My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
80



"Ka, jum'at depan kaka libur kan?" tanya Zalin kepada suaminya saat sedang jalan-jalan di taman kota.


"Iya yang libur, kaka ga ada jadwal ngajar. Memang kenapa yang? Kita duduk dulu yuk di sana," ajak Briliant menunjuk sebuah bangku di sudut taman.


Hari ini minggu, banyak orang yang menghabiskan weekend di taman kota.


"Za, mulai KKL hari jum'at depan dan harus mengikuti acara pelepasan," ucap Zalin setelah mendudukan tubuh di bangku.


"Oh."


"Kaka bisa kan anterin Za?" tanya Zalin manja.


"Menurut kaka sih, ga ikut juga ga akan apa-apa."


"Tapi Za ingin ikutan," Zalin merajuk.


"Oke lah."


"Kaka kenapa sih?" tanya Zalin heran melihat suaminya tidak seperti biasanya.


"Ga apa-apa, ini kayanya bawaan kaka utun?" jawab Briliant sekenanya.


"Kan aku yang hamil?" Zalin mengkerutkan keningnya.


"Kaka ga apa apa sayang, ayo kita beli bakso. Kaka rasa kaka sudah lapar."


"Ah pantesan rese, ternyata lapar!" Zalin terkekeh.


"Ah sudahlah, jangan banyak bicara." Briliant cemberut dan mulai menggandeng tangan istrinya.


🍁🍁🍁


"Ka, cepatlah. Za tidak mau kesiangan nih." teriak Zalin kepada Briliant.


30 menit sudah Briliant ada di kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat mengantarkan istrinya melaksanakan upacara pelepasab KKL kampusnya.


"Ya ampun, sabar dong yang!" gerutu Briliant.


"Sekarang kamu makin cerewet saja."


"Em, ka Iyan," ucap Zalin manja.


Zalin yang sedang duduk di tepi ranjang, menyodorkan tangannya kepada Briliant yang sedang mengeringkan rambutnya oleh handuk kecil.


"Tangan kamu kenapa?" Briliant mendekati istrinya dan memperhatikan pergelangan tangan Zalin yang ada bentol-bentol seperti digigit nyamuk.


"Kamu di gigit nyamuk? banyak amat?" tanya Briliant heran.


"Gatau ka, tiba-tiba begini aja. Gatel."


"Garuk aja yang," Briliant menjauhi Zalin dan mulai merapihkan rambutnya ioleh sisir.


"Dari tadi udah digarukin, tapi malah makin lebar saja nih," jawab Zalin sambil cemberut.


Setelah dirasa rambutnya sudah rapih, Briliant kembali mendekati dan duduk didekat Zalin.Briliant meminta istrinya menyodorkan kembali pergelangan tangannya yang gatal.


"Usapin saja ya ka, jangan di garuk."


"Iya Ibu utun," Briliant tersenyum sambil mulai mengusap tangan Zalin.


"Kamu alergi makanan?"


Zalin menggeleng.


"Lalu kenapa bisa begini, ini seperti alergi loh yang," Briliant terheran-heran.


"Za sih ngerasa setiap Za bersih-bersih, ujung-ujung suka gini. Za suka gatel-gatel ka."


"Ko bisa?" tanya Briliant tidak percaya.


"Iya, pokonya saat ka Iyan ga ada juga Za suka gini."


"Sepertinya ini bawaan bayi deh Ka."


"Mungkin anaknya cowo kali yang, jadi ga mau diajak bersih-bersih dia," Briliant tersenyum melihat ke arah wajah Zalin.


"Eh, gatelnya ilang!" Zalin segera berdiri.


"Cepet banget ilangnya," Briliant memperhatikan bentol-bentol dipergelangan tangan istrinya yang mulai menghilang.


"Sepertinya alergi bersih-bersih ini, sembuhnya hanya dengan diusap-usapa oleh ayah utun deh," ucap Zalin nyengir.


"Hmmm."


"Ayo, kita berangkat!" ajak Zalin.


Briliant langsung berdiri mengikuti istrinya, langsung memakai jaket dan mencari kunci motornya yang ada diatas meja.


🍁🍁🍁


Saat di perjalanan.


"Ka, katanya dosen pembimbing juga ikut dalam pemberangkatan. Tapi dia sepertinya bawa mobil dan akan menyusul kemudian setelah Za dan kelompok Za sudah ada di kontrakan, Kaka nanti juga ikut ya ke kontrakan. Kaka juga harus tau teman KKL Za selalin yang pernah kaka liat kemarin."


"Ok!" jawab Briliant singkat.


"Ya ampun, Za bicara panjang lebar cuma dijawab begitu aja? Ok?" Zalin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kaka lagi fokus yang, ntar kalo ngobrol jangan pas di jalan seperti ini!"


"Balas dendam, kebiasaan!"


"Hehe," Zalin terkekeh.


