
"za... bangun Za"
"Zalin... Zalin."
"Zalina Salim.
ayo bangunlah"
"zaaaaaa...."
Zalin merasa banyak yang memanggil namanya, tapi kepalanya merasa berat sekali untuk di buka. sakit.
Zalin berusaha membuka matanya.
Zalin melihat teman-teman sekelasnya sudah mengerubunginya, pantas. semua baru pulang kuliah. jadi pasti beriringan pulang dengan Zalin.
"alhamdulillah Za,..."
"alhamdulillah"
"ayo cepat kita bawa Za, ke rumah sakit terdekat!"
Zalin terbaring di pinggir jalan, badannya terpental cukup jauh dari motor Renata saat kecelakaan berlangsung.
Tepat dibelakang kepala Zalin ada tumpukan batu yang besar. Tapi, karena Zalin memakai tas gendong jadi kepalanya tersanggsh oleh tas nya.
Zalin berusaha mendudukan badannya, dia merasa tidak ada yang aneh.
Zalin menggerakan kaki kirinya kekanan dan kekiri, bergerak. tapi saat kaki kanannya dicoba di gerakkan, tak ada reaksi. ingin rasanya Zalin menangis.
kakiku!aaah aku menyesal tak mememui ka iyan dulu. aku menyesal! kenapa harus kecelakaan begini! bagaimana ini?
Zalin berusaha menerima kenyataan, dia memperlihatkan kepada semua orang bahwa dia baik-baik saja.
Disaat orang lain panik, Zalin mengingat hp nya. dia mencarinya. alat itu sangat penting untuk menghubungi keluarganya.
"hp.. hp ku.. ada yang melihat?" Tanya Zalin ke sekitar, ke semua teman sekelasnya.
Tak lama kemudian salah satu temannya memberikan hp Zalin padanya.
"ini Za"
"makasih"
Dan Za pun lanngsung di bawa ke rumah sakit terdekat, Za langsung di larikan ke UGD.
Sebelum Zalin dimasukan kedalam ruangan, Zalin meminta kepada salah satu temannya untuk menghubungi ayahnya.
Sesampainya di ruangan UGD, Zalin sibuk mengaktifkan ho nya sambil berbarik.
Dua perawat masuk dan memeriksa keadaan Zalin.
"ma'af mbak, celananya saya robek ya" ucap perawat itu
"iya" Zalin hanya melirik perawat itu dan kbali sibuk melihat keadaan hp nya.
"fraktur" bisik perawat yang satu ke perawat yang lain.
___________________________________________
Di tempat lain
Briliant hampir sampai ke kampus, dari dalam angkot yang dia naiki terlihat Angkot dari arah kampusnya melaju dengan keadaan kaca depan dan body mobil sudah tak berbentuk.
Briliant segera mengirim SMS dan tidak ada jawaban. Briliant mencoba menelpon, nomornya tidak aktif. Hati Briliant mulai bimbang.
kemana kamu Za? kenapa kaka merasa tak tenang begini. semoga kamu baik-baik saja.
sesampainya di kampus
Briliant menyimpan tas di kelasnya, dan pergi ke perpustakaan untuk meminjam sebuah buku. entah mengapa Briliant merasa dirinya harus ke perpustakaan.
Di ruang perpustakaan
Saat Briliant memilih buku yang akan dia pinjam, seseorang menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"ka Briliant ya? pacarnya Zalin?" tanya yang menghampiri Briliant
"iya" Briliant mengangguk
"aku Kikan, temannya Za. kata temen sekelas Za, Za kecelakaan ka. sekarang Za masih di UGD rumasakit terdekat" Kikan menjelaskan.
"terimakasih" Briliant langsung berlari ke luar perpuatakaan, yang ada dipikirannya sekarang menemui Zalin secepatnya.
Za... semoga kamu baik-baik saja. semoga.
Sesampainya di kelas
Briliant menghampiri Raymond untuk meminjam motornya.
"ray, aku pinjem motor. mana kuncinya?" Briliant berdiri di depan Raymond
"mana kemana kawan, kayanya urgent?" Raymond memyerahkan kunci ke tangan Briliant
"makasih Ray, Zalin kecelakaan. aku mau ke sana dulu sekarang!" Briliant memakai jaket di atas kersinya.
"hati-hati kawan!"
Sahabat Briliant tahu akan hubungan Briliant dengan Zalin.
Briliant segera berlari keparkiran dan melajukan motor ke arah Rumah sakit terdekat.
____________________________________________
Sesampainya Briliant di Rumah sakit.
