
Kini Zalin di temani oleh Briliant. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, Zalin berangkat ke rumah sakit dari rumah bidan setengah tujuh. Perjalanan ke rumah sakit hanya memakan waktu 30 menit. Itu artinya, Zalin sudah berada di rumah sakit selama 2 jam dan belum ada penanganan yang serius, kaka utun belum juga lahir.
Zalin berharap, sebelum terjadi operasi kaka utun akan lahir dengan mudah. Zalin merasa takut jika janinnya kekurangan oksigen karena terlalu lama di dalam rahim padahal air ketubannya sudah pecah.
"Kaka utun, kalau mau lahir. lahirlah nak," batin Zalin.
Briant dengan setia memegang tangan istrinya, mata Briliant terlihat sudah mengantuk tapi dia tidak ingin memejamkan matanya.
Seorang bidan menghampiri Zalin dan menempelkan alat pedeteksi detak jantung janin.
"Apa bayinya baik-baik saja?" tanya Zalin cemas setelah melihat bidan itu selesai memeriksa detak jantung kaka utun.
"Alhamdulilah baik."
"Alhamdulillah," Zalin tersenyum.
"ibu SC ya?" tanya Bidan.
"Iya bu," jawab Zalin cepat.
"Ibu puasa ya, nanti giliran ibu setelah dzuhur."
Bidan itu langsung meninggalkan Zalin dan Briliant setelah memeriksa janin Zalin.
"Yang, kamu sekarang ga boleh lagi makan apa-apa ya,"Briliant mengusao punggung tangan Briliant.
Zalin mengangguk.
"Lama ya nanti dapat giliran siang, hm..." ucap Zalin.
"Sabar ya, semuanya sama.. mengantri, lihat ibu itu yang ada di samping," ucap Briliant.
Zalin melirik ke arah samoing dan melihat seorang ibu hamil yang sedang sudah diperiksa bidan.
"Memang kenapa dengan ibu itu?" tanya Zalin penasaran.
"Ibu itu juga SC, operasi. Dan sepertinya dapat giliran setelah kamu yang," ucap Briliant.
Zalin tersenyum dan mulai lega.
"Yang penting kaka utun sehat dan ga apa-apa ka, sungguh aku takut dia kenapa-kenapa."
"Kita berdo'a saja ya, kamu jangan takut. Operasi adalah jalan terbaik untukmu dan anak kita. Kalau Allah berkehendak, kaka utun bisa saja lahir sekarang. Pembukaan ya juga udah lengkap udah pembukaan 10," ucap Briliant menenangkan.
Zalin menitikkan air matanya dia tahu dilingkungannya orang yang melahirkan operasi sesar suka dipandang sebelah mata, mereka selalu menyepelkan dan menyebut yang melahirkan dengan operasi manja dan bukan wanita sejati. Itu yang di takutkan Zalin.
Briliant mengusap air mata Zalin.
"Sudah kamu jangan stres, semua akan baik-baik saja, kasian kaka utun kalo kamunya stres. Katanya mau punya anak yng cerdas?"
Zalin mengangguk dan mulai tersenyum.
"Kaka, tidurlah kalau mengantuk."
Briliant menggelengkan kepalanya.
"Maba bisa tidur sebelum anak aku lahir," Briliant memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang menggemaskan.
Zalin tertawa.
"Imut banget sih kaka jadi ingin nyubit pipi ka Iyan akutuh," Zalin tersenyum sambil meringis ingin mengejan. Tapi dia tahan.
Briliant tersenyum.
"Aku imut ya, saking imutnya dokter mengira aku bukan suamimu loh Za," bisik Briliant.
"Emang!"
Zalin menahan dia ingin mengejan beberapa kali, karena jika dia mengejan pasti bidan yang melihatnya akan berkata.
"Tarik nafas bu! Ga boleh mengejan!"
Tiga Jam Kemudian
"Pa, saya bawa dulu ibu Zalin ke ruangan operasi ya," ucap seorang bidan yang diikuti oleh 2 orang lelaki.
Briliant menggguk dan bangun dari duduknya. Briliant mundur satu langkah dan cairan infus Zalin yang semual bertengger di tiang tempat infus di pindahkan ke samping tubuh Zalin setelah tetesan air infusan diberhentikan oleh bidan.
