
Richard membawa kopernya ke hotel, setelah bertemu ayahnya. Richard langsung masuk ke kamar hotel yang sudah di reservasi oleh ayahnya. Keluarga Richard hanya akan menginap satu malam di sana.
Richard memasuki kamar dan lansung menutup pintunya. Richard memebersihkan diri dahulu di kamar mandi sebelum akhirnya dia keluar dan memakai baju gantinya yang dia ambil dari koper.
Richard memakai baju kaos polos putih dan memakai kemeja tanpa dia kancingkan. Celana yang dia pakai adalah celana pendek. Menambah aura ke tampanannya.
Setelah selesai berganti baju, Richard kembali ke luar untuk melihat kertiga saudaranya.
Richard berjalan-jalan di tepi pantai, dia melihat Naima dan Nakia sedang bermain pasir. Sedangkan Fatma sedang sibuk dengan acara pemotretan dadakannya dengan El.
Saat Richard memperhatikan Fatma dan El, pandangan Richard dan El bertemu. El melambaikan tangannya ke arah calon kaka iparnya dan dibalas lambaian tangan Richard.
Dia merasa bosan ada di sana, dia kurang suka pantai sebenarnya. Tapi,dia tidak ingin mengecewakan keluarganya apalagi adik bungsunya Nakia. Jadi dia menyanggupi untuk ikut berlibur di sana selama dua hari. Dua minggu lagi setelah pernikahan Fatma, Richard harus kembali ke luar negeri.
Richard berjalan menyusuri pantai, sampai akhirnya dia melihat pemandangan romantis yang telah dilakukan oleh dua sejoli yang selama ini dia hindari.
Richard melihat Briliant sedang tiduran di paha Zalin, mereka sangat mesra. Richard sesekali memegang pipi Zalin. Perasaan Richard tak menentu, entah kenapa. Dengan segera Richard berbalik arah dan kembali berjalan menjauhi Zalin dan Briliant, dia tidak mau mereka sampai melihat kehadirannya di sana.
Tidak lama kemudian setelah Richard pergi dari sana, Rayyan menghampiri Zalin dan Briliant.
"Ih ayah ga boleh tidur di kaki ibu," ucap Rayyan cemburu.
Buru-buru Briliant mendudukan tubuhnya, karena dia tahu jika Rayyan sudah cemburu. Dia suka menangis dan cemberut padanya lama.
"Ibu..." rengek Rayyan.
"Kenapa sayang?" tanya Zalina sambil memeluk Rayyan dan mengelus rambutnya yang merah.
Rayyan memang memiki rambut berwarna merah, mata berwarna coklat, kulit putih dan hidung mancung. Wajahnya cute, mirip sekali dengan ayahnya, Briliant Anggara.
"Rayyan ngantuk bu,...." ucap Rayyan merajuk.
Briliant mendekati telinga Zalin dan berbisik.
"Ayo, kita ke kamar kita tidurkan Rayyan. Setelah itu, kita bisa bebas melakukan apapun setelahnya," bisik Briliant lembut.
Zalin merinding dibuatnya. Belum sempat Zalin menanggapi ucapan suaminya, Rayyan lebih dulu menjewer telinga ayahnya.
"Jangan gitu ayah!" Rayyan melototkan matanya pada Briliant.
"Aduh! Sakit Rayyan sayang," Briliant mengelitiki perut Rayyan.
Rayyan tertawa dibuatnya karena merasa geli. Zalin menggeleng-gelengkan kepalanya. Selalu saja mereka seperti itu, tidak mengenal tempat dan waktu.
Setelah puas bercanda, Briliant segera mengajak Zalin dan Rayyan untuk masuk ke penginapan yang tidak jauh dari sana. Diandra dan Bianca ikut masuk dan memesan kamar yang berbeda. Mereka hanya akan menginap satu malam, karena lusa Briliant ada seminar di luar kota.
Bianca dan Diandra memasuki kamar mereka dan segera membersihkan diri karena sudah bermain pasir bersama keponakan mereka.
Sedangkan Zalina dan Briliant setelah memasuki kamar, mereka langsung berusaha menidurkan anak mereka. Setelah sebelumnya mereka mandi dahulu, Rayyan tidak akan bisa tidur jika badannya kotor dan berkeringat.
Kini mereka bertiga sudah tidur di sebuah ranjang berukuran king Size. Sesuai pesanan Briliant. Zalina tidur diantara Rayyan dan Briliant. Bukan tanpa Alasan, semenjak Rayyan berusia dua tahun, dia tidak mau tidur dekat dengan ayahnya karena Briliant suka menjahilinya. Itu menyebalkan menurut Rayyan. Ditambah lagi Rayyan itu tidak suka diselimut, sedangkan ayah dan ibunya selalu ingin memakai selimut.
"Ibu, gatal..." ucap Rayyan.
