
Acara pertunangan Fatma dan El pun berjalan dengan lancar. Setelah acara selesai, dilanjutkan dengan acara makan-makan. Para tamu satu persatu pulang.
Fatma, El dan Richard duduk di satu meja. Mereka duduk melingkar di halaman belakang rumah. Fatma terlihat bahagia karena akhirnya sebentar lagi El akan menikahinya.
Ya, setelah tukar cincin. Keluarga langsung berunding dan menentukan tanggal pernikahan. Kedua keluarga sepakat, pernikahan akan dilaksanakan sebelum keberangkatan Richard ke luar negeri.
"Loe harus hormat sama gue, gue sebentar lagi jadi kaka ipar loe!" Richard mengangkat satu sudut bibirnya.
El memanyunkan bibirnya, dia tidak menyangka orang paling menyebalkan di kelasnya adalah kembaran Fatma.
"Gue ga ngerti Fatma punya kembaran macam loe," ucap El mengejek.
"Tapi, apa mau di kata. Gue tetep adalah kembarnya." ucap Richard tidak mau kalah.
"Sudah, jangan bertengkar, sebentar lagi kan kalian adalah saudara," Fatma menengahi.
Beberapa saat hening, sampai akhirnya El mengeluarkan pertanyaan untuk Richard.
"Jadi sekarang loe kuliah di luar negeri?" tanya El penasaran.
"Ya, gue kuliah di luar."
"Ngambil jurusan yang sama dengan yang di sini?" tanya El sambil menatap serius mata Richard.
"Engga!" jawab Richard penuh penekanan.
"Wah.. wah... Keren keren! padahal tinggal selangkah lagi loe akan jadi sarjana teknik seperti gue!"
"Susah, itu bukan passion gue. Loe kan emang pinter," ledek Richad sambil melirik ke arah El.
El Zaidan, adalah mahasiswa jurusan teknik lulusan terbaik. Dia sangat cerdas dan terkenal di fakultasnya. Richard percaya El adalah lelaki yang terpat untuk mendampingi Fatma dan penerus yang dapat dipercaya untuk perusahaan ayahnya
"Fatma, kenapa kamu ga bilang kalo Richard kembaranmu?" tanya El yang sejak tadi penasaran, kenapa dia tidak bilang sejak awal bahwa Richard adalah kembarannya.
"Ka El kan belum pernah bertanya soal keluargaku," ucap Fatma singkat.
El yang menyadari itu langsung menepok jidatnya.
"Loe nyesel mau jadi adik ipar gue?" tanya Richard tegas.
"Tentu saja tidak! yang gue lihat kan adik loe, calon istri gue." El melihat ke arah Richard lalu beralih melihat ke arah Fatma.
"Fatma Husniatuzzahra."
El tersenyum dan di balas oleh Fatma, Richard yang melihatnya langsung merinding.
"Gue mau cabut dulu, merinding liat tingkah kalian berdua!" Richard meninggalkan El dan Fatma di sana.
Saat Richard baru akan melangkah, dia kembali menatap El dalam.
"Jangan dulu macam-macam! belum halal!"
Fatma tersenyum, selalu saja kembarannya seperti itu. Protektif.
Setelah kepergian Richard.
"Ka, setelah kita menikah kita tinggal di sini dulu ya sebelum Richard menyelesaikan studinya di luar negeri."
"Memangnya kenapa?" tanya El penasaran.
"Aku harus menjadi ibu dulu untuk kedua adik kembarku, kamu tau kan?"
El mengangguk.
"Apa selamanya?" tanya El lemas.
"Tidak ka, kan kata aku juga sampe Richard menyelesaikan studinya."
El tersenyum.
"Oh da ya, satu lagi!" ucap Fatma.
"Apa lagi?"
"Nanti kaka kerja di perusahan ayah saja ya? kaka tahu kan Richard pindah haluan," Fatma memutar bolanya jengah.
"Pa Bramantyo punya perusahaan juga?" tanya El.
"Iyaaaa, kaka mau kan?" tanya Fatma serius.
"Tentu," El mengangguk.
Fatma dan El pun berdiskusi merancang konsep pernikahan mereka berdua yang akan di laksanakan kurang dari tiga minggu itu.
Di ruang tamu
Bramantyo, Fawwaz dan istrinya sedang berbicang ringan. Sesekali Bramantyo mengingat bagaimana dirinya dan Fawwaz bersaing saat sekolah dulu.
"Tyo, kenapa kamu tidak menikah lagi?" tanya Fawwaz penasaran.
Bagi Fawwaz, tidak akan sulit bagi seorang Bramantyo Aditama kembali memiliki istri, Bramantyo adalah lelaki sukses. Fawwaz marasa heran mengapa sahabatnya itu memilih tidak menikah lagi sampai sekarang setelah kepergian istrinya, padahal Naima dan Nakia masih kecil dan membutuhkam sosok seorang ibu. Apalagi Fatma sebentar lagi akan menikah, Richard kuliah di luar negeri.
