My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
46



Keesokan harinya, Briliant dan Zalin pamit untuk pergi ke rumah keluarga Briliant yang terletak di daerah XXX pada mamanya. Kebetulan Jeanika sedang main ke rumah temannya, jadi dia tidak ada di rumah.


Briliant dan Zalinpun berangkat. Saat itu sore hari, langit terlihat mendung dan seperti akan turun hujan. Sebenarnya mama Briliant meminta agar Briliant dan Zalin menunda keberangkatannya. Tapi karena Briliant teguh pendiriannya, Briliant tetap pergi bersama Zalin. Mama Briliant yang sudah tahu watak anaknya tidak mau memaksa karena akan percuma.


Saat dalam perjalanan, Zalin memeluk tubuh Briliant "Ka, apa rumahnya jauh?". "Engga Yang, kalo tidak macet 30 menit juga sampai" Zalinpun mengangguk.


Aku baru tau ka Iyan itu teguh banget pendiriannya. Aku merasa ka Iyan tidak betah lama-lama di sana. Apa rumahnya dekat dengan mantannya? Ah syukurlah kalau begitu! Zalin tersenyum


Hujan turun, "Ka hujan... menepi dulu!" Zalin menepuk bahu Briliant. Briliant pun menepikan motornya dekat kedai bakso. Zalin segera turun dan berlindung di tempat yang teduh diikuti oleh Briliant. Zalin melirik ke arah kedai bakso dan Briliant memperhatikannya.


Ah pas banget berhenti di dekat kedai bakso. Pasti istriku ini mau nih, tapi dia ga brani minta. Secara makanan favoritnya, tiap main atau jalan-jalan selalu harus beli bakso. Tapi, setelah nikah Zalin ko ga banyak maunya ya?Em mungkin dia mengerti posisiku yang belum bekerja. Briliant menunduk.


"Yang, apa kamu lapar?" Bisik Briliant pada Zalin. Zalin melirik Briliant dan tersenyum "Hanya sedikit".


Sudah kuduga. Briliant tersenyum


"Kalau kaka lapar, kaka mau beli bakso. Za mau gak?" Mata Zalin berbinar. "Mau mau" Zalin tersenyum dan mengangguk nganggukan kepalanya. "Ayo!" Briliant menggandeng tangan Zalin untuk masuk ke dalam kedai.


Briliant memesan baksonya sementara Zalin sudah duduk di kursi. Tidak lama kemudian, Brliant duduk di samping Zalin.


"Kita tunggu hujannya reda, atau agak kecil ya baru kita berangkat" Briliant meneguk air teh hangat yang pelayan letakan di atas meja. Zalin mengangguk setuju.


Beberapa menit kemudian, dua mangkok bakso mendarat didepan mata mereka. Briliant sibuk membumbui baksonya dengan kecap, saus, sambal, perasan jeruk. Sementara Zalin sibuk memotret baksonya.


Ampun deh Za! Briliant menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayo, cepat makan baksonya!" Briliant melirik ke arah Zalin. "Sebentar, posting dulu" Zalin mengirim foto tersebut di BBM. "Beres" Zalin menyimpan hp nya di dekat mangkuk bakso. Zalin memberi sambal pada baksonya tanpa kecap dan saus.


Saat Zalin akan mengaduk baksonya.


Tr**ing...


Suara notifikasi BBM terdengar.


Zalin membuka pesan BBMnya


Cieee.. penngantin baru. Bagi dong baksonya! ~ Helen


Zalin tersenyum dan membalas pesan dari Helen


Ke sini. Aku lagi di kota Q .. hehe ~Zalina


Setelah membalas pesan Helen, Zalin mulai menyendok baksonya. Saat akan memakannya.


Tring..


Suara notifikasi BBM terdengar.


Zalin hendak mengambil Hp nya tapi kalah cepat oleh Briliant yang telah lebih dahulu mengambil Hp nya.


"Zalina Salim! Makan dulu!" Briliant melototkam matanya karena kesal.


Zalin langsung menundukan wajahnya dan langsung memakan bakso yang belum dia makan sedikitpun.


Ih ka Iyan galak banget sih. Bentak-bentak segala. Aku yang asalnya mau makan enak, jadinya ga enak begini. Zalin merasa sakit hati


Setelah Zalin selesai makan baksonya, Briliant menyerahkan hp Zalin kembali. "Ini" Briliant menggeser hp Zalin di meja, lalu pergi ke kasir untuk membayar baksonya. Tidak lama kemudian, Briliant kembali menghampiri Zalin.


Briliant mengusap bahu Zalin "Ayo, kita berangkat lagi. Hujannya sudah reda" Briliant berjalan keluar kedai diikuti oleh Zalin.


Rasanya aku sakit hati dibentak oleh ka Iyan. Aku ingin nangis. Ka iyan dingin. Hanya karena hal sepele ka Iyan membentakku. Zalin cemberut.


