
Jam menunjukkan pukul 22.00, Zalin terbangun dari tidurnya.
Krucuk krucuk
Suara dari perut Zalin terdengar,
"Aduh.. Aku laper" Zalin memegangi perutnya dan memandang Briliant.
Ah aku bangunkan saja ka Iyan, aku laper banget ini. Aku gatau harus masak apa.
Zalin mengusap wajah Briliant "Ka, bangun.. Za laper". "Hm..." Briliant menyauti Zalin tetapi tidak terbangun. Zalin merasa kesal "KAKA! Ka iyan Bangun! Za ingin makan" Zalin berteriak. Briliant langsung mendudukan tubuhnya "Ya ampun Za, berisik!". Zalin bersembunyi di balik selimut. "Za, laper ka. Buatkan makanan ya buat Za" Zalin bersuara masih di bawah selimut.
Briliant beranjak berdiri dan memakai bajunya yang terlempar jauh dari kasur. "Jauh juga nih baju!". Zalin mengintip Briliant dari balik selimut.
Briliant melirik ke arah Zalin dan Zalin kembali sembunyi dibawah selimut.
"Za, kamu yang masak ya?" Zalin mengintip dibawah selimut "Ka iyan aja ya, Za cape banget" Zalin memanyunkan bibirnya. "Tapi seneng kan?" Briliant tersenyum pada Zalin dengan alisnya diangkat beberapa kali. Zalin langsung menyembunyikan seluruh badannya di bawah selimut.
Malu dia. Briliant tersenyum
"Za, kaka ke dapur dulu. Besok kamu yang masak ya sayang!" Briliant berjalan meninggalkan kamar. "iyaaa!" Zalin teriak dari kamar.
*
Briliant mengambil sayuran kol yang ada di sebuah kantong yang diberikan oleh mamanya. Sebagai bekal Briliant dan Zalin.
"Ah aku masak mie instan saja ditambah sayur dan telur biar gampang" Briliant dengan lihai memasak sendirian.
Briliant mengangguk-nganggukan kepalanya "Lebih nyaman seperti ini, tinggal hanya berdua saja" Briliant tersenyum
15 menit kemudian, Briliant selesai membereskan masaknya dan masuk ke ruang depan dengan membawa dua mangkuk mie di nampan. "Za, makanan sudah siap!" Briliant memanggil Zalin.
Zalin yang sudah memakai pakaiannya dengan lengkap turun menuruni ranjang untung menghampiri suaminya.
Wangi. Ka iyan masak apa ya?
Zalin berjalan ke arah kursi dan dudul di samping Briliant. Zalin melihat mangkuk yang berisi mie instan lengkap dengan sayur dan telur mata sapi di atasnya. "Wah kayanya enak tuh! Alhamduliah punya suami jago masak!" Zalin memeluk Briliant dari samping. "Iya dong, kamu beruntung punya suami seperti kaka!" Briliant membusungkan dadanya "Hm.. Narsis!" Zalin menjauhkan tubuhnya dari Briliant dan langsung menyambar mangkuk mie nya.
Saat Zalin akan menyuapkan mie nya kedalam mulut. "Yang... Baca do'a dulu. Kelaparan banget kayanya?" Zalin melirik Briliant dan mengangguk lalu membaca do'a. Zalin memakan mie nya dengan lahap, Briliantpun menikmati makan malam hasil kreasinya.
Za, kamu harus siap kaka kasih nafkah banyak ya. Briliant tersenyum penuh makna.
Saat Briliant tersenyum, Zalin melirik ke arah Briliant "Ka, kenapa tersenyum kaya begitu? Jadi takut iiiih" Zalin bergidik ngeri.
Briliant langsung melihat ke arah Zalin "Kaka membayangkan kalau di sini nanti ada anak kecil, ah akan rame sepertinya" Briliant tersenyum "Bawel kaya kamu Yang!" Briliant mencubit hidung Zalin. Zalin langsung mengusap hidungnya dan manyun "Sakit ka". "Za, pengen anak kita mirip Ka Iyan, hidungnya mancung dan wajahnya imut" Zalin menggeser mangkuk yang sudah kosong dan tersenyum.
"Za, mau anaknya cewe apa cowo?" Briliant tersenyum, "Apa ajalah kan anak pertama" Zalin nyengir. "Tapi kayanya ayah dan ibu Za, akan seneng kalau anak kita cowo ka" Zalin melirik Briliant. "Memangnya kenapa?" Briliant menumpuk mangkuknya keatas mangkuk bekas Zalin. "Kan, ga punya anak cowo dan dari dulu katanya pengen anak cowo" Zalin melihat ke langit-langit kamar mengingat wajah ayah dan ibunya.
Briliant mengeser duduknya dan menarik kepala Zalin supaya tidur di pahanya.
