
"Lebih baik kita duduk di sana," Diandra menunjuk sebuah tempat yang di sana bisa duduk berselonjor.
Zalin mengangguk dan berjalan diikuti oleh Diandra.
Saat Zalin sedang duduk berselonjor dengan adiknya, ada seorang lelaki menghampiri mereka berdua.
"Zalina," ucap lelaki itu.
Zalin dan Diandra langsung menoleh dan melihat siapa yang memanggil nama Zalin.
"Dika," Zalin tersenyum.
"Dika, tungguin aku dong!" ucap Delia ikut menghampiri Zalin.
Andika dan Delia pun duduk bersama Zalin dan Diandra. Mereka tidak menyangka akan bertemu di sana. Awalnya Delia hanya ingin membeli jajanan dipinggir jalan, tapi tidak sengaja Andika melihat Zalin sedang duduk dengan adiknya.
Diandra yang tidak sengaja melihat teman sekolahnya meninggalkan Zalin yang sedang mengobrol dengan kedua teman KKL nya.
"Ka, Diandra ke teman Diandra dulu ya. Di sana!" Diandra menunjukkan kursi yang tidak jauh dari jangkauan Zalin.
Setelah Diandra pergi, Zalin mengobrol dengan kedua temannya saat KKL.
Setengah jam mereka mengobrol, Andika dan Delia berpamitan.
"Aku balik dulu Za," ucap Dika.
"Aku juga ya," ucap Delia.
"Oh, jadi ceritanya kalian jadian nih. Ternyata ada yang cinlok," Zalin mengangkat satu sudut bibirnya.
"Ah engga ko, aku ga pacaran sama dia," Delia melirik ke arah Andika.
"Iya emang aku bukan pacarku, tapi aku adalah calon suamimu."
"Wah wah wah, tak kusangka ya!" ucap Zalin kaget.
"Za, kita pulang dulu ya, sampai jumpa!" ucap Dika sambil pergi meninggalkan Zalin.
"Tunggu aku!"
"Za, aku pulang ya. Sehat terus utun!" Delia mengusap perut Zalin dan memeluk Zalin kemudian mengikuti Andika ke pinggir jalan.
Zalin tersenyum melihat Delia yang mengejar Andika.
"Aku jadi merindukan ayahmu kaka utun, apa kamu juga merindukannya?" ucap Zalin pelan.
Dan kaka utun menendang memberikan respon dan Zalin tersenyum.
Setelah melihat Andika dan Delia pergi, Diandra segera menghampiri Zalin dan mengajak kakanya pulang, karena hari mulao senja.
Seminggu telah berlalu dari HPL dan kini Briliant sudah pulang dari kota Q.
"Kaka utun, ayah ada di sini. Mulai hari ini ayah sudah bebas. Kaka utun kalo mau lahir lahirlah ya. Jangan malu-malu," bisik Briliant.
"Hm iya ayah bawel... "Ucap Zalin dan Briliant memanyunkan bibirnya.
"Ayo kita tidur dulu ka, besok temenin Za jalan-jalan pagi."
"Siap bumil," Briliant pun merebahkan badannya.
Zalin tidur menghadap Briliant. Briliant melihat Zalin kurang nyaman.
"Yang, ga nyaman ya?"
"Ah engga, cuma kadang bingung nyari posisi tidur. Takut kaka utunnya ga nyaman gitu."
Briliant membantu memposisikan tubuh Zalin.
"Apakah begini enak posisinya?"
"Lumayan."
"Baiklah, bagus! Sekarang tidurlah."
"Oke ayah utun," ucap Zalin.
Setelah itu mereka terlelap dalam tidurnya.
Dua hari kemudian, saat bangun tidur di pagi hari Zalin merasakan kontraksi sebentar tapo setelah itu hilang lagi.
"Mungkin itu kontraksi palsu yang," ucap Briliant.
"Coba kamu telpon bu bidan. Ada kan nomormya?" tanya Briliant.
Zalin mengangguk dan langsung mencari no kontak bidan yang selalu memeriksa kandungannya.
Saat Zalin menelpon, tidak ada jawaban.
"Ga diangkat."
Bu, saya mengalami kontraksi. Apa ini tanda akan melahirkan? ~Zalina
Sepuluh menit kemudian bidan membalas pesan dari Zalin.
Mbak, HPL nya kapan ya? Ma'af saya lupa ~Bidan Yoana
Zalin segera membalas lagi pesan bidan itu, karena sejak tadi ponselnya dia pegang.
