My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
END



Keesokan Harinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 8, saatnya Visit dokter. Zalin duduk di blangkarnya dengan Briliant duduk di sisinya.


Tidak lama kemudian datanglah dokter wanita yang masih muda di ikuti oleh dayang-dayangnya, yaitu para bidan. Dokter itu didampingi 4 orang bidan.


"Sungguh keren sekali!" batin Zalin.


Satu persatu pasien diperiksa dan sekarang Zalin mendapat giliran.


"Bagaimana dok jahitan operasinya?" tanya Zalin pada dokter itu.


"Bagus."


"Apa saya bisa pulang hari ini?"


Dokter meminta catatan tentang Zalin pada salah satu bidan. Dokter membaca rekam medis Zalin.


"Em... bagus, boleh! Mbak Zalin bisa pulang hari ini."


Zalin tersenyum.


"Bagaimana dengan bayi saya?" Zalin bertanya kembali.


"Pasien ini sungguh kritis dan banyak bertanya, saya suka." batin dokter.


"Oh, kalo masalah bayi bisa ditanyakan pada dokter yang bertugas di ruangan bayi ya?" dokter itu tersenyum.


"Setelah ini, kamu bisa ke atas menemui bayimu ya mbak Zalin."


Zalin mengangguk semangat, Briliant tersenyum melihat ke arah Zalin.


Setelah selesai memeriksa Zalin, dokter dan dayang-dayangnya memeriksa pasien lain dan keluar dari ruangan itu.


"Ka, anter Za ke ruang bayi. Ah aku ga sabar untuk ketemu sama Arsen!"


"Arsen?"


"Iya Arsen. kan namanya Rayyanza Arsenio Shafiulla, aku lebih suka manggil dia Arsen, terdengar keren bukan?" Zalin mengangkat alisnya.


"Oke terserah ibunya Arsen saja," ucap Briliant.


Zalin terkekeh.


"Ayo kita berangkat!"


Zalin mulai keluar dari ruangan perawatan dan berjalan menaiki tangga untuk menemui bayinya.


Zalin berjalan pelan karena dia merasa ngilu di bekas jahitan operasinya. Setelah berjalan cukup lama akhirnya Zalin tiba di depan pintu ruangan bayi.


"Arsen! ibu datang," Zalin berbisik pada dirinya sendiri.


Zalin dan Briliant bisa masuk ke ruangan itu setelah Briliant menunjukkan kartu bayi yang sudah ada tanda telapak kaki kanan anak mereka.


"Silahkan," bidan mempersilahkan Zalin dan Briliant masuk.


"Wih, pintunya berlapis-lapis!" batin Zalin.


Zalin dan Briliant mencuci tangan terlebih dahulu sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan berisi puluhan bayi.


"Ka, apa bayi kita tidak akan tertukar?" bisik Zalin.


"Insha Allah ga akan mbak!" ucap bidan yang mendengar suara Zalin.


"Ah syukurlah."


Zalin masuk ke dalam ruangan bayi dan ada puluhan bayi di sana.


"Ini bayi mbak," Bidan mengangkat salah satu bayi yang ada di satu box cukup besar dan menampung 3 bayi. Bayi Zalin berada di tengah.


"Kaka Arsen!" ucap Zalin lembut setelah bidan mengangkatnya dari box dan memberikannya pada Zalin.


Zalin duduk dan memperhatikan wajah anaknya.


"Mirip kamu ka, ah do'aku sepertinya terkabul. Hidungnya mancung sekali..." Zalin terharu dan memegang hidung anakanya.


"Apa iya mirip denganku?"


"Iya, lihatlah. Lihat!"


"Sekarang dia tidak di infus lagi? apa dia sudah sehat?" tanya Zalin pada Briliant.


"Anak ibu sudah sehat, alhamdulillah." ucap dokter anak yang menangani Arsen.


"Apa dia sudah bisa ikut pulang dengan saya hari ini?" tanya Zalin antusias.


"Bisa, nanti ya sore pulangnya. Bayinya harus dimandikan dulu sebelum pulang," ucap dokter.


Zalin mengangguk dan Briliant tersenyum bahagia.


Zalin di ruangan bayi diajarkan menyusui yang benar oleh dokter kandungan. Sedangkan Briliant menunggu di depan, karena di ruangan bayi bukan hanya Zalin yang sedang menyusui bayi mereka.


Sore harinya.


Zalin dan bayinya pulang bersama Briliant, ibunya dengan menggunakan mobil kepala sekolah ibu Zalin bekerja.


Saat di mobil


"Za, sekarang pulang dari rumah sakit bawa bayi ya! dulu pas kecelakaan kan engga?" ucap supir kepala sekolah itu yang sudah mengenal baik keluarga Zalin.


