
Di, kenapa badan loe terlihat gede kalo dalam posisi gini?" putri memelas.
"Sabarlah!" ucap Rara menenangkan.
Tidak lama setelah itu, Diandra maju dan mulai naik motornya, saat Diandra naik motor terlihat jelas wajah lelaki yang sekarang menjadi gebetan Diandra.
" KA FATHAN???" salah seorang sahabat Diandra mengenali wajah gebetan Diandra.
"Wah, loe kenal Gebetan Diandra?" tanya Putri sambil menatapa pada Celine. Rara ikutan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya, dia itu kaka kelasku dulu saat SD."
"Oooh" Putri dan Rara ber oh ria dan mata mereka kembali ke arah motor Fathan.
"Yaaaaa, mereka udah pergi" keluh Putri.
"Biarlah, yang peting kita sudah tau kan gebetan Diandra. lumayan juga!" Rara terkekeh.
Celine tersenyum dan melihat kedua sahabatnya sedang cekikikan.
Ketiga sahabat Diandra itupun meninggalkan area sekolah dan berjalan menuju gerbang untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Di kontrakan KKL, Zalin sedang duduk santai dengan teman-temannya. Mereka sedang berkumpul dan sedang menikmati hidangan gorengan bakwan dan gehu pedas hasil Zalina.
"Ga heran deh kalo loe dah nikah! loe pinter masak Za!" puji Willy.
Zalin tersenyum dan mengeluarkan hp dari sakunya, Zalin berniat menghubungi Briliant. Tapi setelah beberapa kali di hubungi nomornya selalu tidak aktif.
Kemana ka Iyan ini? apa ka Iyan tidur ya?, pikit Zalin.
Di lain tempat, Briliant menggeliat di atas ranjang. Dia mencari keberaadaan istrinya.
"Ya ampun, Za kan masih di kontrakan. jam berapa ini?" Briliant mendudukan tubuhnya dan perlahann membuka matanya.
Mata Briliant langsung tertuju pada jam dinding yang ada di atas jendrela. Setelah melihat jam dinding, matanya membelalak.
"Jam setengah 5!"
Briliant turun dari ranjang dan mencari keberadaan hp nya, Briliant berjalan ke dekat meja belajar dan mencabut hp dari chargernya. Briliant mengaktifkan hp nya, setelah dia melihat hp nya menyala. Briliant masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Briliant melaksanakan sholat ashar.
"Lebih baik aku langsung ke kontrakan saja, Zalin sudah beberapa kali menelpon. apa dia sudah makan?" gumam Briliant.
Diandra di antar pulang oleh Fathan. Motor Fathan sudah mulai masuk ke kompleks perumahan. Fathan membawa motornya dengan pelan.
"De, rumah kamu yang mana ya?" tanya Fathan.
"Masih lumayan jauh ka, nanti Diadra kasih tau kalau sudah dekat. Lurus saja."
"Oke!"
Fathan mengerdarai sepeda motornya, beberap kali Fathan melewati polisi tidur. Setelah beberapa menit berjalan. Diandra memberi tahu pada Fathan bahwa rumahnya sudah dekat.
"Ka, sebentar lagi sampai. Rumah Diandra yang cat pagar rumahnya warna hitam, car rumahnya abu-abu," ucap Diandra.
Fathan menatap rumah yang di sebutkan oleh Diandra.
Bukannya itu rumaha Zalin?, pikir Fathan.
Fathan mengerem motornya tepat di depan gerbang.
"Jadi ini rumah kamu de?" tanya Fathan.
Diandra membuka gerbang pagar rumahnya cukup lebar agar Fathan bisa memasukan motornya ke halaman rumah.
"Iya ka."
Fathan memasukan motornya ke halaman rumah Diandra.
Waduh, ini kan rumah Zalin, pikir Fathan.
"De, ini rumah kamu?"
"Bukan."
Aku kira dia tinggal di sini.
Saat Fathan memasukan motornya ke dalam halaman, Briliant keluar dari rumah untuk menjemput Zalin. Briliant berjalan dengan membawa helm di tangan kanannya. Jaket merah melekat di tubuhnya.
"Ka Iyan, ka Za belum pulang?" tanya Diandra saat Briliant sudah ada diambang pintu.
Briliant yang mendengar suara adik iparnya langsung mengangkat wajahnya.
"Belum, ini baru mau di jemput."
"Oh," ucap Diandra.
"Ka, ayo masuk," ajak Diandra pada Fathan.
Saat Fathan mendengar suara Diandra, Fathan langsung melihat ke arah Diandra. Mata Fathan kini bertemu dengan mata Briliant.
Itu kan Fathan? Apa lelaki yang sedang dekat dengan Diandra adalah Fathan?, pikir Briliant.
