
Iya ka, jangan memaksakan ke sini hari ini kalau hujan. ~My Sweety Wife
Briliant tersenyum melihat pesan itu.
"Kaka, akan pulang ko sayang! Tapi kamu ga perlu tahu. Kaka akan membayar rasa rindu yang kamu rasakan" Gumam Briliant.
Briliant langsung bersiap-siap untuk kembali ke kota X. Dia memakai baju, celana, jaket dan dia berjalan ke arah cermin. Briliant melihat pantulan dirinya pada cermin itu, satu sudut bibirnya keatas.
"Yang, i'm coming! " Briliant mengambil tasnya di atas kasur dan dia langsung keluar dari kamarnya.
"Jadi pulang sekarang Yan?" Mama Briliant yang sedang menonton TV melihat anaknya yang baru keluar dari kamar. Briliant pun mengangguk dan menghampiri mamanya.
"Iyan berangkat dulu ya ma!" Briliant mengukurkan tangannya untuk salaman pada mamanya, dan mamanya pun menerima uluran tangan anaknya.
"Assalamuailaikum" Briliant hendak meninggalkan ruang tv itu tapi dihentikan oleh suara ibunya. "Tunggu Yan!" Briliantpun menengok ke sumber suara.
"Tunggulan dulu di situ sebentar, mama ke kamar dulu", Briliantpun mengangguk lalu mendudukan badannya di atas sofa ruang tv itu.
Tidak lama kemudian
Mama Brilant keluar dari kamar dan membawa paper bag. Ia berjalan ke arah anaknya "Ini Yan, berikan pada Zalin ya. Semoga menantu ibu suka!" Briliant menerima paper bag itu dan mengintip isinya "Ini baju ma?" Mama Briliantpun mengangguk.
"Mama hanya memberikan baju untuk Za saja?" Briliant menautkan kedua alisnya sambil menatap mamanya.
"Iya, kalau kamu mau. Beli saja sendiri ya" Mama Briliant tersenyum dan Briliant menundukan wajahnya.
"Sudah kalau mau berangkat, cepatlah! Hati mulai gelap!" Mama Briliant mengibaskan tangannya.
"Ngusir" Gumam Briliant.
"Oke deh, Iyan berangkat dulu ma!"
"Iya, hati-hati!"
Briliantpun berangkat dari kota Q menuju kota X.
Sementara di rumah Zalin
Zalin dan ibunya sedang sibuk memasak di dapur untuk makan malam. Ibu Zalin melihat raut wajah anaknya yang kurang bersemangat. Ibu Zalin yang penasaran memberanikah berbicara pada anaknya.
"Za, apa.Iyan akan pulang hari ini" Ibu Zalin yang sedang mengaduk sayur asem diatas kompok menengok ke arah anaknya yang sedang menata tempe diatas piring.
Zalin menggeleng dan melirik ke arah ibunya "Sepertinya ka Iyan tidak akan pulang bu. Katanya di sana mendung"
"Oh iya, kamu jangan memaksa suamimu pulang ya. Di sana kan juga ada rumahnya dam keluarganya kamu tidak perlu khawatir" Ibu Zalin mengusap lengan putrinya yang terlihat galau itu. Zalinpun mengerti dan mengangguk.
Ibu Zalin kembali fokus pada masakannya.
Benar juga kata ibu, di sana kan kota kelahirannya. ada keluarganya, rumahnya juga di sana. Aku harus mulai bisa menjalani LDR dengan ka Iyan. Batin Zalin.
Sementara di tempat lain.
Briliant yang sedamg melajukan motornya menepi. Dia menengok ke arah ban belakang motornya.
"Bannya bocor lagi!" Briliant berjongkok dan meraba ban motornya.
"Kena paku ternyata!" Briliant membiarkan paku itu tetap menancap ditempatnya.
"Ah untunglah tambal ban tidak jauh dari sini" Briliant berdiri dan kembali duduk diatas motor, menghidupkan mesin motor dan memutar balik arah motornya.
Briliant melajukan motornya ke arah tempat tambal ban.
Sesampainya ditempat tambal ban, Iyan menyerahkan motornya kepada tukang tambal ban.
"Kenapa motornya mas?"
"Pakai nanya lagi, pasti bocorlah" Gumam Briliant
"Bocor bang, kena paku" Briliant menjawab santai.
"Oh, iya!" Abang tambal ban langsung mengeksekusi ban motor yang bocor milik Briliant.
Briliant duduk disebuah kursi yang tersedia di tempat itu dia melihat langit mulai sangat gelap.
Sepertinya Zalin sebentar lagi akan makan malam dengan keluarga di rumah. Lebih baik aku makan di luar saja biar nanti aku tidak perlu makan malam di rumah. Aku akan memberinya kejutan!. Batin Briliant
Malam harinya di rumah Zalin
Zalin keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan karena ia akan makan malam bersama keluarganya tanpa suaminya.
