
"St.. st..." Briliant memberi kode agar Zalin menengok ke arahnya.
Zalin melihat ke arah belakang dan melihat suaminya ada dekat pintu. Briliant tersenyum kepada Zalin.
Matilah aku kalau ka Iyan mendengar apa yang aku bicarakan dengan Diandra. Pikir Zalin.
Zalim berdiri dari duduknya dan mendekati suaminya. Briliant menuntun tangan Zalin dan menggiring istrinya itu ke dalam kamar.
Zalin yang sedang lelah, pasrah. Zalin mengikuti apapun yang suaminya lakukan.
ceklek.
Pintu kamar terbuka.
Briliant menarik tangan Zalin dan menyuruh istrinya itu untuk duduk ditepi ranjang.
"Yang.. Istirahatlah! Sebaiknya kita banyak istirahat untuk mengembalikan stamina kita. kamu cape kan?" Briliant duduk disamping istrinya. Zalin mengangguk menanggapi pertanyaan suaminya.
"Ka, Za mau ke kamar mandi dulu ya? Sebentar lagi akan adzan magrib" Zalin membuka tas slempangnya dan dia letakan di agas kasur. "Boleh, Kaka mau sholat ke mesjid saja ya!" Zalin mengacungkan jempolnya.
Zalinpun ke kamar mandi, sedangkan Briliant mengambil alat sholatnya, lalu keluar kamar berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat magrib berjama'ah.
30 Menit kemudian, Zalin sedang mengaji di kamarnya.
Tok Tok Tok...
Suara ketukan pintu terdengar, Zalin segera berdiri dan menyimpan Al-Qur'annya ditemoat yang aman.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Zalin melihat ibunya sudah berdiri di depan pintu "Za, sudah pulang Nak? Kapan?" Ibu Zalin langsung memeluk anaknya yang masih memakai mukena.
"Tadi berangkat dari rumah mama ka Iyan sore, sampai tadi sebelum magrib. Soalnya istirahat dulu, kaki Za merasa pegal" Zalin memberi penjelasan sambil berjalan ke arah ruang tamu dengan ibunya.
Zalin dan ibunya duduk diruang tamu, tidak lama kemudian ayah Zalin masuk ke dalam rumah disusul oleh Briliant. Briliantpun salaman kepada ibu mertuanya juga kepada ayah mertuanya yang berjalan di depannya.
Kini di ruang tamu itu duduk Zalin, Briliant bersama Ayah dan ibu Zalin.
"Kalian datang jam berapa?" Ayah Zalin bertanya pada Briliant.
"Jam setengah 6 yah" Jawab Briliant.
"Bu, Za buka mukena dulu ya ke kamar" Zalin berdiri dari duduknya.
"Iya Za, boleh. Ibu dan ayah juga belum shalat. Nanti setelah shalat isya kita makan malam. Ibu membeli nasi padang kesukaanmu" Ibu Zalin tersenyum pada anaknya.
"Asik! Ya udah bu, Za masuk dulu ya"
"Iyan juga bu, Iyan masuk dulu"
"Iya, kalian istirahatlah dulu"
Zalin dan Briliantpun mengannguk dan meninggalkan ayah dab ibu Zalin di ruang tamu.
🍁🍁🍁
Setelah sholat isya, semua anggota keluarga makan malam bersama dengan nasi padang. Semuanya menikmati makanan mereka masing-masing.
Zalin dan Briliant makan nasi padang dengan ayam balado. Ayah dan Ibu Zalin makan nasi padang dengan rendang daging sapi, sedangkan Diandra makan mie instan goreng dengan ayam balado.
"Ka, tahu ga sih. Dulu nih ya, Diandra pernah dikasih tantangan makan nasi nanti di kasih Hp Blackberry Keluaran terbaru" Zalin bicara dengan serius ke arah suaminya yang ada di sampingnya.
Diandra yang mendengar kakanya membahas tentang dirinya, sibuk makan daging ayam balado khas padangnya.
"Siapa yang ngasih tantangan itu? Enak dong. Hp itu kan lumayan mahal ya?" Zalin mengangguk dengan cepat "Iya Ka, yang ngasih tantangan, anak om yang tinggal di luar pulau. Namanya Ka Zain"
"Lalu, Diandra mau?" Briliant menatap sekilas adik iparnya lalu melihat ke arah Zalin. Zalin menggeleng sambil memanyunkan bibirnya "Tidak! Padahal cuma makan nasi loh ya" Zalin menatap Diandra adiknya yang duduk dihadapannya.
Diandra memanyunkan bibirnya dan menautkan kedua alisnya.
