
Satu tahun kemudian
Richard pulang ke Indonesia karena sedang libur panjang, dia kembali ke rumah karena merindukan keluarganya. Setelah tinggal di luar negeri, Richard lebih merasa keluarga sangat berarti baginya.
Richard tidak memberi kabar pada keluarganya bahwa dirinya akan pulang ke rumah, sehingga tidak ada yang menjemputnya. Setahun di luar negeri sedikit banyak merubah sikap Richard, sekarang Richard lebih bertanggung jawab dan tidak suka main. Dia lebih senang belajar untuk dapat lulus segera, banyak impian yang ingin di capainya setelah lulus kuliah nanti.
Hari ini adalah minggu, semua anggota keluarga ada di rumah. Pa Bramantyo sang ayah, Fatma dan si kembar Naima Nakia yang sekarang sudah duduk di kelas 6 SD, itu artinya mereka berdua akan segera masuk ke sekolah SMP. Mereka sedang berkumpul di halaman belakang rumah, di dekat kolam renang. Pa Bramantyo sedang menikati kopi susunya dengan biskuit serta koran yang ada ditangannya, sedangkan ketiga anaknya sedang memakan camilan tidak jauh darinya. Naima dan Nakia duduk bersebelahan. sedangkan Fatma duduk di seberang Nakia yang menghadap kolam renang.
"Kia, apa kamu merindukan ka Richard?" tanya Naima sambil menerawang ke arah langit yang berwarna biru, bersih tanpa awal. Angin bertiup pelan, membuat hawa menjadi sejuk. Jam sudah menunjukka pukul delapan pagi. Naima merindukan Richard, dia sangat ingin bertemu dengan kakanya itu.
"Iya Naima, aku sangat merindukan kaka! Sangat rindu! Apa dia tidak akan pulang sampai lulus ya? ya ampun! Video call saja jarang, sepertinya ka Richard benar-benar belajar di sana." ucap Nakia yakin.
"Ah, paling dia sibuk main!" pikir Fatma.
Tapi dalam lubuh hati terdalam Fatma dia juga sebenarnya merindukan kembarannya itu. Baru kali ini dia terpisah jauh dari kakanya dan dengan waktu yang lama pula.
Mereka semua akan menghabiskan waktu di rumah seharian ini. Karena menurut Pa Bramantyo, di rumah mereka akan lebih leluasa melakukan hal apapun.
Bramantyo sangat membatasi pergaulan anak gadisnya meskipun keluarga yang berada, dia sangat menjaga sekali ketiga anak gadisnya. Dalam pikiran Bramantyo anak gadisnya harus menjadi wanita sholehah dan cerdas, agar nantinya dia memiliki cucu yang cerdas pula.
Di tempat lain
Richard baru saja keluar dari bandara. Richard memakai ransel dipunggungnya dan koper di tangannya. Sebenarnya dia hanya berniat membawa ransel saja, tapi setelah dia berpikir dia mengingat kedua adik kembarnya yang masih duduk di sekolah dasar, dalam pikirannya kedua adiknya itu akan senang sekali jika dibawakan oleh-oleh.
Richard merenggangkan ototnya, dia merasa lelah karna hanya duduk di pesawat selama beberapa jam lamanya. Richard melihat ke jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Setelah melihat jam, dia dihampiri oleh seorang lelaki yang berpakaian seperti supir taksi. Orang itu menawarkan jasa taksinya dan Richard mengangguk.
Supir taksi membantu Richard membawa koper yang berukuran kecil itu, koper ukuran standar yang isinya adalah oleh-oleh untuk kembarannya dan kedua adik kembarnya Naima dan Nakia. Richard mengikuti supir itu dan duduk di bangku penumpang. Sementara supir taksi memasukan koper yang dibawa Richard ke dalam bagasi.
Richard membuka tas ranselnya dan di simpan di sampingnya. Dia menyandarkan badannya di belakang kursi. Dia ingin segera rebahan di kamarnya. Dia akan menikmati liburan satu bulan di Indonesia bersama keluarganya.
