
Tidak terasa semeter 6 sebentar lagi akan berakhir. Zalin mengikuti Ujian Akhir Semester di hari terakhir hari ini, hari jum'at.
Zalin diantar oleh Briliant karena minggu ini sekolah masih libur.
Seperti biasa Zalin turun di dekat ruang dosen. Zalin memakai rok hitam panjang, kemeja putih dan kerudung soft pink serta jas almamater.
"Kenapa kerudungnya ga hitam saja?" tanya Briliant sambil menerima helm dari tangan Zalin.
"Wah ka Iyan ga tau ya kenapa Za ga pakai kerudung hitam?" ucap Zalin sambil merapikan jas almamater yang melekat di tubuhnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Briliant penasaran.
"Kalo Za pakai kerudung hitam atau warna gelap lainnya, otak Za suka sulit untuk berpikir," Zalin tersenyum.
"Dan kalo selfie jadi kurang bagus."
"Selfie?"
"Iya ka, foto foto ...," jawab Zalin sambil tersenyum.
"Hm..."
"Za, ke kelas dulu ya. Do'akan semoga nilainya bagus dilancarkan biar IPK ga turun."
"Iya, kaka do'akan, hati-hati."
Zalin mengangguk dan pergi setelah bersalaman dengan suaminya.
Zalin berjalan ke arah kelasnya dan Briliant memperhatikan istrinya sampai Zalin masuk ke dalam kelas.
Setelah Zalin sudah hilang dari pandangan katanya, Briliant melajukan motornya ke rumah temannya. Briliant bermaksud menunggu Zalin di rumah temannya karena hanya ada satu mata kuliah yang diujikan hari itu.
Zalin memasuki kelas yang hampir semuanya
Zalin duduk dibangku paling belakang, karena susunan duduk sesuai abjad dan Zalin berada pada absen terakhir. Zalin duduk paling belakang dan paling pojok di kelas.
"Semangat UAS terakhir si semester ini kawan-kawab!" seru Anji saat masuk ke dalam kelas.
Mahasiswa lain memperhatikan Anji. Setelah mereka mengacungkan jempol kepada Anji, mereka kembali pada aktivitas mereka masing-masing.
Fatma mendekati meja Zalin, Zalin yang saat itu baru mendudukan badannya.
"Ka, Za apa semester depan juga ka Zalin akan masuk bareng kita?" tanya Fatma sambil duduk di kursi sebelah Zalin.
"Engga," jawab Zalin sambil tersenyum.
"Loh kenapa?" Fatma mengkerutkan dahinya.
"Kan kaka udah ngambil kuliah semester 6 sebelum semester ini. Jadi, semester depan kaka akan amb cuti lagi, sekalian kan melahirkan juga."
Mata Zalin menatap Fatma lalu ke arah perutnya.
"Wih, kaka utun bentar lagi launching ya. Semoga lancar ya lahirannya ya ka Za."
Zalin mengangguk seraya berkata, "Aamiin.. terima kasih Fatma."
Tidak lama kemudian semua mahasiswa masuk dan duduk menuju kursinya masing-masing karena sudah ada dosen penguji yang berjalan menuju kelas.
"Ka Za, aku ke kursiku. Nanti habis keluarnya barengan ya!" Ucap Fatma sambil berdiri dari duduknya.
Zalin mengangguk mengiyakan permintaan Fatma.
90 menit berlalu. Waktu ujian selesai, satu jam pertama satu persatu sudah keluar setelah menyelesaikan ujiannya. Lain halnya dengan Zalin, setelah selesai Zalin tidak langsung mengumpulkan hasil ujiannya. Zalin selalu menunggu waktu habis baru keluar.
"Waktu selesai, kumpulkan hasil ujiannya!" pa dosen yang juga dulu adalah wali dosen Briliant memberi intruksi.
Dosen ini juga yang memudahkan Zalin mengambil cuti.
Zalin segera mengambil tasnya lalu berdiri dari kursinya dan membawa kertas jawabannya ke depan.
Setelah Fatma sudah ada di depan meja dosen, Fatma mengikuti Zalin.
"Pa, ini."
"Ok Za, sulit ga soalnya?" tanya dosen.
"Lumayan, .. Eh pa, Zalin ambil cuti lagi ya semester depan?" tanya Zalin.
"Loh kenapa cuti lagi, mau honeymoon? " goda pa dosen.