Kalo menurut perhitungN ibu 3 minggu lagi HPL nya, tapi saat bulan lalu di USG kata dokter HPL nya itu 8 hari yang lalu. ~ Zalina.
Beberapa menit kemudian bidan langsung membalas kembali.
Waduh, ko beda jauh ya! Mbak Zalin ke bidan yang dekat desa dulu ya. Nanti diperiksa apa sudah ada pembukaan apa belum, saya sekarang lagi di luar kota. segera ya ke bidan, jangan dinanti-nanti. Kalau sudah diperiksa langsung kasih tau saya.~Bidan Yoana
Setelah membaca pesan itu, Zalin langsung memperlihatkannya pada Briliant.
"Oke, sekarang kita ke rumah bidan itu. kamu siap-siap ya!"
Zalin langsung bersiap-siap dan memberitahukan keadaannya pada ibunya.
"Ya sudah ke sana dulu periksa, hati-hati ya. Iyan jangan ngebut."
"Iya bu," Briliant mengangguk.
Setelah berpamitan pada ibunya, Briliant dan Zalin langsung berangkat ke rumah bidan.
Tidak lama kemudian motor Briliant sudah masuk ke dalam pekarangan rumah bidan.
"Ka, Za takut."
"Ga usah takut, kaka ada di sini."
Zalin dan Briliant masuk ke dalam ruang tunggu. Karena tidak ada pasien selain Zalin, Zalin langsung masuk ke ruang pemeriksaan.
"Ma'af pak, bapa tidak boleh ikut masuk," ucao bidan pada Briliant.
Briliant melihat ke arah Zalin yang sudah berbaring di tempat pemeriksaan.
Zalin mengangguk dan tersenyum, tanda dia tidak akan apa-apa.
Briliant meninggalkan ruang prmeriksaan dan menunggu dimeja bidan.
Setelah beberapa saat, Zalin telah selesai di periksa oleh bidan. Zalin turun dari tempat pemeriksaan dan duduk di samping Brilint suaminya.
"Belum ada pembukaan, sekarang boleh pulanh dulu. Nanti kalo terasa ada kontraksi secara terus-menerus, langsung ke sini ya," ucap bidan.
Briliant dan Zalin pun kembali ke rumah.
Zalin melakukan aktifitas seperti biasa, melakukan pekerjaan rumah karena dirinya belum merasakan kontraksi.
Sampai pada petang saat melaksakan sholat magrib, Zalim merasakan sakit yang begitu hebat diperutnya.
Zalin yang masih memakai mukena meringis kesakitan, sedangkan Briliant yang sedang duduk di tepi kasur melihat istrinya meringis langsung mendekati Zalin.
"Za, kenapa?" tanya Briliant.
"Sak...it," ucap Zalin pelan.
Briliant yang melihat raut wajah istrinya yang begitu kesakitan langsung berlari untuk menemui ibu mertuanya.
"Bu... bu..." teriak Briliant yang sudah tidak sabar untul menemui ibu mertuanya.
Ibu Zalin yang sedang mengaji dikamarnya langsung berlari ke luar kamar karena mendengar teriakan menantunya, Briliant.
"Kenapa Yan?" tanya ibu Zalin panik.
"Za.. Zalin bu.., sepertinya Za akan melahirlan, katanya perutnya sakit," ucap Briliant.
Setelah mendengar penuturan Briliant, ibu Zalin langsung masuk ke dalam kamar Zalin Dan menghampiri anaknya yang masih ada di atas sejadah lengkap dengan mukenanya.
"Za, sebelah mana yang sakit?" tanya ibu Zalin.
"Perut, sakit banget bu..." Zalin mulai menitikan air mata karena dia merasa sangat kesakitan.
"Yan, sepertinya Zalin akan melahirkan. Cepat bilang pada ayah siapkan mobil, kita harus ke bidan secepatnya."
Briliant langsung menyampaikan pesan dari ibu mertuanua pada ayah mertua.
Tidak lama kemudian mobil sudah ada di halaman rumah dan Zalin berjalan di dampingi oleh ibu dan suaminya, Briliant.
Zalin berjalan perlahan sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit dia merasakan panas dipunggungnya dan itu sangat membuat dia lemah.
"Za, kamu tahan ya sayang. Kamu jangan pingsan," ucap ibu Zalin pelan.
Zalin mengangguk pelan dan langsung memasuki mobil.
***