
Zalin dan Briliant hanya menginap 2 malam.di kota X, setelah itu Zalin dan Briliant kembali ke rumah mereka di kota Q. Saat akan berangkat Diandra memeluk Arsen berharap dia akan tinggal di sana lebih lama. Tapi Arsen tidak mau, katanya jika ibu pulang Arsen juga akan pulang.
"Oke baiklah," Diandra memanyunkan bibirnya masih dengan Arsen dipangkuannya.
"Bican nanti main aja ke rumah Arsen," Arsen nyengir.
Bican adalah panggilan yang dibuat oleh Diandra untuknya sendiri, katanya Bican itu akronim dari Bibi Cantik.
Setelah digendong oleh Diandra, Arsen di ambil oleh neneknya. Ibu Zalin.
"Rayyan di sini saja ya, biar ibu pulang sama ayah. Di sini kan ada nenek," ucap Ibu Zalin sambil menciumi cucunya itu.
"Iya Arsen, biar ibu buat adik lagi buat Arsen," bisik Diandra pada Arsen tapi masih bisa di dengar oleh Zalin dan Briliant apalagi ibunya yang sedang menggendong Arsen.
"Arsen mau kan punya adik?" tanya Diandra sambil tersenyum menatap keponakannya dan menunggu jawaban yang akan dia berikan.
"GA MAU!!" teriak Arsen.
"Yaaaah Arsen, kan Bican ingin keponakan lagi," Diandra membuang mukanya.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya, Zalin tersenyum sedangkan Briliant berusaha menahan senyumnya.
"Ka Zalin jangan dulu hamil, kan dia SC. Kata dokter jarak aman untuk yang melahirkam secara SC itu 5 tahun Di," ucap Ibu menjelaskan.
"Masih lama... hm" ucap Diandra.
Setelah berpamitan dan banyak drama, akhirnya Zalin, Briliant dan Arsen berangkat menuju kota Q.
"Hati-hati..." ucap Ibu dan Diandra kompak.
Arsen melambaikan tangannya, Zalin menganggukan kepalanya.
Motor yang dikendarai Briliant keluar dari gerbang rumah orang tua Zalin.
Di perjalanan
Setelah beberapa meter jauh dari jangkauan rumah Zalin dan jalanan sepi.
"Tuh, Diandra udah pesan keponakan lagi. Mau kapan nih?" ucap Briliant.
Zalin langsung memukul bahu suaminya pelan. Tidak menyangka ka Iyannya itu mendengarkam kata-kata adiknya dan akan menanggapinya.
Briliant tersenyum penuh arti, sementara Arsen sudah terlelap di pangkuan Zalin.
Setelah Zalin lulus menyelesaikan kuliahnya, Zalin memang memilih pindah ke kota Q untuk menemani Briliant. Supaya Briliant tidak terus bolak balik kota X dan dan Q. Zalim tinggal bersama Briliant dan anaknya Rayyanza.
Semenjak tinggal di rumah bertiga, Briliant semakin manja pada Zalin. Ka iyannya yang imut semakin terlihat seperti anak kecil saat mereka berdua. Gatalpun Briliant ingin diusap oleh Zalin. Kadang Briliant bertengkar dengan Rayyanza, kadang Zalin merasa pusing dibuatnya.
Setelah tiga tahun menikah Zalin sudah cukup mengenal sifat dari suaminya sendiri, Briliant Anggara. Walau kadang ada saja sifat baru yang Briliant tunjukkan dan membuat Zalin kaget dan tidak habis pikir dibuatnya.
Di Kediaman Bramantyo Aditama
Jam menunjukan pukul sembilan pagi, hari ini adalah hari sabtu, itu artinya 2 minggu lagi pernikahan Fatma akan dilaksanakan.
Empat bersaudara sedang ada di ruangan keluarga, Richard yang masih memakai piyama tidur duduk di kursi single dengan memegang remot televisi ditangannya. Richard terlihat serius menonton berita.
Sedangkan ketiga saudara Richard, Fatma dan si kembar Naima Nakia sedang merapihkan undangan pernikahan Fatma dan El Zaidan. Saat itu, ketiganya sudah mandi dan terlihat segar, berbanding terbalik dengan Richard.
"Ka, jika kamu mau mengundang temanmu. Boleh banget!" ucap Fatma.
Richard mendengar ucapan kembarannya tapi dia tidak menanggapi, dia masih fokus ke layar televisi.