Sesampainya di ruang makan, Zalin segera mendudukan tubuhnya di samping adiknya Diandra.
"Wih.. Kakakku ko wajahnya kusut gitu!" diandra memiringkan wajahnya melihat ke wajah Zalin.
Zalin mendorong wajah adiknya pelan.
"Aduuuh, gitu amat ka!"
Zalin membuang mukanya.
Ibu dan Ayah Zalin yang ada di sana hany bisa melihat tingkah putri mereka.
"Tenang kakaku sayang, Di ko ngerasa ka Iyan akan pulang ya? Kayanya dia ga bisa jauh dari kaka. Tenang, ka Iyan akan pulang” Diandra menepuk pundak Zalin pelan.
Zalin melirik ke arah adiknya dan tersenyum dengan terpaksa.
Zalin dan Diandra mengangguk bersama.
Ibu Zalin mengambil makanan untuk ayahnya terlebih dahulu lalu untuknya. sedangkan Zalim dan Diandra mengambil makanannya sendiri.
Semua makan dengan hening.
Setelah selesai makan, Ayah berdiri dari duduknya "Ayah mau keluar dulu ya" Ibu dan dan kedua anaknya mengangguk.
Setelah kepergian ayah, Diandra berdiri "Diandra mau ke kamar ya bu, ada tugas membuat power point" ibupun mengangguk.
"Alasan!" Zalin membuang mukanya.
"Bener kok, kalo ga percaya bantuin sama ka Za ya" Diandra mengerlingkan matanya.
"Engga ah! kaka lebih baik istirahat. Ambil saja laptop kaka di kamar, di sana power point buatan ka Iyan. Tinggal di edit sama materi kamu di, inget ya Save As, Biar file ka Iyannya ga hilang"
"Asik! Makasih ka!" Diandra menghampiri Zalim yang masih duduk dan mencium pipi kakanya.
"Ah ga usah cium-cium, cepat ambilan laptopnya sebelum kaka berubah pikiran" Zalin mengibaskan tangannya.
"Siap ka!" Diandra berlari ke arah kamar kakaknya.
Zalin memunguti piring kotor untuk ia cuci.
Zalin mencuci piring kotor, sedangkan ibunya merapikan meja makan.
Setelah selesai dengan pekerjaan mereka, Ibu Zalin ke kamar karena harus membuat RPP. Sedangkan Zalin ke kamar untuk beristirahat.
Sesampainya di kamar
Ceklek , Pintu kamar ditutup oleh Zalin dari dalam. Zalin berjalan ke arah kasur dan merebahkan badannya di sana.
Zalin melihat ke arah jam dinding "Jam tujuh"
Zalin memejamkan matanya perlahan.
Beberapa menit kemudian
Tok
tok
tok
Suara ketukan pintu kamar membuat Zalin membuka matanya.
"Ah Siapa sih!"
Zalin mendudukan tubuhnya dan dengan wajah cemberut dia berjalan ke arah pintu dengan malas.
Ceklek, Pintu kamar terbuka dan Zalin yang menunduk ke arah lantai melihat sepasang kaki yanga dia rasa adalah kaki suaminya.
Ah, apa aku sedang bermimpi!
Zalin menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk kepalanya pelan. Sosok yang mengetuk pintu itu mendorong pelan bahu Zalin.
Ceklek, Pintu di tutup dan Zalin masih belum sadar.
Orang itu mengangkat dagu Zalin dan tersenyum.
"Sayang! Kaka datang" *muuuaaah* Briliant mencium Zalin.
Zalin melototkan kedua matanya tak percaya.
"Ya ampun! Jangan melotot gitu sayang, kaka jadi takut. Iiihhh" Brilint bergidik ngeri.
Zalin masih berdiri di posisinya dan melihat gerak gerik suaminya yang datang dengan tiba-tiba.
Briliant membuka dan menyimpan jaketya dikursi dekat meja belajar, Brilint juga berjalan ke arah kamar mandi dan mencuci kaki dan tangannya.
Briliant keluar dari kamar mandi fan melihat Zalin sedang mematung.
Lucu banget istriku ini. Batin Briliant
Briliant menghampiri dan memeluk istrinya.
"Kangen kaka tidak?" Briliant berbisik dengan lembut ke telinga Zalin sampai Zalin merasa sangat geli.
Zalin mengangguk dan mulai tersadar "Ternyata ini bukan mimpi" Zalin terkekeh.
"Ayo kita lakukan!" Briliant memundurkan wajahnya memandang istrinya.
Zalin menautkan kedua alisnya.
"Lakukan apa?" Gumam Zalin.
Briliant menyeret istrinya sampai dekat dengan ranjang dan sedikit mendorongnya lalu menindih setenhg badan istrinya.
Briliant tersenyum dan mengusap rambut Zalin dengan pelan.
Ya ampun! Baru pulang juga! Ga ada capeknya. Pikir Zalin.
***