
Acara pengajian di rumah Zalin sudah terlaksana dan semua orng sudah mulai beristirahat.
Briliant mengikuti Zalin menuju kamarnya. Seluruh ruangan gelap karena lampu yang tadinya menyala sudah dipadamkan. Briliant berjalan di belakang tubuh Zalin.
ceklek..
Pintu kamar terbuka, Zalin memasuki kamar dengan hati gelisan dan diikuti Briliant dengan perasaan senang.
ceklek
Pintu kamar ditutup oleh Briliant.
Zalin membuka kerudungnya dan disimpan di sandaran kursi meja belajarnya dan dia langsung ke arah lemari bermaksud mengambil piyama tidurnya. Briliant terduduk di tepi ranjang melihat pergerakan istrinya.
Zalin mengambil piyama tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, Briliant menggoda Zalin "Za, ganti bajunya di sini saja" Briliant mengerlingkan mata genitnya. Zalin menatap Briliant.
Idiiiih tenyata pikiran Briliant tak se imut wajahnya? Oh iya lupa! Kan dia udah cukup umur.
Zalin hanya menjulurkan lidahnya ke arah Briliant, Briliant yang merasa Zalin memancingnya segera berdiri dan langsung berlari ke arah istrinya tersebut dengan penuh percaya diri. Zalin yang mengetahui apa yang akan dilakukan suaminya terhadapnya segera berlari ke arah kamar mandi.
Briliant yang tidak berhasil melakukan apa yang dia inginkan memyeringai "Kamu tidak akan selamanya diam di sana Zalina Salim, istriku" Briliant segera mengganti membuka baju kokonya dan membuka sarungnya dan segera naik ke atas kasur, menunggu iatrinya keluar dari kamar mandi.
Di dalam kamar mandi
Zalin mengganti baju gamisnya dengan piyama tidur. Setelah selesai berganti baju, dia berpikir bagaimana cara menghindari 'Malam Pertamanya'.
Bagaimana ya? hmmm...
Zalin berpikir keras
Ayolah otakku, kamu harus bekerja lebih cepat.
"Yang... lama banget sih? kamu lagi apa?" Briliant memanggil istrinya.
"Iya, bentar ka" Zalin memegang kepalanya.
Ayolah... ide, datanglah. Waktunya udah mepet banget ini?
"Sayaaaang " Briliant mulai tidak sabar.
Ahaaaaa! Aku menemukan idenya.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Zalin segera berjalan menuju ranjangnya. Di sana sudah ada Briliant duduk di atas ranjang memakai kaos berwarna putih polos dan kakinya ditutup oleh selimut tipis.
"Yang, sini" Briliant menepuk-nepuk kasur didekatnya upaya Zalin duduk disampingnya. Dengan perlahan dan hati tak menentu Zalin menghampiri Briliant dan duduk di sampingnya.
Hati kamu jangan goyah! Aku harus melakukan ide cemerlang di kepalaku tadi.
Kini Zalin dan Briliant sudah duduk berdpingan diatas kasur, Briliant mengelus-ngelus kepala istrinya dengan sayang. Zalin yng merasa nyaman tersenyum dengan wajah merah merona.
Begini ya rasanya setelah menikah.
"Yang..." Briliant memanggil istrinya, "Iya" Zalin menjawab, "Kamu udah siap menjalankan kewajibanmu malam ini?" Briliant berbicara dengan hati-hati, "Em.. gimana ya ka?" Zalin tidak yakin akan menjawab apa, "Oh, yasudahlah ga apa apa" Briliant menjawab Zalin dengan suara lemas.
Ih ko aku jadi ga tega ya. Ah aku gamau dilaknat para malaikat sampai pagi. Aku akan menjalankan ideku, semoga ka Iyan mengantuk dan tertidur deh.
"Iya, ka" Zalin menjawab dengan menunduk, Seketika senyuman di bibir Briliant terbit. "Tapi....." Zalin memutus kalimatnya dan dengan sigap Briliant bertanya "Tapi apa?"
"Kita ngobrol dulu yuk, bagaimana kita akan menjalani rumah tangga kita kedapannya?" Zalin tersenyum ke arah Briliant. "Kaka rasa itu penting yang, kita harus punya tujuan agar sama-sama bekerja sama untuk mencapai tujuan kita" Briliant tidak menyangka pikiran Zalin sudah sejauh dan secerdas itu.
Cerdas juga aku punya istri.
Satu persatu tujuan dan harapan mereka setelah menikah disebutkan baik oleh Zalin dan Briliant.
