My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
31



Zalin kini sudah hampir sampai ke ruang tamu, dimana semua orang sudah berkumpul. Mata Zalin langsung tertuju pada sosok lelaki yang begitu imut menurutnya, Briliant Anggara.


Briliant memakai baju koko berwarna putih dengan bordir sederhana di bagian dada, celana jeans warna navy dengan rambut yang di sisir rapi duduk dikursi panjang diruangan tamu, diapit oleh ibunya dan adiknya yang usianya diatas Zalin 2 tahun.


Ah imutnya dan tampannya ka Iyan.


Beberapa saat Zalin tersihir oleh penampilan Briliant. Tapi dirinya tersadar saat Diandra menepuk pundaknya. "Ayo ka, maju" Dan Zalinpun maju dan duduk diapit oleh ibu dan ayahnya.


Acara pun di Mulai, pertama keluarga Briliant menyampaikam tujuan kedatangan mereka yaitu itu melamar Zalina Salim.


Zalina yang dari tadi menunduk mencuri-curu pandang ke arah Briliant yang kebetulan Briliantpun sedang memandangnya. Mereka dua seketika langsung keposisi semula, Zalin menunduk dan Briliant membuang muka ke arah lain.


Duh ko aku tegang gini ya?


Setelah keluarga Briliant menyampaikan maksudnya, giliran keluarga Zalin menanggapi.


Zalin berusaha mengalihkan ketegangannya dengan fokus mengikuti rangkaian acaranya.


Setelah keluarga Zalin menanggapi, MC bertanya Pada Zalin. "Gimana Za? apa Zalin menerima lamaran Briliant Anggara?" dan Zalin mengangguk "iya, saya menerimanya" dan seketika seluruh orang di ruangan itu mengucap hamdallah "Alhamdulillah".


"Jadi gimana, kapan iyan dan Za akan menikah? apa kita tetapkan sekarang saja?" Orang tua Briliant menanyakan itu pada ayah dan ibu Zalin.


"Kita siap kapan saja, insha Allah... iya kan Za?" Ayah Zalin meminta persetujuan Zalin.


what? kapan saja? ayah pasrah sih. keliatan banget ngebet pengen punya mantu.


Walau Zalin masih bingung, dia mengangguk karena dia tidak mau keluarganya dan keluarga Briliant kecewa.


"oh iya, sebenarnya kami sudah menyiapkan waktu, yang semoga keluarga di sini juga menyetujuinya" Orang tua Briliant tersenyum


"kapan itu?" Ibu Zalin sudah tidak sabar.


"2 minggu lagi" Orang tua Briliant menjawab dengan mantap dan diangguki orangtua Zalin tanda mereka setuju.


apaaaa? dua minggu lagi?


"Gimana Za? kamu setuju? kalo iyan udah setuju. iya kan?" Ibu Briliant menyenggol lengan anaknya sambil tersenyum dan Briliant mengangguk.


"Iya, Za ikut saja" Wajah Zalin merah merona menunduk malu.


2 Keluarga berdiskusi tentang pernikahan Zalina dan Briliant.


Atas permintaan Za dan Iyan, pernikahan akan diselenggarakan dengan sederhana hanya mengundang keluarga dekat, kerabat dekat dan teman dekat saja.


Acarapun di lanjutkan dengan ramah tamah , makan bersama dan mengobrol santai.


Zalin yang duduk bersebelahan dengan adiknya Diandra sedang menikmati buah di teras depan rumah dan mereka di hampiri oleh Briliant, dengan refleks Diandra meninggalkan Kakanya dan calon kaka iparnya itu duduk di teras depan rumah.


Zalin melihat kedatangan calon suaminya, memasang wajah cemberut.


"cais..." Briliant menyapa Zalin yang sedang makan buah


"hm... kaka ko tega?" Zalin memanyunkan bibirnya dan menyimpan buahnya di atas meja.


"apanya?" Briliant mengerutkan dahi


"Ga bilang sama Za, mau melamar hari ini" Zalin menyilangkan tangannya di dadanya.