Briliant mengikuti Zalin sampai depan lift.
Briliant mengangguk dan melihat Zalin di dorong ke dalam lift oleh dua orang lelaki dan didampingi satu bidan. Briliant tersenyum pada Zalin dan Zalin membalas senyuman Briliant.
Bagi Zalin senyuman Briliant adalah kekuatan untuk dirinya.
Setelah pintu lift tertutup, Briliant berjalan cepat keluar untuk menghampiri ibu dan ayah mertuanya.
"Bu, Zalin sudah masuk ruang operasi," ucap Briliant.
"Ayo kita ke sana, dimana ruangan operasinya yan?" Ajak ibu pada Briliant dan suaminya.
"Ada dilantai dua," ucap Briliant.
Saat berjalan menuju ke ruang operasi.
"Bu, kata mama ma'af belum bisa ke sini. Tapi sejak semalam saat di bidan, Iyan sudah memberi tahu keluarga iyan."
"Iya ga apapa, mereka jauh Yan. Minta do'anya saja," ucap ibu Zalin pada Briliant.
Briliant mengangguk dan terus berjalan beriringan dengan ibu dan ayah mertuanya.
Dilain tempat, blangkar Zalin terus di giring menuju pintu yang bertuliskan ruang bedah.
Deg
Zalin serasa mimpi akan dioperasi.
"Semuanya akan baik-baik saja," batin Zalin.
Kedua pintu itu terbuka dengan otomatis dan blangkar Zalin di masukan ke ruangan itu. Dua orang lelaki meninggalkan Zalin dan bidan.
"Bu, tunggu di sini ya. Nunggu giliran," ucap bidan.
Di depan Zalin ada satu orang ibu hamil juga yang sedang menunggu giliran untuk di operasi.
"Sepertinya banyak sekali yang di operasi," bati Zalin.
Tidak lama kemudian datang seorang perawat dan ibu Zalin.
"Bu, lepaskan bajunya dan ganti dengan ini ya."
Perawat itu memberikan sebuah baju khusus untuk operasi.
"Ibu tolong dibantu ya?" ucap perawat pada ibu Zalin dan ibu Zalin mengangguk.
Zalin dibantu oleh ibunya mengganti bajunya dengan baju operasi.
Tidak banyak yang ibu Zalin katakan. Setelah selesai membantu Zalin mengganti pakaiannya, Ibu Zalin meninggalkan Zalin dan perawat kembali dengan sebuah kain batik milik Zalin yang sudah ibu Zalin disediakan sebelum dia melahirkan.
Tidak lama setelah kepergian ibu Zalin, blangkar Zalin mulai di dorong kembali dengan dua orang lelaki yang berbeda. Orang itu memakai baju berwarna hijau khas operasi.
"Bismillah," batin Zalin.
Zalin melihat beberapa ruangan yang dia lewati, semuanya adalah ruang operasi. Di atas pintu ruangan itu masing-masing terdapat lampu merah yang menyala, menandakan operasi sedang berlangsung. Tapi ada beberapa ruang operasi yang sudah terbuka pintunya dan ruangan itu kosong.
Setelah melewati tiga ruang operasi di sebelah kanan dan 4 ruangan di sebelah kiri, akhirnya blangkar Zalin masuk ke dalam ruang operasi yang cukup luas.
"Wah, luar sekali ruang operasinya ya?" pikir Zalin.
Blangkar Zakin diletakan di tengah ruangan.
"Pindah yah Mbak," ucap seorang perawat lelaki dan Zalin di pindahkan oleh kedua orang lelaki itu tepat di blangkar yanh berada di tengah ruangan operasi.
"Tunggu di sini ya mbak, nanti dokter akan kemari," bidan mengangguk dan pergi dari ruangan itu.
Zalin hanya sendiri di ruangan luas itu, sepertinya ruangan itu memiliki luas 6x6.
Zalin terbaring di tengah ruangan, diatas Zalin ada dua lampu sorot khusus operasi dengan ukuran sangat besar.
Rasanya Zalin ingin mengejar dan karena tidak ada orang lain Zalin mengejan.
"Kaka utun kenapa kamu belum lahir juga," gumam Zalin.
Setelah itu Zalin menutup kedua matanya.
***