"Menikah lagi?" tanya Bramantyo mengulang pertanyaan yang diajukan oleh Fawwaz.
"Iya, menikah lagi. Bukannya bukan hal yang sulit bagimu?"
Bramantyo mengatur nafasnya untuk menjawab pertanyaan yang selalu diterimanya itu.
Istri Fawwaz, Faranisa tersenyum mendengar perkataan calon besannya itu.
"Lagi pula," Bramantyo kembali menatap Fawwaz.
"Kamu tahu sendiri kan bagaimana sulitnya aku mendapatkan Balqis?" tanya Bramantyo.
Fawwaz menganggukan kepalanya.
"dan aku takut jika aku menikah lagi, istri baruku tidak menyayangi ke empat anakku."
Fawwas menyudahi obrolan itu, dia membahas hal yang lain. Dia tidak mau sahabatnya semakin mengenang mendiang istrinya.
"Oh iya Fawwaz, setelah menikah El akan aku suruh tinggal di sini dulu sementara waktu sebelum Richard kembali."
"Oke baiklah, tidak mengapa. Aku yakin kamu akan menyayangi El seperti anakmu sendiri," ucap Fawwaz tersenyum.
"Katanya Richard kembaran Fatma adalah teman kuliah El ya Bram?"
"Iya, ah tapi dasar aku yang memaksa dia kuliah jurusan teknik biar jadi penerusku
Jadinya ga bener."
"Tapi sekarang dia kuliah di luar negeri?"
"Iya, dia mulai dari nol lagi, pilihan dia sendiri."
"Memang anak itu sebaiknya jangan di paksa begitu, biarkan dia melilih selama pilihannya tidak salah," ucap Fawwaz.
Setelah ucapan Fawwaz itu, Faranisa istri Fawwaz izin untuk ke toilet. Meninggalkan suami dan Bramanatyo di sana.
"Kamu hanya punya anak satu?" tanya Bramantyo, karena Fawwaz hanya datang bersama El dan istrinya saja.
"Saya punya anak satu lagi, perempuan. masih SMA. Hari ini dia tidak bisa ikut ke sini, katanya ada kegiatan di sekolahnya.
Bramanantyo mengangguk dan mengerti.
Di ruang keluarga
Naima dan Nakia sedang asyik menonton film kartun kesukaan mereka, mereka berdua duduk di sofa panjang dengan masing-masing memegang toples camilan ditangannya.
"Ima, Kia... " ucap Richard yang datang dari arah pintu belakang rumah.
"Iya ka," ucap mereka serempak.
"Pelankan volumenya," ucap Richad kemudian.
Nakia langsung mengamil remot dan menurunkan volume televisinya.
Faranisa tersenyum melihat tingkah kedua anak kembar yang sedang serius menonton televisi itu dan Richard yang berjalan ke arah tangga dengan membuka jasnya lalu di pegang di tangan kirinya.
Di ruang tamu
Faranisa telah kembali dari toilet dan kembali bergabung dalam obrolan suami dan calon besannya.
Setelah lama berbincang, Fawwaz pamit untuk pulang. Setelah dipanggil oleh Nakia, Fatma dan El masuk ke dalam rumah.
Keluarga El pamit untuk pulang, semua Keluarga ada di sana termasuk Richard.
Walaupun lelah, Richard harus stay dan tidak membuat kecewa adiknya.
Sore harinya
Richard mengambil kunci mobil, dia ingin ke mini market karena menginginkan kopi, sedangkan persediaan di rumah tidak ada. Karena tidak ada yang menyukai kopi selain dirinya.
Richard melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dert.. Dert...
Ponsel Richard yang dia letakan di kursi sebelah bergetar. Richard menurunkan laju mobilnya.
Saat Richard akan mengambil ponsel itu, ponselnya terjatuh. Richard berusaha meraihnya. Karena fokus Richard terbagi antar jalan dan ponsel.
Akhirnya.
BRAK!
Terdengar suara benturan yang di sebabkan oleh mobilnya.
Richard langsung menegakkan duduknya dan melihat mobilnya sudah menempel ke sebuah motor matic.
Tok Tok Tok
Seseorang mengetuk pintu mobil Richard dengan cukup keras.
Richard langsung membuka kaca mobilnya dan melihat ke arah seorang gadis yang memakai helm hitam dan sweeter putih.
Sesaat setelah kaca mobil terbuka.
"Kalau jalan pakai mata! gamau tau, kamu harus ganti rugi! motorku rusak!" ucap gadis itu dengan galak
***
Siapakah gadis galak itu?
Jangan lupa Like dan komentarnya sayang-sayangkuuu 😘😍