Briliant telah memakai helm dan mengambil helm milik Zalin, saat Briliant akan memakaikan helm pada Zalin, Briliant melihat istrinya cemberut.


"Ini pakai sendiri!" Briliant menyerahkan helm pada Zalin. Zalinpun menerimanya dan langsung memakai helmnya.


"Ayo cepat naik!" Zalinpun menurut.


Briliant melajukan motornya. Saat di atas motor Zalin tidak memeluk Briliant seperti sebelum-sebelumnya.


Aku ingin segera sampai. Aku ingin segera rebahan. Rasanya ingin sekali menangis.


Hari sudah hampir magrib, langit sudah sangat gelap.


Briliant turun dari motornya. "Rumahnya ada di bawah, harus menuruni tangga" Zalin melihat ada 2 rumah di bawah tangga.


Setelah di rasa motornya aman, Briliant mengajak Zalin menuruni tangga.


"Ayo, turun hati-hati. Sudah hujan, tangganya suka agak licin" Zalin tidak menanggapi Briliant. Hati Zalin masih merasa kesal.


5 Menit kemudian, Briliant dan Zalin telah sampai di depan pintu rumah. Briliant segera membuka pintu rumahnya.


Rumah ini sederhana, catnya berwarna putih. Semoga aku betah di sini. Harap Zalin.


Zalinpun masuk ke dalam rumah mengikuti Briliant. Zalin melihat sekeliling.


Alat rumah tangganya lengkap banget, oh jadi ini rumah yang selalu ka Iyan bilang. Hanya sedikit berantakan karena jarang di tempati.


Zalin melihat ke arah kamar tidur. "Ka, Za mau ke kamar ya?" Brilian mengangguk.


Zalin berjalan menuju kamar tidur, saat di dalam kamar "Spreinya sepertinya kotor. aku akan ganti saja" Zalin membuka lemari baju di kamar itu berharap ada Sprei di sana.


Zalin membuka lemari pakaian "Lemarinya penuh banget! Rapi". Setekah beberapa menit mencari, Zalin menemukan sprei "Akhirnya ada!" Zalin lalu mengganti sprei yang terpasang dengan sprei yang baru.


Zalin menyimpan Sprei kotor di pojok ruangan "Simpan di sini dulu saja!" Zalin berjalam ke arah ranjang dan merebahkan badannya di atas kasur.


Ka iyan nyebelin!


Zalin meringkukkan tubuhnya diatas kasur karena merasa hawa terasa sangat dingin. Briliant masuk ke dalam kamar dwngan membawa selimut ditangannya dan ia melihat Zalin meringkuk tanpa selimut.


Sepertinya Zalin ngambek.


Briliant merebahkan tubuhnya di samping Zalin. Zalin berpura-pura tidur. Briliant menyelimuti tubuhnya dan tubuh Zalin dengan selimut yang cukup tebal.


Briliant memeluk Zalin, "Yang..." Zalin tidak menyaut.


Sepertinya dia masih ngambek.


Briliant mencium leher Zalin, "Ih geli! ada apa ka? mau apa?" Zalin mulai bersuara.


Akhirnya dia bersuara juga.


*Adzan magrib berkumandang


"Udah adzan, ayo wudhu.. kita sholat berjama'ah!" Perintah Briliant. Zalin mendudukan badannya dan mulai turun dari ranjang "Cari aja ya kamar mandinya, rumah ini tidak besar" Zalin berjalan meninggalkan Briliant


5 menit kemudian Zalin kembali dan segera memakai alat sholatnya, Briliant segera ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai wudhu, Briliant menghampiri Zalin dan mereka sholat berjama'ah bersama.


Zalin dan Briliant telah selesai menunaikan ibadah sholat magrib. Briliant segera naik ke atas ranjang sedangkan Zalin merapihkan alat sholat terlebih dahulu. Setelah semuanya rapih, Zalin yang merasa lelah berjalan dan naik ke atas ranjang tanpa mengatakan apapun.


Zalin meringkuk di bawah selimut membelakangi Briliant.


"Yang, marah ya sama kaka?" Briliant kembali memeluk tubuh Zalin. "Hmm" Zalin menyauti.


"Itu salah Za sendiri membuat kaka marah!"


Maksudnya?


Zalin membalikan tubuhnya, sekarang Zalin dan Briliant berhadapan.


Briliant mengusap kepala Zalin "Jangan main hp kalau lagi makan. Kaka ga suka!" Zalin mengangguk.


"Jangan ulangi lagi!" pinta Briliant, "Iya kaka bawel" Zalin tersenyum.


"Bagus! Anak pintar!" Briliant mecium kening Zalin dan merambat kemana-mana. Zalin sejenak menjauhkan tubuhnya dari Briliant.


"Sini, kaka akan memberikan nafkah" Briliant tersenyum pada Zalin


"Pandai sekali merayunya!" Zalin membuang mukanya


***