My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
39



Motor baru


Zalin diantar pergi kuliah oleh Briliant menggunakan baru yang baru datang pagi itu. Lengkap dengan helm baru mereka.


Perasaan sepasang pengantin baru itu bahagia. "Untung kita kemarin ga resepsi besar ya ka? Hehe... Jadinya dapat ini, ya walaupun DP nya saja. Setidaknya dengan ini kita bisa bergerak bebas" Zalin terus berbicara pada Briliant di atas motor sambil memeluknya dan Zalin yang bicara panjang lebar itu hanya diangguki dan diberi senyuman oleh Briliant walau senyumnya tidak terlihat, "Ih ka Iyan, Za ngomong banyak cuma ngangguk!" Zalin memanyunkan bibirnya tapi tetap dengan posisi memeluk dan fokus pada jalan.


Ya ampun, Za setelah nikah makin Bawel saja! Aku ga bisa bayangin kalo nanti dia hamil dan anaknya bawel macam ibunya.


"Iya Sayang Alhamduillah, kaka lagi fokus nih. bawelnya di simpan dulu ya. hehe" Briliant tertawa kecil diujung kalimatnya, Zalin yang memang merasa Briliant benar mengiyakan permintaannya. Sepanjang perjalanan, Zalin hanya fokus melihat ke jalan sambil memeluk suaminya itu.


Udah lama aku pengen boncengan gini, ternyata enak juga. Kita pacarannya ga suka naik motor sih Ka. Jalan aja, tapi itu cukup menyenangkan sih. hehe


Zalin tersenyum dengan khayalannya sambil menatap jalan.


Setelah Zalin kecelakaan, dia mengambil pelajaran bahwa jika sedang naik kendaraan. Walaupun menjadi penumpang, harus fokus melihat ke jalan apalagi naik motor. Dia tidak akan memakai hp nya dan tidak memegang hp nya ketika sedang diatas motor, walaupun hp nya berbunyi dia tidak melihatnya. Kecuali, motornya ditepikan dahulu.


20 menit kemudian


Zalin dan Briliant sudah sampai dikampus, seperti biasa Zalin turun dari motornya tepat didekat ruang dosen. Zalin pamit kepada Briliant dan Briliant langsung pergi meninggalkan Zalin untuk kembali. Ada seseorang yang sama menatap aktifitas Zalin dan Briliant.


Ketika Zalin baru melangkah, tiga orang teman sekelasnya menyapa Zalin, "Za tunggu..." Tya menyapa Zalin, dia bersama Rere dan Sari "Cieeee.. Motor baru cieee" Tya menyenggol lengan Zalin, "Ko tahu?" Zalin menatap Tya, "Tahu lah! Plat motornya masih sementara dan motornya juga keluaran terbaru itu" Tya menjawab pertanyaan Zalin. "Alhamdulillah. Iya, memang baru.." Zalin tersenyum, Sari penasaran bertanya pada Zalin dengan antusias "Kado pernikahan?", Pertanyaan Sari hanya dingguki oleh Zalin karena dia tidak mau memperpanjang cerita. Dan anggukan Zalin mendapat tepuk tangan dari teman-temannya itu "Luaaar biasa!!!" Tya, Rere dan Sari kompak.


Mereka berempat pun berjalan beriringan menuju kelasnya.


Setibanya dikelas


Bangku sudah hampir terisi penuh. Tetapi, bangku Zalin masih kosong. Karena memang jarang ada mahasiswa yang ingin duduk dibangku yang berhadapan langsung dengan dosen.


Sepertinya setelah aku menikah, aku akan sulit datang paling awal karena harus mengurus ka Iyan dulu. Ah ga apa apa yang penting tidak terlambat.


Setelah Zalin duduk dibangkunya, Tya berdiri di depan kelas dan mengumumkan bahwa Zalin mendapat kado motor. Suasana kelas menjadi riuh seketika.


Ya ampun! Tya kenapa kamu mengumumkannya.Zalin menepok jidatnya.


Kuliahpun berjalan seperti biasa dan pulang kuliah Zalin dijemput oleh Briliant.


___________________________________________


Malam hari di kamar


Briliant duduk menyender di kepala ranjang dengan memangku laptopnya. Zalin mendekati Briliant dan duduk sampingnya. Setelah duduk dengan posisi yang nyaman, Zalin menatap layar laptop "Kaka, melamar ke Perusahaan, bukannya kaka tidak minat?" Zalin menatap Briliant "Iya, nyoba dulu. Semoga saja di terima, Kali ini kaka sudah nikah, Kaka harus segera mendapat pekerjaan untuk menghidupimu Yang" Briliant mencium pipi istrinya dengan gemas, Zalin tersenyum malu "Ih udah nikah seneng banget cium-cium!" Briliant tertawa "Haha.. ga apa apa Yang! Itu hitungannya ibadah" Zalin memanyunkan bibirnya "iya sih".