Briliant mengusap-ngusap rambut Zalin "Yang, mari kita buat anak cowo!" Briliant mengerlingkan matanya pada Zalin. Zalin mengkerutkan dahinya "Memang bisa gitu? Bisa di niatkan jadi cowo atau cewe?" Briliant mengangguk "Ya, ada beberapa metode. Mari kita coba, kita lihat apa metodenya berhasil atau tidak". "Hm..."Zalin menyauti
Ah Ka Iyan, aku lelah. Tapi bagaimana aku menolaknya.
"Ka.."Zalin mendudukan tubuhnya dan mendekati Briliant. "Gendong aku ke kamar" Zalin mengedip-ngedipkan matanya ke arah mata suaminya. Briliant menepok jidatnya "Ya, ampun Za. Kaka ga mampu" Briliant memanyunkan bibirnya sambil menunduk. "Mintalah yang lain saja" Briliant tersenyum pada Zalin.
Hoho.. ini yang kutunggu-tunggu. Zalin tersenyum.
"Kita tidur sekarang yuk!" Briliant mengangguk girang. "Mau cewe apa cowo?" Briliant menatap Zalin. Zalin yang asalnya akan berdiri langsung terduduk kembali. Zalin menunduk.
Aku ingin tidur, ingin istirahat. Perutku terasa mual.
Briliant yang melihat ekspresi istrinya berdiri dari duduknya yang menarik tangan Za, Zalin menurut. Dia mengikuti langkah Briliant ke kamar tidur.
Hm ternyata begini rasanya jadi pengantin baru, tinggal di rumah hanya berdua saja.
Eh ko ka Iyan ga ngapa-ngapain ya?
Briliant ikut merebahkan badannya di samping Zalin. Briliant menutupi tubuh Zalin dan dirinya dengan satu selimut yang sama. Zalin melirik ke arah Briliant. Briliant yang merasa diperhatikan oleh istrinya melihat ke arah Zalin "Kaka ganteng ya?" Zalin yang tertangkap basah sedang melirik ke arah Briliant langsung membuang mukanya.
Ih ka Iyan apa sih!
"Cie malu!" Briliant menujuk ke arah wajah Zalin. Zalin menyembunyikan wajahnya di bawah selimut.
"Mari kita tidur, sayang!" Briliant memeluk tibuh Zalim dari belakang. Zalin tersenyum dan membalikan badannya.
"Jangan menggoda kaka, jika tidak mau kaka serang ya?" Bisik Briliant pada Zalin. Zalin segera mengangguk cepat dan langsung terlelap dalam tidurnya.
Briliant mengusap pipi Zalin dengan lembut.
Semoga kamu betah di sini Za. Walaupun rumah ini sederhana, kaka akan mengusahakan kamu akan nyaman di sini.
Tidak lama kemudian, Briliant tertidur sambil memeluk istrinya Zalin.
_______
Dini hari pukul 02.30, Zalin bangun untuk mandi dan melaksanakan sholat isya.
30 menit kemudian, Zalin telah selesai melaksanakan mandi, shalat isya dan sholat malamnya.
Dingin sekali, padahal aku mandi dengan air hangat. Sepertinya mulai sekarang aku harus menyibukan diri sebelum isya dan segera sholat isya setelah adzan berkumandang. Repot kalo harus bangun jam segini terus.
Zalin menghembuskan nafas dengan kasar.
Briliant terlihat menggeliat dan mengucek kedua matanya, sedangkan Zalin sedang sibuk melipat mukenanya.
Wangi sekali Zalin. Briliant melirik ke arah Zalin
Saat Zalin melirik ke arah Briliant, Briliant pura-pura tidur. Zalin mengdekati Briliant dan mengusap lengan Briliant. "Ka, bangun. Cepatlah mandi lalu sholat isya" Zalin memandang wajah Briliant.
Susah sekali bangunnya!
Zalin memperhatikan wajah Briliant. "Imut sekali suamiku ini" Zalin mencubit hidung Briliant. Tapi Briliant hanya menyingkirkan tangan Zalin dan tetap berpura-pura tidur.
"Saking imutnya kamu, ayahku saja menyangka kamu masih SMA dan aku pacaran sama Brondong" Zalin tertawa kecil mengingat kejadian saat ayahnya menyangka Briliant masih duduk di bangku SMA.
"Padahalkan usiamu diatas aku bukan 1, 2 atau 3 tahun. Usiamu beda 4 tahun dengan Za" Zalin menatap wajah Briliant.
Oh jadi ayah Za pernah menyangka aku anak SMA? Ternyata memang iya wajahku ini baby face. Batin Briliant
"Ka, bangun!" Zalin mengguncangkan tubuh Briliant. Tapi Briliant masih ada diposisi semula.
Ah aku cium saja pipinya. Pikir Zalin
Zalin mendekatkan bibirnya ke pipi Briliant.
Bruuuuuk
Briliant menarik tubuh Zalin.
Kini Setengah badan Zalin menindih tubuh Briliant "Mulai brani ya?" Briliant menyeringai.
"Jangan salahkan kaka, kamu duluan yang memulai" Briliant menarik wajah Zalin.
Aaaaaaaah Tidak! Batin Zalin
***