My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
49



"Kayanya seneng banget ya peluk-pelukan sama kaka?" Briliant terkekeh.


Zalin menegakkan tubuhnya "Hm PD!" Zalin mencium pipi Briliant dan langsung turun dari ranjang kemudian berlalu ke arah dapur.


Brilian melihat kepergian istrinya sambil memegang pipi yang mendapag ciuman dari istrinya.


Senang juga punya istri. Briliant tersenyum


Briliant melihat ke arah jendela kamar uang sudah menampakan cahaya terang dari luar yang berasal dari matahari.


Briliant turun dari ranjang dan berjalan ke arah lemari. Dia mengambil celana panjang, baju kaos putih polos dan baju hangat warna coklat muda dan tua dengan motif strip. Briliant mengganti baju koko nya dengan baju yang dia ambil dari lemari lengkap dengan baju hangatnya dan mengganti sarung dengan celana panjang.


Briliant berjalan dan menggantung baju koko nya di gantungan baju di belakang pintu kamar.


"Sepertinya jendelanya harus segera ku buka!" Briliant berjalan ke arah jendela kamarnya.


Briliant membuka kedua jendela kamarnya dengan cukup lebar.


Briliant menghirup udara segar dari luar dengan nyaman "Dingin sekali!"


Langit berwarna biru belum tampak ada awan, beberapa burung mulai keluar dari sangkarnya untuk mencari makanan dan matahari mulai terbit dari arah upuk timur.


Hawa di rumah Briliant sangat dingin, siangpun terasa dingin. Tetapi tak sedingin pagi hari. Karena rumah Briliant cukup dekat daerah pegunungan. Tidak heran jika di sekitar rumahnya kebanyakan adalah perkebunan sayur.


Briliant bergegas ke luar kamar dan membuka semua jendela rumahnya.


*


Sementara di dapur.


"Masak apa ya?" Zalin membuka lemari yang ada di dapur. "Ya ampun! Berantakan sekali!"Zalin menepok jidatnya.


Zalin mengeluarkan sayuran dan bumbu juga lauk yang telah Briliant masukan.


Lebih baik aku bereskan dahulu. Pikir Zalin


Zalin terbiasa bekerja cepat. Tidak butuh waktu lama, sayuran telah tertata rapi di lemari lengkap dengan sayuran dan lauknya.


Aki masak nasi liwet saja lah, biar tidak banyak cucian. Kan ka Iyan akan mengajak jalan-jalan.


Zalin mengambil setengah liter beras dan langsung mencucinya di wastafel hingga bersih lalu ia sisihkan ke panci tidak lupa pancinya di tutup.


Ka iyan itu orang nya higienis, aku tuh harus lebih higeinis dari sebelumnya.


Zalin membuka lemari dan mengambil Daun salam, sereh, cabe rawit, bawang merah, daun bawang, tomat, sawi putih lalu ikan asin.


Setelah mengambil apa yang diperlukan, Zalin menutup kembali lemari dan langsung mencuci semua yang telah diambil nya dari lemari. Ikan asin dan sawi putih dicuci terpisah.


Zalin merasa bahagia, dia merasa bebas berkreasi tanpa meminta persetujuan dan tidak merasa canggung saat memasak.


Aku merasa setelah menikah, aku seperti tamu di rumahku sendiri. Entahlah, aku merasa seperti itu. Kalo serumah dengan ibu mertua, aku merasa orang lain.


Setelah selesai mencuci sayuran dan yang lainnya, Zalin memasukan daun salam dan sereh ke dalam panci yang sudah ada beras di dalamnya. Zalin mengiris beberapa tangkai daun bawang dan memasukannya ke dalam panci. Tidak lupa, di beri garam secukupmya penyedap rasa lalu minyak goreng.


"Tinggal di kasih air, beres deh!" Zalin menuang air yang telah dia siapkan di sebuah wadah.


Zalin meletakan panci di atas kompor dan menyalakan kompornya.


Cekrek, Kompor gas menyala. Nyala api sedang tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil.


"Sekarang tinggal mencuci ikan asinnya" Zalin berjalan ke arah wastafel dan mencuci ikan asinnya dengan cekatan.


Untunglah sejak SMP aku diajari dan dipercaya masak saat ibu tidak ada di rumah.


Zalin segera mengolah ikan asinnya.


"Ah, aku tumpangkan saja ke nasi liwetnya biar lebih praktis. Sepertinya tadi aku melihat plastik bening. Dimana ya?" Zalin mondar mandir mengingat-ngingat dimana dia melihat plastik bening.


