My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
Chapter 15 (MLMCH S2)



Zalin langsung menindih Briliant.


"Yang, engap yang... kamu kan ga langsing!" Briliant menepuk-nepuk tangan Zalin.


Zalin langsung terkekeh melihat suaminya terengah-engah karena perbuatannya.


Melihat istrinya tertawa, Briliant langsung menarik Zalin ke dalam pelukannya.


"Diam! Lebih baik kamu tidur sekarang!" perintah Briliant. Zalin menurut pada suaminya yang cute itu.


Keesokan harinya.


Zalin bangun terlebih dahulu dan dia todak menemukan Rayyan di ranjangnya.


"Kemana Rayyan?!" ucap Zalin sambil mendudukan tubuhnya diatas kasur.


Zalin melihat ke sekeliling kamar dan tidak menemukan Rayyan sama sekali.


Zalin segera berjalan ke arah pintu kamar untuk mencari Rayyan. Tanpa berpikir panjang, Zalin langsung ke arah ruang makan.


"Rayyaaaaaan...." ucao Zalin tersenyum saat Zalin melihat anaknya sedang duduk di kusri meja makan di temani neneknya.


"Sudah bangun Za? ini Rayyan bangun tidur langsung makan, untung masih ada paha ayam satu lagi di kulkas," ucap ibu Zalin.


"Ya ampun anak ibu," Zalin duduk di samping Rayyan dan mengelus rambutnya. Zalin melihat Rayyan sedang sibuk makan paha ayam goreng, makanan kesukaannya.


"Bu, Rayyan semalam tidur dimana?" tanya Zalin sambil menatap ibunya yang ada di sebelah Rayyan.


"Sama ibu Za, katanya Rayyan ingin tidur sama nenek."


"Oh, pantesan," Zalin menganggukan kepalanya.


"Rayyan tidur jam berapa?"


"Kalau tidak salah jam sebelas," jawab ibu Zalin.


"Waduh malam sekali ya! Heeeem ga heran deh, malam pertama di kota ini Rayyan emang suka kegerahan. Biasa di kota Q yang hawanya dingin seperti dipuncak," ucap Zalin sambil mencium pipi Rayyan.


"Bu, Za mau sholat dulu ya!" ucap Zalin sambil berdiri dari duduknya.


"Iya Za," jawab ibu.


"Apa ibu sudah sholat?" tanya Zalin.


Ibu mengangguk, "sudah Za."


"Oke deh bu! Za mau langsung beres-beres di kamar kalau gitu."


"Iya," jawab ibu Zalin kemudian.


"Rayyan sama nenek dulu ya! Ibunmau sholat dulu dan mau beres-beres dulu," ucap Zalin.


"Iya... Ih ibu bawel," ucap Rayyan datar.


"Heeeeem!" Zalin sedikit mencubit pipi anaknya, ibu Zalin hanya tersenyum melihat anak dan cucunya.


Zalin kembali ke kamarnya untuk melaksanakan sholat subuh.


Saat Zalin masuk ke dalam kamar, Zalin melihat Briliant masih menggulung diri di dalam selimut.


Zalin menggelengkan kepalanya, heran Briliant harus selalu memakai selimut meskipun di rumahnya terasa gerah.


Ceklek, pintu tertutup.


Zalin naik ke atas ranjang dan mencium pipi Briliant.


"Ka .. Ka Iyan, bangun," ucap Zalin sambil memperhatikan wajah Briliant.


"Hemm... masih ngantuk," ucap Briliant lemah.


Zalin membuka selimut yang menutupi badan suaminya itu dengan sekali tarikan.


"Ihhh.... Za, nanti dong. lima menit lagi ya," pintanya.


"Baiklah, Za mau sholat dulu," ucap Zalin sambil turun dari ranjangnya.


Briliant kembali menarik selimut yang di tarik oleh Zalina.


Di kediaman Bramantyo.


Naima dan Nakia tengah memperhatikan wajah Richard di atas ranjang. Si kembar itu memperhatikan wajah Richard yang masih terpejam.


Naima dan Nakia melihat Richard tersenyum.


"Kia, sepertinya ka Richard sedang bermimpi indah!" ucap Naima yang masih memperhatikan wajah Richard dengab seksama.


"Iyalah pasti mimpi indah, orang kaka senyam senyum terus daritadi," ucap Nakia kesal.


"Jadi kapan nih kita mau bangunin kaka buat Sholat? aku takut ka Richard marah," tanya Naima.


"Kasian, kayanya kaka lagi mimpi jalan sama cewe. hahaha," Nakia tertawa dengan cukup keras membuat Richard kaget dan langsung terbangun dari mimpi indahnya.


