
Kini Briliant sudah selesai membersihan diri dan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuknya tanpa baju. Sementara Zalin sedang memindahkan baju Briliant yang ada di koper ke lemari pakaiannya.
Dengan iseng Briliant memeluk istrinya itu dari belakang "Yaaang?" Zalin membalikan badannya dan melihat Briliant terlihat segar dan tercium wangi sampo dari rambutnya, Zalin menghirup wangi dari tubuh Briliant "Wanginyaaaa", Briliant menjauhkan wajah Zalin menggunakan telunjuknya "eeeeeh jangan nyosor gitu!", Zalin segera membuang mukanya "ih siapa yang nyosor orang cuma nyium wangi ka iyan ko" Zalin memanyunkan bibirnya sambil mensidekapkan tangan didadanya. "Masalahnya takut kaka khilaf yang, Kaka kan udah mandi. Masa mandi lagi?" Briliant mencubit hidung istrinya dengan gemas. Zalin hanya mengangguk dan meneruskan pekerjaannya sambil megang hidungnya yang dicubit oleh Briliant.
"Yang, tolong keringkan rambutku" Briliant menunjukan wajah imutnya yang tersenyum pada Zalin dan mengacungkan handuk kecil yang dia letakan dilehernya, Zalin tidak mampu menolaknya. Dia meninggalkan pekerjaannya.
Zalin mendekati Briliant "Sini ka" Briliant memberikan handuk kecilnya dan segera duduk di kursi meja belajar. Zalin mulai mengeringkan rambut Briliant, "Yank.. pijitin dong sekalian kepala padan pundaknya" Rengek Briliant.
Aduh ka iyan banyak banget maunya, manja sangat. eh ini kan bagian dari ibadah, semakin ka iyan senang, pahalaku semakin bertambah.
Zalin mulai memijit kepala Briliant setelah dirasa rambut Briliant sudah agak kering dan dilanjutkan dengan memijit pundaknya.
"Wah, ternyata istriku pandai memijat ya?" Briliant memuji Zalin, merasakan enak dipijit oleh istrinya sambil memejamkan matanya. Zalin yang mendapat pujian, merasa senang.
Pahalaku bertambah.
"Za, hari ini Za mau kuliah?" Briliant masih memejamkan matanya. "Engga ka, Za masih cape. kayanya besok baru mau kuliah" Zalin menjawab dan diangguki oleh Briliant.
Adzan subuh berkumandang
"Makasih sayang, udah aja mijitnya. *muuuaaah*" Briliant mencium kening Zalin.
Ka Iyan seneng banget nyiumin aku. hm
Zalin yang mendapat perlakuan manis dari Briliant hanya mamou tersenyum.
"Yang... Kaka mau sholat di mesjid ya?" Briliant mulai berjalan ke arah gantungan baju dan memakai baju koko dan sarung semalam. "Boleh, memang lebih baik shlat di mesjid kan kalo cowo" Brilant pun mengangguk. Briliant segera merapihkan bajunya dan keluar dari kamar dan segera ke mesjid untuk mengikuti sholat subuh berjama'ah.
Alhamdulillah punya suami sholeh.
Zalin segera membereskan pekerjaannya yang sedikit lagi, Memasukan 2 stel pakaian Briliant ke dalam lemarinya dan menyimpan koper di samping lemarinya. Setelah selesai Zalin ke kamar mandi mengambil air wudhu dan langsung melaksanakan sholat subuh dikamarnya.
30 Menit kemudian
Briliant kembali dari mesjid dan langsung ke kamarnya.
ceklek
pintu kamar terbuka
30 Menit kemudian
Mereka selesai mengaji, Zalin telah membuka mukenanya dan membereskan alat sholat dan Al-Qur'an ke tempatnya. Briliant membuka jndela kamar "Yang... Kaka buka ya jendelanya, udara pagi hari sangat sehat dan sejuk", "Iya ka, boleh" Zalin memegang rambutnya "Untungkah sudah kering", "Apanya yang sudah kering?" Briliant melirik ke arah istrinya. "Rambutku, hehehe" Zalin tertawa kecil diujung kalimatnya, "emm.. padahal ga apa apa kali yang... kalau rambut kamu terlihat basah pagi-pagi begini, ibu sama ayah juga pasti ngerti adik iparku juga udah gede" Briliant memberikam senyum menggodanya pada istrinya.
