My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
95



Sesampainya di rumah bidan, Zalin langsung diarahkan ke ruang bersalin dan bidan langsung memeriksanya.


"Masih pembukaan 4, sepertinya masih lama. mbak Zalin tunggunya di ruang nifas saja ya," ucap bidan itu.


Zalin setuju dan berpindah ruangan.


Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Zalin masih merasakan kesakitan dan ibu Za tidak tahan melihatnya.


"Ayah ibu ga tahan melihat Za kesakitan," bisik ibu Zalin.


Ayah Zalin mengangguk.


Kini di ruangan nifas hanya ada ayah Zalin, ibu Zalin dan suami Zalin, Briliant.


Tangan Briliant setia memegangi tangan Zalin dan satu tangan lagi mengelus perut Zalin.


"Za, Iyan sepertinya ibu ga akan kuat kalau d sini melihat Za kesakitan. Nanti kalian ditemani sama bibi Aisyah saja ya. Ga apa-apa kan?" tanya ibu Zalin ragu.


Sejujurnya dia ingin mendampingi Zalin, tapi dia sangat merasa kasihan anaknya merasakan kesakitan seperti itu.


"Iya ga apa-apa bu, iya kan Za?" Briliant melihat ke arah Zalin dan Zalin mengangguk.


"Nanti sebentar lagi bibi Aisyah datang bersama pama Andrean," ucap ibu sambil mengelus kepala anaknya itu.


"Za, sabar ya."


"Iya, apa sesakit ini saat melahirkan Za, bu?"


"Iya sayang, kamu pasti bisa!" Ibu Zalin memberikan semangat.


Tidak lama kemudian Bibi Aisyah datang bersama paman Andrean.


"Apa sudah lahir?" tanya bibi Aisyah.


"Belum, tadi saat datang ke sini katanya pembukaan 4 dan belum di periksa lagi," ucap ibu Zalin.


"Zalin pasti kuat ya!" Ucap Bibi Aisyah, Zalin tersenyum sambil menahan sakit.


Ibu Zalin mengajak Bi Aisyah ke luar ruangan.


Sesampainya di luar ruangan.


"Bi, titip Za ya.. kalo saya di sini ga kuat," ucap ibu Zalin lemah.


"Iya ga apa-apa, biar sama bibi saja," Bi Aisyah tersenyum.


Setelah pembicaraa pendek mereka berakhir, Ibu dan Bi Aisyah kembali ke ruangan untuk menemui Zalin.


Sesampainya di dalam ruangan, Zalin masih terbaring dan menutup matanya.


"Yan! apa Zalin pingsan?" tanya bi Aisyah panik.


Briliant menggeleng diikuti oleh Zalin yang membuka matanya.


"Aduh, bibi sudah kaget Za!"


"Zalin, ibu pulng dulu ya. Di sini ada Iyan dan Bi Aisyah, mungkin paman Andrean juga ada di sini. Tapi di luar, ibu sama ayah pulang dulu ya."


Zalin mengangguk.


"Iya bu," ucap Zalin lemah.


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Ibu Zalin dan ayah Zalin sudah pulang ke rumah, di ruangan itu hanya tersisa Zalin , Briliant dan bi Aisyah.


"Bi, Za sepertinya mau BAB," Zalin menatap wajah bi Aisyah.


Zalin langsung dibantu bangun oleh bibinya dan Briliant.


Zalin masuk ke dalam Walk in Closet yang ada di ruangan itu.


"Rasanya seperti mau BAB tapi engga," batin Zalin.


Tidak lama kemudian Zalin keluar dan hanya buang air kecil.


"Sudah?" tanya bibi setelah pintu terbuka dan melihat wajah keponakannya, Zalin.


Zalin menggeleng.


Zalin kemudian dipapah kembali ke tempat pembaringannya.


Tidak lama kemudian Zalin kembali ingin BAB dan Bi Aisyah mengantarnya seperti tadi pertama kali.


Empat kali Zalin bolak balik ke WC, tapi nyatanya dia ga bisa BAB.


Saat Zalim ada di pembaringannya.


"Za, kalau mau BAB di sini saja ya, ga apa-apa ko," ucap Bi Aisyah.


"Kenapa gitu, ih jorok dong," ucap Zalin sambil melirik ke arah mata suaminya yang sudah merah karena mengantuk.


"Ga apa-apa Za, ini kamu udah lemah banget loh," ucap bi Aisyah kemudian.


Jam sudah menunjukan pukul setengah duabelas malam. Zalin melihat ke sekeliling ruangan, dan rasa sakit diperutnya tidak mau berhenti.


"Aku ingin segera besok," batinnya.


"Iyan, kalau mengantuk tidur saja dulu," ucap Bi Aisyah yang melihat mata suami keponakannya itu sudah terluhat merah karena menahan kantuk.


