My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
88



Sesekali Zalin melihat ke arah jendela dengan perasaan cemas karena mengingat Briliant. Zalin melihat hujan turun begitu deras, anginnya pun bertiup dengan kencang.


Zalin tidak konsen mengikuti mata kuliah, dia merasa bimbang karena mengkhawatirkan Briliant, suaminya yang sedang ada dalam perjalanan dari kota Q.


90 menit berlalu. Mata kuliah selesai, dosen meninggalkan kelas. Zalin melihat ke arah jendela. Hujan masih turun tapi sudah tidak sederas tadi.


Satu persatu mahasiswa keluar dari kelas, mereka memaksakan pulang karena takut hujan kembali deras. Sedangkan Zalin masih setia duduk di kursinya.


"Ka Zalin, di jemput?" tanya Fatma.


Ya, Fatma. Zalin hanya sangat dekat dengan Fatma saja. Walaupun Zalin sudah kenal semua anak, tapi hanya Fatma yang brani bertegur sapa dab bertanya apapun pada Zalin.


"Iya Fatma, di jemput. Kamu mau pulang sekarang?" tanya Zalin, sambil melihat ke arah ransel yang sudah di gendong oleh Fatma.


"Tadinya, tapi ga jadi deh," Fatma mendudukan dirinya di kursi di sampinga Zalin.


Semua mahasiswa sudah keluar dari kelas kecuali Zalin yang ditemani oleh Fatma


"Loh, kenapa?" Zalin mengekerutkan dahinya.


"Mau nemenin ka Zalin dulu, kasian sendirian," Fatma tersenyum.


"Baiklah, terimakasih."


30 menit sudah Zalin mengobrol dengan Fatma, nanyak hal yang mereka bicarakan. Fatma banyak bertanya tentang kehidupan Zalin, sampai akhirnya Fatma bertanya tentang kehidupan Zalin setelah menikah.


"Ka Za, gimana sih kehidupan setelah berumah tangga?" tanya Fatma penasaran.


"Ya gitu deh," jawab Zalin.


"Kompleks."


"Kompleks bagaimana?"


Zalin melirik hp lalu kwluar jendela berharap Briliant menghubunginya atau datang. Sungguh saat itu Zakin merasa sangat khawatir pada Briliant.


"Ka Zalin...." rengek Fatma.


"Iya, tadi kamu nanya apa?" Zalin tersenyum dan mengusap pundak Fatma.


"Kata ka Zalin kan Menikah itu kompleks, maksud kompleks itu bagaimana?"


"Nintinya aja ya. Kamu harus siap lahir batin," jawab Zalin singkat.


Fatma membawa kursinya dan mendekati Zalin.


"Kalo malam pertama gimana?" bisik Fatma.


Zalin menatap mata Fatma dengan tajam.


"Wiiih, ko tatapan nya serem gitu ya," gumam Fatma.


"kamu jangan nanya itu."


Zalin membuang mukanya, Zalin tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Fatma.


"Hm, kok gitu sih," Fatma memanyunkan bibirnya karena kecewa.


"Tanya yang lain saja, nanti insha Allah kaka jawab."


Zalin kembali menatap Fatma.


"Fatma, ini udah sore sekali loh. kamu ga mau pulang sekarang?" tanya Zalin memasktikan.


Fatma mengeluarkan hp nya dan melihat jam di sana.


"Bentar lagi deh, semoga suami ka Za dateng."


"Aamiin..." ucap Zalin penuh semangat.


5 Menit kemudian.


Zalin dan Fatma keluar dari kelasnya.


"Kita tunggu di sini saja yuk Ka," ajak Fatma sambil mendudukan tubuhnya di sebuah bangku panjang depan perpustakaan.


Tidak lama setelah duduk, sebuah motor mendekati perpustakaan.


"Apa itu suami ka Za?" tanya Fatma yang pertama kali melihat suami Zalin.


Zalin menengok dan bernafas lega, ya itu adalah Briliant. kekhawatiran Zalin teraobati sudah.


Ingin rasanya aku memelukmu ka, ya Ampun dari tadi aku sungguh mencemaskanmu, pikir Zalin.


"Iya, itu suami kaka."


Briliant menghentikan motornya tepat di depan Zalin dan Fatma. Briliant memakai jas hujan lengkap dan turun dari motornya.


"Ka Iyan, ko lama sekali."


"Em.. kan kata Za harus pelan-pelan bawa motornya," ucap Briliant sambil menyerahkan jas hujan milik Zalin pada istrinya. Zalin menerima jas hujan itu dari tangan suaminya.


"Oh iya. tapi lama sekali."


Zalin memanyunkan bibirnya.


"Eh iya ka, kenalkan ini Fatma teman sekelas Za."


Briliant menganggukan kepalanya pada Fatma tidak berniat untuk berjabat tangan dengan teman sekelas istrinya itu, Fatma tersenyum menanggapinya.