"Yes! Sebentar kagi dia akan tidur!" ucap Briliant senang.
Rayyan mulai memejamkan matanya dan menggaruk tangannya.
"Ini bedaknya.." Briliant langsung menyodorkan bedak yang ada di ranselnya kepada Zalin.
Zalin segera memberikan bedak pada area yang digaruk oleh anaknya. Beberapa kali Rayyan mengubah posisi tidurnya, sampai akhirnya dia tertidur dengan posisi menyamping dan memeluk Zalin dengan erat.
Briliant melihat ke arah Rayyan yang sudah terlelap dan ke arah istrinya. Zalin pura-pura memenjamkan matanya. Perlahan tangan Rayyan di jauhkan dari tubuh Zalin oleh Briliant.
Briliant tersenyum melihat istrinya pura-pura tertidur. Tak perlu menunggu lama, Briliant langsung menggeliti perut istrinya itu. Refleks Zalin tertawa karena merasa geli.
hahaha
"Geli ka..., hentikan,"
Briliant langsung menutup mulut istrinya dengan telapak tangan kanannya, sedangkan jari telunjuk tangan kirinya dia letakan di bibirnya.
"Syuuut, nanti kedengaran sama Diandra dan Bianca," ucap Briliant dengan salah satu alisnya terangkat.
Zalin menganggukan kepalanya. Briliant langsung memeluk Zalin dengan erat.
"Ayo kita lakukan!" bisik Briliant.
"Ka... di sini panas ka," ucap Zalina lemas.
"Apa yang kamu pikirkan?" Briliant menatap Zalina dengan penuh selidik.
"Ah eng-ga," ucap Zalina tergagap.
"Aaaaaish... kayanya istriku ini pikirannya ngeres!"
Zalin mengkerutkan dahinya dan memanyunkan bibirnya.
"Maksud kaka itu, mari kita lakukan... Tidur Siang!" Briliant nyengir.
"Dasar!" Zalin memukul dada Briliant pelan.
"Mau yaa... sabar ya?" Briliant terkekeh. Zalina langsung memunggungi Briliant dan memeluk Rayyan.
Beberapa saat hening.
"Yaaaa, jangan marah dong. Mari nanti kita lakukan," ucap Briliant sambil memeluk Zalin dan menggesekan dagunya ke punggung Zalin.
Tidak ada jawaban dari Zalin. Briliant yang lenasarn akhirnya melihat wajah istrinya.
"Yah, dia tidur beneran!" Briliant menjatuhkan kembali kepalanya ke bantal miliknya.
Di kamar Diandra dan Bianca
Setelah membersihkan diri Diandra langsung terlelap tidur siang, dia ingin menikmati suasana pantai nanti malam jadi dia tidur siang, katanya biar tidak mengantuk saat malam hari.
Lain halnya dengan Bianca, setelah membersihkan diri Bianca asik berseluncur di media sosial miliknya. Dia membuka akun media sosial mantan pacarnya, dia sangat penasaran seperti apa sih wanita yang dijodohkan dengan Keenan. Bianca sangat kecewa saat tau Keenan membohonginya, tapi tidak dapat dipungkiri saat ini Bianca sudah sangat mencintai Keenan. Sulit sekali untuk Bianca melupakan dan menerima bahwa Keenan akan segera menikah dengan wanita yang telah dipilihkan ibunya.
Saat Bianca fokus melihat-lihat akun media sosial Keenan, terdengar suara sepupunya dari kamar sebelah.
"Geli ka..., hentikan,"
Setelah itu Bianca tidak mendengar suara lagi. Bianca meletakan ponsel dekat meja ranjangnya. Bianca berusaha menutup matanya.
Di tempat lain
Richard sedang menikmati kelapa muda di hadapannya. Naima dan Nakia duduk di sebelah Richard sambil ber wefie ria. Sedangkan tidak jauh dari mereka duduk sepasang calon pengantin, Fatma dan El Zaidan yang sedang berdiskusi tentang hasil pemotretan yang telah mereka lakukan dengan seorang fotografer.
Richard memegang ponsel yang dia letakan di atas meja.
Nakia yang punya sifat segala ingin tahu, melihat Richard melamun.
"Diandra?!" ucap Nakia dengan keras.
Richard yang kaget nama nona galaknya di sebut langsung melihat ke arah kanan dan kirinya. Tapi yang dia dapat hanya wajah Nakia dengan tampang wajah senyum yang dibuat-buat.
"Kia, tadi kamu bilang apa?" tanya Richard penasaran, takut apa yang dia dengar hanya halusinasinya saja.
"Diandra, Di-an-dra..." ucap Nakia dengan senyuman manisnya.
Richard mengekrutkan keningnya.
***
Like 👍 dan komentarnya jangan lupa sayang 😘 ga bayar ko, tinggal tap tap tap dengan jempol kalian. Biar uni makin semangat 😅