Tidak lama kemudian supir masuk kedalam taksi dan duduk di belakang kemudi. Setelah Richard mengatakan tujuannya, taksi melaju meninggalkan bandara dengan kecepatan sedang. Richard yang usianya kini sudah menginjak usia seperempat abad tidak terlihat seperti usianya. Dia telihat lebih muda, di tambah dia kuliah di luar negeri dan berteman dengan anak usia dua puluh tahunan membuat dirinya semakin terlihat muda.
Richard yang memiliki wajah putih bersih, hidup mancung dan bibir yang sedikit kemerahan membuat siapapun yang melihat terpana oleh pesonanya. Jika dulu sebelum ke luar negeri dia senang bermain-main dengan wanita, gonta ganti pacar, berpoya-poya. Lain halnya dengan sekarang, dia tidak tertarik lagi bermain-main dengan wanita yang hanya dipikirannya adalah bagaimana caranya agar dia bisa sukses dan membuat ketiga adiknya bahagia.
Di dalam taksi tanpa sadar, Richard memejamkan matanya dan tertidur.
Mansion
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, supir taksi membangunkan Richard karena sedikit ragu.
"Mas, bangun..." ucap supir taksi itu dengan ragu.
"Iya, ada apa?" tanya Richard dengan masih setengah sadar.
Richard mengangguk.
"Bapa klakson saja, nanti akan ada satpam yang ke sini."
Setelah mendengar perkataan Richard, supir taksi itu langsung membunyikan klakson. Dan benar saja, baru dibunyikan seorang satpam bertubuh kekar keluar dari pintu kecil dari bagian sisi gerbang itu. Satpam itu mendekati taksi untuk mengecek siapa orang yang bertamu pada hari minggu seperti ini. Setahu dia, selama bekerja di rumah tuannya jarang sekali ada tamu yang datang hari minggu.
Setelah satpam itu cukup dekat dengan taksi yang ditumpanginya, richard membuka kaca mobil dan menengok ke arah satpam yang bernama Budi itu.
"Pak, ini saya!" ucap Richard.
Budi yang tidak percaya bertanya pada Richard.
"Den Richard?!"
"Iya pa, cepat buka pintunya!"
"Oh iya den, baik baik."
Budi langsung berlari masuk ke dalam pos satpam yang ada di balik gerbang itu. Tidak lama kemudian pintu terbuka dengan sendirinya. Ya, pintu gerbang itu di kendalikan oleh remot. Akan sulit jika harus di dorong oleh satu orang manusia. Gerbang itu sangat tinggi dan cukup besar.
Taksi melaju melewati gerbang itu, supir taksi itu begitu tercengang melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Dia belum pernah rumah semewah ini sebelumnya. Dia berpikir ingin berkerja di rumah ini menjadi seorang supir, baginya menjadi supir taksi sangat melelahkan.
Taksi akhirnya berhenti. Richard memberikan sejumlah uang pada supir.
"Ma'af mas, apa ada uang yang pas?" tanyanya.
"Engga ada, ambil saja kembaliannya pak!" ucap Richard sambil menggendong ranselnya.
"Terimakasih mas," ucap supir. Setelah itu supir taksi mengeluarkan koper dari bagasi dan meletakannya di dekat Richard.
Tidak lama kemudian taksi itu keluar dari sana meninggalkan Richard lengkap dengan koper di sampingnya.
Richard membuka pintu itu perlahan, tidak ada seorangpun yang menyambutnya. Dia tahu kebiasaan keluarganya, semua anggota keluarganya biasanya akan ada di belakang rumah.
Richard menyimpan ranselnya di atas sofa ruang tamu dan meletakan koper di sampingnya, keadaan rumahnya tidak berubah sama sekali.
Richard langsung berjalan ke arah halaman belakang rumah untuk menemui ayah dan adik-adiknya.
***
Jangan lupa like dan komentarnya 👍