
Briliant melihat Zalin keluar dari mobil dengan membawa buket bunga ditangannya, Zalin keluar dari mobil dengan pintu mobil dibukakan oleh Willy.
Mata Briliant langsung menajam melihat perlakuan Willy terhadap istrinya.
"Kenapa tidak bilang hanya pergi berdua?" Briliant memukul pelan tembok dan berjalan ke arah kursi.
Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka.
KREEEEK
"Ka, bangun sudah pagi."
Briliant langsung terduduk dan membuka matanya.
"Hanya mimpi!" Briliant bernafas berat membuat Zalin herab melihatnya.
Zalin menutup pintu dan ditangannya sudah ada botol air mineral yang ia bawa dari dapur untuk minum suaminya saat bangun tidur.
"Kenapa ka?" tanya Zalin sambil menyimpan botol air mineral dan menghampiri suaminya.
"Iya Za," jawab Briliant.
"Kaka mau minum."
Zalin membuka tutup botol dan memberikan botol ke tangan suaminya, Briliant menerimanya dan mengeguk air itu dengan sangat cepat.
"Pelan-pelan ka," Zalin memperhatikan Briliant.
Setelah dirasa sudah puas, Briliant kembali menyerahkan botol itu kepada istrinya.
"Kaka mimpi apa sih ka?" Zalin bertanya kepada Briliant sambil menyimpan botol air minum ke atas laci dekat ranjangnya.
"Kemarilah," Briliant menyuruh Zalin untuk mendekat.
Zalin, merangkak naik ke atas kasur. Briliant menyambutnya dan memeluknya dengan erat.
Ada apa sih dengan ka Iyan, batin Zalin.
Zalin tidak berkomentar apapun karena jika Briliant sudah memeluknya seperti itu, Briliant tidak suka jika Zalin banyak bicara.
Apa ka Iyan bermimpi buruk?, pikir Zalin.
Setelah di rasa perasaannya sudah membaik, Briliant melepaskan pelukannya.
"Kaka, mau ke kamar mandi dulu ya sayang!" Briliant mencium kening Zalin, setelah itu turun dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi.
"Pasti ka Iyan mimpi buruk nih, hm... aku jadi penasaran mimpi apa ya dia semalam?" gumam Zalin.
🍁🍁🍁
"Di, kamu ga mau sama nasi makan sotonya?" tanya Zalin sambil melirik adiknya.
"NGGA!" Diandra melototkan matanya tajam pada Zalin.
Briliant mengegelengkan kepalanya pelan memberi peringatan pada istrinya agar tidak mengganggu Diandra. Setelah Briliant menikah dengan Zalin, sedikit banyak Briliant tahu kalau adik iparnya paling tidak suka ditawari nasi.
Zalin segera melanjutkan makannya dan tidak melanjutkan menggoda adiknya.
"Semuanya, Diandra berangkat dulu ya!" Diandra bangkit dari duduknya dan menggendong tas ranselnya.
"Iya hati-hati ya nak! kamu naik angkot?" tanya ibu.
"Emmm... sama teman bu." jawab Diandra ragu.
"Siapa?" tanya ayah setelah mengusap mulitnya dengan tisu.
Zalin memperhatikan Diandra tanpa berkomentar apapun karena takut Briliant marah.
"Teman." jawab Diandra.
"Mana? Laki-laki?"
Diandra mengangguk ragu.
"Dijemput pakai motor? Mana orangnya?"
"Iya pakai motor, dia nunggu di dekat pos." Jawab Diandra jujur.
"Ya ampun! Kalau jemput ke sini saja langsung ke rumah! ngapain dekat pos. Enak saja, memangnya kamu anak kucing apa?" cerocos ayah.
"Iya pak, nanti kalau jemput atau pulang sama teman, Diandra bawa sampai depan rumah." Diandra menunduk.
"Bawa masuk ke rumah, biar ayah atau ibu kenal," ucap ibu.
"Oke bu.. Ya sudah, Diandra berangkat sekarang ya. udah siang" pamit Diandra.
Diandra pun meninggalkan ruang makan setelah bersalaman dengan orang yang ada di sana.
Diandra keluar dari gerbang rumahnya dan berjalan beberapa meter. Di ujung jalan sudah ada seorang lelaki yang sedang duduk di atas motor KLX warna merah lengkap dengan helmnya. Lelaki itu memakai baju kaos putih, memakai jaket dan celana jeans.
"Ka, ma'af ya lama nunggu," ucap Diandra tidak enak hati karena lelaki itu sudah ada di sana sejak 7 menit yang lalu.
"Ga apa-apa, ayo naik."
Ini juga kan kompleks tempat tinggal Zalin, batin lelaki itu.
***