Sesampainya ditempat tujuan, Zalin turun dari motor. Briliant memutuskan akan menunggu Zalin di dekat alun-alun, karena teman KKL Zalin semuanya menggunakan motor tidak ada yang membawa mobil.


"Za, nanti hubungi kaka saja kalau sudah selesai ya!"


"Iya ka, aktifkan hp nya ya!."


Briliant mengangguk dan pergi meninggalkan Zalin di depan gerbang pendopo.


Tidak lama setelah kepergian Zalin, datang Fathia dan Fathan menghampiri Zalin. Fathia berlari ke arah Zalin dengan begitu hebohnya.


"Zaaaaa, Ah aku rindu sekali padamu," Fathia memeluk Zalin


"Aku juga," Zalin membalas pelukan Fathia dengan senang.


Sedangkan Fathan sibuk menelpon Andika dan menanyakan keberadaan kelompoknya.


"Ayo kita masuk, katanya semuanya sudah kumpul di dalam!" Fathan mulai menghampiri Zalin dan kembarannya untuk menghampiri teman-temannya.


Fathia berjalan sejajar dengan Zalin, sedangkan Fathan berjalan di depan.


"Za kamu di anterin ka Iyan?" tanya Fathia.


"Iya."


"Tuh mereka ada di sana!" Fathan menunjuk keberadaan kelompok KKL.


Kini mereka sudah ada di tempat yang sama dengan formasi yang lengkap, 5 orang perempuan dan 5 orang lelaki telah siap mengikuti upacara pelepasan KKL sekampus di Pendopo.


"Kepada seluruh mahasiswa, dimohon untuk segera berbaris! Upacara akan segera di mulai"


Kelompok Zalin langsung mengikuti arahan yang di intruksikan oleh seorang dosen. kebanyakan lelaki terlihat ogah-ogahan melakukan intruksinya. Bagaimana tidak, selama kuliah di kampus mereka tidak terbiasa upacara.


"Ayo, kalian bersikaplah dewasa. Kalian ini mahasiswa. Ini pembina upacaranya Bupati!" Dosen di belakang barisan mengarahkan.


Setelah di rasa barisan sudan aman, dosen itu kembali berjalan menjauhi barisan kelompok Zalin.


Zalin, Ana, Hana, Delia dan Fathia ada di barisan kedua. Sedangkan Fathan, Willy, Beni, Andika dan Richard ada di barisan belakangnya.


"Ribet amat, pakai acara begini segala." gerutu Beni


"Udah mulai panas nih!" Ucap Ana.


"Setelah ini kita langsung ke kontrakan kan?" tanya Hana kepada Zalin.


"Iya." jawab Zalin.


"Semua anggota kita udah bawa pakaian ke kontrakan?" tanya Delia.


"Udah, hampir semuanya sudah sih. kecuali Zalin dan Ricard." jawab Fathia


"Richard ko kamu belum bawa baju sih?" tanya Delia.


"Ga sempet, sekarang aku udah bawa. Aku bawa mobil." jawab Richard santai


"Ooooh."


"Terus kenapa Zalin belum bawa baju ke kontrakan?"


"Dia kan rumahnya dekat, gampanglah." jawab Fathia sekenanya.


"Iya kan Za?" tanya Fathia sambil melirik ke arah Zalin.


"Iya."


Upacarapun di mulai. Hampir seluruh mahasiswa mengikutinya dengan tertib dan aman.


Setelah upacara pelepasan selesai, seluruh mahasiswa berbaur berselfie dan berwefie ria di lingkungan pendopo. Semuanya saling berbaur satu sama lain, ada yang berpoto hanya sendiri, ada yang dengan teman dekatnya, ada yang dengan seluruh anggota KKL masing-masing sampai ada yang bergiliran ingin berfoto dengan bupati.


Di sudut taman, Zalin sedang menerima telepon dari dosen pembimbingnya dan meminta alamat kontarakan KKL Zalin. Setelah Zalin selesai menerima telepon, Zalin kembali bergabung dengan kelompoknya yang sedang menunggu Zalin.


"Gimana Za?" tanya Fathan.


"Jadi begini, kita di suruh duluan ke kontrakan. Kita kumpul dulu di sana. Nanti sekitar jam 9 an, pa Arkan dosen pembimbing kita akan datang ke kontrakan guna memberikan pengarahan....," jelas Zalin panjang lebar.


Semua anggota kelompok Zalin memperhatikan Zalin, termasuk Richard.


Pandai sekali Zalin berbicara, dia sepertinya sangat cerdas. pikir Richard.


Beni yang melihat Richard memperhatikan Zalin dengan tatapan beda, membranikan diri berbisik pada Ricard.


"Loe suka sama Zalina?"


Richard seketika langsung menoleh pada Beni.


***


🍁🍁🍁


Jangan lupa Favoritkan dan like di semua babnya ya 😉