
Zalin memukul pundak Briliant pelan.
"Dasar!," Zalin tersenyum.
*
Ditempat lain, di lantai 2 gedung perpustakaan kampus terlihat lelaki tampan memperhatikan kepergian Zalin dan Briliant keluar gerbang kampus.
Lelaki itu tidak lain adalah Richard Bramantyo, teman sekelompok Zalina Salim.
"Za, aku pikir aku akan berusaha mendekatimu lagi," Pikir Richard saat melihat Zalin keluar bersama seorang lelaki di aebuah motor.
"Sainganku hanya dia. Dia pasti kalah olehku," batin Richard tersenyum dengan sinis.
Setelah Zalin sudah tidak terlihat oleh kedua matanya, Richard berjalan meninggalkan tempat diskusi yang kelompoknya gunakan.
Richard berjalan dengan tatapan dingin, saat Richard sudah dekat dengan mobilnya. Beberapa mahasiswa memperhatikannya.
Tidak jauh dari posisi mobil Richard, terlihat 3 orang mahasiswi yang sedang duduk di sebuah bangku panjang. Ketiga mahasiswi tersebut memperhatikan Richard dengan seksama.
"Wah, tampan sekali dia!," seorang mahasiswi mengagumi ketampanan Richard.
"Dia mahasiswa di sini bukan ya?," satu mahasiswi lagi terpesona.
Sedangkan mahasiswi lain hanya meniati pemandangan yang memanjakan matanya.
Richard mendemati mobilnya, dia mengeluarkan kunci mobil dari sakunya. Kemudian, Richard menekan salah satu tombol di kunci mobilnya. Membuat mobil milik Richard berbunyi.
"Wah, dia tajir," mata seorang mahasiswi berbinar saat melihat Richard mendekati mobil sedan berwarna putih bersih.
Mahasiswi yang lain juga menganggukan kepalanya tanda menyetujui apa yang dikatakan mahasisiwi di sampingnya.
Richard membuka pintu mobilnya dan setelah dia duduk dibelakang kemudi dengan sempurn, dia langsung menancap gas dan meninggalkan halaman perpustakaan.
Kepergian Richard langsung membuat hati ketiga mahasiswi yang sedang memandangnya lemas.
"Yah.. dia pergi deh!," keluh satu mahasiswi.
"Semoga dia mahasiswa di sini," satu mahasiswi berharap.
Sedangkan satu mahasiswi yang lainnya hanya tersenyum penuh harap.
"Aku ingin dia," gumamnya.
*
"Yang, kita beli baksonya dimana?," tanya Briliant saat motor yang dia kendarai keluar dari gerbang kampus.
"Terserah sih," Zalin mengembangkan senyumnya. Dia maerasa sangat bahagia setelah tahu suaminya mengajak makan bakso.
"Ya sudah kita beli bakso dekat rumah saja," usul Briliant.
Zalin yang mendengarnya seketika memanyunkan bibirnya.
"Ih ga mau!," Zalin sedikit memukul bahu suaminya kesal mendengar usulan suaminya.
"Ih ko ga mau?," Briliant menautkan kedua alisnya heran.
"Za ingin beli bakso yang ada dekat stasiun kaaaa," Zalin tetap memanyunkan bibirnya.
"Ya Ampun! Katanya terserah," Briliant terkekeh.
"Ih kaka meledek Za ya!, awas ya jangan minta jatah!" ucap Zalin kesal karena Briliant menertawakannya.
Briliant terkesiap mendengar ancaman Zalin.
"Tidak ko sayang, kaka tidak meledek," Briliant berkata dengan lembut sambil mengendarai motornya.
"Nanti seseudah beli bakso, kita beli martabak keju ya," Briliant merayu Zalin.
Wajah Zalin mulai merubah mimik wajahnya. Zalin mulai tersenyum. Zalin langsung memeluk Briliant dengan erat.
Briliant yang mendapat perlakuan istrinya tersenyum.
"Dasar, di bujuk pakai makanan saj langsung deh lupa akan segalanya. Istriku ini," batin Briliant sambil mengusap paha istrinya.
Motor Briliant mulai memasuki jalan raya. Zalin dan Briliant sudah tidak lagi mengobrol, karena mereka mulai sibuk fokus pada jalan.
*
Sesampainya di kedai bakso dekat stasiun kereta, Zalin turun dari motor dan segera membuka helmnya. Wajah Zalin memancarkan kebahagiaan.
Briliant membuka helmnya dan melihat ke arah Zalin. Briliant tersenyum melihat wajah istrinya antusias padahal dia hanya akan makan bakso. Briliant menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya ampun ka, kenapa geleng-geleng gitu. ayo capatlah!," Zalin menarik tangan suaminya agar segera masuk ke dalam kedai. Briliant pun mengikuti langkah kaki istrinya.
