
Setelah berakhirnya masa KKL, Zalin di sibukkan dengan menulis laporan. Malam ini dia harus mengeprint laporan KKL yang sangat tebal. Zalin bersyukur ada printer milik ka Iyan di kamarnya. Suaminya.
"Sayang, udah dulu ngeprint nya. Besok lagi lanjutkan," pinta Briliant.
Tanpa berkata apapun, Zalin menyudahi aktifitasnya. Dia sangat menurut pada suaminya, bagaimanapun Zalin tahu apa yang dikatakan Briliant adalah untuk kebaikannya.
Zalin segera membereskan segala hal yang berhubungan dengan laporan KKL. Dia memisahkan hasil print out, merapihkannya lalu menyimpannya di atas meja belajar. Setelah itu, Zalin mematikan laptop dan printer nya.
"Sudah?" Briliant turun dari ranjang untuk membantu Zalin.
"Sedikit lagi ka, tinggal membereskan ini," Zalin menunjuk tumpukan kertas A4 yang baru dia ambil dari printer.
"Oh, baiklah. Cepat naik ya, kita tidur."
Briliant memberikan senyuman mautnya pada Zalin. Zalin hanya melirik dan membalas senyumnya dengan singkat.
"Sayang..."
"Iya ka iyanku yang super duper imut," Zalin berdiri dan mulai mendekati suaminya.
Keesokan paginya, Briliant telah bersiap-siap untuk ke kota Q. Ajaran baru sekarang Briliant mulai banyak mengambil jadwal mengajar, karena kurang dari setahun lagi Zalin kan melahirkan anak Zalin dan dirinya.
Ah sepertinya aku sudah tidak sabar menunggu kelahiran anakku, pikir Briliant sambil menatap dirinya di cermin.
KREK
Pintu di buka oleh Zalin.
Zalin kembali menutup pintu kamarnya.
KREK
Zalin berjalan ke arah ranjang, dia duduk ditepi ranjang dan memperhatikan suaminya sedang menyisir rambutnya yang baru di keramas. Briliant hanya memperhatikam Zalin dari pantulan cermin yang cukup besar di hadapannya.
Setelah selesai menyisir, Briliant menghampiri Zalin dan duduk di tepi ranjang. Briliant tahu apa yang diinginkan istrinya.
Selama hamil 3 bulan terakhir ini, Zalin tidak pernah mengidam menginginkan makanan hal yang aneh-aneh. Tapi ya begini, seperti pagi ini setiap Briliant pulang setelah Zalin melakukan pekerjaan rumah tangga pasti pergelangan kaki dan lututnya menjadi gatal-gatal seperti alergi.
Briliant kini sudah duduk di samping istrinya, Briliant tersenyum dan memegang kedua tangan Zalin. Diusapnya tangan istrinya perlahan.
"Kenapa ya gatal-gatal terus kalo bersih-bersih. Aneh. Dulu kan tidak begini," ucap Zalin sambil menatap tangan suaminya yang sedang mengusapa-usap pergelangan tangannya yang sangat terasa gatal.
"Mungkin kaka utunnya cowo," Briliant mengangkat kepalanya melihat wajah Zalin.
Zalin mengkerutkan dahinya.
"Hm, kalau anak kita cowo. Ah alangkah bah3 meagianya Ayah sama Ibu."
"Sejak dulu ayah dan ibu sangat menginginkan kehadiran anak laki-laki." sambung Zalin.
Tiga menit berlalu, pergelangan tangan Zalin sudah tidak terasa gatal dan bentol-bentolnya sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Sekarang Zalin memundurkan badannya dan duduk di atas ranjang. Kini kaki Zalin berselonjor sedangkan Briliant masih ada di posisi yang sama.
"Tinggal lututnya," Zalin tersenyum pada suaminya.
Briliant menggeser sedikit badannya dan mulai menyingkap rok istrinya sampai bagian lutut.
"Jangan terlalu atas," ucap Zalin serius.
"Iya iya, bawel sekali."
Briliant mulai mengusap lutut Zalin.
"Yang, kalau kaka ga ada kamu suka gatel-gatel kaya gini ga sih?" tanya Briliant penasaran.
"Jarang sih, kalo pun gatel-gatel ga separah ini," ucap Zalin sejujurnya.
"Aneh sekali, kayanya kaka utun ingin di manja sama ayahnya ya."
Zalin hanya tersenyum.
Tidak membutuhkan waktu lama, gatal di lutut Zalin hilang setelah di usap-usap oleh suaminya.
"Sudah ka, makasih ayah kaka utun."
Zalin menggeser posisi duduknya dan mencium kening suaminya.
"Jangan mancing-mancing," Briliant memanyukan bibirnya.
"Ya ampun! Itu tanda terimakasih sayang," Zalin segera turun dari ranjangnya.