"Naima Nakiaaaaa!" ucap Richard kesal.


Richard melototkan matanya ke kedua adiknya, mereka telah mengusik dan mengganggu mimpi indahnya.


"Ya ampun kaliaaaaaan!"


Nakia hanya mengangguk dan menunduk.


"Huh!" Richard bernafas kasar, setelah itu mengatur nafasnya. Setelah tenang, Richard melihat ke arah kedua adiknya.


"Ada apa kalian ke sini?" tanya Richard pelan.


"Mau bangunin kaka, tapi ga tega," ucap Nakia nyengir dia sudah tidak merasa takut pada Fichard, karena suara kakaknya sidah melunak.


"Kenapa harus tidak tega?" tanya richard mengkerutkan dahinya.


"Kaka sepertinya sedang mimpi indah tadi," ucap Naima kemudian sambil terkekeh.


"Hem, kenapa mereka tahu?" batin Richard.


"Ayolah kaka jangan melamun! sudah mau jam setengah enam ini!" ucap Nakia sambil turun dari ranjang Richard yang cukup besar untuk satu orang itu.


Richard langsung tersadar dan mengangguk.


"Keluarlah kalian," ucap Richard sambil turun dari ranjang.


"Baiklah, ayo Kia kita keluar," ucap Naima.


Akhirnya Naima dan Nakia keluar dari kamar Richard. Sementara Richard langsung berjalan ke kamar mandi.


Siang hari di rumah Zalina Salim


"Ka, mau berangkat sekarang?" tanya Zalin yang sedand ada di kamarnya bersama Briliant.


"Iya yang, kalau sore takut hujan," jawab Briliant.


Zalin keluar kamar diikuti oleh Zalin dibelakangnya.


Rayyan yang sedang bermain kereta api di ruang keluarga langsungbberlari ke arah Briliant yang sudah memakai jaket. Rayyan tahu, jika Briliant memakai jaket itu artinya ayahnya akan berangkat.


Briliant langsung menangkap dan memangku Rayyan.


"Ayah mau kemana? Kaka belum siap-siap, jaket kaka mana?" tanya Rayyan beruntun.


"Ayah mau ke kota Q, Kaka di sini dulu ya sama ibu. Nanti Kaka di jemput sama ayah ya, ayah harus ke sekolah besok," ucap Briliant sambil menatap wajah anaknya.


"Oh, jadi ayah berangkat sendiri? Tidak sama ibu?" tanya Rayyan dengan jelas.


"Iya kaka Rayyan," Briliant mengangguk dan mengerti.


"Oh, ayah hati-hati ya!" Rayyan menciumi pipi Briliant.


"Ayo antar dulu ayah ke depan," ajak Zalina.


"Kaka izin dulu ke ibu Za," ucap Briliant.


Setelah izin pada ibu mertuanya yang sedang beres-beres di halaman belakang rumah. Briliant yang menggendong Rayyan diikuti oleh Zalina berjalan ke halaman depan rumah.


Sesampainya di teras rumah, Briliant langsung memindahkan Rayyan ke dalam gendongan Zalin.


"Ayah berangkat dulu ya, jangan nakal, Kaka kan anak baik."


Rayyan tersenyum dan menggangguk.


"Kalau sudah sampau langsung kasih tau Za ya ka!" pinta Zalin.


Briliant mengangguk.


Briliant mencium pipi Rayyan, setelah itu pili Zalina. Setelah itu Briliant langsung menaiki motornya dan memakai helmnya. Setelah meletakan tas gendong di motornya.


"Daaaah...." Rayyan melambaikan tangannya ada Briliant. Briliant tersenyum dan melambaikan tangan pada Rayyan, sampai akhirnya motor yang ditumpangi Briliant keluar gerbang dan Rayyan kembali turun dari pangkuan Zalin berlari ke ruang keluarga untuk kembali bermain kereta api di ruang keluarga.


Zalin mengikuti langkah Rayyan ke dalam rumah.


Ceklek, Zalin menutup pintu rumah.


"Ka Zalin....." Diandra menghampiri Zalin.


"Yaaa... "


"Besok, Di ga ada jadwal, jadi bisa ikut ka Zalin ke undangan temen ka Zalin itu," ucap Diandra.


"Ah syukurlah kalau begitu!"


Diandra tersenyum.


"Rayyan diajak juga kan?" tanya Diandra.


"Tentu, kan kamu yang bertugas jagain dia,"


Zalina tertawa.


"Ah baiklah! Aku tidak akan bisa menolak," ucap Diandra kemudian.


[]


Ma'af ya uni telah up nya.


Jangan lupa like dan komentarnya 👍😊😉