"Eh, bukannya ka Richard dulu sempat bilang suka sama teman saat KKL ya?!" ucap Fatma sambil menatap Richarf mengejek.
Saat Richard merasa tertarik dengan seorang Zalina Salim, dia memang sempat cerita pada Fatma. Tapi saat itu dia belum tahu bahwa Zalina sudah memiliki suami. Sekarang hal itu sangat memalukan. Richard berharap Fatma tidak mengetahui hal itu. Apalagi Zalina ternyata teman sekelas Fatma.
"Oooh, sepertinya sudah putus toh!" bisik Fatma.
Richard tidak menanggapi kata-kata Fatma. Dia tidak mau banyak bicara tentang Zalin, dia sungguh malu.
"Eh, ka Fatma aku lupa belum sempat cerita," ucap Nakia sambil sedikit melirik Richard.
"Cerita apa? ko aku juga belum sama aku?" tanya Naima cemberut.
"Apa-apa, apa sesuatu yang sangat seru?" tanya Fatma antusias.
Richard melirik ke arah saudari-saudarinya itu dengan ekor matanya.
Nakia mengangguk cepat ke arah Fatma.
"Kemarin ada anak SMA yanh mengaku-ngaku pacar ka Richard," ucap Nakia tersenyum ke arah Richard.
Richard hanya diam, sudah dia duga ini akam terjadi.
"Wah wah wah, sekarang seleranya anak-anak ya kamu!" ledek Fatma melihat ke arah Richard.
Richard hanya diam, jika dia bicara akan sangat repot jadinya. Dia akan terus di ledek. Diam itu emas, berlaku untuknya saat di ledek oleh ketiga saudara perempuannya.
Bramantyo hari ini ada acara meeting di luar. Walaupun weekend Bramantyo tetap bekerja. Bramantyo akhir-akhir ini selalu di temani oleh El. Calon suami Fatma. Bramantyo sengaja mengajak El karena nantinya El yang akan membantunya di perusahaannya. Bramantyo bersyukur akan mempunyai menantu yang cerdas dan dapat meneruskan perusahaannya nanti.
Keesokan harinya
Bramantyo mengajak ke empat anaknya berjalan-jalan ke luar, karena setengah bulan lagi Richard akan kembali ke luar negeri. Fatma menginginkan ke pantai, hal itu tentu sangat di dukung oleh kedua adik kembarnya Naima dan Nakia. Richard dan Bramantyo mengikuti keinginan 3 gadis itu.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, seluruh anggota keluarga Bramantyo telah siap berangkat. Kali ini Keluarga Bramantyo tidak membawa supir, yang membawa mobil adalah Richard. Richard mengendarai mobil ayahnya.
Fatma memanfaatkan waktu liburannya untuk pemotretan pre weddingnya dengan El. El akan menyusul ke pantai bersama Potografernya. Bramantyo tidak keberatan akan hal itu.
Sesampainya di pantai
Richard memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang belum tersorot sinar matahari. Saat mobil sudag terparkir dengan sempurna, Fatma dan si kembar Naima Nakia langsung turun dari mobil dan berlari ke arah pantai.
"Richard, papa akan masuk ke dalam hotel itu," Bramantyo menunjuk hotel yang tidak jauh dari parkiran.
Richard mengangguk, Bramantyo langsung keluar dari mobilnya. Richard menyandarkan badannya di kursi kemudi. Dua jam menyetir sangat melelahkan untuknya.
Beberapa menit kemudian, Richard keluar dari mobil dengan hanya membawa kunci mobil di sakunya. Dia mengunci seluruh pintu mobil secara otomatis dengan memencet tombol di remot mobil.
Ricard berjalan dengan melihat ke arah laut, melihat Naima dan Nakia sedang asik bermain ombak di pantai. Richard tidak melihat ke depan.
BRUK!
Dada bidang Richard menabrak seseorang.
"Aduh?!"Richard kaget saat kaos putih yang dipskainya sekarang sudah basah oleh jus mangga yang tumpah.
Perlahan Richard menatap wajah orang yang menabraknya.
Gadis galak?
***
kayanya Richard ketemu lagi dengan bicannya Arsenio ya?!
Eeh jangan lupa like 👍 dan komentarnya sayang-sayangku 😍 selamat hari senin 😘
Briliant dan Zalin, akan muncul banyak juga cerita tentang mereka di season 2 ini. Kenapa? karena mereka adalah tokoh utama novel ini sejak awal ya. 😀