"Ka Zalin, aku pulang duluan ya."


"Oke Fatma, terimakasih ya sudah menemani."


Fatma mengangguk dan pergi meninggalkan Zalin dan Briliant di depan perpustakaan.


Zalin segera memakaikan jas hujan lengkap di tubuhnya dan langsung menghampiri Briliant.


"Sudah selesai?"


"Sudah," jawab Zalin.


"Cepat naiklah," ucap Briliant kemudian.


"Anakmu sungguh mengkhawatirkanmu," Zalin berbisik pada Briliant.


"Kamu kali yang," Briliant mengusap paha Zalin.


"Sedikit," jawab Zalin kesal.


"Ah masa," ucap Briliant menggoda.


"Ah cepatlah berangkat. Nanti takut hujan deras lagi," Zakin menepuk bahu Briliant.


"Oke baiklah, kita lanjutkan nanti di kamar."


"Ya Ampun!"


Briliant tertawa sedangkan Zalin manyun.


Ditengah perjalanan Zalin merasakan lapar dan meminta Briliant untuk membeli makan terlebih dahulu.


"Ka, Za laper. Beli makan dulu yuk," Zalin menepuk pundak Briliant dan Briliant langsung menepikan motornya.


"Ribet yang! Lihat dong ribet banget kalo kita turun dalam keadaan kaya gini."


Briliant mengarahkan matamya pada pakaian jas hujan lengkap yang sedang dipakai olehnya dan oleh Zalin.


Zalin merasa tersinggung karena dibentak oleh Briliant, tanpa ada intruksi air mata Zalin mengalir dengan sendirinya.


"Ya ampun, ma'afin kaka sayang."


Briliant memperhatikan wajah Zalin yang sudah tersapu air mata di bawah hujan gerimis.


"Za, laper."


"Kita pulang saja ya, nanti lain kali kita jajan. Makanan ibu kan terjamin kualitas dan gizinya. Apalagi di dalam perut kamu ada kaka utun sayang," Briliant membujuk istrinya.


Zalin mengangguk mengerti.


"Baiklah kita pulang ya, jangan nangis lagi. Nanti ketahuan ibu, kaka yang di introgasi. Kalau kaka bilang nangis karna kaka, bisa berabe urusannya...."


Briliant nyerocos dan itu hiburan bagi Zalin.


"Bawel sekali ternyata ayah utun," Zalin tertawa dan Briliant tersenyum.


"Pulang!!!" teriak Briliant.


"Oke sayang," ucap Zalin dengan senyumnya.


Motorpun melaju kembali.


Malam harinya di kamar Zalin dan Briliant.


"Ka, nanti Za cuti kuliah lagi ya semester depan."


"Kenapa ambil cuti lagi?" tanya Briliant polos.


"Mau melahirkan anakmu," Zalin melirik wajah Briliant lalu perutnya yang sudah membesar. Briliat lalu melirik perut istrinya dan mengusapnya.


"Oh iya, lagian kamu udah ikut semester 6 kan kemaren sebelum masuk semester 5?"


Zalin mengangguk.


Briliant menidurkan kepalanya di atas paha Zalin dan mulai mengusap perut istrinya.


"Sekarang kaka utun berapa bulan ya?"


"5 bulan."


"Udah mulai ada gerakan ya?" tanya Briliant antusias.


"Iya, malam-malam suka aktif banget loh apalagi kalo ga ada kamu ka."


"Oya?"


Zalin mengangguk mengiyakan pertanyaan Briliant.


"Kaka utun, lagi apa sayang?" tanya Briliant.


Perut Zalin bergerak, gerakannya dari dalam.


"Wah, dia memberikan respon?" Mata Briliant berbinar menatap wajah Zalin.


Zalin tersenyum.


"Za, kayanya dia akan bawel sepertimu. Dia senang aku ajak bicara?" ucap Briliant.


"Biarlah bawel sepertiku, bawel ada mutunya," Zalin tertawa.


"Hm..."


"Ka Iyan harus siap berarti dari sekarang," ucap Zalin.


Briliant mengkerutkan dahinya.


"Akan ada dua orang yang bawel di hidup ka Iyan nanti," Zalin mengedipkan satu matanya.


Briliant memutar kedua bola matanya dan berbisik pada janin yang masih dalam kandungan istrinya yang dia panggil Kaka utun.


"Kaka utun, mau ditengok ayah ga?"


"what?!" Zalin menatap mata suaminya tajam.


Briliant nyengir melihat tatapan istrinya.


***


kaka utun


Utun itu bayi dalam kandungan/janin.


kalo kaka utun itu sebutan dari ka iyan sama Zalin. karena yg dikandung Zalin adalah anak pertama mereka jadi mereka menambahkan Kaka. Kaka utun jadinya karna bayinya masih dalam perut.