My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
93



Setelah dari dokter kandungan, Briliant sangat mengontrol asupan makanan istrinya dengan sangat ketat. Lebih ketat dari sebelumnya.


"Yang, mau bakso."


"Setengah saja jangan pakai mie, harus dibarengi toge dan sayur. Inget pesan dokter yang!"


Begitulah jika Zalin menginginkan bakso.


"Yang, aku mau ice cream.”


"Sedikit aja, udah deh makan uang sehat-sehat aja!"


Zalin kadang lebih memilih membaca buku daripada menonton tv, sungguh apa yang dia lihat dia selalu mau. Jalan-jalan di luar, ada anak kecil beli jajanan ingin.


"Ka Zalin jangan culametan! Nanti ka Iyan marah loh," itulah ucapan ajaib yang selalu Diandra katakan ketika Zalin melihat anak Andrean memakan sosis bakar.


Zalin membuang nafasnya kasar.


"Huh, lebih baik aku baca novel saja!" Zalin masuk kembali ke kamar untul melanjutkan membaca novelnya.


Satu bulan kemudian.


"Yang, HPLmu (Hari Perkiraan Lahir) menurut dokter tinggal beberapa hari lagi. Tapi kaka harus ke kota Q, besok mulai Ujian Sekolah dan kaka harus mengawas."


"Kalau terasa mau melahirkan, bilang aja sama kaka. nanti kaka langsung ke sini."


"Kamu yang rajin ya jalan kakinya, biar kaka utunnya terangsang."


Briliant berbicara banyak sampai Zalin hanya mendengarkan suaminya berbicara di sampingnya.


"Za, sayang! Jawab dong, kamu dengar ga sih?" tanya Briliant sewot.


"Iya ayang, dengar. Kamu bawel sekali sih?" Zalin memonyongkan bibirnya.


"Ketularan kamu, hahaha" Briliant tertawa kecil.


"Idih... " Zalin memundurkan kepalanya sambil melihat ke arah Briliant.


Briliant menarik kepala Zalin dan memeluk Zalin sampai kepala istrinya itu menempel pada dadanya.


"Ah, ga nyangka sebentar lagi kita akan punya anak. Keluarga kecil kita bertambah satu anggota lagi yang," Briliant tersenyum lalu mencium kening istrinya.


"Iya ka, ka Iyan yang cute ini akan menjadi seorang ayah. Ma'af ya girls , this my cute husband. sudah punya anak dariku. jangan ganggu ganggu!" ucap Zalin sambil menepuk dada Briliant pelan.


"Ya ampun!" Briliant menepok jidatnya sambil tertawa mendengar perkataan istrinya.


Keesokan harinya.


"Bu, titip Za ya. HPL sudah dekat tapi Iyan harus tetap ke sekolah," ucap Briliant pada ibu mertuanya.


"Iya Iyan jangan khawatir di sini ada ibu, ayah dan Diandra juga saudara yang lain. Kamu sekolah saja, nanti ibu kasih tau kalau ada apa-apa," ucap ibu Zalin.


"Dan lagian Za, kamu jangan bilang melahirkan ingin ada suamimu ya. Itu pamali," ucap ibu Zalin.


"Kenapa?" tanya Zalin penasaran.


"Anak zaman sekarang kalau di bilang pamali suka nanya, kenapa kenapa."


Briliant tersenyum melihat ibu mertuanya bicara pada istrinya.


"Katanya suka susah," Ibu Zalin melanjutkan.


Zalin mengangguk.


"Oh iya iya," ucap Zalin.


"Kalau begitu Iyan berangkat ya bu," Briliant berpamitan dan bersalaman pada Ibu mertua juga istrinya


"Iya, jangan khawatir. Hati-hati yan! Ibu ke dapur dulu."


Briliant mengangguk.


"Za, kaka berangkat dulu. Sehat terus ya, di jaga makanannya! Kaka udah pasang kamera cctv dimana-mana. jangan macam-macam!" ancam Briliant.


"Uh sereeeem," ucap Zalin dengan memasang ekspresi takut.


"Serius nih!"


"Iya ka Iyan yang cute," Zalin memasang wajah full senyum.


Briliant tersenyum.


"Udah ah kaka berangkat dulu!"


Zalin bersalaman dengan Briliant kemudian Briliant mencium kening istrinya lalu perut istrinya.


"Kalau mau lahir, lahir saja. Ga usah nunggu ayah ya. Nanti juga kita akan ketemu," ucap Briliant pada kaka Utun.


"Iya ayah," jawab Zalin dengan suara yang di mirip-miripkan dengan suara anak kecil.