"kan kaka mau ngasih kejutan, Za terkejut ga?" Briliant melihat wajah Zalin dari dekat.


"iya. Za terkejut tau!" Zalin memalingkan mukanya karena dipandang begitu intens oleh Briliant.


"berarti kejutan kaka berhasil. Za, seneng kan?" Briliant bertanya pada Zalin dan Zalin hanya mengangguk sambil tersenyum.


Briliant yang tahu Zalin tidak suka dipandang dari dekat terus mendekatkan wajahnya. Zalin menempelkan telunjuknya ke dahi Briliant "kaaaaa... tahan dong! belum halal"bisik Zalin. Dan Briliant tertawa kecil sambil mengacungkan jempolnya.


"oke, 2 minggu lagi kita perang" Zalin langsung melongo dan Briliant langsung pergi meninggalkan Zalin dengan senang. Sementara Zalin sendirian duduk di teras depan rumahnya.


hmm... maksudnya perang apaan? apa dia akan menyiksaku setelah menikahiku... aaaah ko aku jadi serem ya denger kata-kata perang dari ka iyan. eh eh... tapi ga mungkinlah! mana mungkin ka iyan menyakitiku? Dia saja melihat aku kesakitan menangis.


Zalin melamun beberapa saat membayangkan bagaimana setelah dia dan ka iyannya menikah 2 minggu lagi.


Aku akan segera mengetahui sifat asli ka iyan 2 minggu lagi. ah bagaimana kalo sifat asli dia tak.seimut wajahnya. aku harus Husnudzan. Harus!


"Za, sini dulu" Ibu Zalin menyuruh anaknya mendekat dan Zalin langsung mendekati ibunya. "Za, ibu Iyan mau bicara sama kamu berdua, di kamar Za saja" Zalin mengangguk dan segera masuk ke ruang tamu. Setibanya di ruang tamu Zalin dan Ibu Briliant memasuki kamar Zalin.


Di kamar Zalin


Ibu Briliant memberi nasehat pada Zalin tentang bagaimana pernikahan itu, selain itu Ibu Briliant meminta Zalin mencoba cincin-cincin miliknya, untuk ukuran mas kawin nanti untuk diberikan untuknya.


Setelah mencoba beberapa cincin dan di rasa ada yang pas Zalin mengatakan "yang ini cocok tante" Zalin memperlihatkan jari manisnya yang terpasang cincin. "Panggil mama Za, sebentar lagi kan Mama ini Mama mertuamu" Ibu Briliant tersenyum dan mengusap lengan Zalin. Zalinpun mengangguk sambil tersenyum "iya ma"


Alhamdulillah punya calon mama mertua baik.


Dan Ibu Briliant mengatakan hal yang membuat Zalin tersenyum geli.


"Za, nanti sesudah nikah. Iyan akan lebih brani sama Za. apa-apa braninya sama Za, mama punya pesan buat kamu. Iyan itu suka main game mama tuh ga suka Iyan main game. Kalau Iyan main game dan ketahuan sama mama, mama suka marahin dia. main game itu membuat orang jadi malas" Wajah Ibu Briliant terlihat kesal dan beliau melanjutkan kalimatnya. Sementara Zalin memperhatikan setiap kalimat yang dikeluarkan calon mama mertuanya itu.


"Za mama titip pesan sama Za ya. kalau sesudah nikah iyan masih main game, marahin saja bilang ga boleh gitu! ga boleh main game!" Ucap ibu Briliant penuh penekanan. Dan Zalin langsung menganguk.


Setelah urusan mengobrol berdua selesai, Zalin dan ibu Briliant keluar dari kamar Zalin menuju ruang tamu.


Satu jam kemudian


Keluarga Briliant pamit kepada keluarga Zalin dan kembali ke kota Q. Jarak rumah Zalin ke Rumah Briliant yang di luar kota hanya sekitar 2 jam.


Setelah Keluarga Briliant pulang, Zalin segera berkumpul dengan keluarga intinya ayah, ibu dan adiknya membahas tentang acara pernikahannya yang akan di laksanakan 2 minggu lagi.