Ya, Briliant tidak bisa begadang. Terakahir kali Brikiant begadang adalah saat Zalin kecelakaan dan Briliant tidur setelah Zalin sudah ada du rumah sekitar pukul setengah satu dini hari.


"Ga apa-apa, sebentar lagi bi."


"Bidan belum memeriksa lagi?" tanya bi Aisyah.


Briliant menggeleng.


Tiga puluh menit kemudian Zalin mengejan dan mengeluarkan sejenis cairan bening.


"Bu, itu apa?!" tanya Zalin panik.


Bi Aisyah mengecek dan berjalan ke arah Zalin.


"Air ketuban, seharusnya tidak lama lagi bayinya lahir," Bi Aisya tersenyum.


"Syukurlah," Zalin dan Briliant tersenyum.


Setengah jam kemudian Zalin belum juga melahirkan hingga Briliant dan bi Aisyah bergiliran tidur sebentar.


Zalin tidak bisa memejamkan matanya karena perutnya semakin mulas.


Jam terasa sangat lambat sekali, Zalin merasa sudah sangat lelah.


"Tidak, aku tidak boleh menyerah!" Batin Zalin.


Zalin menyemangati dirinya sendiri.


Jam sudah menunjukan pukul setengah 5, Ibu dan ayah Zalin sudah ada di ruangan Zalin lagi. Bi Aisyah dan Briliant pun ada dan pamab Andrean ada di luar.


Tidak lama setelah kedatangan ibu dan Ayah Zalin. Dua bidan datang dan memeriksa Zalin.


"Sudah pembukaan 10, sudah lengkap pembukaannya," ucap bidan yang memeriksa Zalin semalam.


"Mbak Zalin pasti kuat," satu bidan yang lainnya menguatkan. Bidan yang selalu memeriksa kehamilan Zalin.


Zalun dituntun untuk mengejan, tapi kedua bidan itu menggeleng setelah Zalin mengejan.


"Susah sekali," ucap Zalin pelan.


Zalin merasa cape, dan bidan yang satu lagi keluar. Zalin diberi kesempatan untuk makan dan minum dulu.


"Makan dulu sedikit, biar ada tenaga," ucap bidan Yoana.


Zalin mengangguk dan di suapi oleh ibunya.


Di ruangan itu ada Ibu , Briliant dan Bi Aisyah.


"Sebel bu, udah dulu."


Ibu Zalin kembali meletakan makanan di atas meja yang tidak jauh dari jangkauannya.


"Mana ayah bu, tanya Zalin."


Zalin merasa ingin ayahnya ada di dekatnya.


"Ada di luar, sebentar ibu panggilkan dulu."


Ibu keluar untuk memanggil ayah dan kini Briliant menggenggam tangan Zalin.


"Kuat ya yang, bentar lagi bayinya segera lahir," bisik Briliant pada Zalin.


cup


Briliant mencium kening Zalin tidak merasa malu ada bidan Yoana dan bi Aisyah di ruangan itu.


"Ya, bagus Mas kasih mbaknya semangat ya. Ini tinggal selangkah lagi," ucap bidan Yoana.


Tidak lama kemudian ayah Zalin datang bersama ibunya. Ayah Zalin mendekati Briliant dan melihat ke arah Zalin.


"Ayah di sini," ucap Ayah tersenyum.


Zalin mengangguk.


Setelah ayahnya datang, bidan Yoana kembali dituntun untuk mengejan tapi beberapa kali mengejan masih Nihil. Bayinya belum juga muncul.


"Cape, sulit sekali," ucap Zalin pelan tapi masih bisa terdengar oleh semua oramg yang ada di sana.


"Apa karena efek kecelakaan dulu makannya kaka utun sulit keluar?" Zalin melihat ke arah bidan Yoana.


Bidan Yoana yang tidak ingin menyerah memberi kesempatan lagi pada Zalin.


Setengah jam kemudian satu bidan lagi datang dan melihat Zalin mengejan tapi bayinya tidak kunjung lahir.


"Sepertinya ini harus di rujuk ke rumah sakit," ucap bidan itu sambil berjalan ke ruangan kerjanya.


Mata Briliant mengikuti dokter itu keluar dari ruangan.


"Mbak Za, bayinya belum terlihat keluar. Mbak Za akan du rujuk ke rumah sakit. Bidan di sana baik-baik ko. Jangan takut ya?" ucap Bidan Yoana sambil melepaskan sarung tangan karet di kedua telapak tangannya.


Zalin di rujuk ke rumah sakit dengan infus yang bidan tempatkan di tangan kanannya.


"Ka, ga apa-apakan Za lahiran di rumah sakit."


cup


"Iya sayang ga apa-apa, dimanapun sama kok."


Setelah surat rujukan siap, Zalin dan keluarganya pergi ke rumah sakit rujukan.


di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Zalin terus mengejan, seperti ada yang mendorongnya dari dalam.


***