My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
92



Setelah menunggu lebih dari 2 jam akhirnya kini Zalin dan Briliant dapata giliran masuk ke dalam ruangan dokter.


"Ibu Zalina Salim, silahkan. Sekarang giliran anda," ucap si mbak yang duduk di balik meja pendaftaran.


"Cieee ibu Zalina," bisik Briliant.


Zalin mencubit lengan Briliant.


"Ayo masuk," ajak Zalin.


Briliant mengikuti Zalin berdiri dan berjalan menuju pintu tempat praktek dokter.


KLEK


Pintu terbuka.


Zalin melihat ruangan doktet lumayan luas, berbeda dengan ruang tunggu yang sempit.


"Ayo bu, silahkan langsung berbaring di tempat pemeriksaan."


Dokter langsung menunjukan tempat pembaringan di tengah ruangan itu. Di atasnya terdapat layar cukup besar.


"Kita langsung USG saja ya," ucap dokter itu.


"Iya," ucap Briliant cepat.


"Bu, pak kandungannya ini berapa belan kata bidan?" tanya dokter sambil memberi sejenis gel pada perut Zalin.


"Katanya 7 bulan pak," jawab Zalin.


"Hm..."


Dokter mulai menepelkan sebuah alat dan menggerak-gerakannya di atas perut Zalin. Dokter itu melihat ke arah layar di atasnya yang dapat di lihat oleh Briliant juga oleh Zalin


"Tuh, lihat janinnya sudah terlihat."


"Wah bu, pak...ini sih bukan 7 bulan! Ini sudah 8 bulan. Sebentar lagi ini bayi udah akan siap di lahirkan nih," ucap dokter itu dengan kaget.


Zalin dan Briliant bengong mendengarkan pernyataan dokter itu.


"Lihat nih bu, ini tangannya.. Pak, lihat! Kita hitung jari tangannya, yang kanan satu dua tiga empat lima, yang kiri satu dua tiga empat lima. Lengkap ya!"


"Kita pindah ke kakinya ya, yang kanan satu dua tiga emlat lima. Lengkap. sekarang yang kiri, satu dua tiga empat lima."


"Plasenta aman, semuanya bagus. Sehat, tapi beratnya sudah lumayan besar ya bu, pak. Ibu harus diet agar bayinya tidak terlalu besar saat di lahirkan. Lebih baik besar di luar ya bu daripada di dalam," dokter tersenyum pada Zalin.


Briliant dan Zalin memperhatikan setiap ucapan dokter dengan seksama, dokter ini sangat cepat dalam menyampaikan analisa tentang kaka Utun membuat Zalin dan Briliant harus menyiapkan telinga dengan tajam.


"Pa, jenis kelaminnya apa ya?" tanya Briliat penasaran.


"Oh, iya jenis kelamin. Di usia kandungan yang ke 8 sudah jelas terlihat ya," ucap dokter.


"Tapi..."


"Tapi apa?" tanya Briliant kaget.


"Sabar ya pak, sepertinya bayinya malu. Dia membelakangi nih."


Ah dokter ini membuat kaget saja!, batin Briliant.


"Bu, coba miring tidurnya. Semoga jenis kelaminnya terlihat ya!"


Zalin mengubah posisinya dan dokter langsung menempelkan alat itu kembali pada perut Zalin.


"Wah, sekarang kelihatan tuh pak!"


Dokter menunjukan ke arah layar monitor. Tapi Briliant tidak dapat melihatnya dengan jelas.


"Lihat pa, itu ada monasnya! Ini laki-laki, saya yakin ini laki-laki," ucap dokter itu tegas.


Briliant tersenyum pada Zalin dan Zalin tersenyum.


"Selesai," dokter meletakan alat USG kembali pada tempatnya dan berjalan ke kursinya.


Zalin bangun dari posisinya dan dibantu oleh Briliant. Mereka berdua langsung duduk di depan meja dokter itu.


"Jadi begitu pak hasil pemeriksaannya. Kalau 5 minggu dari sekarang bu Zalina belum merasakan kontraksi, bisa ke sini nanti saya akan memberikan Perangsang."


Briliant menggangguk.


"Ada yang ditanyakan?" tanya dokter sambil melihat ke arah Briliant dan Zalina bergantian.


"Ada," ucap Briliant.


"Ya, silahkan."


"Kata dokter tadi saat memeriksa, bayinya sudah besar dan istri saya harus diet. Dietnya seperti apa, makanan apa yang harus istri saya konsumsi dan tidak boleh di konsumsi?"