Briliant tersenyum lalu mengusap kepala istrinya. Setelah itu Briliant berjalan ke arah motor, memakai helm dan berangkat ke kota Q.


Zalin kembali masuk ke dalam rumah setelah Briliant keluar gerbang rumah dan hilang dari pandangannya.


Begitulah isi pesan yang selalu Briliant kirimkan pada Zalin. Briliant sangat mengkhawatirkan istrinya.


Hari ini adalah HPL Zalin dan dia belum merasakan apapun. Saat sore hari sebelum jalan-jalan sore di sekitar kompleks, Zalin menerima pesan dari suaminya.


Yang ini udah HPL loh, kamu emang belum kerasa mau lahiran seperti kontraksi yang bidan sebutkan?"~ My Cute Husband


Setelah membaca pesan dari suaminya, Zalin segera memberikan balasan.


Belum yang, kayanya kaka utun belum siap lahir. katanya ga akan apa-apa ga pas HPL juga, lagian HPL dari dokter sama dari bidan bedanya 21 hari loh. Kalau pas HPL bidan kaka utun belum lahir, baru kita periksa lagi ya?" ~ My Sweety Wife


Tidak lama kemudian Briliant membalas.


Iya ~My Cute Husband


Zalin membaca pesan Briliant dengan melototkan kedua matanya.


"Ya ampun aku ngetik empat puluh satu kata, hanya di balas dengan satu kata. Bener-bener nih ka Iyan, ngeselin!" gerutu Zalin di kamarnya.


"Ka Zalin! Mau gak jalan kaki sorenya?" teriak Diandra dari ruang tamu.


"Iya jadi!" jawab Zalin.


Zalin meletakan hp nya di atas meja dan keluar dari kamarnya.


Sore ini Diandra yang menemani Zalin jalan-jalan. Minggu lalu Diandra putus dengan Fathan. Zalin belum mengetahuinya.


"Di, ko kamu ga suka diantar jemput sama Fathan lagi sih?" tanya Zalin sambil berjalan menuju gerbang rumah diikuti oleh Diandra.


"Oh kaka ga tau ya!"


"Apa?" Zalin melirik ke arah adiknya.


"Aku udah putus kali ka sama dia," ucap Diandra.


"Wah kenapa? Fathan kan orang baik, apa dia selingkuh?" tanya Zalin penasaran.


"Engga. Hanya saja...." Diandra memutus kalimatnya.


Zalin menghentikan langkahnya dan mengubah posisinya berhadapan dengan adiknya.


"Hanya saja apa?!" tanya Zalin tidak sabar.


"Ternyata, sahabatku menyukainya." Zalin tersenyum.


"Oh, jadi kamu yang memutuskan Fathan?"


Diandra mengangguk.


"Oke baiklah," Zalin melanjutkan langkahnya.


"Loh ko kaka ga terus nanya atau apa gitu?!" gerutu Diandra.


"Sudahlah jangan pacaran-pacaran, belajar dulu yang bener!" ucap Zalin.


"Kaka ini!"


Diandra berjalan beriringan dengan Zalin. Mereka berjalan ke arah lapangan, di sana banyak anak kecil yang sedang bermain.


"Nanti ponakan aku akan aku ajak main di sini, main ayunan main melewati ban-ban itu! Ah sepetinya akn seru!" ucap Diandra antusias membayangkan dirinya bermain dengan anak kakanya.


Zalin tersenyum sambil berjalan berkeliling lapang yang ada di taman komplek itu diikuti oleh Diandra.


Setelah berjalan beberapa putaran, Zalin merasa lelah.


"Sudah dulu Di, kita istirahat dulu di kursi itu!" Zalin menunjuk sebuah kursi panjang di sudut taman.


"Ga boleh duduk di kursi, baiknya kaki ka Zalin di selonjorkan. Nanti takutnya jadi kram," ucap Diandra.


"Lebih baik kita duduk di sana," Diandra menunjuk sebuah tempat yang di sana bisa duduk berselonjor.


Zalin mengangguk dan berjalan diikuti oleh Diandra.


Saat Zalin sedang duduk berselonjor dengan adiknya, ada seorang lelaki menghampiri mereka berdua.


***


🍁🍁🍁


Jangan lupa tekan jempol 👍 di akhir setiap bab ya. Kasih penilaian lima bintang dan jangan di unfavorit ya.


Sebentar lagi Novel ini akan tamat.


Uni nulis novel baru Annisa Zunaira.


Semoga kalian pembaca setia novel MLMCH ini juga menjadi pembaca setia novel Annisa Zunaira.


Kritik saran komentar selalu uni terima.


Karena akan tamat, uni kasih tanda END ya.


Nantikan Crazy up selanjutnya!