Ya ampun ka, kamu ko punya senyum yang menggoda gitu. hadeuh... sebelum menikah kah kamu hanya punya senyuman maut imutmu itu.
Zalin hanya memanyunkan bibirnya. "Ka, Za ke dapur dulu ya mau menyiapkan sarapan?" Zalin melihat ke arah Briliant yang masih asik berdiri di dekat jendela yang sudah terbuka dan melihat ke arah luar memandang istrinya "Iya Yang.. Silahkan tuang putri" Tangan Briliant diperagakan seperti ajudan tuan putri. Zalin langsung tersenyum melihat tingkah Briliant.
Ceklek
Pintu kamar dibuka
Zalin melihat ke dalam kamar "Ka, pintunya tutup jangan?", Brikint melihat ke arah Zalin "Ga usah Yang..." Zalinoun mengangguk dan membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya untuk pergi ke dapur.
Di dapur
Zalin sudah melihat ibunya sedang memasak "Wah.. keduluan ibu nih?" Zalin memanyunkan bibirnya, Ibu yang menyadari ada anaknya menengok ke arah sumber suara "Eh Za... kamu udah bangun?" Zalin mengangguk "Sini bu, apa ada yang bisa Za bantu?" Zalin merasa setelah menikah, dia harus lebih sering ke dapur walau biasanya dia juga suka masuk ke dapur untuk memasak jika ibunya tidak ada di rumah.
"Siapkan saja piring di atas meja makan ya Za! Sebentar lagi ibu selesai memasak nasi gorengnya" Zalin oun mengerti dan langsubg menyusun piring diatas meja makannya.
Sarapan pagi ini adalah nasi goreng dengan tambahan beberapa sayur dan telur mata sapi. Zalin mencium wangi nasi gorengnya yang semakin lama semakin membuat perutnya lapar.
Krucuk.. krucuk..
"Suara apa tuh?" Ibu Xalin memandang anaknya dengan penuh selidik, "Perut Za... Hehe" Zalin tertawa malu sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal. "Dasar..." Ibu masih sibuk memegang spatula andalannya, "Za, segera panggilkan Diandra, ayah dan suamimu ke sini!" perintah ibu, "Suami?" Zalin merasa geli dan merasa masih aneh kalau dia sekarang sudah punya suami, "Iyan Za... Iyan, ya ampun kenapa kamu jadi lola (loading lama) begini sih?" ibu Zalin kesal taoi menahan tawanya. "Oke bu... " Zalin meninggalkan ibunya di dapur dan segera melaksanakan perintahnya.
Tidak lama kemudian
Semua anggota keluarga dirumah Zalin sudah siap untuk sarapan pertama mereka dengan anggota barunya, Briliant Anggara yang sudah menjadi menantu.
Zalin menyiapkan nasi goreng sayur+ Telur mata sapi untuk suaminya, dan ibu menyiapkan untuk ayahnya. Sementara, Diandra manyun sambil mengambil nasi goreng sayur+telurnya sendiri. Ayah dan Ibu yng melihat tingkah Diandra hanya tersenyum, tidak berani mengatakan apaoun karena tidak ingin membuat pengantin baru di rumah itu menjadi salah tingkah.
Acara sarapan pagi telah selesai
Ibu mengatakan hal yang membuat Zalin dan Briliant senang bukan main. Setelah Ibu mengatakan hal itu, mereka seakan tidak percaya. Tapi mata mereka berdua berbinar dan hati mereka sama-sama melompat dan ingin saling memeluk tetapi mereka tahan.
***