
"Kia, tadi kamu bilang apa?" tanya Richard penasaran, takut apa yang dia dengar hanya halusinasinya saja.
"Diandra, Di-an-dra..." ucap Nakia dengan senyuman manisnya.
Richard mengekrutkan keningnya.
Nakia melemparkan pandangannya pada layar ponsel Richard. Richarf mengikuti pandangan Nakia.
Richard terkejut saat melihat ke layar ponselnya. Di sana tertera nama Diandra di aplikasi pesan singkat.
"Cie... naksir cewek ya? Namanya keren, Di...an...dra" ucap Nakia pelan sambil nyengir menunjukkan gigi rapi miliknya.
Richard langsung menurup aplikasi pesan singkat dan langsung meninggalkan Nakia dan Naima di sana.
Apa yang aku lakukan! batin Richard.
Satu minggu kemudian
Malam hari di rumah Briliant dan Zalin.
Briliant sudah tertidur dengan memeluk Zalin, Briliant memakai piyama tidur berwarna navy sama dengan yang dipakai Zalin, sedangkan Rayyan memakai baju tidur dengan motif bulan sabit kuning dengan warna dasar biru muda. Seperti biasa, Rayyan tidak berselimut sementara ayah ibunya seluruh tubuhnya tertutup selimut cukup tebal.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Briliant memang selalu tidur jam delapan atau sembilan, Briliant adalah tipe lelaki yang tidak suka begadang, minum kopi apalagi merokok.
Saat Zalin baru saja memejamkan matanya, Zalin langsung membuka kembali matanya saat terdengar getaran dari ponsel miliknya yang masih tersimpan di tas slempangnya.
Perlahan Zalin memindahkan tangan Briliant yang melingkar di perutnya. Setelah berhasil, Zalin turun dari ranjang yang berukuran king Size di kamarnya itu dengan hati-hati, takut Rayyan terbangun.
Zalin segera mengambil ponsel dari tasnya dan melihat layar ponselnya.
"Fatma? Ada apa dia nelpon, tumben," pikir Zalin.
Zalin segera mengangkat panggilan dari Fatma, tidak lama kemudian terdengar suara Fatma.
"Ka Zalin....," ucapnya heboh di sebrang telpon.
"Asaalamualaikum," ucap Zalin pelan.
"Eh iya lupa ga salam dulu," Fatma tertawa pelan.
"Waalaikumsalam ka Zalin, apa kabar?"
"Alhamduliah baik, wah tumben nelpon?" ucap Zalin dengan nada penasaran. Karena semenjak lulus kuliah mereka sangat jarang sekali berkomunikasi apalagi telponan.
"Ih ka Za ini, ga mau nanya kabar aku dulu nih?" tawar Fatma.
"Hm.. Anak ini, apa kabar Fatma?"
"Baik sangat baik dan sedang deg deg an. Hehehe" ucap Fatma di akhiri dengan tawa.
"Wah, kenapa nih deg-deg an?"
"Fatma mau nikah minggu depan," ucap Fatma.
*Deg.
Apa Fatma akan menikah dengan Richard?, batin Zalin*.
Setahu Zalin Fatma tidak pernah cerita dekat dengan lelaki, walau Fatma adalah orang yang cukup supel. Tapi dia cukup tertutup dengan masalah pribadinya. Terakhir kali Zalin melihat Fatma berpelukan dengan Richard, teman saat KKL sesaat setelah acara wisuda selesai.
"Ka Zalin?" ucap Fatma.
"Oh iya Fatma! Kenapa?"
"Ih ka Zalina ini bagaimana, aku minggu depan akan menikah. Ka Zalin datang ya sama Ka Iyan dan Rayyan. Aku tunggu loh!"
"Insha Allah ya Fatma sayang," ucap Zalin.
"Ka Zalin di kota Q?"
"Iya, semoga bisa datang ya. Soalnya akhir-akhir ini ka Iyan juga sedang sibuk-sibuknya," ucap Zalin memberi penjelasan.
"Oh gitu ya, tapi Fatma berharap sekali ka Zalin mau datang loh ka, semoga ka Zalin bisa datang ya."
"Iya Fatma,"
Zalin sangat penasaran dengan siapa Fatma akan menikah, dia membranikan diri bertanya pada Fatma.
"Memang calon suami Fatma siapa?"
"Siapa ya... Em.... Rahasia!" ucap Fatma penuh misteri.
"Yah, ko gitu sih."
"Kalo ingin tahu siapa yang akan menjadi suami Fatma. Ka Zalin datang ya,"
"Ntar ka Zalin akan kaget deh, siapa yang menikah denganku." ucap Fatma percaya diri. Zalin mengkerutkan dahinya semakin penasaran.
"Ka Zalin, udah dulu ya. Aku di panggil kakakku," ucap Fatma.
"Iya Fatma, semoga acaranya lancar."
"Pokonya Fatma tunggu ka Zalin."
Setelah Fatma mengucap salam dan dijawab oleh Zalin, panggilanpun berakhir.
Zalin segera menyimpan kembali ponsel nya dan tidur diantara Briliant dan Rayyan.