Setelah bahasan selesai, Zalin langsung masuk ke kamarnya dan langsung tidur setelah dia melaksanakan sholat isya.


aaaaah aku hmtidak menyangka akan secepat ini akan menikah dengan ka iyan.


____________________________________________


Zalin merahasiakan bahwa dia akan menikah kepada teman maupun sahabatnya, tapi setelah seminggu kemudian ibunya menyarankan agar Zalin memberi tahu teman sekelasnya.


Saat di kampus


Hari ini senin H-7 pernikahan Zalina dan Briliant, Zalin yang kala itu sedang mengobrol santai dengan kedua sahabatnya Helen dan Rena mengatakan sesuatu pada kedua sahabatnya yang mebuat suasana kelas menjadi riuh seketika.


"Hari minggu ini aku akan menikah, semoga kalian bisa datang" Zalin berkata pada kedua sahabatnya.


"Sama ka iyan? serius? jangan bohong?" Jawab Helen dan Rena serempak


"iyalah sama ka iyan, serius! enggak. aku ga bohong”


Dan tiba-tiba Rena dan Helen maju ke depan dan bilang "Heeeey teman-teman Za akam menikah! minggu depan!"


"serius!" hampir semua teman sekelas Zalim tidak percaya. dan semua mahasiswi langsung mengerubungi Zalin dikursinya.


"Ih Za, kamu diam-diam menghanyutkan"


"Selamat ya Za!!"


"Za, mana undangannya?"


"Kamu nikah sama kaka tingkatmu yang baru wisuda itu?"


"Za kamu jadi sama kaka imut itu... aaah dia sangat imut"


"Za, ko ngedadak sih?"


"Za mau kado apa?"


Pertanyaan terakhir langsung Zalin jawab "Aku mau Helm" Ketua Himpunan jurusan yang kebetulan perempuan dan sekelas dengan Zalin langsung menepok jidatnya "Ya Ampun Za!!! pengantin tuh biasanya pengennya bed cover, selimut, magic com dan alat rumah tangga. ini kamu malah request Helm?" Zalin hanya nyengir... "iya deh kita usahakan kasih Helm buat Zalina Salim" Aisyah mengerlingkan matanya.


Teman yang lain bertanya saat yang lain sudah duduk di kursinya masing-masing setelah menerima penjelasan masing-masing pertanyaan mereka "emang kamu udah punya motornya?"


Zalin menggeleng dan manyun "belum Tya"


"Mau ga aku kasih Motornya?" Tya bertanya dengan serius dan ditanggapi serius pula oleh Zalin "mau mau". Tya berkata "Gambarnya aja ya di brosur. hahaha" Seketika Zalin memukul lengan Tya yang ada di sebelahnya. Helen dan Rena, entahlah mereka tidak tau kemana.


___________________________________________


2 hari kemudian


Za bertemu dengan Briliant, mereka sengaja bertemu ingin membahas sesuatu. Mereka sekarang sudah ada di rumah makan Bakso langganan mereka.


"Ka, Za mau nanya nih" Zakin menundukan kepalanya malu


"kenapa, penting?"


"iya, soal KB" Zalin melirik Briliant


"Oh.. terus ppa yang mau Za tanyakan?"


"Za pakai KB jangan?"


"Jangan"


hmmm gimana kalo aku hamil


"Kalo nanti Za hamil kaka tanggung jawab!"


eh ko dia tau apa yang aku pikirkan


Zalina melirik ke arah Briliant lagi


Briliant tersenyum pada Zalin " Jangan nunduk gitu, kaka seneng Za nanya itu" perlahan Zalin membranikam diri mengangkat wajahnya


"ada Lagi?" Briliant melihat kearah Zalin


"Ka, kita jangan bertengkar sesulit apapun.kita nanti ya" Briliant mengkerutkan dahinya


"Maksud Za, jangan bertengkar karena masalah ekonomi ka, eeeemmm masalah uang. Kan kebanyakan rumah tangga berakhir hanya karna masalah itu" Briliant mengangguk "Oke cais.. mari kita saling mendukung ya?" Briliant mengerlingkan matanya membuat wajah Zalin tersipu malu.


***