"Honeymoon apaan pak? Mau lahiran pak," ucap Fatma sambil memeluk Zalin dari samping.
Dosen yang sedang merapihkan kertas ujian itu mundur satu langkah dan memperhatikan perut Zalin.
"Hamil?"
"Kamu beneran hamil?" tanya dosen terlihat tidak percaya dengan ucapan Fatma yang bilang bahwa Zalin akan mengambil cuti lahi untuk melahirkan.
Zalin mengangguk yakin.
"Ah masa?"
"Memang tidak kelihatan ya pak?" tanya Zalin.
"Engga. Berapa bulan sekarang?"
"Enam bulan pak," jaeab Zalin singkat.
Pak dosen mengangguk.
"Oke, ijin saja ke pihak fakultas ya Za!"
"Semoga lahirannya lancar, bapa keluar dulu."
"Oke pak!" Ucap Zalin.
"Sama aku ga pamit pak?" Fatma memanyunkan bibirnya.
"Gak penting."
"Idih si bapa nyebelin," Fatma membuang mukanya pura-pura kesal.
"Iya, bapa keluar dulu Fatma!"
"Haiya... oke bapa!" Fatma tersenyum kepada dosennya sedangkan Zalin menggelengkan kepalanya melihat Fatma yang sering begitu pada dosen.
Dan pak dosen itu. Kini hanya ada Zalin dan Fatma di kelas.
"Ayo kita keluar Fatma!" Ajak Zalin.
"Kaka di jemput sama ka Iyan suami kaka ya?"
"Iya, memang kenapa?" Zalin berjalan keluar kelas dan diikuti oleh Fatma di sisinya.
"Aku penasaran deh awal kisah ka Zalin kenal sama ka Iyan."
Zalin menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Fatma, Fatma ikut menghentikan langkahnya.
"Kenapa ingin tau?" tanya Zalin.
"Penasaran saja. Tapi, kalo ka Za keberatan. Ga apa apa ga usah saja," ucap Fatma sambil nyengir.
"Oke baiklah, kaka akan ceritakan tapi kalo ka Iyan datang beres ya."
Semoga ka Iyan telat jemputnya, Batin Fatma.
"Siap! Kita duduk di kursi depan perpus saja," ajak Fatma.
Zalin mengangguk dan merekapun berjalan menuju kursi yang akan mereka duduki.
Kini Zalin dan Fatma sudah duduk di atas kursi, yas mereka di letakan di tengah kutsi panjang itu.
"Jadi bagaimana awalnya Ka?" tanya Fatma antusias.
"Bingung mengawalinya, Fatma tanya aja deh nanti kaka jawab," ucap Zalin.
"Oke baiklah."
"Nanya apa dulu ya?"
"Terserah," jawab Zalin sambil mengedikan bahunya.
"Oh iya! Kapan pertama ka Zalin kenal sama ka Iyan? Apa saat ka Zalin ikut ospek lalu ka Iyan jadi panitianya?" Fatma tersenyum-senyum sendiri.
"Bukan. Justru saat kamu di ospek kaka kenal sama ka Iyan, itupun ga sengaja."
"Waktu Fatma ospek?"
"Iya," jawab Zalin singkat.
"Memang ka Iyan ada gitu saat Fatma ospek? perasaan ga ada deh, eeh... Ka iyan kaka tingkat kita juga?"
"Iya, saat kamu di ospek ka Iyan itu tingkat 4 tingkat akhir jadi jarang ada di kamoud," Zalin menjelaskan.
"Oh seperti itu. Tapi Fatma merasa ga pernah melihat ka Iyan deh sebelumnya," ucap Fatma mengkerutkan dahinya.
"Kamu ingat pas malam ospek jurusan ada pos-pos malam. Ada petugas penjaga pos yang bukan panitia."
Fathia mengangguk, "Ya, Fatma ingat."
"Pos 1 itu yang jaga ka Iyan!"
Fatma mengkerutkan dahinya berusaha mengingat-ngingat kejadian saat dia ospek.
"Oh ya ingat! Tapi wajah ka Iyan ga kelihatan tuh, kan gelap ya pos satu itu."
"Ya, benar. Itu awal ka Za melihat Ka Iyan. Kita belum kenal, Kaka juga ga tau namanya."
"Terus kalian kenalnya bagaimana?" tanya Fatma penasaran dan duduk mendekati Zalin.
***