Saat Zalin kecelakaan juga kepala sekolah ibu Zalin dan supirnya yang menjemput Zalin.


Setibanya di rumah


Zalin dan bayinya langsung di sambut oleh keluarga besarnya. Zalin begitu bahagia, walaupun jahitan operasi sesar masih terasa. Tapi dengan melihat antusias keluarganya rasa sakit itu memudar.


Hampir setiap hari ada saja yang menengok Arsen, mulai dari saudara dekat, saudara jauh, kerabat, teman SMA Zalin, teman kuliah Zalin dan Briliant, teman ayah dan Ibu Zalin tidak ketinggalan tetangga yang datang berbondong-bondong.


Zalin bersyukur banyak yang menyayangi dan mendo'akan anaknya.


Kado sudah sangat menumpuk, amplop yang diterima cukup banyak.


"Alhamdulillah rezeky Arsen banyak ya," ucap Briliant.


"Iya, ayah Arsen harus tambah bagus ibadahnya. Do'akan selalu Arsen, dan jadilah panutan untuknya."


"Siap!" Briliant tersenyum.


6 bulan kemudian.


Zalin mulai aktif kembali kuliah, kali ini dia praktek mengajar di salah satu SMK negeri di kotanya sambil mulai mengerjakan tugas akhirnya, skripsi. Zalin berangkat pagi pulang siang, sedangkan Arsen dititipkan pada bibi Aisyah. Arsen seperti sudah mengerti status ibunya, hingga dia tidak rewel ketika Zalin sedang ke sekolah.


Briliant semakin sibuk, karena sekarang dipercaya mengajar di kelas 12 oleh kepala sekolahnya.


Keluarga Zalin semakin bahagia karena hadirnya Rayyanza Arsenio Shafiulla ditengah-tengah mereka.


6 bulan kemudian


Zalin mulai kuliah lagi di kampus dengan jadwal masuk siang pulang sore, Arsen di asuh oleh ibunya Zalin kadang bibi Aisyah membantu, karena saat siang ibu Zalin sudah pulang dari sekolah.


Zalin mulai serius mengerjakan skripsinya, dia harus bisa membagi waktu antara menjadi seorang anak, seorang istri, seorang ibu, seorang mahasiswa.


"Aku harus bisa lulus tahun ini!" ucap Zalin saat di kamarnya bersama Arsen.


"Do'akan ibu ya sayang," Zalin menciumi wajah Arsen sampai Arsen tertawa karena merasa geli.


9 Bulan kemudian.


Hari ini adalah acara wisuda Zalin, Zalin tidak menyangka bisa ada dititik akhir perjuangannya. Mendapat gelar Sarjana Pendidikan dengan banyak drama sebelumnya.


Arsenio sudah berusia 1,5 tahun sudah bisa berjalan dan tidak mau diam.


Zalin mengikuti acara wisuda di dampingi ayah dan ibunya, sedangkan Briliant menjaga Arsen diluar bersama saudaranya yang lain.


"Ka Zalin, apa ka Iyan ikut masuk?" tanya Fatma yang duduk di samping Zalin.


"Engga, ka Iyan jagain Rayyan di luar," ucap Zalin.


Zalin kadang memanggil nama anaknya Rayyan, kadang juga Arsen.


Setelah acara wisuda selesai Zalin keluar ruangan wisuda. Ada hampir seribu orang yang mengikuti acara wisuda hari ini.


Saat Zalin ada di ambang pintu, Zalin melihat ada banyak orang yang memegang buket dan dari sekian banyak orang yang membawa buket tidak ada Brilian di antara mereka.


"Ah ka Iyan ini, saat sidang skripsi. Dia ga datang dengan sebuah buket seperti orang lain, karena sibuk mengajar. Sekarang?" batin Zalin.


Saat Zalin sedang melamun, seseorang sudah ada dihadapannya.


"Selamat! Sudah menjadi sarjana!" Ucap Briliant sambil menyerahkan Rayyanza Arsenio Shafiulla.


Zalin dengan sigap memeluk anaknya, lalu Briliant mengusap bahu Zalin.


cup


Briliant mencium kening Zalin.


"Lihat mereka!" Zalin melihat ke sekeliling mereka.


"Semua orang mendapat bunga, kamu..."


Brilant memandang Zalin.


"Kamu mandapat Anak! Itu sungguh LUAR BIASA!" Briliant memeluk Zalin dan Arsen sangat erat.


"Selamat kamu berhasil! Kamu Hebat sayang! Sudah berjuang selama ini!"


.


.


.


.


.


T A M A T