My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
34



Sementara di dalam kamar


Zalin menepuk-nepuk kasur dekat dengan dirinya menujukkan bahwa Briliant harus duduk di sampingnya. Briliant yang heran melihat ekspresi istrinya otaknya sedikit heran.


ah... pasti ini Za ada maunya nih, tapi bukan 'itu'. Aku harus lebih mengedepankan logika dulu sebelum malam datang.


Briliant pun duduk di samping Zalin dan Zalin berbicara kepada Briliant sedangkan matanya melihat ke arah 2 bungkus kado  berbentuk kotak yang Zalin curigai itu adalah barang yang dia inginkan.


"Ka, kita buka 2 kado itu yuk" tangan Zalin menunjuk ke arah 2 Kado yang disimpan dipojok ruangan dekat dengan jendelanya. Brilant menepok jidatnya "Sudah kuduga!", Zalin langsung melirik ke arah suaminya itu "memang ka Iyan menduga apa?" Zalin memundurkan wajahnya, Briliant yang bingung menggaruk tekuknya yang tak gatal "ah engga, ... kaka mau pakai baju dulu ya Yang" Zalinpun mengangguk.


Jam sudah menujukan pukul 17.30, 30 menit lagi akan adzan magrib. Briliant lebih memilih memakai baju koko putih berlengan panjang dengan bordir berwarna abu-abu sederhana dan memakai sarung berwarna senada.


Saat Briliant akan membuka handuknya, Zalin berkata "ka..." Brilantpun melihat ke arah Zalin dan alisnya mengangkat kearah istrinya seakan berkata ada apa Za? Zalin yang mengerti apa yang Briliant katakan langsung menjawab "Za  mau ke kamar mandi dulu, boleh?" Briliant langsung mengangguk. Zalin segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Za, kamu itu lucu sekali. Kaka mau ganti baju kamu malah kabur. padahal kaka 7dah pakai celana boxer" Briliant membuka handuknya sambil tertawa kecil.


Sementara di dalam kamar mandi, Zalina berdiri menunggu Briliant selesai berganti baju.


Aaah ka Iyan udah belum ya pakai bajunya.


Briliant yang kasihan pada istrinya memanggil Zalin, karena dari dalam kamar mandi tidak terdengar gemircik air sekalipun setelah Zalin masuk ke dalam kamar mandi.


Ah benar-benar dia ini, melihat aku berganti baju saja dia sudah salah tingkah. Za  kamu polos banget sih. eh tapi kayanya ngerti deh, dia kann pernah bilang saar SMA pernah mengaji kitab tentang suami istri dan kewajibannya tidak mungkinlah kalau dia polos banget pasti dia udah punya sedikit ilmunya.


Briliant menyeringai, pikirannya susah tidak terlalu galau kalau malam datang.


Briliant telah selesai memakai pakaiannya dengan lengkap memanggil istrinya "Za, ayo kita buka kadonya, kaka udah selesai nih", Zalin yang sedari tadi berdiri di dekat pintu langsung membuka pintu dan membuka pintunya sedikit mengintip apa yang sedang Briliant lakukan. Saat melihat ke arah Briliant hati Zalin seketika tenang "ah sudah pakai baju dengan lengkap ternyata" .


Briliant yang sudah diatas kasur merasa istrinya sedang memperhatikannya dengan iseng memandang Zalin dengan intens "Za, mau kapan terpesona melihat wajah suamimu ini?" Briliant tersenyum tetapi Zalin langsung menundukan wajahnya dan menghampiri Briliant.


Briliant mengambil dua kado ke atas kasur dan Zalin kini sudah duduk berhadapan dengan Briliant diatas kasur yang dipisahkan oleh 2 kotak kado "ayo Za , kita buka yang mana dulu?" Za berpikir sejenak "Yang bawah dulu ka, yang dari anak-anak teman sekelas Za" Zalin dengan tidak sabar menunggu Briliant membuka kadonya.


Briliant mengangkat kado  yang ada dibagian atasnya dan mulai membuka kado bagian bawah. Briliant menyobek bungkus kadonya dengan cepat.


"Ka, pelan-pelan dong"


Diluar kamar terjadi kegaduhan yang disebabkan oleh Bianca, Syakira dan Mery yang sedang mengintip. Walaupun penhhuni kamar mendengar. Tetapi Zalin dan Briliant tidak memperdulikannya.


"Apa ya isinya, apa sesuai pesananku?" Mata Zalin berbinar. "Memangnya Za, mintanya apa?" Briliant bertanya pada Zalin tapi sibuk membuka kadonya. Saat dus yang terbungkus kertas kado terbuka semua. "Wiiiih bener!!!" Za menarik dus itu dan memeluknya, "eeeh belum tentu dus sama isinya itu singkron. Ayo sama kaka bukanya" Briliant menarik dus itu dari istrinya dan membuka dusnya.