Zalin segera duduk di kursi di pojok ruangan, sementara Briliant memesan baksonya terlebih dahulu.
Setelah selesai memesan baksonua, Briliant melangkahkan kakinya mendekati Zalin.
"Duduklah di sini," Zalin menunjukan kursi yang ada disampingnya kepada Briliant.
Tidak lama kemudian pesanan bakso mereka datang. Zalin segera mengeluarkan hp nya dari dalam tas yang dia letakam di kursi yang dia duduki. Sedangkan Briliant sibuk memberi bumbu saos, kecap, sambal dan perasan jeruk di mangkok baksonya.
Zalin membuka aplikasi kamera.
"Sini ka, ke sinikan dulu baksonya. Akan Za poto ya, tunggu ya," Zalin menarik mangkok bakso milik suaminya.
Briliant yang tahu kebiasaan istrinya tidak mau protes.
"Sudaaaah!," Zalin tersenyum.
Zalin memoerlihatkan hasil jepretannya kepada Briliant.
"Baguskan ka?," tanya Zalin memperhatikan wajah suaminya.
"Bagus sayang," jawab Briliant sambil menarik mangkok bakso miliknya.
"Ayo, kita makan sekarang yang!," ajak Briliant.
Briliant mengambil sendok dan garpu dan mulai mengaduk bakso dengan bumbu-bumbunya.
"Iya Ka, poto ini tidak akan Za posting hanya untuk sebagai kenangan saja," Zalin tersenyum dan Briliant mengangguk.
Zalin menambahkan satu sendok sambal ke dalam mangkok baksonya dan perasan jeruk. Setelah itu, Zalin mengambil sendok dan garpu.
Zalin dan Briliant menikmati baksonya dengan tidak banyak obrolan.
Beberapa saat kemudian, mangkok Briliant sudah bersih dari bakso. Sementara di mangkok Zalin masih ada satu bakso besar dan sedikit mie lagi.
"Yang, lihat deh ke jalan!," Briliant mengarahkan mata Zalin agar melihat ke jalan.
Saat mata Zalin melihat ke arah jalan yang Briliant tunjuk, Briliant memindahkan bakso besar dari mangkok istrinya ke dalam mangkoknya.
"Ada apa ka?," tanya Zalin yang tidak melihat sesuatu yang aneh dijalan raya.
"Ah kamu telat Yang! Ayo lanjutkan makannya!," perintah Briliant.
"Oke!," jawb Zalin cepat.
Zalin melihat ke arah mangkoknya dan matamya membelalak karena bakso besar miliknya sudah raib.
Zalin yang sudah curiga kejahilan suaminya langsung memandang suaminya dengan pandangan mematikan.
"Ka.....," Zalin melihat ke arah mangkok suaminya yang didalamnga ada bakso besar yang dia yakini adalah miliknya.
"Apa sayang?," jawab Briliant santai.
"Itu punya Za," Zalin menujuk bakso yang ada di mangkok Briliant.
"Ini mangkok siapa?," tanya Briliant pada Zalin.
"Punya ka Iyan," jawab Zalin cepat.
"Berarti yang ada dalam mangkok ini punya siapa?," tanya Briliant sambil memiringkan kepalanya.
"Punya Za, kaaaa," Zalin membuang mukanya dan memanyunkan bibirnya
Brilian menahan tawanya.
"Ya sudah, ini baksonya buat Za saja ya yang," Briliant memindahkan bakso dari mangkolnya ke mangkok milik Zalin.
"Tapi, itu punya Za," Zalin menautkan kedua alisnya dan memandang ke arah suaminya.
"Iya iya, makanlah sayang," Briliat tersenyum.
Zalinpun melanjutkan makan baksonya, sementara Briliant meneguk es jeruk yang sudah dia pesan sebelumnya.
Tidak lama kemudian, Zalin telah menyelesaikan makan dan minumnya. Begitupun dengan Briliant.
"Yang, kaka bayar dulu ya," Briliant berdiri dan berjalan menuju meja kasir.
Sedangkan Zalin berdiri, memeriksa barang bawaannya takut ada yang tertinggal, setelah di rasa semua tidak ada yang tertinggal, Zalin segera berjalan keluar dari kedai.
Zalin kini sudah berdiri di dekat motor milik Briliant, Briliant menghampiri Zalin.
"Ayo kita ke apotek dulu!," Briliant langsung naik ke atas motornya dan memakai helm.
"Ke apotek, mau apa?," yanya Zalin heran.
"Beli alat tes kehamilan," Briliant nyengir.
"Ko kaka tau Za telat haid?," Zalin menautkan kedua alisnya.
"Tau dong," Briliant nyengir.
***
mana like 👍 dan **vote nya 😊
Terimakasih 😘**