My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
Chapter 14 (MLMCH S2)



Zalina dan Rayyanza mengantar Briliant sampai teras rumah. Walaupun Rayyan belum selesai menghabiskan makannya, dia tetap melihat kepergian ayahnya untuk bekerja. Itu sudah menjadi kebiasaan Rayyan. Itu membuat Briliant senang, karena Zalin membiasakan hal-hal yang baik.


"Ayah hati-hati!" ucap Rayyan sambil melambaikan tangannya kepada Briliant yang dufah berada di atas motornya.


Briliant mengangguk dan tersenyum pada Rayyan. Walaupun Rayyan suka diganggu dijahili oleh Briliant, tapi Rayyan selalu menanyakan keberadaan ayahnya jika Briliant tidak ada di dekatnya.


Setelah Briliant keluar dari halaman rumah, Zalin dan Rayyan kembali masuk ke dalam rumah.


Lima hari kemudian


Di kediaman Bramantyo Aditama


Rumah Bramantyo sedang di dekorasi dengan suasana mewah. Rumah yang cukup besar dengan halaman belakang juga depan yang luas menjadi alasan Fatma ingin pernikahannya di laksanakan hanya di rumah. Lebih bebas resepsi di rumah sendiri, begitu katanya. Bramantyo tidak keberatan dengan keinginan putrinya itu.


Tempat parkir mobil tamu undangan bisa di halaman depam, jika tidak cukup bisa di lapar yang ada di sebelah rumah. Rencananya tema resepsi yang diinginkan Fatma adalah Garden Party, sehingga halaman belakang rumah juga di dekorasi sesuai keinginan Fatma.


Fatma melihat rumah yang sedang di dekorasi. Sesekali Fatma mengoreksi jika dekorasinya kurang sesuai dengan keinginananya. Begitulah Fatma, sejak awal terlibat langsung dalam setiap detail untuk acara pernikahan yang akan dilaksakan dua hari lagi itu.


Di tempat lain


Zalin, Briliant dan Rayyan sudag sampai di kota X, di rumah keluarga Zalin. Sebelumnya Zalin tidak memberitahukan pada orang tuanya juga Diabdra bahwa Zalin akan ke sana. Untuk itu, tidak heran jika Diandra dan kedua orang tua Zalin tidak ada di teras rumah seperti biasa.


Saat motor sudah sampai ke depan garasi, Zalin segera turun dengab Rayyan di pangkuannya. Rayyan merasa senang dia akan kembali dengan neneknya itu.


Zalin segera membuka sepatu yang dia kenakan dan mengetuk pintu, Rayyan duduk di kursi yang ada di teras rumah. Sedangkan Briliant masih sibuk membereskan bawaan yang ada di motor.


Tok tok tok


"Assalamualaikum..." ucap Zalin sambil mengetuk pintu.


Di dalam rumah


Diandra yang sedang membantu ibunya masak di dapur mendengar suara Zalin.


"Bu, ada uang mengetuk pintu. Sepertinya ka Zalin?"


Diandra yang semula sedang memotong wortel langsung menyimpan pisaunya mendekati sang ibu yang sedang membuat bumbu untuk memasak daging ayam serundeng.


"Ah masa, kakak mu tidak menghubungi ibu kok?!"


"Bisa aja kan mau buat kejutan,"


"Ya sudag buka saja, tapi kan biasanya kalau mau ke sini suka memberi kabar dulu."


Diandra mengedikkan bahunta karena ibunya tidak percaya. Diandar langsung berlari ke ruang tamu dan membuka pintu.


Kreeek..


"Rayyaaaaan..."ucap Diandra heboh.


"Ibuuuuuu! yang datang ka Zalin sama ka iyan, ada Rayyan di sini!" teriak Diandra dengan cukup keras.


"Beneran?!" teriak ibu dari dapur.


"Iya!!! Ke sinilah ..." teriak Diandra..


"Hm.. untung rumah ini dipagar tembok cukup tinggi" Zalin menggeleng-gelengkan kepalanya saat adik dan ibunya saling berteriak.


Diandra langsung menghampiri Rayyan yang sedang duduk di kursi teras rumah. Masih dengan swetter hoody berwarna navy nya, juga sepatu yang masih melekat di kakinya.


"Ya ampun, ponakan bican yang ganteng!" Diandra mencium pipi Rayyan gemas. Rayyan yang baru bangun tidur saat motor berhenti hanya diam.


"Haduh. aku di lewati saja," ucap Zalin kesal.


"Eh.. lupa, hehe" Diandra nyengir dan menghampiri Zalin kembali dan memeluknya serta menghampiri Briliant dan salam padanya.


