"
"Sudah Yang"
"Oke, ayolah kita ke meja makan. Perut Za sudah lapar!", Zalin mengusap perutnya.
Briliant mendekati Zalin dan ikut mengelus perut istrinya itu. "Dede utun, laper ya", Zalin yang melihat tingkah suaminya tersenyum geli.
Briliant menegakan kembali tubuhnya dan tersenyum pada istrinya.
"Jangan tersenyum dihadapan wanita lain!", Zalin menekan kata terakhirnya.
***
.
.
.
.
Next episode, Zalin mulai menjalankan perannya sebagai mahasiswa.
.
Apakah akan ada konflik?
.
ditunggu ya..
.
Favoritkan ♥ agar tidak ketinggalan info MLMCH karya uni up 😍
.
Jangan lupa Vote dan Likenya. Makasih 😊
.
Ada yang request visual Briliant, semoga next episode uni bisa menampilkan wajah imut Iyan ya 😉