Briliant kembali fokus ke layar laptopnya dan mengetik surat lamaran yang akan di kirim ke perusahaan, Zalin hanya melihat kesibukan suaminya dengan setia. Zalin akan membicarakan sesuatu pada Briliant.


Aku tidak yakin akan diterima, karena Ijazahku kan tidak Linier. Tapi, aku akan coba dulu.


Setelah dirasa surat lamarannya sudah rapih, Briliant mengirimkannya lewat e-mail. "Kalau sudah rezeki tidak akan kemana" Briliant menutup laptopnya dan menyimpan laptonya di meja dekat ranjang.


Briliant menatap Zalin "Ayang belum tidur, menginginkan sesuatu?" Briliant mengerlingkan matanya. "Kenapa tuh mata ka Iyan? Kelilipan?" Zalin pura-pura tidak mengerti maksud suaminya itu. "enggaaaa" Briliant menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali mirip tingkah anak kecil "Ya ampun ka! Udah nikah ko kamu makin imut!!!" Zalin mencubit kedua pipi Briliant gemas. "Iiiiiih sakit tahu! hiks..." Briliant pura-pura menangis "Za ko ja'at sih. akit auu!", Zalin langsung memeluk suaminya itu "cup... cup udah ya jangan nangis lagi", Briliant tertawa kecil dipelukan Zalin "hehehe.. enak juga ya punya istri". Zalin melepas pelukannya.


Kini Briliant kembali duduk tegak dan dia mengelus-ngelus kepala Zalin di pundaknya. Briliant berkata sambil melihat kelangit-langit kamar "Yang, Kaka nyesel deh nikah sama kamu" Seketika Zalin menatap Briliant dengan mata melotot dan hati merasa sakit.


Apa ka Iyan sekarang tidak menerima kekuranganku yang sekarang sudah tidak lagi sempurna?


Briliant menatap Zalin "Nyesel nikah sama kamunya ga dari dulu!" Briliant langsung menarik kembali Zalin ke pelukannya. seketika perasaan sakit hati Zalin menguap begitu saja, "Ka Iyan membuat kaget saja!" Zalin sedikit memukul dada Briliant, "hehe.." Briliant hanya tertawa kecil.


"Za... Kayanya kaka akan dapat kerja di tahun ajaran baru kalau di sekolah, ini kan udah akhir ajaran. jadi, sepertinya sekolah belum menerima guru baru" Zalin mengangguk.


"Nanti kalau Za libur semester kita ke kota kaka, sekalian kaka mencari pekerjaan. Dan kita honeymoon di sana. Di sana dingin loh Za..." Briliant menatap wajah istrinya dengan senang sedangkan yang ditatap malah menundukan kepalanya, "Cieee mau cieee" Briliant menunjuk Zalin dengan jari telunjuknya dan perlakuan Briliant dibalas dengan cubitan Zalin ke arah hidung Briliant "Iiiii SAKIT" Briliant menyingkirkan tangan Zalin dari hidungnya. Zalin hanya nyengir melihat Briliant mengusap-ngusap hidungnya. "Biar tambah mancung" Zalin mengusap pipi Briliant lengan lembut dan Briliant langsung mencium kening Zalin. "Ya ampun!" Zalin mengeleng-gelengkan kepalanya. "Udah ah ka, Za mau bicara serius nih..!" Zalin menegakkan duduknya. Diikuti oleh Briliant, duduk tegak.


"Ka, kita kan punya beberapa amplop nih pas kita nikah. Kan ada yang ngasih ke saku kita khusus. hehe" Zalin tertawa di ujung kalimatnya, Briliant yang baru ingat melihat ke arah Zalin "Ih kaka ko lupa ya! Ya ampun, mana sini amplopnya!", "Ih Ka, tunggu dulu. Za belum beres bicaranya" Briliant pun mengangguk patuh. "Za, ga enak kalau apa-apa minta sama ayah atau ibu. Gimana kalau Za jualan lagi kaya pas kita pacaran, jadi uang yang ada bakal bertambah. Intinya kita buat modal uangnya gitu ka, gimana?" Zalin melihat ke arah Briliant dengan penuh harap, " Oke. kaka setuju sekali! ditambah beli snack, kita kemas semenarik mungkin dan kita masukan ke warung-warung atau nyari bagian pemasarannya!" Jawab Briliant dengan antusias. Zalin yang mendengar penuturan Briliant tersenyum senang "Oke! Mari kita bekerja sama!".


"Bekerja sama?" Briliant menatap Zalin dengan manja, Zalin memundurkan wajahnya dan akan menggeser posisinya, mulai tahu jalan pikiran suaminya itu, tapi sayang pergerakan Zalin yang pelan langsung diterkam oleh musuh.


Dan terjadilah sesuatu yang seharusnya terjadi.


____________________________________________


Keesokan harinya


Zalin dan Briliant mulai berbelanja untuk usaha kecil-kecilan mereka. Mereka tidak ingin banyak merepotkan kedua orang tua Zalin dan ingin berusaha semaksimal mungkin.


Mereka saling bekerja sama untuk mendapatkan pendapatan.


***