"Ka iyan suami Zalin ya?" tanya Fathan tidak ragu lagi.
"Iya."
"Aku Fathan temen KKL nya Zalina," Fathan mengulurkan tangannya dan uluran tangan Fathan disambut Briliant.
"Oh iya, kamu kenapa ke sini bukannya di kontrakan?" tanya Briliant sambil mengakhiri jabatan tangan dengan Fathan.
"Aku jemput Diandra dulu ka," jawab Fathan sedikit malu.
"Oh begitu."
"Ka, kalo boleh tau, Diandra siapanya Zalin ya?" tanya Fathan sedikit pelan.
"Adiknya."
"Adiknya Zalin?" Fathan tersenyum.
"Iya!" jawab Briliant.
Fathan mengangguk masih dengan senyuman di bibirnya.
"Eh kamu, kemana-mana nanti bareng sama Zalin ya, maksudnya jika ada kegiatan diluar saat KKL kamu yabg harus bonceng Zalin. mengerti?".
Fathan mengangguk cepat.
"Baiklah, aku akan menjemput Zalin dulu karena hari sudah semakin sore."
Fathan melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah dan Briliant segera mengeluarkan motornya dan melanju ke arah rumah kontrakan KKL Zalin.
Kini Fathan sudah masuk ke dalam ruang tamu. Baru saja Fathan duduk, sudah muncul Diandra dengan nampan yang berisi gelas dan camilan.
"Ka, ko lama?" tanya Diandra pada Fathan.
"Oh iya, tadi aku ketemu ka Iyan jadi ngobrol dulu."
"Kamu kenal Ka Iyan?" tanya Diandra mengkerutkan dahinya.
"Iya," Fathan menganggukan kepalanya.
Ah gak heran ka Fathan kenal Ka Iyan, ka Fathan kan satu kampus dengan ka Iyan , pikir Diandra.
Diandra tidak banyak bertanya lagi. Dia langsung memberikan air minum pada Fathan dan camilan di atas meja. Tidak lama setelah itu, ibu Diandra datang dari arah dapur dan menyapa Fathan.
Fathan yang duduk langsung tersenyum menatap kedatangan ibu Diandra. Saat ibu Diandra sudah dekat fathan berdiri dan menjabat tangan ibu Diandra.
"Ko ibu merasa kamu pernah ke sini ya?" tanya Ibu pada Fathan sambil mendudukN tubuhya di samping anaknya, Diandra.
Pernah ke sini? kapan? apa jangan-jangan ka Fathan mantan pacar ka Zalina?, pikir Diandra.
Tidak lama kemudian, motor Briliant memasuki halaman rumah. Zalin yang sudah lelah, tidak menyadari bahwa motor Fathan ada di halaman rumahnya.
"Ka Iyan, cepatnya. Za ingin segera masuk kamar," rengek Zalin pada suaminya yang sedang memarkirkan motornya.
"Tunggu dulu, ya ampun kamu ko ga sabaran sekali."
"Ka iyan yang lama!" Zalin mulai cemberut.
Ya ampun Zalin ini setelah hamil jadi manja dan sangat sensitif, dia paling tidak mau menunggu walau hanya sebentar, pikir Briliant .
Zalin merasa ingin segera masuk ke dalam kamarnya, dia sangat pusing dan tubuhnya merasa sangat lelah. Jika di hadapan teman KKL nya dia bersikap dewasa dan tidak memperlihatkan sisi manjanya. Hanya di hadapan suaminya Zalin memperlihatkan sisi manjanya.
Briliant menatap istrinya dengan seksama.
"Cape ya yang?" tanya Briliant sambil mengusap kepala istrinya.
"Iya, ayo kita segera masuk." Zalin menarik tangan Briliant dengan cepat.
Saat Zalin akan masuk ke dalam rumah, dia memperhatikan ada tamu.
"Ada siapa ka?" bisik Zalin pada suaminya, Zalin menghentikan langkahnya untuk masuk karena terdengar ada suara orang lain yang sedang mengobrol dengan ibunya.
"Temen Diandra, nganterin Diandra pulang."
"Oh," Zalin melanjutkan langkahnya.
"Assalamualaikum," ucap Zalin sopan.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang di ruang tamu.
Saat Zalin memasuki ruang tamu, dia langsung menatap ke arah teman Diandra.
"Fathan?" Zalin membelalakan matanya.
"Hehe," Fathan tersenyum melihat tatapan mata Zalin yang sangat menyeramkan baginya.
"Ya sudah, lanjutkan saja ngobrolnya. Aku mau masuk kamar, cape." Zalin memeluk ibunya dan berlalu ke kamarnya di ikuti oleh Briliant dibelakangnya.
***
Jangan lupa Tap tanda 👍 nya ya, di semua bab nya kakak kakak.