Zalin mengatakan hal yng seharusnya tidak dia katakan malam itu. Zalin mengatakan hal yang membuat idenya menjadi gagal total.
"Ka, kan Za bentar lagi UAS semester 6 nih ya?"
"Terus?"
"Za, semester 5 kan kemarin cuti. Berarti nanti setelah libur semester 6 Za akan kuliah semester 5"
"Iya, kaka ngerti" Briliant mengusap kepala istrinya
"setelah beres Za akan cuti lagi karena Za kan udah kuliah semester 6 nya"
"Terus?" Briliant mengkerutksn dahinya
"Za, kan ga di KB ya ka? Za bisa hamil dong?"
"Iya sayang, terus masalahnya dimana?
"Ya, Za gamau kalau hamil nanti melahirkan saat Za aktif sebagai mahasiswa. Za mau lahiran setelah lulus atau saat cuti kuliah. Za gamau cuti lagi. Nanti lulusnya mundur lagi dong" Zalin menunduk.
"Oh jadi ayang mau lahiran saat Cuti kuliah ya, biar bisa ngurus dede bayi dulu?" refleks dengan tidak sadar mengangguk.
Ya ampun, bicara diskusi panjang lebar ujung-ujungnya ini toh? Briliant tersenyum
"Kalo gitu ayo!" Briliant menangkup kedua pipi Zalin berhadapan dengannya. Zalin yang tidak mengerti melihat ke mata Briliant "Ayo apa?" Briliant berbisik dengan lembut sekali pada telinga Zalin sampai Zalin hilang kesadarannya dan menurut apapun yang Briliant minta "Kita buat kamu hamil secepatnya, agar kamu melahirkan saat cuti kuliah".
Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Zalin dan Briliant tertidur dengan posisi saling memeluk. Sebelum Mereka tertidur mereka mengenakan pakaiannya masing-masing
___________________________________________
Saat Dini Hari
Zalin merasa tidak nyaman tidur dengan adanya penghuni baru di ranjangnya, Briliant terus mendekat membuat Zalin sesak. Zalin mendorong tubuh Briliant.
"Ka, ih... sebelah sana dong!" Zalin berusaha menyadarkan suaminya
"Hmmm" Briliant tetap tidur
"Kaka.... geser ih" Zalin kesal, pergerakannya merasa tidak bebas.
"Ih ka Iyan, susah banget sih di suruh geser. aku jadi susah gerak gini"
Zalin berusaha memejamkan matanya walaupun tempat tidurnya terus dipepet oleh Briliant yng sudah sah menjadi suaminya.
Malam itu Zalin dan Briliant berebut ranjang, ingin tidur lebih leluasa tapi apa mau dikata mereka yang biasa tidur hanya sendiri di ranjang harus berbagi tempat tidur dengan pasangan.
Jam 03.00
Zalin terbangun dan berdiri dari tidurnya dengan susah payah, Zalin mengambil hpnya dan melihat ke layar hp nya "jam 3, aku harus segera mandi ini!"
Lampu kamar Zalin dimatikan karena Briliant tidak terbiasa tidur dengan lampu menyala, sedangkan Zalin sudah terbiasa tidur dengan lamou menyala mengalah karena sebelum tidur Briliant merengek seperti anak Bayi membuat Zalin gemas dan mengalah.
Zalin segera masuk ke kamar mandinya dan mandi dengan mengguyurkan air dengan pelan, takut ada yang terbangun dan mendengar aktifitasnya.
Setelah Zalin selesai membersihkan dirinya, dia menghidupkan lampu lalu Zalin menghampiri Briliant dan mengusap dahinya "Ka, mau mandi sekarang ga. sekarang udah jam setengah 4" Briliant yang belum sepenuhnya sadar kaget melihat Zalin yang mengeluarkan wangi dari tubuhnya "Apakah aku mimpi melihat kamu Za?" Zalin yang menyadari suaminya tidak sadar mencium pipinya *muuaaahh* Briliant segera mengerjapkan mata dan langsung terduduk dari tidurnya menggeleng-gelengkan badannya dan dia melihat Zalin tersenyum dihadapannya "Pagi suamiku, ayo mandi kalo tidak mau ketahuan sudah melakukan itu semalam. mau ketahuan sama mertua?" Briliant yang mulai tersedar langsung mecium pipi istrinya "*muuuaaah* Morning kiss!" Briliant langsung ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Zalin terduduk di atas ranjang dan langsung berdiri lalu mengganti sprei bekas semalam dengan sprei yang baru dengan senyum terlihat dibibirnya.
***