Diandra kembali duduk dekat Rayyan. Dia membantu keponakannya itu untuk membuka sweeter juga sepatunya.


Tidak lama kemudian Ibu Zalin datang dan langsung menggendong Rayyan.


Setelah ada Rayyan semuanya melupakanku? Batin Zalin.


Zalin tersenyum karena semua sayang pada Rayyanza. anaknya dan Briliant.


Setelah menyambut kedatangan Rayyan, semua orang masuk ke dalam rumah kembali. Briliant membawa barang bawaannya ke kamar, Diandra mengajak Rayyan bermain mainanan di ruang keluarga, sedangkan Zalin membantu ibunya memasak di dapur.


Setelah makan malam


"Di, kamu ada acara ga hari minggu?"


"Memang kenapa ka?"


"Kalau ga ada, temenin kaka ke pernikahan Fatma. teman sekelas kaka waktu kuliah dulu. "


"Kenapa ga sama ka Iyan saja?" tanya Diandra yang sedang sibuk mencuci sendok di tangannya.


Zalin yang sedang mengelap meja makan melihat ke arah Diandra.


"Tadinya juga mau sama ka Iyan, tapi ka Iyan minggu harus ke sekolah. Jadi kaka ga ada temen,"


"Bagaimana?" Zalin kembali mengelap meja makannya.


"Nanti aku lihat schedule aku dulu ya ka!" jawab Diandra ngasal.


"Idih sok sibuk banget, huh!" Zalin mendelik.


hahaha


Diandra tertawa, dia sebenarnya paling malam ke undangan. Apalagi ke undangan yang dia tidak kenal sama sekali.


Setengah jam kemudian, Diandra selesai mencuci piring dan Zalin pun sudah selesai membersihkan dapur dengan sangat nersih dan rapi.


Diandra menghampiri Rayyan yang sedang bermain mainan di ruang keluarga bersama ibunya. Sedangkan Zalin menghampiri Briliant yang ada di teras rumah bersama ayahnya. Zalin mengajak Briliant masuk karena jam sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam dan itu adalah waktunya Briliant tidur.


Saat Diandra melihat Zalin dan Briliant akan memasuki kamar, Diandra memanggil Zalin.


"Ka Zalin..."


Zalin menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Diandra, pandangan Zalin seakan bertanya ada apa pada Diandra.


"Rayyan biar main dulu saja, kalay ka Zalin sama ka Iyan mau istirahat. Istirahatlah."


"Oke," Zalin masuk ke kamarnya menyusul Briliant.


Briliant sudah tengkurap di atas ranjang dan meminta dipijit oleh Zalin. Zalin yang sudah mengerti langsung mengambil minyak untuk mengurut suaminya itu.


Sudah menjadi kebiasaan Zalin memijat Briliant suaminya, jika Briliant melakukan perjalanan. Tubuh Briliant seakan kecanduan pijitan istrinya itu. Zalin harus menerima resikonya, karena dulu saat awal menikah, Zalin sangat memanjakan Briliant.


Saat Zalin memijat Briliant.


"Alhamdulillah, punya istri baik." ucap Briliant pelan, memuji Zalin.


Zalin tersenyum. Zalin mendekatkam wajahnya dan mencium pipi Briliant yang terlihat sangat tampan ketika tersenyum.


"Yang, jangan sekarang... di sini sulit mandinya," Briliant memanyunkan bibirnya.


"Mandi ya tinggal mandi," ucap Zalin.


"Ga bebas sayang, nanti saja ya di rumah kita sendiri." Briliant tersenyum dengan wajah yang sangat lucu di mata Zalin.


Zalin mencubit perut Briliant karena gemas.


"Duh, sakit dong yang!"Briliant meringis kesakitan.


"Udah ah, Za mau tidur saja!" ancam Zalin.


"Jangan gitu dong, kalo ga mijitin besok kaka ke kota Q ga akan di kasih uang jajan."


Zalin langsung mendudukan tubuhnya lagi dan meneruskan memijat Briliant.


"Kalau masalah jajan saja, hm..."


Zalin langsung menindih Briliant.


"Yang, engap yang... kamu kan ga langsing!" Briliant menepuk-nepuk tangan Zalin.


Zalin langsung terkekeh melihat suaminya terengah-engah karena perbuatannya.


Melihat istrinya tertawa, Briliant langsung menarik Zalin ke dalam pelukannya.


"Diam! Lebih baik kamu tidur sekarang!" perintah Briliant. Zalin menurut pada suaminya yang cute itu.


***