"ka iyan " Zalin menampilkan senyum diwajahnya
Zalin tidak menyangka, Briliant akan datang. Zalin sangat bahagia.
ka iyan ke sini? siapa yang meberitahu ya?
"Za, kenapa?" Mata Briliant berkaca-kaca
"ga kenapa-kenapa ka" Za menenangkan hati pacarnya.
"kata perawatnya gimana?" Briliant ingin memastikan keadaan Zalin, Briliant dulu bersekolah di SMK kesehatan jadi Briliant tahu tentang dunia kesehatan.
"fraktur fraktur gitu katanya" Zalin memandang Briliant melihat reaksi Briliant.
"aaah" Briliant mulai menagis dan air matanya langsung dia hapus.
"memang apa fraktur itu?" Zalin mengkerutkan dahi melihat Briliant menangis setelah Zalin mengatakan kata fraktur
"patah tulang" Briliant berkata dengan lemas melihat sedih ke arah Zalin.
Zalin seketika langsung murung.
sudah kuduga. ya Allah.... kenapa harus aku?
"Za, kaka kuliah dulu ya. ada Kuis, nanti kaka ke sini lagi ya sepulang kuliah" Briliant mengusap kepala Zalin dengan sayang.
"iya ka" Zalin berusaha tersenyum
Briliantpun berangkat lagi ke kampusnya dengan berat hati.
____________________________________________
Sesampainya ibu, ayah dan paman Zalin di rumah sakit
"Za.... "ibu menangis melihat keadaan anaknya, ibu memeluk ayah.
"Za, engga kenapa-kenapa bu" Zalin mencoba tersenyum
"yang kuat ya.. ibu ada di sini" ibu menghampiri Za dan ibu menangis
Zalin bisa menahan tangis dihadapan semua orang tapi dia tak tahan jika melihat ibunya menangis, Zalin ikut menangis memeluk ibunya.
Hati Za merasa hancur ketika Ibunya terlihat begitu terpukul mengetahui keadaan anaknya.
Diandra sedang study tour ke luar kota. Jadi dia tidak datang ke rumah sakit.
__________________________________________
Sore menjelang magrib
Briliant sudah ada di Rumah sakit berkumpul dengan ayah, ibu dan paman Zalin.
Zalin di giring ke ruang rontgen dan setelah dilihat hasilnya Zalin di suruh puasa. Berarti Zalin akan melakukan tindakan operasi.
Satu persatu keluarga datang menjenguk ke rumah sakit.
Karena hampir semua keluarga tidak setuju, maka Zalin dibawa pulang ke rumah dan memilih pengobatan secara alternatif.
Ada beberapa alasan keluarga tidak menyetujui dilakukannya operasi pada kaki Zalin.
Ibu Zalin membayar administrasi agar diberi ijin pulang.
Saat Zalin akan di bawa pulang.
"bu.. ka iyan ikut ya?" Zalin memandang ibunya dengan wajah lemas. karena Selang infus sudah dicabut.
"iya boleh" Ibu tersenyum dengan lembut sambil mengusap kepala Zalin dengan sayang.
Kaki Zalin di sanggah oleh 3 papan yang begitu panjang, menyulitkan gerak Zalin.
Paman yang melajukan mobilnya, karena pengobatan alternatif sudah tutup karena jam sudah menunjukan jam 12 malam. Maka, Zalin dibawa dulu ke rumah.
Di sepanjang perjalanan Zalin merasakan sakit yang teramat sangat, sampai beberapa kali dia merasa ingin pingsan.
____________________________________________
Sesampainya di Rumah
Zalin mulai merasakan sakit di kakinya yang patah.
Saat papan yang menyanggah kaki Zalin dibuka.
wah.. besar sekali kakiku. ukurannya jadi jumbo.
"darahnya tersumbat, harus dikeluarkan" Paman Zalin yang bisa dalam hal mengurut memberitahu.
Ibu menyiapkan tempat dan kain untuk menampung darah Zalin.
Paman Zalin mulai mengeluarkan darah dari kaki Zalin, Zalin lebih memilih melihat Briliant.
Briliant duduk di ujung ruangan, agak dekat dekan ruangan yang gelap.
Ka Briliant menangisiku (lagi)?
Ibu melihat ke arah Briliant.
"Iyan, kalau kamu ga kuat. ke kamar saja ya?" Ibu menujukan kamar tamu kepada Briliant.
Briliant mengangguk dan meninggalkan ruang tamu, tempat Zalin sementara.
***