Briliant berjalan ke arah dapur dan melihat Zalin kebingungan. Briliant berjalan dan tak sengaja Zalin menubruk Briliant


"Aaaw!!" Zalin mengusap keningya yang terbentur dengan kening Briliant


Briliant juga mengusap keningnya, tetapi tidak terlalu sakit jadi dia tidak berteriak.


"Aih kaka! Muncul tiba-tiba" Zalin masih mengusap keningnya. Briliant mengambil alih mengusap keningnya dengan perlahan "Udah enakan" Zalin mengangguk.


"Masak apa kamu Yang, wangi banget sampe kaka ingin kedapur. Cacing diperut kaka semakin demo nih" Brilant mengusp perutnya dan langsung memeluk Zalin.


"Em... Nantilah peluk-pelukannya" Zalin memundurkan badannya "Biar cepat beres masaknya. Ka iyan liatin aja ya jangan mengganggu" Zalin mengerlingkan matanya.


"Iih kamu menggoda kaka ya!" Briliant menatap Zalin "Eh siapa yang menggoda? Udah duduk saja di sana tuh!" Zalin menunjuk sebuah kursi di pojok ruangan.


"Kaka ga akan ganggu ko, hanya meluk aja dari belakang" Briliant menatap wajaj Zalin serius " Udahlah ka. Diam saja dulu. Za lagi nyari plastik bening nih! Dimana ya?" Zalin kembali mondar mandir melihat ke dekat rak piring dan wastafel.


"Hm.. Plastik bening ada di lemari sayang" Zalin melihat ke arah Briliant. Zalin melihat ke arah Briliant "Cek lah jika tidak percaya" Zalin berjalan ke arah lemari di dekat kursi dan membuka lemarinya "Eh iya ada!".


Briliant berjalan ke arah kursi dan mencium kening Zalin "Semangatlah memasaknya! Kaka pantau" Zalin mengangguk "Oke, jangan berisik!" Zalin menepuk-nepuk bahu Briliant "Anak pintar".


Zalin mengecilkan api kompornya.


Plastik bening dia taruh di sebuah mangkok, Ikan teri Zalin masukan ke plastik.


Kasih potongan daun bawang, potongan tomat, penyedap, gula merah sedikit, minyak goreng secukupnya. Beres deh.


Sementara Briliant sibuk memperhatikan Zalin.


Zalin mengikat plastik yang berisi ikan teri itu lalu dimasukan ke dalam panci nasi liwet. Zalin juga memasukan bahan untuk sambalnya.


Cabe rawit, tomat, bawang merah. Selesai. Eh iya sawi putihnya!


Zalin kembali menutup kembali panci nasi liwetnya.


Zalin pinter juga masak!


Zalin mencuci tangannya lalu menghampiri Briliant. "Sebentar lagi matang, sabar ya cinta" Zalin tersenyum pada Briliant.


Briliant membalas senyuman Zalin.


"Ka, kita jadi kan jalan-jalan ke Danau?" Brikiant mengangguk "Za mau ga?". Zalin dengan mata berbinar "Mau dong ka. Mau banget!".


"Cium dulu!" Pinta Briliant.


Ya Ampun! . Batin Zalin


Zalin memandang Briliant "Ya sudah kalo ga mau, ga jadi ke danau nya ya!"Briliant hendak berdiri tapi Zalin langsung mencium pipi Briliant dan langsung membuang mukanya karena malu.


Brilint tersenyum senang dan berdiri dari duduknya. Briliant memeluk Zalin dari belakang "Za, bentar lagi bulan puasa. Sesudah lebaran kita main ke laut yuk?" Zalin membalikan badannya dan menatap Briliant dengan senyuman diwajahnya "Ayo!".


Istriku ini benar-benar sepertinya jarang liburan. Dia juga setelah kecelakaan bed rest selama hampir setahun. Tidak bisa kemana-mana.


Briliant mengusap kepala istrinya "Sekarang, masak dulu. selesaikan. Setelah itu bersiaplah untuk berangkat ke danau. Kaka tunggu di ruang depan ya yang!" Zalin mengangguk.


Briliant pun pergi ke ruangan depan dan Zalin melanjutkan kegiatan memasaknya yang hampir selesai.


Ah bahagianya. Setelah lebaran akan berlibur ke laut. Laut.... di kotaku jauh dari laut. Laut tunggu aku dan ka Iyan ya!


***


**Jangan lupa Like, Vote, bintang 5 sama komentarnya ya 😊


Selamat menunaikan ibadah puasa ya bagi yang menjalankan, semoga puasanya lancar 😊**