Bagaimana kalau menikah itu Fatma dan Richard, jika aku datang dengan ka Iyan. Bagaimana jadinya? pikir Zalin.
"Ah gimana nanti saja!" ucap Zalin.
"Ah ga kenapa-kenapa ka."
"Sini..." Briliant menepuk dadanya memberi kode kepada Zalin agar istrinya itu tidur di dadanya.
Zalin yang sudah mengerti langsung menuruti permintaan Briliant. Keluarga kecil itu akhirnya tidur dengan nyenyak. Tidak sulit untuk Zalin tidur dalam posisi itu.
Di kediaman Bramantyo Aditama
"Fatma?!" Panggil Richard dari luar kamar.
Fatma segera mengakhiri panggilan dengan Zalin. Setelah Fatma menyimpan ponselnya di atas meja rias, Fatma langsung keluar dari kamarnya.
Klek
pintu terbuka menampilkan Richard yang memakai piyama tidur berwarna putih.
"Ada apa ka?" tanya Fatma.
"Kamu lagi apa sih, di panggil dari tadi baru dibuka pintunya."
"Habis nelpon ka Zalin,"
"Kamu mengundangnya?"
"Tentu saja,.."Fatma tersenyum.
"Ka Zalin aku undang untuk datang ke pernikahanku bersama ka Iyan dan Rayyan anak mereka."
"Oh."
"Kaka ada apa manggil manggil aku?"
"Tuh, papa nunggu kamu di bawah."
"Oke deh," Fatma pergi meninggalkan Richard.
"Kenapa Fatma harus mengundang mereka, huh!" ucap Richard pelan.
"Tapi aku tidak mungkin melarang Fatma mengundang mereka." Richarf berjalan dengan langkah panjang untuk menyusul Fatma menemui ayahnya di ruang keluarga fi lantai bawah.
Keesokan harinya
Zalin sedang menyiapkan bekal makan siang Briliant. Briliant sekarang mengajar di dua sekolah, Briliant berangkat setengah tujuh pagi dan pulang jam enam sore. Briliant sering membawa bekal, karena dia lebih suka masakan istrinya.
Rayyan makan di meja makan sendiri, Rayyan sedang makan dengan sayur katuk jagung wortel, sayur kesukaannya. Sesekali Rayyan bersenandung. Briliant memperhatikan anaknya makan, sedangkan Zalin menuangkan air teh hijau hangat ke dalam gelas milik Briliant kemudian Rayyan.
"Eh iya ka, Fatma minggu depan akan menikah katanya. Dia mengundang kita," ucap Zalin sambil menyimpan lagi teko ke tempatnya.
"Teman sekelas mbu waktu kuliah itu?" tanya Briliant setelah meneguk air teh hijau hangat yang ada di hadapannya.
Zalin mengangguk.
"Hari minggu depan?" tanya Briliant memastikan.
"Iya minggu depan," jawab Zalin.
"Kaka ga bisa, Kaka ada pelatihan di sekolah dan tidak bisa izin. Tapi, kalau kamu mau menghadiri undangan Fatma, boleh."
"Benarkah? Za nanti ke sana dengan siapa?" tanya Zalin.
"Tapi Za gamau ke kota X sendiri," Zalin merajuk.
"Kamu bisa mengajak Diandra atau Bianca kan? Nanti jum'at sorenya kaka anterin, mbu sama Rayyan ke rumah Ibu."
"Oh iya ya."
Zalin tersenyum dan memeluk suaminya itu.
"Tapi nanti jemput lagi secepatnya ya!"
"Iya, ga bisa jauh-jauh ya dari kaka sekarang.. cieee.." ucap Briliant sambil menatap mata Zalin.
"Berisik ayah!" Rayyan mendelik kesal karena ayahnya mengganggu ibunya.
Briliant menatap mata Rayyan gemas, dia mencubit pipi anaknya pelan.
"Ih sakit ayah," Rayyan melototkan matanya.
"Ka, cara melotot Rayyan sama denganmu," bisik Zalin dan Briliant tersenyum mendengarnya.
"Ibu ke sini! jangan dekat-dekat ayah!"
Rayyan menepuk kursi di sampingnya. Zalin menuruti apa yang diperintahkan anaknya itu.
Mirip sekali gayanya dengan ka Iyan, apalagi manjanya. pikir Zalin.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Briliant berdiri dan memakai jaketnya. Setelah Jaket sudah dipakainya, Briliant mendekati Rayyan yang masih sibuk dengan makanannya.
"Rayyan, ayah berangkat kerja dulu ya," ucap Briliant. Rayyan langsung salam pada ayahnya dan Briliant menciumi pipi kakan kiri juga dahi anaknya.
"Hati-hati ya," ucap Zalin. Zalin salam pada Briliant. Briliant pun melakukan hal yang sama pada Zalina seperti yang dia lakukan pada Rayyanza.
"Iya sayang," Briliant mencium kembali pipi Zalin. Rayyan menatap adegan yang dilakukan ayahnya pada ibunya.
"Ayaaaaaah...." ucap Rayyan dengan mengerucutkan bibirnya.
***
Like 👍 dan komentar kalian semangat untuk uni 😊♥