Makan malam pun berlanjut tanpa ada yang berbicara satu orangpun.
🍁🍁🍁
30 menit kemudian, seluruh anggota keluarga Zalin telah selesai makan malam. Diandra pergi ke kamarnya karena harus mempersiapkam diri untuk melaksanakan Ujian Akhir semester esok hari.
Ayah dan Briliant duduk di ruang tamu untuk mengobrol. Sedangkan Ibu dan Zalin sibuk membereskan meja makan.
"Sudah, ibu duduk saja ya. Biar Za yang beres-beres" Zalin mengusap lengan ibunya dan menyuruhnya tetap duduk di kursi meja makan. Ibu Zalin menuruti keinginginan putrinya.
Zalin mengangkat tumpukan piring kotor ke atas wastafel. Saat piringnya sudah dia simpan di wastafel, Zalin menengok ke arah ibunya "Eh iya bu, tadi mama ka Iyan nitip beras merah buat ibu".
"Oh, beras itu dari kamu toh? Iya ibu tadi sudah melihat dan memasukannya ke tempat pnyimpanan beras nak. Sampaikan rasa terimakasih ibu pada mama mertuamu ya?" Zalin mengangguk dan tersenyum pada ibunya.
Zalin meneruskan niatnya mencuci piring, saat Zalin mencuci piring. Sekali-kali.ibunya bertanya kepada Zalin tentang liburannya di rumah Briliant.
"Za, gimana kamu dirumah mertua? Betah ga? Satu minggu lebih loh kamu di sana?"
"Za, hanya menginap di rumah mama mertua hanya semalam ko bu"
"Lah terus selanjutnya kamu menginap dimana?" Ibu Zalin mengkerutkan keningnya karena bingung.
Sejenak Zalin berhenti melaksanakan kegiatannya dan berbalik badan agar dapat berhadapan dengan Ibunya.
"Jadi begini, Ka iyan itu punya rumah peninggalan kakeknya. Jadi Za diajak menginapnya dirumah itu. Bukan di rumah mama mertua" Zalin tersenyum.
"Betah?"
"Betah bu"
"Jelas" Ibu terkekeh
"Eh mengapa ibu tertawa?" Zalin memanyunkan bibirnya.
"Ayo kamu lanjutkan cuci piringnya, sambil kamu cuci piring ibu akan bicara ya?" Zalin memgangguk dan kembali membalikan badannya. Zalin mulai melanjutkan pekerjaannya yang baru setengah jalan.
"Jadi gini ya sayang, sepasang suami istri itu akan lebih nyaman tinggal hanya berdua saja. Maksud ibu, tinggal di rumah sendiri. Bukan di rumah orang tuanya, bukan pula di rumah mertuanya. Mungkin sekarang belum terasa, tetapi lambat laun kamu akan merasakannya" Ibu Zalin memberikan pendapatnya.
Zalin mengangguk "Iya sih, Katanya bu kalau seorang anak perempuan sudah menikah itu tinggal dirumah sendiri merasa tamu. Tinggal di rumah mertua merasa orang lain"
Zalin hampir menyelesaikan pekerjaannya.
"Ya begitu, seperti itu sayang. Itu kamu tahu?" Ibu Zalin tersenyum.
"Hehe.. iya bu. Za sedikit-sedikit melihat artike atau kata-kata pernikahan" Zalin telaj menyelesaikan pekerjaannya.
Zalin membalikan badannya dan menghampiri ibunya. Saat Zalin mendekat, Ibu Zalin langsung berdiri dan menggandeng tangan anaknya.
"Ayo kita ke ruang tamu nak!" Ibu Zalin mulai melangkahkan kakinya disusul oleh Zalin.
"Za, apa keluarga Iyan baik padamu?" Zalin mengangguk "Baik semuanya, alhamdulillah"
"Apalagi mamanya, ngasih uang sama Za. Ka iyan cemberut ga dikasih uang sama mamanya, hehe " bisik Zalin.
"Alhamdulillah nak, ibu seneng mendengarnya. Jadilah menantu yang baik ya! Iyan juga sudah jadi memantu baik untuk ibu dan ayahmu" Ibu Zalin mengusap kepala anaknya.
"Iya bu, Za akan berusaha" Zalin mengacungkan jempolnya.
🍁🍁🍁
Kini Zalin, Briliant, ayah dan ibu Zalin telah berada di ruang TV. Mereka berempat saling tukar cerita.
1 jam kemudian, Zalin dan Briliant pamit untuk ke kamar karena sudah merasa mengantuk.
Semoga aku bisa tidur dengan cepat. Batin Zalin
***