"Kurangi makanan yang mengandung zat tepung seoerti biskuit, mie dan sejenisnya."


"Bagaimana dengan bakso?" tanya Briliant lagi.


"Itu juga kurangi, jangan terlalu banyak ya," jawab dokter.


"Apa ada lagi?"


"Cukup dokter," jawab Briliant.


Dokter menuliskan resep obat untuk Zalin. Briliant melirik ke arah Zalin dan tersenyum sedangkan Zalin memanyunkan bibirnya.


Zalin dan Briliant berjalan beriringan keluar dari apotek, wajah Zalin terlihat sangat bahagia.


Setelah mereka di luar apotek, terlihat hujan gerimis. Jam sudah menunjukan pukul delapan malam.


"Hujan yang, apa kita akan nunggu sampai berhenti?" tanya Briliant sambil memeriksa kecil beaarnya butiran huja yang turun.


"Sekarang aja pulang ka, tidak terlalu besar juga hujannya kan?" Zalin menjawab pertanyaan suaminya dengan pertanyaan.


"Tidak yang, ayo kita berangkat saja. Kaka bawa jas hujan untuk kita berdua kok," Brilian berjalan ke dekat motor untuk mengambil jas hujannya.


"Kaka bawa motornya pelan-pelan saja ya," ucap Zalin sambil tangannya menerima jas hujan dari Briliant.


"Siap sayang," Briliant tersenyum.


"Yang, tadi kamu dengar kan kata dokter apa?"


"Anak kita cowo, ah bahagianya! Salah satu do'a Za terkabul."


"Bukan itu yang, sudag ku duga kamu akan melupakannya," ucap Briliant sambil memakai jas hujannya.


"Kamu pakai celana jas hujannya sambil duduk di kursi, aku takut kamu jatuh."


Zalin mengangguk dan berjalan kearah kursi yang tidak jauh dari sana.


"Kata dokter kamu harus diet yang," ucap Briliant kemudian.


"Jajan bakso yuk," ajak Zalin.


"Aish! baru juga dibilang harus diet!"


"Emmm susah banget deh ah!"


Setelah Zalin berhasil memakai jas hujannya, Briliant dan Zalin pun pergi dari sana.


Sesampainya di rumah.


Ayah, ibu dan Diandra sedang menonton tv di ruang keluarga.


"Assalamualaikum," ucap Zalin diikuti oleh Briliant.


"Waalaikumsalam," ucap Ayah, ibu dan Diandra serempak.


"Kalian hujan-hujanan?" tanya Ibu Zalin meihat ke arah kerudung Zalin yang sedikit basah.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Ayah.


"Cewe atau cowo?" tanya Diandra antusias.


Zalin dan Briliant di berondong pertanyaan oleh yah, ibu dan adiknya.


"Sedikit bu, alhamdulillah kaka utun sehat ayah. Jenis kelamin saat di USG....." Zalin memutus kalimatnya.


"Apa?"


"Apa?!"


"Apa dong, bikin penasaran saja?"


"Cowo," ucap Zalin singkat sambil tersenyum.


"Yeeee, ayah akan lunya cucu laki-laki!" Ayah tersenyum bahagia.


"Asik!" ucap Diandra antusias.


"Alhamdulillah, alhamduliah apapun jenis kelaminnya akan tetap bahagia."


"Ayah juga bahagia!"


Diandra mendekati Zalin dan meminta hasil pemeriksaannya.


"Uuuh ada Poto USG nya!" ucap Diandra.


"Mana ayah lihat!"


"Ibu mau lihat?!"


Diandra, ayah dan Ibu heboh memperebutkan poto hasil USG kaka utun yang diberikan dokter.


Zalin hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah keluarganya.


Bagaimana reaksi mereka saat kaka utun lahir? Sepertinya akan lebih heboh dari ini, pikir Zalin.


"Ka, lebih baik kita ke kamar saja yuk," ajak Zalin.


"Ayo!"


"Diandra potonya jangan sampe sobek!" ucap Zalin memberi peringatan.


Zalin berjalan ke arah kamar diikuti oleh Briliant, setelah di rasa sudah tidak terlihat oleh keluarga Zalin. Briliant langsung memeluk Zalin dari belakang.


"Dingin yang," ucap Briliant.


Zalin menghentikan langkahnya dan tersenyum ke arag Briliant.


***