"Ayolah, sudah agak siang nih. Nanti kaka telat datang ke sekolahnya. Jangan membiasakan telat datang ke sekolah, jadilah guru yang menjadi contoh baik untuk siswa," cerocos Zalin.
"Jaga kesehatan," Zalin tersenyum menatap Briliant.
"Jaga mata," Zalin menatap kedua mata Briliant dengan lembut.
"Dan...." Zalin memutus kalimatnya.
"Dan apa?" Briliant mengkerutkan dahinya.
"Dan hati," lanjut Zalin sambil memegang dada Briliant.
"Sayang," Ucap Briliant kemudian.
"Za harus percaya sama kaka, Kaka ga mungkin lirik-lirik wanita lain. Kaka hanya sayang sama Za," Briliant menatap mata Zalin.
"Dan kaka ga mungkin berpaling, kaka sudah menjadi milik Za."
Briliant memeluk erat Zalin.
"Iya ka, Za percaya sama kaka," Zalin membalas pelukan suaminya dan langsung melepasnya.
"Kunci hubungan itu adalah komunikasi," ucap Zalin.
"Dan kepercayaan" lanjut Briliant.
"Emang bener Briliant ya otak kaka," Zalin terkekeh.
"Sudah ah, kaka udah siang nih." Briliant berjalan ke arah kursi dan membawa tasnya. Sedangkan Zalin mengambil jaket Briliant dan memakaikannya ke tubuh suaminya.
"Mulai minggu ini, jadwal kaka full ya.. Jangan kangen kaka, kaka bisa pulang hari sabtu."
"Jangan kangen? Mana bisa?" Zalin memanyunkan bibirnya.
"Kalau kangen telpon saja," ucap Briliant.
Briliant berjalan ke meja belajar.
"Dan leluk boneka doraemon ini," Briliant memberikan sebuah boneka doraemon dengan ukuran kecil pada Zalin.
"Lihat, di sini ada name tag nya dengan nama kaka. Briliant Anggara."
Zalin tersenyum dan mengangguk.
Setelah drama selesai, Briliant berjongkok di hadapan Zalin dan mulai mengusap perut istrinya yang mulai terasa bentuk kehamilannya.
"Kaka utun, ayh berangkat kerja dulu ya. Baik-baiknya, jangab nakal. Kasian ibu...."
Briliant berbicara layaknya seperti bicara dengan anaknya yang sudah lahir sudah ada di hadapannya. Zalin menatapnya dengan senyuman.
Setelah selesai berbicara pada buah hati yang masih dikandung istrinya, Briliant berdiri dan mencium pipi kanan, pipi kiri dan semuanya yang ada pada wajah Zalin.
"Ya ampun, sudah dong ka."
Briliant tersenyum mendengar istrinya protes.
"Biasanya juga mau, tumben protes?" Briliant tersenyum.
"Lihat jam," Zalin menunjuk jam dinding di kamarnya.
Briliant mengikuti arah yang ditunjukan oleh Zalin.
Dan setelah Briliant melihat jarum jam.
"SUDAH SETENGAH TUJUH!"
"Iya, ayo segeralah berangkat."
"Telat ah, kalo kaka ke sana udah mulai upacaranya. kaka berangkat jam 7 saja, jadi nanti kalau sampai upacara sudah selesai."
"Hm, ya sudah Za ke daour dulu ya. Haus sekali anakmu ini," Zalin mengusap perutnya.
"Mau kaka bawakan airnya? kamu tetap di sini?"
"Tidak usah ka, Za aja yang ambil."
"Baiklah, hati-hati."
Zalin tersenyum dan mukai meninggalkan Briliant di kamarnya.
Saat Zalin keluar kamar, Zalin melihat Diandra akan pergi ke sekolah dengan terburu-buru.
"Ka, Diandra berangkat dulu," Diandra menghampiri Zalin meminta izin.
"Iya, kamu berangkat sendiri?"
"Iya ka," jawab Diandra singkat.
"Ga sama Fathan?" tanya Zalin penasaran.
Setelah selesai KKL, Zalin belum pernah lagi melihat Fathan ke rumahnya untuk menjemput atau mengantarkan Diandra pulang.
"Engga kakakku sayang," Diandra memeluk Zalin dan mencium pipi kakaknya.
"Diandra berangkat, Assalamualaikum."
"Iya, Waalaikum Salam."
Zalin masih bengong di tempatnya, melihat Diandra berlari dari teras rumah ke arah gerbang.
"Hati-hati Diandra!" Teriak Zalin.
Diandra yang mendengar ucapan kakaknya mengacungkan jempolnya saat ada di pintu gerbang.
Zalin menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan niatnya untuk pergi ke dapur setelah Diandra hilang dari pandangannya.
***