"Wah!! Helm Za" kini giliran mata Briliant yang berbinar, kini tangan Briliant telah memegang helm yang lumayan bermerk itu terlebih warnanya adalah merah, salah satu warna kesukaannya. Briliant memandang Zalin penuh selidik "Za minta helm dari teman sekelasmu? Kita kan gapunya motor?" Zalin dengan entengnya menjawab "Ya, helm dulu kita punya. Motornya nanti nyusul. hehe" Zalin tertawa kecil diakhir kalimatnya dan Briliant tertawa lalu  mengacak rambut  Zalin dengan gemas.


"Satu lagi ka, satu lagi..." Zalin menunjuk kado yang satunya lagi yang tadi Briliant simpan di sampingnya. Briliant langsung membuka kadonya sambil bertanya "ini dari siapa Za? ko kaka curiga ini isinya helm. juga ya?" Zalin tersenyum "Semoga iya begitu ka" Briliant menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ini ada  buku di atas dusnya, Buku KADO INDAH PERNIKAHAN, baca sama Za nanti transfer ilmunya ke kaka" Briliant menyerahkan bukunya ke tangan Zalin dan Zalin memanyunkan bibirnya.


"Tuh kan helm, bakal helm ini!" Zalin menebak. "Ini kado dari siapa Za?" Briliant penasaran, "Dari Rena, Calon suaminya kan bos helm" Zalin tersenyum senang mengingat saat Rena temannya bertanya mau kado apa, dengan cepat menjawab ingin helm. Kini Briliant mengeluarkan isi dari dus itu "wih.. iya Za, Helm lagi. Warnanya Biru kesukaan kaka lagi!" Briliant tersenyum tak kalah senangnya dari Zalin. Zalin hanya geleng-geleng kepala yang melihat tingkah Briliant.


"Ini Buat Za" Briliant menyerahkan helm berwarna biru pada Zalin, "Dan ini buat kaka" Briliant mengambil helm merah yang tadi pertama di buka dengan senang, "ih Ka iyan Curang! Za mau yang itu!" Zalinl meletakan helm biru yang Briliant berikah dan mencoba merebut Helm biru dari tangan Briliant. Dengan segera Briliant menjauhkan Helm dari tubuhnya sehingga Zalin terjatuh diatas tubuh Briliant.


buuuggghhh


Posisi Briliant kini tertindih tubuh Zalin, Mata Briliant dan Zalin bertemu hanya berjarak beberapa senti saja. Briliant menatap bibir Zalin dan menciumnya sekilas. Zalin yang merasa terhipnotis tidak berkutik sedikitpun. Brilant yang menyadari langsung menyadarkan kesadaran istrinya itu. "Za... berat" Zalin langsung segera berdiri dan duduk di tepi ranjang. Briliant bangkit dari posisinya dan tersenyum.


Kalau digambarkan, TinggI Briliant dan Zalina itu sepantar, sma tingginya. Kalau Beratnya, Zalina lebih berisi daripada Briliant. Sebelum kecelakaan badan Zalin proforsional, tetapi setelah kecelakaan badannya mulai berisi. mungkin karena pengaruh obat dan kurang gerak.


Adzan magrib terdengar


"Za, kaka mau ke surau dulu ya!" Zalin mengangguk, Briliant mengambil oeci dari kopernya dan langsung keluar dari kamar Zalin. Sementara Zalin maaih terpaku duduk di ranjangnya dan memegang bibirnya. Sampai ketukan pintu menyadarkannya.


tok tok tok


Zalin langsung menyadarkan kesadarannya dan membuka pintu kamarnya. Saat pintu kamarnya dibuka di sana terlihat berdiri Bianca dan Diandra berdiri, Bianca dengan senyum genit dan Diandra dengan wajah seperti biasa. cuek.


"ada apa?" Zalin melihat ke arah Diadra dan Bianca bergantian. Diandra menjawab "ibu manggil... hm" dan Bianca menambahkan "daritadi sih manggilnya tapi takut ganggu.. hehe" Bianca tertawa kecil melihat ke arah Zalin. Diandra yang penasaran apa yang sudah kakanya lakukam setelah menjadi pengantin matanya menelusuri isi kamar dan matanya berhenti di kasur yang diatasnya ada 2 helm.


"Kaka tadi buka kado! kaka dapat kado helm! Di mau lihat!" Diandra menerobos masuk karena tahu Kaka iparnya sedang keluar diikuti Bianca.


"wih.. keren!" Diandra melihat 2 helm.yang masih kinclong itu "Kaka, pinter juga request kado. pasti ini ini pesanan" Diandra menerka-nerka sementara Bianca berbicara swtengah berbisik "jadi tadi cuma buka kado, ya Ampun. apa yang tadi aku pikirkan?!" Bianca memukul pelan kepalanya sendiri.


Setelah Diandra puas melihat helm, "Kaka, cepet sholat. bentar lagi pengajiannya akan segera di mulai" Zalin mengangguk, Diandra dan Bianca langsung keluar dari kamar Zalin.


Ka Iyan mencium bibirku?